Day 16 : Prague – Berlin
Kami seharusnya tiba di Berlin Main Station jam 18.29 malam. Namun 2 station sebelum tujuan, tiba2 kereta berhenti. Awalnya kami pikir tunggu giliran masuk station. Tapi setelah ditunggu kereta tidak jalan2. Kami perhatikan di layar, jadwal sampainya kereta mundur terus beberapa kali hingga hampir 30 menit. Sudah sampai Berlin sih, cuma station nya beda nih. Sekitar jam 19 malam baru keluar pengumuman bahwa ada kendala sehingga kereta tidak bisa jalan. Kami harus keluar dari kereta, pindah platform dan naik kereta lain yang tujuan akhirnya adalah Berlin Main Station. Ya sudah, kami ikuti saja penumpang lain yang pindah kereta.
Akhirnya kami tiba juga di Berlin Main Station atau bahasa Jermannya Berlin Hauptbahnhof. Station ini merupakan salah satu station terbesar di Eropa. Melayani transportasi antar kota dan antar negara, termasuk juga metro di Berlin. Yang menarik, arsitektur gedung ini didominasi dengan kaca sehingga kami bisa melihat platform yang berlokasi beberapa lantai di bawah kami.
Di Berlin, kami menginap di Hotel Romy by Amano. Hotelnya tepat di seberang main station. Bisa nyeberang di jalanan mobil, atau lewat jalur bawah tanah metro (muncul tepat di samping hotel). Lokasinya sangat strategis dan mudah dicapai, apalagi di tengah hujan salju dan dingin seperti malam ini.
Hotel ini sebenarnya menerapkan sistem check in mandiri alias tidak ada petugas resepsionis yang melayani. Ada 2 komputer touch screen yang disediakan untuk para tamu yang datang. Namun saat kami coba, kami diidentifikasi belum bayar. Padahal kami sudah melakukan pembayaran dan lunas lewat booking.com. Setelah kami coba beberapa saat dan belum berhasil, akhirnya Diana minta bantuan staff hotel Amano Grand Central yang berada di sebelahnya. Beberapa tamu juga mengalami kesulitan yang sama seperti kami, akhirnya dibantu oleh staff hotel.
Kami langsung masuk kamar dan menaruh koper kami. Kamar di hotel Romy termasuk sempit untuk membuka koper kami dan cukup temaram pencahayaannya. Setelah beres2, kami kembali ke Berlin Hauptbahnhof untuk mencari makan malam. Di sini ada beberapa tempat makan dan juga beberapa supermarket. Akhirnya kami makan di resto Hans Im Gluck, restoran burger grill populer asal Jerman yang terkenal dengan desain interiornya yang menyerupai hutan pohon birch. Kami sudah pernah ke restonya yang cabang Vivo City Singapore tahun 2024. Nah, kali ini kita coba di negara aslinya. Hm.. menunya beda nih. Yang waktu itu enak banget di Singapore malah ga ada menunya di sini.
Day 17 : Berlin
Untuk sarapan, kami cari di Berlin Hauptbahnhof. Pilihan kami jatuh pada resto Fish&Chips. Sesuai namanya, tentu saja menu utamanya adalah fish and chips. Ada banyak pilihan fish, bisa tunjuk2 saja kalo mau atau pilih paket. Potongan fishnya besar dan french friesnya melimpah. Kenyang deh.
Kami akan menjelajah Berlin seharian ini sebelum nanti sore kami akan pindah ke hotel di dekat airport. Untuk memudahkan transportasi kami, kami membeli 1 day Berlin Pass (khusus transportasi saja). Pass ini dapat dipakai untuk bus, tram dan metro. Pass yang kami beli, sudah mencakup area Bradenburg Airport, tempat esok hari kami akan mulai perjalanan pulang ke Jakarta.
Berlin sebagai ibukota negara dan kota terbesar di Jerman memiliki history panjang terkait Perang Dunia Kedua dan juga era Perang Dingin. Termasuk sejarah penyatuan kembali Jerman Timur dan Jerman Barat. Tidak heran di Berlin ini, ada banyak peninggalan bersejarah, baik dalam bentuk gedung dan arsitektur. Yang paling terkenal pastinya adalah Berlin Wall alias tembok Berlin yang pada masanya memisahkan wilayah Jerman Barat dan Jermat Timur yang berideologi komunis.
