East Europe (18 Dec 2025 – 3 Jan 2026) part 4 : Hungary (Budapest)

Day 8 : Salzburg – Budapest

Tepat di hari Natal tanggal 25 Desember ini, kami naik kereta menuju Budapest, ibukota negara Hungary. Kami naik kereta EC yang berangkat jam 03.50 dari Salzburg. Perjalanan ditempuh hampir 5,5 jam. Untungnya kami bisa tidur di dalam perjalanan yang cukup jauh ini, lumayanlah, jadi ga kerasa jauh atau bosan.

Kiri : Keleti Train Station, Budapest. Kanan : apartemen Velez Haz

Sekitar jam 9.30 pagi, kami tiba di salah satu train station terbesar di Budapest, yaitu Keleti. Train station ini sangat besar dan bagus arsitektur luarnya. Di dalamnya juga ada jaringan metro bawah tanah yang ternyata merupakan salah satu yang tertua di Eropa. Di Budapest, kami menginap di apartemen Velez Haz, letaknya dekat Keleti Train Station.

Saat kami tiba di apartemen, kamar kami belum siap dan masih dibersihkan. Kami titip koper di receptionist dan mau jalan2 cari makan dulu pagi ini. Di sekitaran apartemen kami, sebenarnya banyak tempat makan termasuk beberapa restoran fast food. Namun karena ini hari Natal, maka semuanya tutup. Satu2nya yang buka hanya Starbucks nih. Alhasil Starbucks penuh oleh pengunjung termasuk kami. Setelah dari Starbucks, kami kembali ke apartemen untuk beres2 dan istirahat. Kamar kami model apartemen, jadinya lengkap dengan kompor dan microwave. Bisa masak2 jadinya nih, solusi ketika banyak tempat makan tutup.

Kamar kami di Velez Haz

Walaupun Hungary adalah anggota Uni Eropa, namun Hungary tidak menggunakan mata uang euro, melainkan menggunakan mata uang mereka sendiri yaitu Hungary Forint (kode HUF dan simbol Ft). Di Keleti Station kami menukarkan 50 Euro kami dengan Ft 15.690 di salah satu money changer. Tentu bukan rate terbaik. Kami melakukan ini karena belum tahu apakah semua aktivitas jual beli di Budapest ini bisa menggunakan credit card atau tidak. Buat jaga2 dulu saja.

Untuk transport, sama seperti di Munich, kami membeli Budapest Transport Card (bukan Budapest Card) agar bisa menggunakan semua moda transportasi yang ada di sini seperti metro, tram, hingga bus. Kami beli pass yang 72 jam karena kami akan sekitar 3 hari full di Budapest sebelum berangkat ke Krakow, Poland. Pass ini kami beli dengan harga Ft. 11.500 per orang. Bisa bayar dengan credit card di kantor layanan tiket. Tidak lewat mesin untuk menghindari kesalahan. Perhatikan juga, petugas2 di sini kebanyakan usia senior sehingga sangat minim bahasa Inggrisnya.

Gereja St. Stephen’s Basilica & Christmas market di depannya

Berbekal transport card dan uang cash Hungary, kami mulai perjalanan di Budapest ini. Salah satu Christmas Market terbesar di Budapest terletak tepat di depan St. Stephen’s Basilica. Kami sempat masuk ke dalam gereja ini dan melihat kemegahannya. Luar biasa sih ini gerejanya ! Dari pelataran gereja, kami bisa melihat kemeriahan Christmas Market secara keseluruhan. Kedua tempat ini berada di tengah2 pusat keramaian kota.

Sama seperti Christmas Market di kota dan negara lainnya, di sini banyak kios yang menjual makanan, minuman dan souvenir Natal. Salah satu makanan khas Hungary yang wajib dicoba adalah langos. Langos adalah salah satu street food berupa roti pipih yang digoreng hingga garing di luar namun lembut di dalam. Di atasnya bisa diberi aneka topping pilihan sesuai selera. Sepintas mirip pizza tapi adonan rotinya kaya donut. Toppingnya ada yang manis dan ada yang asin. Kami akhirnya pilih topping: salmon, sour cream dan cheese.

