East Europe (18 Dec 2025 – 3 Jan 2026) part 3 : Austria (Hallstatt, Salzburg)

Day 6 : Munich – Salzburg – Bad Ichsl – Steeg Gosau – Hallstatt

Hari ini, kami akan pindah kota sekaligus negara, dari Jerman ke Austria. Ini pengalaman kedua kami mengunjungi Austria setelah tahun 2012 di Europe 2012 (part 4-Austria). Kali ini kami mau mengunjungi salah satu kota wisata yang paling terkenal di seluruh dunia yaitu Hallstatt. Di tahun 2012, kami belum berkesempatan berkunjung ke sana.

Dari Munich kami naik kereta RJX ke Salzburg. Ini kota kelahiran komposer musik klasik ternama Wolfgang Amadeus Mozart. Juga lokasi shooting film favorit banyak orang termasuk Diana yaitu Sound of Music. Perjalanan ke sana ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam. Setibanya di Salzburg Main Station, kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus dari depan station menuju kota kecil Bad Ichsl. Kami bayar cash sebesar 12,4 Euro per orang ke supir busnya.

Perjalanan ditempuh dalam waktu 1 jam. Sepanjang perjalanan, kami bisa melihat pemandangan pegunungan yang tertutup salju dan alam pedesaan khas Austria. Bus menaikkan dan menurunkan penumpang di setiap perhentian yang terdapat di sepanjang perjalanan. Setibanya di Bad Ichsl, semua penumpang turun karena bus akan kembali ke Salzburg.

Kota Bad Ichsl

Tujuan wisata kami adalah Hallstatt. Untuk menginap di Hallstatt itu sendiri, harga hotel menjelang Natal dan Tahun Baru melonjak drastis. Alternatif lainnya adalah kota2 yang ada di sekitarannya, antara lain Bad Goisern dan Steeg Gosau. Akhirnya kami memilih kota kecil Steeg Gosau, yang terletak 2 station sebelum Hallstatt.

Dari Bad Ichsl ke Steeg Gosau, kami beli tiket kereta di mesin karena ada beberapa kereta dengan waktu keberangkatan yang berbeda-beda. Harga tiketnya 3,8 Euro per orang. Karena masih pagi, kereta yang kami naiki cukup penuh dengan para turis yang mau jalan-jalan ke Hallstatt. Kami tidak mendapatkan kursi sehingga harus berdiri sambil membawa koper kami yang besar.

Atas : station Steeg Gosau
Bawah : hotel kami dan pemandangan di Steeg Gosau

Kereta kami melewati Bad Goisern (yang ada resort skinya) dan akhirnya turun di station Steeg Gosau yang kecil. Di sini hanya kami dan beberapa orang saja yang turun. Penumpang lainnya melanjutkan perjalanan hingga ke Hallstatt. Dari station, kami berjalan sekitar 500 meter menuju penginapan kami yaitu Metzgerwirt Vieh Hell Hotel. Yang menarik, tempat ini terdiri dari hotel, restoran dan juga toko yang menjual aneka daging sapi serta olahannya yang dihasilkan dari peternakan di sini.

Pemandangan cantik Steeg Gosau

Kami tiba di hotel sekitar jam 10 lebih. Kami sudah bisa check-in, namun kamar kami masih dibersihkan oleh petugas. Akhirnya kami memilih jalan kaki dulu dan mengeksplor area sekitar hotel. Pemandangan di sini sangat indah dan luas bentangan alamnya. Bersyukur kami jalan-jalan dengan matahari yang bersinar cerah. Gunung-gunung besar dengan es di beberapa bagian menjulang di sekitar kami. Cantik ! Di sekitaran hotel kami, hanya ada rumah2 penduduk yang berjarak satu dengan lainnya. Tidak ada toko swalayan, restoran apalagi toko souvenir.

Hallstatt dengan gereja yang menjadi ikon terkenalnya

Setelah beristirahat di hotel, kami melanjutkan perjalanan ke Hallstatt. Kami naik kereta dari station Steeg Gosau menuju station Hallstatt. Tiketnya 3,5 Euro per orang. Walaupun tiba di station Hallstatt, namun untuk mencapai kota Hallstattnya, kami dan turis lain harus naik ferry. Biayanya 4 Euro/orang per sekali jalan atau bisa langsung bayar 8 Euro/orang untuk rute pulang pergi. Di dalam ferry bisa duduk di bagian dalam yang tidak terkena angin atau berdiri di atas deck untuk melihat keindahan Hallstatt dari kejauhan.