Karena waktu kami terbatas, kami harus memilih beberapa peninggalan bersejarah tersebut di atas. Pertama-tama kami mengunjungi Visitor Centre of The Berlin Wall Memorial. Tempatnya tidak terlalu besar, ada banyak foto2 hitam putih yang menggambarkan suasana tempo dulu Jerman
Di depan Visitor Centre, terdapat bagian utuh dari Berlin Wall. Di balik tembok tersebut ada monumen dan bekas2 bangunan yang dilestarikan. Saat kami di sini, salju dan angin bertiup sangat kencang. Dingin banget dan kami harus berjalan melawan arah tiupan angin kencang ini.
Di dekat Berlin Wall, ada yang namanya Nordbanhof Ghost Station Berlin. Ini adalah salah satu Ghost Station paling terkenal di Berlin dari beberapa ghost station lainnya. Ghost Station mulai ada sejak tahun 1961 dan mewarnai sejarah keberadaan Jerman Barat dan Jerman Timur pada masanya. Untuk kisah lengkapnya, bisa didapatkan dari berbagai sumber. Awalnya kami tidak sengaja masuk ke sini. Karena seperti station metro bawah tanah biasa kalo dari atas. Saat kami masuk, kami mendapatkan suasana yang sangat suram dan bisa membayangkan masa2 Ghost Station ini masih berfungsi. Ada beberapa foto dokumenter di dalam station terkait sejarah Ghost Station ini.
Dari Ghost Station kami kembali ke hotel terlebih dulu naik tram. Mengurus check out dan menitipkan barang2 kami ke receptionist karena kami masih mau jalan2 sampai sore. Nanti sore rencananya baru ambil lagi koper dan pindah ke hotel dekat airport.
Dari hotel, kami ke salah satu spot wisata yang paling terkenal di Berlin, yaitu Checkpoint Charlie. Checkpoint Charlie adalah pos pemeriksaan perbatasan paling terkenal antara Berlin Timur dan Berlin Barat selama Perang Dingin (1961-1989). Terletak di Friedrichstraße, lokasi ini simbol perpecahan Jerman, tempat pelarian dramatis, dan konfrontasi tank AS-Soviet tahun 1961. Kini, ia menjadi situs sejarah/wisata ikonik dengan replika menara penjaga yang berada di tengah2 persimpangan jalan besar yang ramai. Untuk berfoto di sini, harus antri gantian dan berhati2 menyeberang karena berada di jalanan yang masih aktif dengan lalu lintas lalu lalang kendaraan.
Kemudian kami pindah lokasi ke The Brandenburg Gate, salah satu landmark paling terkenal di Jerman. Dulunya simbol pembagian Jerman (Timur-Barat) saat Perang Dingin, kini menjadi lambang reunifikasi. Lokasi ini juga menjadi salah satu pusat keramaian saat pergantian malam tahun baru paling utama di Jerman. Termasuk 1 Januari 2026 kemarin.
Dari The Brandenburg Gate, kami mengunjungi salah satu Christmas Market yang ada di Berlin yaitu Wintermarkt Schloßplatz Berlin . Lokasinya terletak di pusat kota Berlin, berada di Humboldt Forum dengan pemandangan gereja Katedral Berlin.
Di sini pastinya ada banyak stand makanan dan minuman, ada juga mainan anak2. Kami tertarik makanan bernama Raclette, yang ternyata adalah keju leleh di atas roti gandum panggang. Bisa dikasi topping lagi, dan kami memilih saus cranberry yang manis. Namanya Raclette Sweety. Rasanya enak banget, rotinya crispy, seimbang antara keju yang asin dan cranberry yang manis. Lalu untuk menghangatkan badan, kami memilih minuman Apfel-Karamell-Gluhwein, paduan rasa apel dan karamel di dalam Gluhwein. Nice !
Buat para penggemar coklat, pasti sudah tahu kalo Ritter Sport adalah coklat produksi Jerman. Di Berlin, kami mendapatkan lebih banyak pilihan rasa yang tidak masuk ke Indonesia dan Singapore. Beberapa diantaranya merupakan limited edition. Harganya bisa lebih murah hingga 50% bila dibandingkan jika membeli di Singapore. Jadi kami membeli Ritter Sport berbagai rasa sebagai oleh2 utama kami dari Jerman sebelum kembali ke Indonesia.