Kiri atas : langos. Kiri bawah : minuman bombardino

Saat disajikan, kami cukup surprise dengan ukuran langos yang besar bahkan untuk kami makan berdua. Jadinya malah ga habis karena kami sudah kekenyangan. Ternyata, langos itu ada beberapa ukuran layaknya pizza seperti small/medium/large. Hanya saja tiap kios biasanya hanya menjual satu ukuran saja. Kita yang perlu memilih beli di kios yang mana. Besar kecilnya langos akan terlihat dari harganya.

Untuk minuman, kami mencoba yang namanya bombardino. Awalnya Diana tertarik karena warnanya orange, kirain orange juice. Ternyata ini minuman/dessert khas Italia. Minuman ini merupakan campuran dari 1/2 Advocaat atau Eggnog (minuman berbasis susu dan telur) dan 1/2 brendi, rum, atau wiski, yang disajikan panas dengan topping krim kocok. Rasanya enak, tapi jauh banget dari rasa orange juice ya…. haha… Badan terasa hangat saat meminumnya apalagi di cuaca dingin seperti saat ini.

View dari area cruise terminal

Dari Christmas Market ini, kami berjalan lurus menuju sungai terpanjang kedua di benua Eropa yaitu Danube River (atau Duna dalam bahasa Hungary). Danube River inilah yang membelah kota Budapest ini menjadi area Buda dan Pest. Di atas sungai ini, terdapat beberapa jembatan penting yang menghubungkan kedua area ini seperti Chain Bridge, Liberty Bridge dan Elizabeth Bridge. Yang paling megah dari sisi arsitektur adalah Chain Bridge (terlihat di background foto Jeff di atas). Kendaraan bermotor maupun orang, bisa melintas di atas jembatan2 ini.

Untuk menikmati kota Budapest dari arah sungai, ada banyak jasa layanan cruise, yaitu kapal2 semi open air (kebanyakan 2 lantai) yang membawa turis berkeliling. Cruise2 ini mulai beroperasi dari siang hingga malam hari. Bedanya kalo malam hari, turis akan disuguhi keindahan lampu perkotaan terutama yang terletak di daerah Pest. Ini yang membuat suasana Budapest terasa “magical” dengan gemerlap lampunya.

Menikmati River Cruise dengan latar belakang Gedung Parlemen

Kami memilih operator Mahart Cruise dengan jadwal keberangkatan jam 18.10 sore, dengan harapan bisa melihat dan menikmati keindahan lampu2 kota Budapest. Harga tiket cruise berbeda2 antar operator cruise. Paket kami sudah termasuk minuman Torley Prosecco atau sparkling wine saat cruise. Nice. Wine ini bisa langsung diambil saat masuk kapal dan bisa dinikmati sepanjang perjalanan. Kami pilih duduk di lantai atas kapal yang terbuka. Dingin sih… tapi asyik. Tidak terhalang kaca jendela untuk melihat pemandangan kota.

Cruise ini berlangsung selama kurang lebih 1 jam. Salah satu bangunan yang paling menonjol selama cruise ini adalah panorama Gedung Parlemen Budapest yang menyala terang dan megah. Nah, kami start dan finish cruise ini dari depan gedung ini. Jadi puas deh melihatnya. Pengalaman yang berkesan untuk mengakhiri hari Natal ini.

Day 9 : Budapest (Buda Area)

Pagi ini cuaca sangat cerah dan cocok untuk aktivitas kami yang banyak di luar ruangan hari ini. Tempat wisata yang kami kunjungi pertama kali pagi ini adalah Buda Castle, salah tempat yang wajib dikunjungi saat berkunjung ke Budapest. Buda Castle ini adalah kompleks istana kerajaan bersejarah di Budapest, Hungaria. Terletak di puncak Castle Hill dan merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO.