Jalan-jalan dan suasana di Hallstatt

Setelah perjalanan sekitar 15 menit, kami tiba di dermaga Hallstatt. Di sini, sudah banyak sekali turis yang tiba sebelum kami. Ada juga rombongan turis dari berbagai grup travel yang datang dengan menggunakan bus (beda jalur dan rute dengan kami). Suasananya sangat ramai untuk ukuran kota kecil ini. Di sini ada banyak restoran dan tempat makan, namun karena hari ini tgl.23 Desember (2 hari menjelang Natal), ternyata sudah banyak tempat yang tutup untuk libur natal. Akibatnya, yang masih buka diserbu oleh antrian turis.

Sepanjang perjalanan, kami melihat banyak turis menggeret koper mereka. Mereka adalah turis yang menginap di Hallstatt sini. Saat kami melihat lokasi hotel2 di Hallstatt yang lokasinya harus naik tangga terjal, kami bersyukur bisa menginap di Steeg Gosau dan ga harus geret2 koper naik turun tangga di Hallstatt ini.

Akhirnya, photo spot paling ikonik di Hallstatt

Di sini kami sempat belanja snack di toko swalayan yang masih buka (ramai banget pastinya). Kemudian beli makanan khas Austria, Wiener Schnitzel di salah satu resto. Jadi pusat keramaian/toko itu adalah dari dermaga menyusur ke arah kiri. Jika berjalan dari dermaga ke arah kanan, maka akan ketemu jalan menanjak yang menuju lokasi photo spot paling terkenal di Hallstatt. Ramai sekali turis di sini untuk foto dengan latar belakang Evangelische Pfarrkirche Hallstatt. Untuk foto di sini, tidak ada aturan antrian yang jelas. Silakan cari sendiri spot nya di sepanjang jalan tersebut, dan jika ada spot kosong langsung cepat2 foto dengan background tersebut. Atau silakan menunggu sampai ada spot yang kosong.

Hallstatt waktu malam dari seberang danau

Ferry dari Hallstatt ke station kereta tidak beroperasi 24 jam. Sekitar jam 6 sore adalah ferry terakhir yang berangkat. Kami menyeberang dengan ferry kembali dengan suasana mulai gelap. Lampu2 di Hallstatt sudah mulai dinyalakan dan membuat suasana malam semakin indah. Bye Hallstatt.

Malam ini kami istirahat di hotel kami di Steeg Gosau karena memang tidak ada aktivitas lain yang bisa dilakukan. Tidak ada orang yang lalu lalang di jalanan. Hanya ada sesekali mobil yang lewat di jalan raya. Sepi sekali.

Day 7 : Steeg Gosau – Salzburg – Oberndorf (Silent Night Chapel)

Dari seluruh perjalanan kami kali ini, hanya di Metzgerwirt Vieh Hell Hotel inilah harga hotel yang kami bayarkan sudah termasuk breakfast. Ternyata pagi ini, turun salju tipis-tipis di Steeg Gosau. Menarik ! Salju pertama kami dalam trip ini. Sarapan terletak di restoran lantai satu dan kami bisa melihat salju turun melalui jendela restoran. Menu makanan dan minuman untuk sarapan ini termasuk lengkap. Ada berbagai roti, cereal, keju beraneka jenis, salad, telur, sosis, ham dan juga ada wiener schnitzel. Kopi berbagai jenis silakan pilih dari mesin kopinya, ada teh juga berbagai rasa dan juga juice buah.

Sarapan pagi di hotel

Hari ini, kami akan pindah kota dari Steeg Gosau ke Salzburg untuk bermalam di sana. Kali ini kami tidak ada naik bus lagi, melainkan naik kereta saja sepanjang jalan kembali ke Salzburg untuk mengalami pemandangan dan pengalaman yang berbeda. Kami geret koper kami dari hotel ke station Steeg Gosau di bawah hujan salju tipis.

Suasana pagi hari di Steeg Gosau yang turun salju

Oya, perhatikan baik2 tas hitam yang dibawa Jeff di atas koper pada gambar di atas. Nanti di hari terakhir perjalanan kami, ada musibah dimana tas hitam tersebut “lenyap”. Jadi ini adalah foto terakhir yang kami miliki terkait tas tersebut. Kok bisa “lenyap”? Nanti saja ya ceritanya di akhir. Sekarang kami lanjutkan dulu cerita perjalanan nya.

Dari Steeg Gosau, tidak ada kereta langsung ke Salzburg. Kami harus turun di kota Attnang-Puchheim (unik ya namanya). Di sini kami cukup pindah platform (tidak perlu keluar stasion) untuk naik kereta ke Salzburg.

Kiri atas : Salzburg Main Station. Gambar lain : hotel Adlerhof Salzburg

Menjelang tengah hari, kami sudah tiba di Salzburg. Dari station kami berjalan kaki menuju hotel Adlerhof yang letaknya tidak jauh dari station. Cuaca siang ini mendung dan berangin. Beruntung saat kami check in, kamar kami sudah ready dan kami bisa istirahat sejenak.

