Prolog
Perjalanan akhir tahun ini adalah bagian dari impian lama kami untuk mengunjungi Christmas Market. Ini biasanya berlangsung di banyak negara Eropa menjelang Natal sampai Tahun Baru. Christmas Market yang terkenal adanya di Germany, lalu karena kami belum pernah ke Eropa Timur, maka kami akan lanjut sekalian ke Hungary, Poland, dan Czech. Cari2 jalur perjalanan yang pas, akhirnya kami memutuskan jalur melingkar saja. Karena itu kami menambahkan Austria sebagai destinasi antara Germany dan Hungary.
Sebenarnya kami sudah pernah mengunjungi Germany dan Austria saat trip West Europe tahun 2012. Namun saat itu, kami tidak sempat berkeliling di Germany, hanya mendarat di Frankfurt dan malamnya sudah naik bis ke Den Haag Netherland. Di Austria, kami pernah mengunjungi Vienna, Salzburg dan Innsbruck. Jadi kali ini kami kami mau mengunjungi Hallstat (tempat turis yang populer itu) dan mengikuti “Salzburg Christmas Eve Tour to the Silent Night Chapel” yang hanya diselenggarakan setahun sekali saja, yaitu saat malam natal ! Kalo dulu kami jalan2 West Europe saat spring, lihat bunga2 bermekaran, kali ini kami mau merasakan Eropa saat winter.
Untuk East Europe sendiri kami sudah pernah mampir sebentar di East Europe yaitu di kota Bratislava (ibu kota Slovakia) Europe 2012 (part 4-Austria) Saat itu kami tidak menginap melainkan hanya jalan2 setengah hari bolak balik dari Vienna, Austria. Vienna dan Bratislava merupakan sister city. Sejarahnya dulu hanya ada 1 negara yaitu Cekoslovakia. Namun di tahun 1993 karena kondisi geopolitik, pecah menjadi 2 negara yaitu Czech dan Slovakia. Nah, Slovakianya sudah.. yang belum ke Czech nih.

Untuk perjalanan ini, kami membutuhkan visa Schengen. Pengajuan visa melalui Germany relatif mahal dan lama prosesnya. Akhirnya kami mengajukan visa melalui negara Czech karena termasuk mudah dan cepat prosesnya. Hasilnya Diana berhasil mendapatkan visa Schengen Cascade yang berlaku selama 5 tahun ! Mantap ! Hal ini kemungkinan karena Diana sudah pernah mendapatkan visa Schengen dalam 3 tahun terakhir, yaitu saat berkunjung ke Iceland (2025) part 1 Sementara untuk Jeff hanya dapat visa selama tanggal perjalanan di sana saja.
Perjalanan antar kota dilakukan dengan train dan bus. Tiket secara umum sudah kami beli secara online sejak di Indonesia. Berikut itinerary kami kali ini :
Day 1 : Jakarta – Abu Dhabi (transit)
Day 2 : Frankfurt
Day 3 : Frankfurt – Nuremberg by ICE train
Day 4 : Nuremberg – Munich by ICE train
Day 5 : Munich
Day 6 : Munich – Salzburg – Hallstat – Steeg Gosau by RJX train + bus + IC train
Day 7 : Steeg Gosau – Salzburg by REX train + IC train
Day 8 : Salzburg – Budapest by EC train
Day 9 : Budapest
Day 10 : Budapest – Krakow by Flix night bus
Day 11 : Krakow
Day 12 : Krakow – Prague by IC train
Day 13 : Prague – Cesky Krumlov by Flix bus
Day 14 : Cesky Krumlov – Prague by Flix bus
Day 15 : Prague – Berlin by RJ train
Day 16 : Berlin
Day 17 : Berlin – Brussel (transit) – Abu Dhabi (transit) – Jakarta
Day 1 : Go to Frankfurt by ETIHAD Airways
Kali ini kami berkesempatan untuk pertama kalinya naik ETIHAD Airways, maskapai yang dimiliki oleh UEA dan berbasis di Abu Dhabi. Sebelumnya, kami pernah naik EMIRATES Airways saat ke Europe 2012 (part 1) dan juga QATAR Airways saat ke Morocco 2024) part 1 Ketiganya merupakan maskapai yang berbasis di UEA
Untuk menuju Frankfurt, pesawat akan transit terlebih dahulu di Zayed International Airport Abu Dhabi. Penerbangan ke Abu Dhabi ditempuh dalam waktu sekitar 8 jam. Waktu check in di terminal 3 Soetta Airport, kami minta kepada petugas check in untuk bisa duduk di kursi bagian paling belakang yang hanya berdua. Setelah dicek, akhirnya kami bisa mendapatkannya. Ruang samping kursi yang dekat jendela sangat luas. Banyak barang bawaan kami yang bisa ditaro di sebelah kursi ini.