Naik escalator ke atas Buda Castle & melihat view cantik dari atas castle

Untuk naik ke Buda Castle bisa lewat tangga maupun eskalator. Kebetulan kami berhasil menemukan eskalator tersebut. Tidak terbayang jika harus naik tangga karena cukup terjal menuju ke atas. Dari atas sini, kami bisa melihat view sungai dan kota yang sangat indah dan spektakuler. Apalagi langit biru cerah dengan awan putih berarak. Wow banget deh view nya !

Area Buda Castle ini sangat luas. Terdapat beberapa gedung seperti The Hungarian National Gallery, the Budapest History Museum dan the National Széchényi Library. Selain itu juga ada taman dan area2 terbuka lainnya.

Gedung2 Bersejarah di area Buda Castle

Di salah satu area, terdapat beberapa stand makanan dan minuman. Kami mencicipi makanan seperti foto di bawah. Namanya tidak terlalu jelas, Jeff cuma tunjuk2 saja, haha.. Jadi ada hungarian sausages (kolbasz), ini agak beda dengan sosis Germany. Yang ini betul2 seperti daging cincang yang dibuat sosis, jadi terasa butiran daging cincangnya dan lebih berempah/spicy. Lalu ada baby potato, coleslaw, dikasi mayonaise dan diletakkan di atas adonan roti seperti naan bread nya India. Yang penting rasanya enak dan mengenyangkan !

Kanan atas : tempat membuat wine panas. Kiri bawah : our lunch

Di area Buda, ternyata ada wisata labirin kota. Letaknya tidak jauh dari Buda Castle. Dari jalan, tidak terlihat sesuatu hal yang menonjol, sama seperti bangunan2 di kanan kirinya. Hanya ada papan nama bertuliskan The Labyrinth di depannya. Begitu masuk ke dalam, kami langsung menuruni tangga yang lumayan curam menuju bawah tanah. Untuk menjelajah The Labyrinth ini, pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar Ft 6.000 dan hanya bisa menerima uang CASH lokal. Untunglah kami sudah menukar uang lokal dan akhirnya digunakan di sini. Selain labyrinth ini, semua tempat wisata atau membeli makanan di seluruh Budapest ini bisa menggunakan credit card.

Di sini tidak ada tour guide, kita justru perlu cari jalan sendiri. Jika tersesat, ya nikmati saja. Kan memang ini inti dari keseruan labyrinth. Bagi yang bingung, di beberapa area tembok terdapat panah penunjuk arah untuk menuju pintu keluar kok. Karena pintu masuk dan keluar memang berbeda. Suasana di dalam cukup gelap, namun tetap ada cahaya lampu. Bahkan ada efek asap dan lampu berwarna yang membawa suasana magis. Ditambah adanya efek audio yang agak2 seram, hehe.. Seru deh.

The Labyrinth di Buda area

Ada juga satu jalur yang betul2 gelap gulita, namanya The Dark Labyrinth. Silakan dicoba jika anda berani ! Kapan lagi bisa merasakan situasi gelap yang betul2 pekat, tak ada cahaya setitik pun. Indera mata anda tidak berfungsi sama sekali di jalur ini. Ketika kami menyalakan senter HP karena sudah tidak tahan berada di kegelapan tanpa arah ini, kami kaget karena hanya beberapa cm di depan kami ternyata ada tembok besar. Betul2 tidak terbayang. Bisa nabrak ini sih kalo ga pelan2. Makanya, jalur ini katanya memang untuk menguji indra ke-6 dari orang2 yang melewatinya.

Oya, labirin ini cukup besar ya, jadi kita jalan biasa saja, tidak perlu membungkukkan badan. Sepanjang labirin ini, terdapat banyak ruangan dan juga patung2 tokoh yang terbuat dari wax alias patung lilin. Ada juga terdapat Dracula’s Chamber atau kamar Dracula yang katanya konon pernah dipenjara di labirin ini.

