Tepat di hari Natal tanggal 25 Desember ini, kami naik kereta menuju Budapest, ibukota negara Hungary. Kami naik kereta EC yang berangkat jam 03.50 dari Salzburg. Perjalanan ditempuh hampir 5,5 jam. Untungnya kami bisa tidur di dalam perjalanan yang cukup jauh ini, lumayanlah, jadi ga kerasa jauh atau bosan.
Kiri : Keleti Train Station, Budapest. Kanan : apartemen Velez Haz
Sekitar jam 9.30 pagi, kami tiba di salah satu train station terbesar di Budapest, yaitu Keleti. Train station ini sangat besar dan bagus arsitektur luarnya. Di dalamnya juga ada jaringan metro bawah tanah yang ternyata merupakan salah satu yang tertua di Eropa. Di Budapest, kami menginap di apartemen Velez Haz, letaknya dekat Keleti Train Station.
Day 6 : Munich – Salzburg – Bad Ichsl – Steeg Gosau – Hallstatt
Hari ini, kami akan pindah kota sekaligus negara, dari Jerman ke Austria. Ini pengalaman kedua kami mengunjungi Austria setelah tahun 2012 di Europe 2012 (part 4-Austria). Kali ini kami mau mengunjungi salah satu kota wisata yang paling terkenal di seluruh dunia yaitu Hallstatt. Di tahun 2012, kami belum berkesempatan berkunjung ke sana.
Dari Munich kami naik kereta RJX ke Salzburg. Ini kota kelahiran komposer musik klasik ternama Wolfgang Amadeus Mozart. Juga lokasi shooting film favorit banyak orang termasuk Diana yaitu Sound of Music. Perjalanan ke sana ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam. Setibanya di Salzburg Main Station, kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus dari depan station menuju kota kecil Bad Ichsl. Kami bayar cash sebesar 12,4 Euro per orang ke supir busnya.
Perjalanan ditempuh dalam waktu 1 jam. Sepanjang perjalanan, kami bisa melihat pemandangan pegunungan yang tertutup salju dan alam pedesaan khas Austria. Bus menaikkan dan menurunkan penumpang di setiap perhentian yang terdapat di sepanjang perjalanan. Setibanya di Bad Ichsl, semua penumpang turun karena bus akan kembali ke Salzburg.
Kota Bad Ichsl
Tujuan wisata kami adalah Hallstatt. Untuk menginap di Hallstatt itu sendiri, harga hotel menjelang Natal dan Tahun Baru melonjak drastis. Alternatif lainnya adalah kota2 yang ada di sekitarannya, antara lain Bad Goisern dan Steeg Gosau. Akhirnya kami memilih kota kecil Steeg Gosau, yang terletak 2 station sebelum Hallstatt.
Pagi ini, kami mau pindah kota dari Frankfurt ke Nuremberg. Mungkin buat kebanyakan orang, Nuremberg bukanlah kota populer seperti Frankfurt dan Berlin. Saat kami mencari tahu situasi Christmas Market yang ada di kota-kota di Germany, ternyata Christmas Market di kota Nuremberg merupakan salah satu yang terbaik menurut beberapa versi media yang ada. Jadi masuklah Nuremberg dalam itinerary kami.
Dari Frankfurt ke Nuremberg, kami naik kereta ICE (milik Jerman) selama 2 jam. Ini kami beli tiket kereta tanpa seat reservation, jadi bisa cari sendiri tempat duduk yg masih kosong. Ternyata kami dapat duduk di gerbong Quiet Zone, jadi tidak ada suara keributan baik dari aktivitas anak2 maupun obrolan para penumpang lain. Nice !
Di kota ini, kami menginap di B&B Hotel Nuremberg Plarrer. Saat kami tiba sekitar jam 11 siang, kami belum bisa check in, sehingga hanya bisa menitipkan koper kami kepada staff hotel. Jalan-jalan saja deh sekarang. Dari hotel, kami naik UBahn, jaringan metro di Nuremberg untuk menuju Hauptmarkt (Grand Market). Di area Hauptmarkt terdapat 2 gereja yang terkenal di Nuremberg yaitu Frauenkirche dan St. Lorenz.