Selesai semuanya. Kami kembali ke hotel untuk mengambil koper dan tas titipan kami dari dalam ruang receptionist. Semua bawaan ini kami bawa ke dalam lounge hotel untuk dibereskan dan dirapikan lagi, supaya mudah untuk dibawa ke hotel berikutnya naik metro. Bar dalam lounge ini belum beroperasi, namun saat kami masuk, sudah ada beberapa tamu lain yang duduk tersebar. Kami memilih duduk di sofa di dekat pintu masuk lounge. Koper bagasi kami letakkan di samping sofa, beserta 1 tas jinjing hitam berisi coklat oleh2 dan kue2 yang dibeli sepanjang perjalanan.
Saat hendak meletakkan ransel Diana di atas koper, ternyata ranselnya basah. Rupanya ada minuman yang tumpah. Jadilah makanan, minuman dan barang2 yang ada di ransel tersebut kami keluarkan ke atas meja depan sofa. Sekalian saja kami makan dulu snack2 yang kami beli tadi di jalan. Di sinilah kami melepas fokus dari koper dan tas jinjing di samping sofa kemudian beralih fokus ke meja di depan sofa. Kondisi lounge juga cukup temaram dengan nuansa hitam.
Saat kami selesai dan siap berangkat, loh… kok tas jinjing hitamnya ga ada di atas koper. Apa tadi kelupaan ya, ga keambil dari ruang resepsionis ? Mestinya sih engga ya. Kami coba cek kembali ke ruang resepsionis, tapi ga ada sih tas hitam itu. Sempat cari2 di lounge, apa jatuh atau tergeser ? Tapi ga ada. Apa kelupaan dibawa ke toilet ? Kami cari juga ga ada. Wah, langsung keringat dingin deh… ini beneran hilang tas nya ? Setelah sekian lama mencari, akhirnya kami sadar bahwa ada kemungkinan bahwa tas jinjing kami dicuri. Kami cukup curiga dengan tamu yang duduk berhadapan dengan kami, ada 3 pria non Jerman dan mereka memang pergi beberapa saat sebelum kami menyadari hilangnya tas jinjing kami. Di area duduk mereka, terdapat ransel hitam yang sepertinya sengaja mereka tinggalkan.
Akhirnya kami meminta bantuan petugas hotel untuk mengecek CCTV di sekitar lounge. Setelah ditunggu sekian lama, petugas menyatakan tidak menemukan apapun yang mencurigakan dan terkait dengan tas jinjing kami. Aneh banget. Sepertinya mereka hanya ada CCTV yang mengarah ke lobby hotel dan bukan ke lounge ? Kami mau lihat CCTV nya tapi tidak diperbolehkan. Petugasnya tidak ramah dan tidak kooperatif, malah menganggap kami yang lupa atau mengada-ada karena tidak mungkin ada kehilangan di hotel mereka.
Karena pihak hotel sudah tidak bisa membantu dan kami sudah buang waktu lama cari2 tas, kami memutuskan untuk move on dan merelakan tas tersebut. Sudah menjelang malam dan kami masih harus pindah ke hotel dekat airport. Life must go on, jadilah kami memutuskan untuk lewat tunnel bawah tanah yang ada di sebelah hotel untuk menuju station metro. Kami turun melalui eskalator dan surprise… di ujung bawah eskalator, ada tag nama Jeff yang sebelumnya diikatkan di tas jinjing kami. Fix, tas kami hilang dicuri orang dan orang tersebut kabur lewat sini. Tasnya dibawa dan tag nya dibuang. Huhu… di satu sisi sedih banget, di satu sisi jadi lega karena ada kejelasan dicuri. Dari tadi kan belum jelas kenapa tas nya bisa hilang.
Yah, pencurinya puas deh itu makan coklat seabreg2. Padahal harganya ga seberapa, tapi memory nya itu loh. Ada coklat dan kue yang kami bawa dari Prague, Budapest, Krakow, Salzburg, hiks… hilang semua. Perjalanan menuju Intercity Hotel Berlin Airport memakan waktu 1 jam. Cukup jauh dan lama perjalanannya. Tiba di sana, kami check-in terlebih dahulu di hotel. Selesai beres2, kami kembali ke airport untuk mencari makan malam dan bekal untuk sarapan besok pagi.
