Prolog
Dalam rangka merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke-21, kami memilih Labuan Bajo di Manggarai Barat, propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai destinasi kali ini. Keindahan Labuan Bajo sudah kami dengar dari teman2 maupun keluarga kami yang sudah pernah ke sana. Selain keindahan alam yang mempesona, di Labuan Bajo juga terdapat Taman Nasional Komodo, yang merupakan habitat binatang reptil tertua dunia yang masih hidup dan hanya ada satu2nya di dunia, yaitu di Labuan Bajo ini.
Untuk bisa menikmati pesona alam Labuan Bajo, kami memutuskan memanfaatkan Kamis 29 Mei 2025 sebagai hari libur nasional untuk terbang ke Labuan Bajo. Saat ini, untuk menampung animo wisatawan lokal dan mancanegara, sudah ada bandar udara Komodo, satu2nya bandar udara di Labuan Bajo. Bandar udara ini, melayani penerbangan langsung dari berbagai kota di Indonesia maupun mancanegara seperti : Jakarta, Surabaya, Denpasar, Kuala Lumpur Malaysia dan Singapore
Catatan : per 31 Juli 2025 rute penerbangan Singapore – Labuan Bajo ditutup menyusul ditutupnya maskapai JetStar Asia yang melayani rute ini
Untuk melihat komodo dan menjelajah pulau-pulau cantik di Labuan Bajo ada 2 pilihan. Satu hari dengan menggunakan speed boat atau 3 hari menginap di atas kapal phinisi. Kami pernah menginap di kapal saat berwisata ke Halong Bay Vietnam Desember 2019 (part 3 – Halong Bay). Karena pengalaman tersebut menyenangkan, maka kami memilih menginap di kapal juga untuk Labuan Bajo ini.
Paket sailing 3 hari 2 malam umumnya sudah termasuk makan, snack, peralatan snorkeling, penjemputan dan drop off saat pulang (hotel/airport), serta dokumentasi. Rata2 kapal berangkat hari Senin dan Jumat jam 11.00 pagi dari dermaga. Tidak disarankan untuk penerbangan pagi hari di hari yang sama ke Labuan Bajo. Hal ini untuk mengantipasi delay atau bahkan cancel flight. Karena jika salah satu hal tersebut terjadi, maka paket wisata kita menggunakan kapal phinisi bisa batal otomatis.
Kami menggunakan agen Short Escape untuk membantu memilih kapal phinisi dan type kamar yang sesuai dengan selera kami. Akhirnya kami memilih kapal Andalucia 2 karena terdapat kamar yang memiliki jacuzzi di teras kamar (walau ternyata bukan jacuzzi, melainkan bath tub besar saja). Untuk hotel, kami booking Loccal Collection, salah satu hotel yang relatif baru (2022). Daya tarik hotel ini adalah bentuknya yang seperti bangunan penginapan di pulau Santorini. Berlokasi di atas perbukitan dengan kontur hotel yang naik turun. Gedungnya dominan warna putih dengan variasi warna biru muda.
Berikut itinerary kami selama di Labuan Bajo :
Hari 1 : Jakarta – Labuan Bajo (hotel Loccal Collection)
Hari 2 : Cruise (Manta Point, pulau Taka Makassar, pulau Padar)
Hari 3 : Cruise (pulau Komodo, Pink Beach, pulau Penga, pulau Kalong)
Hari 4 : Cruise (pulau Manjarite, pulau Kelor) – kembali ke Jakarta
Day 1 : Jakarta – Labuan Bajo
Kamis pagi, kami berangkat ke Labuan Bajo dengan Citilink dari terminal 1B domestik. Ternyata terminal ini hanya melayani penerbangan Citilink saja. Wah enak sekali, suasananya tidak terlalu ramai dan padat padahal ini hari libur nasional di mana biasanya ada peningkatan perjalanan wisata domestik.
Kami tiba tengah hari di bandar udara Komodo di Labuan Bajo. Waktu di Labuan Bajo, masuk dalam Waktu Indonesia Tengah (WITA), yaitu 1 jam lebih dahulu bila dibandingkan dengan waktu di Jakarta. Kami dijemput oleh driver hotel Loccal Collection yang sudah kami pesan untuk transportasi dari bandara udara ke hotel. Biayanya Rp. 150.000,- per sekali jalan untuk maksimal 4 orang penumpang.
Saat bertemu dengan drivernya, kami diinfokan bahwa kamar kami masih disiapkan sehingga belum bisa check in. Kami disarankan untuk makan siang terlebih dahulu. Driver merekomendasikan sebuah restoran yang ternyata letaknya di seberang bandar udara Komodo ini. Karena membawa koper, kami tetap naik mobil ke restoran tersebut.