Atas : Gereja Matthias dekat Fisherman’s Bastion
Bawah : Chimney Cake pertama kami

Dari kegelapan labirin, kami keluar untuk menuju Fisherman’s Bastion, salah satu tujuan wisata utama di area Buda Hill ini. Di samping Fisherman’s Bastion, terdapat Gereja Matthias yang berdiri dengan megahnya. Di depan gereja terdapat antrian turis / umat yang mau masuk ke dalamnya. Di sekitaran gereja terdapat beberapa kios dan toko makanan. Kali ini kami mau mencoba salah satu makanan yang sebenarnya dari kemarin sudah banyak kami temui di Christmas Market dan tempat keramaian lainnya. Namanya Chimney Cake.

Chimney cake (dikenal sebagai Kürtőskalács) adalah  kue tradisional Hungary yang berbentuk silinder berongga dengan tekstur renyah di luar dan lembut di dalam. Adonan ragi dililitkan pada batang kayu, digulung dengan gula, lalu dipanggang hingga karamelisasi. Sering disajikan hangat dengan taburan kayu manis, kacang, atau isi es krim. Ini juga ada yang ukuran besar banget, biasa dan kecil ya. Sama seperti langos, tiap kios hanya jual satu ukuran. Jadi silakan pilih kios yang cocok dengan kebutuhan.

Fisherman’s Bastion di area Buda

Fisherman’s Bastion atau dalam bahasa Hungarynya Halászbástya adalah teras pengamatan bergaya Neo-Romanesque dan Neo-Gotik. Fisherman’s Bastion ini dibangun antara 1895-1902. Tempat ini menawarkan pemandangan panorama Danube River dan Gedung Parlemen Hungary yang spektakuler, menampilkan tujuh menara yang melambangkan suku-suku Magyar yang menetap di Hungary pada abad ke-9. Di area ini juga banyak stand penjual snack dan souvenir.

Dari Fisherman’s Bastion kami turun untuk melanjutkan perjalanan ke Margaret Island (Margitsziget). Margaret Island adalah pulau yang terletak di tengah2 Danube River. Untuk ke pulau ini, tidak memerlukan penyeberangan alat transportasi air seperti perahu. Pulau bisa dicapai dengan berjalan kaki, tram atau bus karena ada jembatan yang terhubung baik ke area Buda maupun area Pest.

Sunset di Margaret Island

Margaret Island ini memiliki panjang sekitar 2,5 km. Di petunjuknya ada banyak area taman, reruntuhan abad pertengahan, air mancur musikal, thermal bath. Kami coba menyusuri pulau ini dengan berjalan kaki, namun tidak terlihat ada hal yang menarik. Ada beberapa tempat makan dan wisata tapi terlihat tutup. Mungkin karena winter season ya. Jadi setelah sekitar 30 menit berjalan, kami memutuskan balik arah saja. Saat berjalan pulang, pas dengan waktu sunset. Jadilah kami bisa menikmati sunset yang indah dari pulau ini.

Walaupun kaki sudah cukup gempor karena banyak jalan sepanjang hari ini, namun kami masih mau menikmati atraksi malam hari yaitu Garden of Lights. Sebenarnya ini adalah botanical garden, namun karena sekarang musim dingin maka tidak ada pohon maupun bunga yang mekar. Alhasil taman ini disulap dengan lampu2 hias mengikuti tema tertentu. Saat kami datang, temanya tentang Peter Pan. Kalo yang tahu filmnya, pasti bisa mengenali tokoh, karakter dan cerita yang ditampilkan di sini.

Garden of Lights

Dari Garden of Lights, kami sudah lapar lagi. Pilihan kami jatuh kepada Zing Burger, yaitu jaringan resto burger populer di Hungary. Enak nih burgernya, bahkan ada pilihan sweet potato (ubi). Jadi ga bosan makan kentang terus. Selesai makan, kami masih mau eksplor bagian Buda dengan cara naik tram ke area Buda. Namun semakin jauh perjalanan kami, suasana semakin sepi dan tidak ada hal yang menarik yang dapat kami eksplor lagi. Akhirnya kami putuskan kembali ke apartemen saja untuk istirahat.

Day 10 : Budapest (Pest Area)

Hari ini adalah hari ketiga sekaligus hari terakhir kami di Budapest. Kami masih bisa beraktivitas hingga malam hari, sebelum tengah malam nanti kami akan pindah kota ke Krakow, Poland. Kali ini mau eksplore area Pest.