Day 18 : Berlin – Brussels
Hari terakhir kami di Jerman sekaligus mengakhiri perjalanan kami di East Europe kali ini. Pesawat kami jam 7 pagi, sehingga jam 4 pagi kami keluar hotel membawa semua bawaan kami. Jalan kaki 1 menit dan kami pun masuk airport. Cari gate check in di layar, namun setelah mencoba cari tahu dan berkeliling, ternyata check in di sini harus melalui mesin. Tidak ada petugas counter yang bisa membantu. Betul2 deh Berlin ini, terlalu canggih, di hotel dan airport semua harus check-in mandiri. Banyak calon penumpang selain kami juga kebingungan pada awalnya sehingga harus dibantu oleh staff airport yang jumlahnya sangat terbatas. Jadilah kami berusaha sendiri mengikuti petunjuk di layar, print boarding pass, termasuk print dan tempel luggage sticker di bagasi. Kemudian menaikkan bagasi kami sendiri ke conveyor sampai bagasi kami menghilang masuk ke balik dinding. Luar biasa. Semoga bagasi kami tidak nyasar ke tempat lain ya.
Karena waktu masih lama untuk boarding, kami kembali lagi ke hotel untuk sarapan (beli di airport) dan istirahat. Memang belum check-out kok dari tadi. Sudah diniatkan mau santai2 dulu di kamar hotel daripada nunggu di airport yang sepi ga ada apa2 juga. Jam 5.30 pagi kami kembali ke airport untuk boarding. Di sini tidak ada pemeriksaan imigrasi, hanya x-ray badan dan bawaan. Saat boarding, antrian kami terhambat karena ada kendala dengan 1 penumpang di depan. Kami dan beberapa penumpang antri sampai 20 menit tidak bergerak, hanya karena nungguin 1 penumpang yang dicurigai diperiksa bolak balik dan dibongkar semua bawaannya. Beda dengan di Asia yang rata2 lebih sigap ketika ada masalah, di sini para petugasnya tidak menyuruh kami pindah line lain. Padahal line lain lancar jaya. Parah dah.
Perjalanan pulang naik Etihad Airways dari Berlin ke Jakarta harus transit 2x, di Brussels dan Abu Dhabi. Tiba di Brussels Airport, ibukota Belgia di mana kami pernah ke kota ini Europe May 2012 (part 3), kami tidak ada waktu sama sekali untuk keliling airport. Padahal transit harusnya 1 jam. Pesawat tiba agak delay dan antrian imigrasi panjang bukan kepalang. Di sini kami baru sadar kenapa di Berlin tidak ada pemeriksaan imigrasi, yaitu karena Jerman dan Belgia sama2 anggota Uni Eropa. Nah karena kami terbang dari Belgia menuju Abu Dhabi, sehingga pemeriksaan imigrasi baru ada di Brussels Airport ini.
Antrian terjadi selain karena banyaknya calon penumpang, jumlah petugasnya pun tidak memadai. Malah cara kerja mereka terlihat cukup santai. Beberapa calon penumpang yang sudah mepet waktu boardingnya sampai harus berlari2 menerobos antrian sambil menunjukkan boarding passnya. Kami antri sudah sekitar 1 jam. Dimana saat waktu boarding pesawat kami selanjutnya, kami masih antri dong. Ini sih kalo kepepet, kami juga mau nerobos antrian aja dah daripada ketinggalan pesawat.
Akhirnya kami bisa lolos antrian imigrasi tanpa menerobos. Sambil berlari2 kami menuju gate. Sampai di gate, ternyata sebagian penumpang sudah masuk ke pesawat, tapi sebagian lagi masih antri. Oke, langsung ikutan antri deh. Kami mengenali ada beberapa penumpang yang tadi juga antri di depan kami di imigrasi. Parah deh, beneran ga sempat kemana2 di sini, padahal tadinya pengen beli coklat Belgia yang terkenal enak. Sampai di Abu Dhabi pun kami tidak sempat jalan2 lagi di airport, karena waktu tunggunya ternyata juga sempit. Baru kali ini perjalanan 2x transit semuanya terburu2.
