Advertisements

Europe : 3-20 May 2012 (part 3)

Day 5 : Delft to Brussels

from Delft to Rotterdam

from Delft to Rotterdam

Pagi-pagi kami diantar ke stasiun kereta Delft Zuid. Dari sini nanti kami akan naik train “sprinter” ke Rotterdam central. Ini pertama kalinya kami naik train dalam trip Eropa ini. Di stasiun petunjuknya sangat jelas. Kami beli tiket langsung di mesin. Beres, gampang. Sebetulnya tujuan utama kami hari ini adalah ke Brussels. Tapi karena train dari Delft menuju Brussels pasti melewati Rotterdam dan Antwerp, maka sekalianlah kami mampir di 2 kota itu. Petualangan pun dimulai.

Ga lama berada di kereta, kami pun tiba di Rotterdam. Jaraknya memang ga jauh dari Delft. Stasiun Rotterdam ternyata lagi di-renovasi. Jadi banyak jalan yang ditutup dan dialihkan. Selama petunjuk jelas dan berbahasa Inggris sih ga masalah. Kalau pun bahasa Belanda, biasanya sih bisa ditebak, hehe..

Di Rotterdam kami mampir ke Hema. Kalo di Jakarta kan Hema itu tempat makan Belanda, kalo di Belandanya sendiri itu semacam department store mini, kayak watson gitu lah. Ada jual baju juga, payung, alat make-up, sampai snack juga dijual. Terus udah liat2, kami pun jalan ke arah centralnya. Sepanjang jalan banyak cafe2 dengan tempat duduk outdoor. Iya, di sini udara segar jadi menyenangkan duduk2 di pinggir jalan. Tidak ada jalan untuk mobil, jadi khusu pejalan kaki dan sepeda.

Rotterdam

Rotterdam

Selain itu banyak gedung2 kuno dan patung2. Nyeni deh memang kota2 di Eropa itu. Kami jalan2 di sini sambil geret2 1 ransel trolley. Tapi karena jalanannya rata, enak2 aja tuh. Nah, ketemu ada pizza hut juga di sini. Eh, ada promo all you can eat. Asik juga ya.. selebihnya ga ngerti karena bahasa Belanda euy.

Dari Rotterdam kami lanjut naik train lagi. Nama train nya “inter-city”. Kami beli rute Rotterdam-Brussels, tapi karena train nya lewat Antwerp, maka kami bisa turun dulu di Antwerp untuk jalan2. Nanti cari lagi train Antwerp-Brussels dan bisa langsung naik ga usah beli tiket lagi. Tiketnya lumayan mahal nih € 31/pax karena termasuk high speed juga. Kami udah beli lewat internet pas di Belanda. Yah, mungkin karena jaraknya memang ga terlalu dekat dan hitungannya sudah “luar negri” jadi mahal. Enak juga yah di Eropa, dalam beberapa menit naik train sudah tiba di luar negri 🙂

Train menuju stasiun antwerp

Train menuju stasiun antwerp

Memang kereta di eropa bagus2. Nyaman banget deh. Ada petugas juga yang lewat sambil menawarkan minuman dan snack, seperti di pesawat gitu. Sampai juga akhirnya di Antwerp. Wah, stasiunnya megah dan keren ya. Jadi tambah semangat lihat kotanya.

Antwerp

Antwerp

Di sini banyak toko perhiasan. Kami sih pasti ga mampir liat2 yang beginian, hehe.. jadi jalan terus aja. Liat2 toko beer. Ya, Belgia memang terkenal dengan beernya. Eh, ada kereta kuda, lucu juga. Selebihnya suasana kota Eropa lah, dengan patung dan gedung2 kuno yang megah.

antwerp2

Gerejanya sangat besar dan tinggi. Lihat deh, perbandingan ukuran manusia dan pintunya. Itu baru pintunya, apalagi gedungnya. Ukiran2 di setiap detilnya juga luar biasa !

Selesai jalan2 masih ada waktu. Kami pun duduk-duduk dulu di stasiun Antwerp sambil  makan frites (kentang goreng). Hm… rasanya standard. Enakan frites yang kami makan di Volendam. Oya, kalo dilihat bangunan yang ada di gambar bawah ini, ga akan nyangka bahwa itulah eksterior dari stasiun kereta Antwerp ini. Gileee… keren abis ! Udah kaya gedung sejarah apa gitu.

Train Station Antwerp

Train Station Antwerp (outside & inside)

Habis makan baru kami naik ke train menuju Brussels.