Nanti jam 15.00 kami mau ikut Silent Night Tour. Kami jalan lebih awal dari hotel untuk jalan2 dulu. Ternyata lagi-lagi banyak resto dan toko yang tutup karena sudah tgl.24 Desember, sudah menjelang hari Natal.

Schloss Mirabell alias Istana Mirabell

Kami berjalan ke Schloss Mirabell, tempat yang pernah kami kunjungi tahun 2012 yang lalu. Di bagian belakang, ada taman yang menjadi salah satu tempat shooting Sound of Music. Diana berpose di lokasi yang sama, hanya saja dulu saat musim semi, sedangkan sekarang musim dingin. Maka tentu berbeda ya nuansa tamannya. Silakan bandingkan sendiri foto2 saat ini dengan foto2 saat tahun 2012.

Christmas Market di Salzburg

Di depan Schloss Mirabell, terdapat Weihnachtsmarkt Mirabell alias Pasar Natal Mirabell. Di sini skalanya kecil, hanya ada 20 kios makanan dan souvenir. Di sini kami beli Schokofrucht yaitu berbagai buah-buahan (ada anggur, strawberry, kiwi, jeruk, dll) yang ditusuk oleh tusuk kayu (kayak tusuk sate) dan dilumuri dark chocholate. Kami pernah beli saat di Munich East Europe : Nuremberg – Munich, waktu itu beli yang mix fruit. Sekarang beli yang strawberry saja. Hm… yummy banget ! Rasa manis segar buah dan manis coklat nya pas.

Jam 14.30 kami tiba di tempat daftar ulang untuk ikut Silent Night Tour. Lokasi bus dan bus yang digunakan ternyata sama dengan saat kami ikut tour Sound of Music tahun 2012. Ternyata operatornya sama saja. Waktu kami masuk bus, ternyata bus sudah penuh. Kami termasuk yang terakhir masuk bus, padahal masih 30 menit lagi loh jadwal tour nya, amazing ! Jam 14.45 akhirnya bus pun berjalan, lebih awal 15 menit dari jadwal. Ternyata memang ada beberapa bus untuk tour ini, jadi bus yang sudah penuh duluan ya berangkat duluan. Bagus juga sistemnya. Nah, bus kami adalah bus yang pertama berangkat.

Silent Night Tour

Sepertinya hanya kami satu2nya peserta dari Asia dalam tour ini. Yang lain semuanya bule. Di dalam bus sudah ada tour guide wanita dengan baju dan aksesoris Santa Claus. Ok mari kita menikmati tour ini ! Kami tertarik mengikuti Silent Night (Stille Nacht) tour ini karena tour ini hanya ada sekali setahun, yaitu setiap tanggal 24 Desember. Berangkat pp dari Salzburg menuju kapel St. Nicholas di Oberndorf untuk mengalami malam natal di tempat asli lagu ini diciptakan. Oberdorf adalah sebuah desa kecil di Austria.

Salah satu lagu Natal yang paling populer untuk dinyanyikan di seluruh dunia adalah Silent Night atau Malam Kudus (Bahasa Indonesia). Bahkan di Indonesia sendiri, rasanya jadi lagu wajib saat prosesi candle light service pada malam natal. Bahasa aslinya adalah bahasa Jerman, yaitu Stille Nacht. Diperkirakan saat ini ada lebih dari 300 bahasa di dunia yang sudah menterjemahkan lirik lagu ini dalam bahasa lokal.

Stop 1 : Disambut terompet, lokasi gereja dan sekolah tempat lirik dan lagu Silent Night diciptakan

Perhentian pertama adalah gereja dan sekolah yang terletak bersebelahan. Di sini lah tempat lirik dan lagu Silent Night diciptakan. Kami disambut oleh MC di panggung yang menjelaskan area memorial ini, musik terompet dan juga turun salju tipis. Wah, menyenangkan. Kami dapat White Christmas Eve nih ! Sekolahnya sudah dibuat seperti museum kecil, tapi tidak banyak yang bisa dilihat di sini. Namun kami jadi paham lebih banyak mengenai sejarah lagu Silent Night.

Lirik lagu ini diciptakan tahun 1816 oleh Pastor Joseph Mohr dan baru pada tahun 1818 dibuatkan melodinya oleh Franz X. Gruber. Lagu ini pertama kali diperdengarkan di kapel St. Nicholas, Oberndorf pada 24 Desember 1818 dan setelah itu lagu ini menyebar ke seluruh dunia. Pada tahun 2011, UNESCO menetapkan lagu Stille Nacht ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Uniknya saat lagu ini pertama kali dimainkan, alat musik yang digunakan adalah gitar karena pada malam itu organ di kapel St. Nicholas sedang rusak.