Pesawat yang digunakan adalah Boeing B878. Yang menarik dari pesawat ini adalah sandaran kepala di sisi kanan atau kiri kepala yang belum pernah kami temukan di maskapai lain sebelumnya. Tujuannya adalah menjaga kepala penumpang agar tidak terantuk2 selama dalam perjalanan panjang. Setelah 8 jam perjalanan, kami tiba di Zayed International Airport. Kami transit di sini sekitar 3 jam dan masih sempat makan Texas Fried Chicken. Menjelang dinihari, kami melanjutkan perjalanan kami berikutnya dengan tujuan akhir Frankfurt, kota pertama yang menjadi awal perjalanan kami kali ini.
Day 2 : Frankfurt
Setelah 7 jam perjalanan, kami tiba di Frankfurt International Airport jam 6 pagi waktu setempat. Karena sudah masuk winter, jam 6 masih gelap. Antrian imigrasi sekitar 30 menit dengan pertanyaan dari petugas berapa hari mau jalan2 selama traveling ini. Petugas sama sekali tidak menanyakan kenapa kami punya visa Schengen dari Czech padahal kami mendarat pertama kali di Jerman. Setelah imigrasi, kami mengambil bagasi kami. Kemudian kami ganti baju untuk mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan suhu dingin di luar airport.
Dari terminal 2, kami naik shuttle bus bersama penumpang lain ke terminal 1. Di terminal 1, kami beli tiket single Metro untuk ke Frankfurt Main Station di loket yang ada petugasnya. Kami tidak membeli di mesin karena cukup bingung memilih jenis tiketnya.
Di Frankfurt, kami menginap di The Frankfurt Hotel. Sebuah hotel bintang 4 dengan harga yang menurut kami cukup murah. Lokasinya tepat di seberang Frankfurt Main Station. Jalan 100 meter. Di kanan kirinya. banyak sekali hotel termasuk beberapa chain hotel ternama. Jam 8 pagi, kami masuk hotel dan tiba di receptionist. Bayangan awal kami adalah kami akan titip bagasi, kemudian jalan2 dan kembali ke hotel jam 14 siang untuk check in. Ternyata surprise ! Kami bisa langsung masuk kamar sepagi ini tanpa biaya tambahan apa pun ! Kami senang sekali karena kami bisa beres2 dan mandi terlebih dahulu setelah perjalanan panjang naik pesawat. Segar !
Kamar kami cukup luas dan besar bila dibandingkan dengan ukuran kamar2 hotel di Eropa yang biasanya tidak seluas kamar hotel di Asia. Tapi jangan bandingkan hotel bintang 4 di Eropa dengan di Asia ya, beda jauh.
Setelah kami siap, jam 10 pagi kami keluar kamar hotel untuk mulai explore Frankfurt. Di Frankfurt, kami tidak membeli Transportation Pass karena kami hanya menginap semalam dan jarak ke tempat keramaian termasuk Christmas Market, paling jauh 2 km. Jadi kami memutuskan untuk berjalan kaki sambil menikmati suasana kota. Jam 10 suasananya sudah lebih terang namun tetap tidak ada matahari.
Dari hotel ke tempat Christmas Market sangat mudah jalannya, Lurus saja. Di kanan kiri banyak toko dan barber shop yang dikelola oleh para imigran. Kami melewati beberapa gedung tinggi, taman hingga berfoto dengan latar belakang logo EU yang sangat besar.