Pagi ini kami janjian ketemu dengan Tiffany, teman kami dari Serpong yang kebetulan bersama keluarganya sedang berlibur juga Ke Eropa Timur. Hanya saja beda rute nih. Kami dari Germany, Austria, ke Hungary, baru Poland dan Czech. Mereka justru masuk dari Czech, ke Poland, baru ke Hungary, Austria dan Germany. Ternyata pas waktunya bisa papasan di Budapest nih, lucu juga… sesama orang Serpong ketemunya di Budapest.

Kanan atas : Jembatan Liberty dekat Great Market Hall
Bawah : Great Market Hall

Kami janjian ketemu di Great Market Hall, Budapest. Ini pasarnya orang Budapest yang sudah ada sejak dari tahun 1897. Di lantai dasar terdapat kios2 yang menjual aneka makanan, minuman dan souvenir. Kami baru menyadari bahwa paprika adalah salah satu souvenir khas Budapest. Dijual baik dalam bentuk aslinya, powder maupun keychain dan beberapa dipadukan dengan alat masak lain. Di lantai 2, terdapat penjualan barang2 souvenir grosiran seperti magnet, gantungan kunci, kaos, topi, syal dan lain2. Cocok kalo mau beli souvenir dalam jumlah banyak dengan harga miring.

Selesai dari Great Market Hall, kami berjalan kaki yang kemudian tembus hingga St Stephen’s Basilica. Cuaca cerah dengan adanya matahari bersinar, membuat suasana hari ini sangat menyenangkan buat banyak turis berjalan kaki seperti kami. Walaupun matahari, tapi cuaca nya tetap dingin loh ya.. namanya juga winter. Sekitar 10-15 derajat celcius lah.

Lunch istimewa di Salt and Pepper

Di sepanjang jalan yang kami lalui, banyak resto yang menawarkan aneka makanan dan minuman khas Hungary. Tamu bisa duduk di bagian dalam resto (jika kedinginan) ataupun di bagian luar resto. Buat yang memilih duduk di luar, disediakan pemanas outdoor. Dari sekian banyak restoran, kami akhirnya memilih Salt and Pepper Resto.

Kami memilih duduk di luar, mau menikmati udara segar dan dingin ini. Di atas kursinya ada hamparan bulu agar terasa hangat. Di sini ada banyak hidangan, salah satu yang ditonjolkan adalah menu Hungarian Mix Plate for 2 People. Isinya : 2 beef stew goulash soup (soup terkenal khas Hungary), chicken paprika (khas Hungary juga yang tidak pedas ternyata), noodle dumpling (ini kaya macaroni), beef stew, grill sausages, potato wedges, dan cabbage salad. Ini cocok buat kami yang suka mencoba makanan baru dan pengen coba makanan khas Hungary di hari terakhir kami di Hungary. Goulash soup nya betul2 enaaaaaak. Beda dengan yang pernah kami makan sebelumnya. Lalu semua makanan di platter tersebut semuanya cocok di lidah kami, betul2 enak. Habis ludes deh.

Bawah : area gedung Parlemen Budapest di siang hari

Habis makan siang, badan sudah segar dan bertenaga lagi, lanjut eksplore Budapest kembali. Kami jalan kaki ke pinggiran Danube River. Ada gedung Parlemen Budapest yang di siang hari tampak biasa saja (berbeda dengan di malam hari saat semua lampunya dinyalakan).

Pada perang dunia kedua, Budapest juga terdampak. Salah satu cara untuk mengenang kekejian perang dunia tersebut diabadikan dalam Shoes on The Danube Bank yang ada di pinggir Danube River. Shoes on The Danube Bank adalah sebuah monumen yang terdiri dari 60 pasang sepatu terbuat dari besi. Monumen ini untuk mengenang pembantaian orang Yahudi oleh pasukan Nazi pada perang dunia kedua. Jadi ceritanya, sebelum orang Yahudi ditembak mati dan jenazahnya dibuang ke Danube River, mereka diminta untuk berdiri di tepi sungai dan melepaskan sepatu terlebih dahulu. Sepatu pada masa tersebut merupakan barang yang berharga. Kemudian sepatu-sepatu tersebut diambil oleh pasukan Nazi. Duh, bener2 kejam dan ga mau rugi ya. Sekarang ini merupakah objek wisata dan ada yang menyalakan lilin atau menaruh bunga di sepatu2 tersebut.