Kami makan di Warung Sei Babi Om Bai. Dari namanya saja, sudah pasti resto ini menyajikan makanan non halal ya. Di sini menunya tidak terlalu banyak. Kami memilih nasi goreng sei dan sate babi+lontong. Disajikan juga sambal matah di kedua menu ini. Rasanya enak. Setelah makan, kami jalan kaki ke toko souvenir yang letaknya sejajar dengan resto ini. Namanya Kado Bajo. Mungkin ini satu2nya toko souvenir terbesar dan terlengkap di Labuan Bajo. Pemiliknya ternyata sama dengan resto Warung Sei Babi Om Bai.
Lantai pertama Kado Bajo ini berisi souvenir khas NTT mulai dari makanan seperti aneka keripik dan kue yang bisa kita mintakan testernya, aneka kopi, hingga kaos, magnet, gantungan kunci dan aneka kerajinan lokal seperti dompet dan tas tenun. Lantai kedua isinya barang2 yang lebih eksklusif. Sedangkan di lantai tiga, terdapat restoran. Selesai belanja, kami diantarkan ke hotel. Perjalanan dari toko souvenir ke hotel, tidak sampai 10 menit. Selain karena jalanan sepi, memang Labuan Bajo kota kecil yang ke mana2 jaraknya tidak jauh.
Loccal Collection memiliki 2 gedung terpisah untuk tamu menginap, tapi terhubung dan masih dalam satu kompleks yang sama. Banyak area menarik untuk berfoto di sini. Sayangnya, menjelang sore gerimis turun cukup lama. Namun demikian, ternyata kami masih sempat menikmati foto dengan semburat matahari menjelang tenggelam.
Malam hari kami jalan kaki dari hotel menuju area wisata Kampung Ujung dan pelabuhan Marina Labuan Bajo, tempat besok kami akan memulai perjalanan kami. Kampung Ujung terkenal dengan warung-warung tendanya yang menawarkan aneka hidangan laut seperti ikan, kepiting, udang, cumi dll yang bisa dipilih dan nantinya diolah sesuai keinginan customer.
Day 2 : Labuan Bajo & Sailing
Pagi hari sebelum breakfast, kami foto2 dulu di sekitaran hotel. Di laut, tampak ratusan phinisi yang siap mengantarkan para wisatawan mengelilingi Labuan Bajo.
Breakfast di hotel ini cukup lengkap, enak dan banyak variasi menunya. Ada makanan tradisional dan internasionalnya. Pemandangan dari tempat makan pun sangat cantik.
Setelah breakfast, kami memutuskan untuk menikmati suasana di luar restoran. Jeff berenang di kolam renang outdoor yang menghadap Marina Labuan Bajo seperti gambar di bawah.
Setelah membereskan koper, sebelum jam 9 kami sudah harus check out karena akan dijemput oleh staf Andalucia 2 menuju Marina Labuan Bajo. Di lobby hotel, penuh dengan tamu hotel yang sudah check out dan menunggu dijemput oleh operator kapal masing2. Ternyata kami baru dijemput jam 10 alias menunggu 1 jam. Kata driver nya hari ini macet luar biasa di area kota dan marina, karena banyaknya turis menuju kapal.
Masalahnya mobil yang digunakan di sini rata2 adalah minibus bermuatan 4 orang, jarang yang minibus besar. Alhasil mobil harus bolak balik dari berbagai hotel untuk menjemput tamu dan mengantar ke Marina. Hal lainnya ternyata jalanan ke Marina hanya muat untuk 2 mobil saja bahkan saat masuk Marina, jalurnya hanya cukup untuk 1 mobil. Tidak heran terdapat antrian panjang saat masuk Marina.
Tiba di dalam gedung Marina, kami disambut oleh Erik dari tim Andalucia 2 yang akan menjadi tour guide kami selama 3 hari ke depan. Suasana Marina sangat ramai cenderung padat oleh para turis yang menunggu antrian untuk boarding ke masing2 kapal. Baik yang phinisi maupun speed boat. Wah, lebih banyak turis asing daripada turis lokal nih. Untuk masuk ke area dermaga untuk naik kapal, kita harus scan barcode yang sudah disediakan oleh Erik.
Tidak ada kapal phinisi yang sandar langsung di dermaga mengingat keterbatasan tempat. Jadi baik turis maupun barang2 bawaannya, harus naik tender boat terlebih dahulu. Tender boat ini nantinya akan diikat di belakang kapal phinisi dan digunakan sebagai sarana transportasi menuju spot2 snorkeling atau wisata lainnya di mana kapal phinisi tidak bisa mendekat.
Mau tau keseruan di atas kapal dan pengalaman sailing kami ? Ikuti kisah kami di part 2 ya
Bersambung ke Labuan Bajo part 2