EPILOG
Berikut beberapa point dari perjalanan kami kali ini :
1. Walaupun Hungaria, Polandia dan Czech menjadi anggota Uni Eropa yang mayoritas anggotanya menggunakan mata uang Euro dalam transaksi keuangan, ketiga negara di atas masih menggunakan mata uang lokal mereka dalam aktivitas sehari2. Pengalaman kami, banyak toko yang sudah bisa melakukan transaksi dengan credit card, termasuk stall di Christmas market juga. Kebanyakan modelnya tap credit card, bukan insert card. Jadi siapkan saja credit card yang ada lambang contactless nya, ga perlu tukar uang lokal. Butuh uang lokal cuma saat ke labyrinth di Budapest saja.
2. Hotel semua kami pesan dari booking.com. Perjalanan antar kota dan antar negara, kami menggunakan kereta api dan bus. Semuanya booking online dari Indonesia. Ada 3 rute perjalanan di mana kami menggunakan Flix Bus. Di Flix Bus bisa pilih posisi seat di apps nya. Untuk seat paling depan / di belakang sopir yang bisa melihat ke depan tanpa halangan, perlu bayar tambahan. Untuk kereta juga bisa pilih seat dengan biaya tambahan. Jika tidak juga ga masalah, pilih yang kosong saja. Dari Indonesia kami ga ada yang booking seat. Tapi di lokasi, kami sempat ada beberapa kali booking seat, langsung di train stationnya karena kuatir kesulitan dapat seat di periode high season dan rute favorit.
3. Untuk transportasi dalam kota, kami menggunakan Transport Card yang ada di setiap kota. Sebelum membeli, periksa benefit berbagai jenis card yang ditawarkan karena ada yang digabungkan dengan destinasi wisata seperti museum, tempat rekreasi dan lainnya. Kalo kami cukup dengan Transport Card saja. Jika sudah membeli Transport Pass, jangan lupa untuk validasi di mesin untuk mulai menghitung waktu penggunaan cardnya. Walaupun kita sudah membeli Transport Pass tapi tidak divalidasi, kita akan dianggap belum punya tiket dan dikenakan denda yang besar jika dilakukan pemeriksaan acak oleh petugas.
4. Christmas Market hampir ada di seluruh kota di seluruh Eropa. Yang membedakan adalah tanggal bukanya, karena banyak yang justru sudah tutup sebelum 25 Desember. Tujuan utama kami sebenarnya adalah Christmas Market yang ada di Jerman. Salah satu yang paling terkenal dan direkomendasikan adalah di Nuremberg. Di beberapa kota besar seperti Munich, malah ada beberapa Christmas Market atau Winter Market yang tersebar di beberapa area kota.
5. Di Eropa untuk menggunakan toilet umum masih harus membayar, biasanya sekitar 1 Euro, sama seperti tahun 2012 kami ke Eropa Barat. Manfaatkanlah toilet di restoran, hotel, dan kereta. Sembarangan saja cari hotel, masuk dan cari toiletnya. Dijamin bersih dan gratis. Kalo resto fast food, biasanya ada kode kombinasi angka toilet yang tercetak di struk. Atau antri saja depan pintu toilet, tunggu ada yang keluar dan tahan pintunya, lalu masuk.
6. Kami suka sekali dengan Budapest, baik landscape kotanya dan juga makanannya. Apalagi ada thermal bath nya, pengalaman berkesan banget deh. Czech juga negara yang sangat indah, sepertinya banyak kota2 lain yang menarik selain Prague dan Cesky Krumlov.
7. Berhati-hatilah selama perjalanan di Eropa. Taro koper/bawaan di depan kita, jangan di samping. Walaupun sudah berhati-hati selama perjalanan, ternyata kami kecurian tas malah di hari terakhir dan di dalam hotel. Sangat tidak terduga. Kami sudah coba email ke pihak hotel juga terkait kehilangan tas, maksudnya supaya pihak manajemen lebih hati2, namun tidak ada tanggapan.
Bersyukur kami bisa traveling dengan lancar kali ini. Karena saat kami menulis blog ini (Maret-April 2026), rencana kami ke Balkan-Eropa di Maret 2026 batal karena adanya perang di Timur Tengah. Pesawat Qatar Airways yang harusnya kami gunakan dinyatakan tidak terbang dan kami bisa minta refund. Ya sudah lah, belum rejekinya.
Semoga perdamaian bisa segera terwujud, agar kami bisa traveling lagi ke Eropa.
Cerita sebelumnya di East Europe part 6