Setelah berjalan santai 40 menitan, kami tiba di Christmas Market pertama kami. Jam 11 sudah ada beberapa kios makanan dan souvenir yang buka. Ada makanan khas Jerman seperti sosis dan juga minuman2 tradisional mereka. Di bagian lain Christmas Market ini, ada Frankfurten Kinder Weihnachtsmarkt atau Pasar Natal untuk Anak2. Ada komidi putar dan beberapa wahana permainan lainnya seperti yang bisa kita temui di Dunia Fantasi, Ancol, Jakarta.
Karena kami belum sarapan dengan benar, fokus kami adalah mencari makanan dan minuman terlebih dahulu. Makanan pertama yang kami coba adalah XL Kasewurst, yaitu hot dog dengan sosis keju besar (ukuran XL). Sosisnya dipanggang di atas panggangan berbentuk bulat besar dan bergoyang2 bersama dengan aneka sosis lainnya (gambar kiri bawah). Jika suka, bisa ditambahkan saos tomat atau mustard. Enaaaak !
Untuk minuman, kami mencoba Apfelwein untuk pertama kalinya. Ini adalah minuman beralkohol tradisional Germany (cider) yang berasal dari wilayah Hessen, khususnya Frankfurt, dengan kadar alkohol sekitar 4,8%−7%. Minuman ini terbuat dari jus apel fermentasi, memiliki rasa asam dan tajam (kering). Ini adalah salah satu jenis minuman yang banyak ditemukan di Christmas Market selanjutnya.
Selain apfelwein, ada juga aneka jenis minuman beralkohol lainnya seperti gluhwein, eierpunsch dan lainnya. Jangan khawatir, mereka juga menyediakan minuman non alkohol. Namun karena cuaca yang dingin saat winter, kebanyakan orang memilih minuman alkohol untuk membuat tubuh menjadi hangat.
Catatan : di hampir semua Christmas Market yang kami kunjungi. minuman disajikan di dalam gelas atau mug keramik yang bertuliskan kota dan tahun Christmas Market diadakan. Secara otomatis, penjual minuman akan memberikan harga minuman ditambah deposit 4-5 Euro per gelas/mug. Artinya gelas/mug bisa dibawa pulang sebagai souvenir. Namun jika tidak mau, gelas/mug bisa dikembalikan dan depositnya akan dikembalikan dalam bentuk cash (mata uang lokal). Tiap kota punya gambar yang berbeda di tiap gelas/mugnya. Bisa jadi alternatif buat souvenir, walaupun berat bawanya ya.
Di samping lokasi Christmas Market, membentang Main River yang melintasi kota Frankfurt. Salah satu jembatan terdekat dengan kami dan yang paling terkenal adalah Iron Bridge. Di sepanjang Iron Bridge ada ribuan gembok warna-warni yang dipasang. Saat kami ada di atas Iron Bridge, ada beberapa cruise wisata yang melintas yang membawa para wisatawan menikmati Main River.
Siang hari kami kembali ke hotel dengan menyusuri jalan yang berbeda dari jalan kami datang siang tadi. Kami kemudian istirahat di hotel sambil membereskan barang bawaan kami. Sore ini kami mau kembali ke Christmas Market. Jalan-jalan sekalian cari makan malam. Suasana Christmas Market sangat berbeda dengan siang tadi kami ke sini. Semua lampu sudah menyala membuat suasana meriah. Pengunjung juga jauh lebih banyak, cukup padat ya sampai susah jalan di area tertentu. Mungkin karena ini hari Jumat malam menjelang weekend.
Dari sekian banyak stand makanan, ada satu kios yang antrinya paling panjang di antara yang lain. Ternyata stand ini menjual Kartoffelpuffer. Makanan ini kalo diterjemahkan adalah pancake kentang parut yang digoreng hingga renyah. Disajikan dengan saus apel dingin yang menyeimbangkan rasa asin dari kartoffelpuffer ini. Buat kami, tampilannya mirip bakwan / gorengan kalo di Indonesia. Luarnya kriuk tapi rasa dalamnya lembut kaya perkedel. Ini beli harga paket, 6 Euro dapat 3 pcs. Besok kami lanjut perjalanan kami ke kota berikutnya, masih di Germany, yaitu Nuremberg.
Bersambung ke part 2