Kiri : bagian dalam Frauenkirche, Kanan atas : Frauenkirhce Kanan bawah : St. Lorenz
Perjalanan akhir tahun ini adalah bagian dari impian lama kami untuk mengunjungi Christmas Market. Ini biasanya berlangsung di banyak negara Eropa menjelang Natal sampai Tahun Baru. Christmas Market yang terkenal adanya di Germany, lalu karena kami belum pernah ke Eropa Timur, maka kami akan lanjut sekalian ke Hungary, Poland, dan Czech. Cari2 jalur perjalanan yang pas, akhirnya kami memutuskan jalur melingkar saja. Karena itu kami menambahkan Austria sebagai destinasi antara Germany dan Hungary.
Sebenarnya kami sudah pernah mengunjungi Germany dan Austria saat trip West Europe tahun 2012. Namun saat itu, kami tidak sempat berkeliling di Germany, hanya mendarat di Frankfurt dan malamnya sudah naik bis ke Den Haag Netherland. Di Austria, kami pernah mengunjungi Vienna, Salzburg dan Innsbruck. Jadi kali ini kami kami mau mengunjungi Hallstat (tempat turis yang populer itu) dan mengikuti “Salzburg Christmas Eve Tour to the Silent Night Chapel” yang hanya diselenggarakan setahun sekali saja, yaitu saat malam natal ! Kalo dulu kami jalan2 West Europe saat spring, lihat bunga2 bermekaran, kali ini kami mau merasakan Eropa saat winter.
Untuk East Europe sendiri kami sudah pernah mampir sebentar di East Europe yaitu di kota Bratislava (ibu kota Slovakia) Europe 2012 (part 4-Austria) Saat itu kami tidak menginap melainkan hanya jalan2 setengah hari bolak balik dari Vienna, Austria. Vienna dan Bratislava merupakan sister city. Sejarahnya dulu hanya ada 1 negara yaitu Cekoslovakia. Namun di tahun 1993 karena kondisi geopolitik, pecah menjadi 2 negara yaitu Czech dan Slovakia. Nah, Slovakianya sudah.. yang belum ke Czech nih.
Rute perjalanan melingkar dgn pusatnya di Czech : Frankfurt, Nuremberg, Munich, Salzburg/Hallstatt, Budapest, Krakow, Prague/Cesky Krumlov, Berlin
Selesai dari camp Pondok Tanggui, perjalanan dilanjutkan menuju camp Leakey, yang merupakan camp terbesar di Taman Nasional Tanjung Puting ini. Letaknya juga yang paling jauh dibandingkan 2 camp sebelumnya. Perjalanan ke camp Leakey ini menjadi tantangan tersendiri karena lebar sungai menuju camp Leakey semakin menyempit.
Suasana perjalanan sepanjang sungai Sekonyer
Perjalanan menuju camp Leakey sekitar 1,5 jam. Ditemani awan tebal dan gerimis yang semakin membesar. Sebelum masuk ke anak sungai yang menuju camp Leakey, kami istirahat sekaligus makan siang terlebih dahulu.
Tanggal 5 – 7 September 2025 merupakan libur long weekend terakhir di tahun 2025 ini. Dimulai dari hari Jumat, tentunya sayang untuk dilewatkan. Awalnya kami mempertimbangkan beberapa kota di Kalimantan untuk destinasi kami kali ini mengingat Jeff belum pernah menginjakkan kaki di pulau Kalimantan alias Borneo. Sedangkan Diana baru sekali ke area Kalimantan Barat, yaitu Pontianak dan Landak waktu mengunjungi anak asuhnya (melalui WVI) yang ada di sana.
Di awal, kami memiliki beberapa pilihan kota seperti Banjarmasin, Balikpapan atau Samarinda. Namun tiba2 Jeff teringat dengan teman couch surfing dari luar Indonesia yang dulu pernah ingin melihat orangutan di habitat aslinya di Kalimantan. Apalagi baru bulan Mei lalu kami pergi melihat komodo di habitat mereka di Labuan Bajo Labuan Bajo 2025 part 1.
Salah satu kawasan habitat orangutan, ada di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Terletak di propinsi Kalimantan Tengah yang ibukotanya adalah Palangkaraya. Namun untuk ke TNPT, kita tidak harus terbang ke Palangkaraya dahulu tapi bisa terbang langsung ke kota Pangkalan Bun, kota terdekat menuju TNTP ini. Hanya ada 2 maskapai domestik yang terbang ke Pangkalan Bun yaitu Nam Air (grup Sriwijaya Air) dan Batik Air. Dan hanya 3 kota dari pulau Jawa yang terbang ke sana yaitu Jakarta, Semarang dan Surabaya. Dengan pertimbangan waktu, kami memilih Nam Air untuk terbang ke sana dan Batik Air untuk kembali ke Jakarta.