Di salah satu platform stasiun MRT (Metro) Kossuth Lajos Ter, yang berada tepat di bawah Gedung Parlemen Budapest, ada sebuah patung yang diberi nama Theiresias Statue. Sebuah karya seni perunggu yang menggambarkan seorang pria buta bersama anjing penuntunnya. Theiresias adalah nabi atau peramal terkenal dari Thebes yang melayani Apollo. Ia dikenal karena kebijaksanaannya dan kemampuannya melihat masa depan meskipun kehilangan penglihatan fisiknya.

Kiri dan kanan atas : Shoes on The Danube Bank
Kanan bawah : Theiresias Statue di Kossuth Lajos Ter MRT Station

Salah satu julukan untuk kota Budapest adalah ibu kota spa dunia karena di sini ada banyak thermal bath alias pemandian air panas alami. Jadi kami mau merasakan dong. Kami pilih Széchenyi Thermal Bath yang katanya terbesar di Eropa ! Lokasi thermal bath ini cukup jauh dari pusat kota Budapest. Buat yang ingin info lebih lengkap bisa baca di Széchenyi Gyógyfürdő és Uszoda. Yang ke sini campur ya baik warga lokal maupun turis yang mau merasakan sensasi thermal bath. Kami ke sini sekitar jam 3 sore, ketika masih ada sinar matahari.

Kami pernah juga menikmati thermal bath di Banff Hot Spring Western Canada June 2018 (part 4) itu pengalaman yang seru. Diana juga pernah menikmati thermal bath di Iceland dan enjoy banget. Berendam air panas alami itu memang salah satu favorit kami. Konsep berbeda seperti onsen juga pernah kami coba saat ke Hokkaido, bisa baca di PRIVATE ONSEN IN LAKE TOYA HOKKAIDO JAPAN. Sebetulnya ada kota namanya Bath di Great Britain, UK June 2019 part 3 namun saat kami ke sana justru tidak ada pengalaman berendam air panas.

Kami beli tiket di loketnya langsung. Untuk ke sini harus berbekal handuk dan sandal sendiri ya. Karena di sini tidak ada penyewaan handuk atau pun sandal, melainkan penjualan saja. Jadi dipaksa beli kalo tidak bawa sendiri. Setelah beli tiket, kami mendapatkan gelang untuk membuka cabin (ruang kamar ganti) kami. Jadi tiket itu otomatis termasuk locker kecil untuk taro barang bawaan. Area locker untuk pria dan wanita dipisah. Nah, kalo dirasa tidak muat dan kita couple yang repot kalo taro barang terpisah, kita bisa sewa cabin yang berupa ruangan kecil, seperti ruangan ganti baju gitu. Cabin ini bisa dipakai berdua, jadi kami sih sewa ini saja.

Outdoor pool di Szechenyi Bath

Enaknya, cabin ini bisa otomatis buat ruang ganti baju. Cuma cabinnya sempit ya, jadi untuk ganti pakaian ya cuma bisa untuk 1 orang saja, yang satunya gantian tunggu dulu di luar. Barang2 kami taro di ruangan itu semua. Banyak juga, karena kan winter yah ini. Jadi sepatu saja sudah besar, belum jaket2 kami dan ransel bawaan kami. Setelah semua beres, kami siap nih. Sudah pakai baju berenang dan sandal. Plus bawa handuk.