Kapel St. Nicholas di Oberndorf

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke kapel St. Nicholas, destinasi utama kita. Di sini ternyata adalah area turis, dimana terdapat museum dan toko souvenir, christmas market, dan kapel St. Nicholas yang mungil. Waktu bebas untuk berjalan2 di area ini sekitar 1 jam, sebelum prosesi silent night dimulai. Oke, kami coba masuk ke dalam kapel kecil ini. Di dalamnya, diperkirakan hanya bisa menampung 20 jemaat untuk misa. Betul2 kecil mungil ya, jadi untuk masuk ke kapel ini harus bergantian. Kapel ini akan ditutup untuk umum sekitar 30 menit menjelang acara prosesi.

Lanjut, kami berjalan ke arah atas dari kapel, tempat sungai Salzach mengalir. Ternyata pemandangan di sini sangat indah. Seperti lukisan saja. Bisa dilihat pada foto di bawah. Sungai inilah yang meluap dan menyebabkan banjir yang menghancurkan kapel asli. Jadi kapel yang ada saat ini adalah replika, karena kapel yang asli pada sekitar tahun 1900 hancur akibat banjir.

Sungai Salzach di Oberndorf

Kami juga sempat masuk ke museum untuk membeli souvenir dan mencicipi sweet wine yang khas di Oberndorf. Sweet wine ini dijual di Christmas market, disajikan dalam gelas khusus. Sama seperti di Christmas market lainnya, jika gelasnya dikembalikan makan kita akan mendapatkan kembali uang deposit gelasnya. Kami sih ambil saja gelasnya, jadi bisa untuk souvenir juga. Sweet wine nya enak, cocok panas2 buat cuaca dingin seperti sekarang.

Jam 5 sore prosesi dimulai. Turis sudah ramai berkumpul mengelilingi kapel yang sudah dibatasi oleh pagar. Jujur ya, kami orang Asia yang pendek ini, sangat tidak bisa melihat ke arah kapel karena dikelilingi kerumunan bule yang tinggi besar. Apalagi kontur tanah tempat kapel itu seperti bukit. Jadi turis yang berdiri arahnya lebih pendek daripada kapel. Ya jelas ketutupan orang di depan kita lah. Maka, yang bisa dilakukan adalah pegang hp di atas kepala, dan nonton dari hp tersebut, haha..

Di dalam gereja ada sekelompok paduan suara. Di sekitaran gereja, ada sejumlah pria yang mengenakan pakaian ala militer dan beberapa wanita yang mengenakan gaun layaknya penyanyi opera. Prosesi ini dipimpin oleh 2 orang MC, yang satu berbahasa Jerman, satu lagi berbahasa Inggris. Dalam prosesi ini, ada harapan dan doa yang disampaikan oleh 2 orang MC tersebut. Kemudian diselingi oleh nyanyian dari paduan suara, baik yang ada di dalam maupun luar gereja.

Kiri : prosesi malam natal di kapel.
Kanan bawah : gelas edisi khusus silent night Oberndorf 2025

Sebagai penutup sekaligus puncak dari prosesi ini adalah menyanyikan lagu Silent Night ini secara bersama2 dalam bahasa Germany. Yang bisanya dalam bahasa lain ya silakan nyanyikan saja, bebas. Ini diiringi oleh petikan gitar, sama seperti pertama kali lagu ini dibawakan tahun 1818. Selama prosesi 1 jam ini, semua turis berdiri tegak (tidak ada kursi yg tersedia di sekitar kapel dan ga bisa jalan2), di tengah tiupan angin kencang dan dingin. Betul2 perlu stamina yang kuat nih, banyak turis akhirnya mundur di tengah jalan, minggir mencari tempat lain untuk duduk dan mencari kehangatan. Buat kami, ini perayaan malam natal yang sangat berkesan !

Selesai mengikuti acara di Oberndorf, kami kembali ke Salzburg dan tiba sekitar jam 7 malam. Suasana kota Salzburg sangat sunyi karena ini adalah malam Natal. Tidak banyak orang yang lalu lalang di jalanan apalagi kendaraan roda empat. Semua toko dan restoran tutup. Padahal kami lapar nih, perlu cari makan malam. Selain resto kebab, akhirnya ketemu resto Asia yang buka dan jual nasi goreng harganya 10,9 euro. Wuiih mahal, tapi oke lah kami beli juga daripada kelaparan. Rasanya ? Hm… ga enak ya, haha.. enakan bikin sendiri di Indonesia pastinya. Tapi lumayan lah, makanan hangat di tengah cuaca berangin dan suhu yang dingin.

Malam ini kami perlu segera beristirahat karena besok subuh kami akan naik kereta ke Budapest, ibukota Hungary sebagai tujuan kami selanjutnya.

Bersambung ke East Europe part 4

Cerita sebelumnya di East Europe part 2

Categories: 2025-2029, Austria, EUROPE | Tags: , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

We love your feedback !

Blog at WordPress.com.