Hari ini, kami mau pergi melihat binatang komodo di Pulau Komodo, salah satu highlight yang tidak boleh dilewatkan saat berwisata ke Labuan Bajo. Soalnya habitat asli si komodo di seluruh dunia, ya hanya di sini. Komodo menjadi kadal terbesar di dunia yang masih hidup hingga sekarang.
Atas : sunrise pagi hari di Labuan Bajo Bawah : desa Komodo
Jumlah komodo yang ada di Labuan Bajo diperkirakan 3.000 – 3.500 ekor. Habitat mereka hidup dan tersebar di beberapa pulau seperti pulau Komodo, pulau Rinca, pulau Padar, pulau Motang, dan pulau Kode. Tapi populasi terbanyak dan yang sering menjadi objek wisata adalah di pulau Komodo dan pulau Rinca.
Untuk perjalanan kami bersama Andalusia-2 hari ini, ada 14 peserta yang ikut serta : 4 orang Indonesia (termasuk kami berdua), 2 orang Italia, 2 orang Luxembourg dan 6 orang Malaysia. Untuk crew kapal ada 8 orang yang terdiri dari kapten kapal, tour guide, ahli mesin, tukang masak dan dokumentasi. Untuk yang dokumentasi akan membantu dokumentasi kita baik melalui kamera, drone maupun kamera bawah air. Nanti semua hasil dokumentasinya akan dimasukkan dalam google drive dan dishare dalam wa group peserta yang sudah dibuat sebelumnya. Nama tour guide kami yang akan menginformasikan seluruh aktivitas selama pelayaran ini bernama Erik.
Dalam rangka merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke-21, kami memilih Labuan Bajo di Manggarai Barat, propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai destinasi kali ini. Keindahan Labuan Bajo sudah kami dengar dari teman2 maupun keluarga kami yang sudah pernah ke sana. Selain keindahan alam yang mempesona, di Labuan Bajo juga terdapat Taman Nasional Komodo, yang merupakan habitat binatang reptil tertua dunia yang masih hidup dan hanya ada satu2nya di dunia, yaitu di Labuan Bajo ini.
Untuk bisa menikmati pesona alam Labuan Bajo, kami memutuskan memanfaatkan Kamis 29 Mei 2025 sebagai hari libur nasional untuk terbang ke Labuan Bajo. Saat ini, untuk menampung animo wisatawan lokal dan mancanegara, sudah ada bandar udara Komodo, satu2nya bandar udara di Labuan Bajo. Bandar udara ini, melayani penerbangan langsung dari berbagai kota di Indonesia maupun mancanegara seperti : Jakarta, Surabaya, Denpasar, Kuala Lumpur Malaysia dan Singapore
Catatan : per 31 Juli 2025 rute penerbangan Singapore – Labuan Bajo ditutup menyusul ditutupnya maskapai JetStar Asia yang melayani rute ini
Untuk melihat komodo dan menjelajah pulau-pulau cantik di Labuan Bajo ada 2 pilihan. Satu hari dengan menggunakan speed boat atau 3 hari menginap di atas kapal phinisi. Kami pernah menginap di kapal saat berwisata ke Halong Bay Vietnam Desember 2019 (part 3 – Halong Bay). Karena pengalaman tersebut menyenangkan, maka kami memilih menginap di kapal juga untuk Labuan Bajo ini.
Malam ini Diana dan beberapa teman mau cari es krim terkenal di Reykjavik, namanya Valdis. Lokasinya sekitar 2 km dari tempat kami menginap di Guesthouse 101 (akomodasi yg sama saat malam pertama kali datang ke Iceland). Jalan kaki sekitar 20-30 menit lah. Ternyata pas malam ini turun salju, makin lama makin deras. Lumayan nih, jalan jauh menyusuri sisi Reykjavik yang berbeda lagi, mengandalkan google maps, ditemani hujan salju. Akhirnya tercapai juga makan es krim yg dingin di tengah dinginnya malam ini. Memang ini hanya untuk orang2 yang senang cari masalah, haha..
Setelah makan es krim, kami sempat jajan hot dog juga di perjalanan balik. Ini jajanan yg cukup terkenal juga di Iceland, jadi must try. Kami juga melewati kantor perdana menteri Iceland yang berwarna putih, sangat sederhana dan tanpa penjagaan. jadi kita bisa foto2 di depannya dengan bebas.
Jalan2 cari snack di Reykjavik saat malam bersalju