Secara umum di thermal bath ini ada 2 bagian besar yaitu outdoor dan indoor pools. Yang outdoor ada 3, besar2 semua. Di tengah ada yang persegi, lintasannya seperti kolam renang olimpiade. Di kiri dan kanannya berbentuk bulat dengan temperatur yang berbeda. Yang satu disebut Leisure Pool, suhu hangat saja tapi tengahnya seperti kolam arus dan ada jacuzzi nya. Seru nih yang kolam arus, karena pengunjung otomatis terseret berputar tanpa harus mengeluarkan energi. Yang satu lagi kolam biasa, tapi suhunya jauh lebih panas.

Nah, ternyata ada aturan bahwa wanita yang berambut panjang wajib mengikat rambut mereka. Jika rambut terurai dan tidak diikat, maka petugas akan meniup peluit untuk memperingati orang tersebut. Kami sempat dengar peluit ditiup berulang kali tapi ga paham kenapa. Tau2nya Diana dong yang dimaksud oleh petugas itu. Itu pun karena dijelaskan sama pengunjung lain yang baik hati pakai bahasa Inggris. Wuih cukup malu karena beneran ga tau ada aturan itu. Petugas lalu melemparkan ikat rambut ke Diana uintuk kemudian Diana pakai untuk ikat rambut.

Indoor pool di Szechenyi Bath

Karena ini masih termasuk winter, walaupun cuaca dan matahari bersinar cerah. hawanya sangat dingin. Paling terasa kalo pas naik dan mau pindah kolam, dingin anginnya minta ampun. Brrr…. Percuma pakai handuk, karena ternyata handuknya basah terkena hawa winter, lembab gitu. Makin dijemur, handuk kami malah makin dingin karena kena angin dingin itu. Serba salah ini sih.

Sudah puas main di outdoor pool, saatnya pindah ke indoor pool. Aaah… di sini jauh kebih hangat karena tertutup areanya. Tidak ada angin dingin dan banyak heater. Jadi handuknya bisa dijemur di heater, lumayanlah, walau ga bisa diharapkan jadi kering ya. Paling engga tidak sedingin pas di out door tadi. Di indoor jauh lebih ramai orang karena ya makin malam kan makin dingin anginnya. Jadi pada berlindung ke sini semua.

Di dalam gedung ini terdapat belasan kolam dengan ukuran, temperatur dan tujuan yang beda. Bahkan interior di sekitar pool juga berbeda2. Ada yang seperti pemandian di kerajaan karena banyak pilar2 seperti istana jaman dulu. Ada yang air dingin. Macem2 banget, seru sih. Tinggal kita coba saja satu per satu. Ada juga ruangan sauna dan spa yang jumlahnya cukup banyak. Jenisnya juga macam2 banget, ada yang salt room, ada volcano sauna, aroma sauna, aquarium steam, dll. Kami menghabiskan waktu hampir 4 jam untuk bisa merasakan sensasi kolam yang berbeda2 di seluruh thermal bath ini. Luar biasa banget deh. Ini sebagai penutup sekaligus highlight dari perjalanan kami ke Budapest.

Penutup malam terakhir di Budapest

Setelah puas rendaman air panas, kami kembali ke apartemen Velez Haz untuk mengambil koper kami. Kami mampir makan malam dulu di resto cepat saji Kentucky Fried Chicken. Serunya di sini KFC nya jualan es krim loh. Ga tanggung2, es krim nya ada yang ukuran 1 pint, jadi bukan yang cup kecil gitu. Wadoh, bener2 puas deh, habis panas2an di thermal bath, kemudian mendinginkan tubuh pake es krim hampir setengah liter, haha..

Sudah kenyang, kami kembali ke apartemen, pamit sama yang punya apartemen dan keluar untuk melanjutkan perjalanan kami ke kota Krakow, Poland. Untuk ke Krakow, kami naik FLIX BUS dari station Mexicoi Ut dengan rencana berangkat jam 23.15 dan dijadwalkan tiba esok hari di Krakow jam 6 pagi. Siap2 tidur di bus nih.

Bersambung ke East Europe part 5

Cerita sebelumnya di East Europe part 3

Categories: 2025-2029, EUROPE, Hungary | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

We love your feedback !

Blog at WordPress.com.