Turun di Brussels, kami pun bertemu dengan Mr.Budi  (teman Jeff) dan Ms. Anita (teman Diana). Mereka sudah tinggal di Brussels, jadi lebih paham pastinya mengenai liku2 kota ini. Wah, senang deh kalo traveling begini dan bisa ketemu teman di negara orang. Kami sama2 ke apartment Budi dulu untuk taro barang2, karena nanti malam juga kami akan menginap di apartment Budi.

atas : with friends - bawah : atomium

atas : with friends – bawah : atomium

Oke..siap menjelajah Brussels ! Kami ber-4 pun menuju atomium, lokasi yang cukup terkenal karena bangunan bola2 atom nya itu dan terletak agak ke pinggir kota Brussels. Di situ kami foto2 saja, tidak masuk. Paling tidak kan sudah tau dan mendatangi tempat itu, cukup. Cukup mudah mencapai atomium menggunakan train.

anita

Habis itu lanjut ke sentral. Seperti biasa sentral adalah alun2 yang di pinggirnya banyak bangunan kuno. Besar2 sekali ukurannya, sampai2 susah difoto. Di situ ramai sekali orang berkegiatan. Dari sekedar jalan2, foto2, sampai ada pemusik jalanan, ada mahasiswa yang cari dana, ada yang lagi bermain, melukis, dsb. Sentral ini namanya Grand Place. Semua orang yang berkunjung ke Brussels pasti datang ke sini.

Lovely Brussels

Lovely Brussels

Saat sedang jalan, di pinggir jalan ada orang yang dirias putih dan berpantomim. Keren juga gayanya. Maka Jeff pun memotretnya (hasilnya bisa dilihat di gambar atas). Eh.. ternyata mereka perform itu untuk dapat duit. Jadinya kalo kita mau motret itu harus taro duit di topi yang disediakan. Wah, jadinya 1 cowo itu teriak (ga ngerti bahasanya) marah2 ke kami dan nyuru kami bayar. Waduh, serem juga.. buru2 kami kabur aja deh. Biasanya kan kalo ngasi duit itu sukarela yah, ini kok maksa. Duuh…

Mannekin pis

Mannekin pis

Di kota ini sudah banyak tulisan yang menggunakan bahasa Perancis juga, sebab memang Belgium itu berbatasan dengan Perancis. Jadi banyak banget yang kami ga ngerti untuk keterangan2 selama ga ada bahasa Inggrisnya. Dari situ kami menuju ke spot terkenal berikutnya yang menjadi “trade mark” kota Brussels, yaitu anak cowo yang pipis (mannekin pis).

Ya ampun… ternyata patungnya kecil bangeeeeeet. Tuh, liat aja sendiri. Buset dah, di pojokan gitu lagi tempatnya. Banyak banget orang berdesakan untuk bisa foto sama si patung bocah itu. Daripada heboh desak2an, Diana mending beli wafel aja aaah… Lokasinya persis di pinggir patung.  Katanya wafel ini khas Brussels juga. Alamak, ternyata antri juga ! Wafelnya sih renyah, tinggal kita pesan aja mau dipakein topping apa. Ada macem2 sebetulnya, cuma karena ga gitu ngerti pilih yang standard aja : 1 gula sama 1 coklat. Yang coklat ternyata cuma dipakein nutela. Kami sih lebih suka yang gula aja, lebih asli rasanya.

Setelah dari sini, kami pun mencari patung pasangannya. Memang tidak terkenal seperti mannekin pis, tapi ternyata ada patung perempuan pipis juga di Brussels ini. Anita yang tau lokasinya segera meng-guide kami. Ini dia.

Jeanneke pis

Jeanneke pis

Patungnya berukuran kecil, mirip yang cowo. Tapi yang ini diletakkan di gang sempit dan di dalam kerangkeng. Jadi memang agak lebih susah carinya.

???????????????????????????????

Di perjalanan, kami pun sempat melihat tembok rumah yang dilukis gambar Tintin. Ya, Brussels adalah awal komik Tintin. Ada tokonya juga di sini.

Tintin

Tintin

Enjoy !

Enjoy !

Kami pun lanjut jalan2 ke semacam shopping centre, tapi areanya ga di dalam bangunan yang masif. Deretan toko2 dengan ada naungan atap di atasnya. Bagus dan menyenangkan jalan2 di situ. Menjelang sore, kami pun berpisah dengan Anita. Thanks ya, sudah menjadi guide buat kami. Bye Anita.

Budi kemudian mengajak kami untuk mencoba bergaya menjadi orang Brussels, yaitu dengan minum beer di cafe pinggir Grand Palace. Karena kami tidak biasa minum beer, maka semua dipesankan oleh Budi. Biasanya sebagai teman minum beer, orang juga memesan keju dan ham. Ya sudah, kami pasrah deh. Coba saja.

Beer di Belgium memang ada ratusan jenis. Yang dipesankan buat Diana adalah beer yang agak manis, warnanya merah. Oke sih, tapi tetep lebih enak red wine, hehe..  Lalu disajikan juga piring yang penuh dengan potongan keju dan potongan daging. Sebetulnya kami penyuka keju dan daging. Tapi kalo gelondongan gitu dalam porsi banyak eneg juga yah. Akhirnya 1 piring itu pun tidak habis dimakan kami ber-3. Memang ga bakat nih jadi orang Brussels, hehe..

Dari situ kami masih jalan2 ke gedung European Union. Lalu melihat ada toko dengan lambang yang tidak asing. Lihat gambar kiri bawah. Haha.. Jadi superindo itu dari Belgium ??

interesting...

interesting…

Wah, bunga liarnya cantik banget yah. Memang musim spring itu di mana2 menyenangkan. Bunga2 bersemi indah. Beda deh bunga yang ada di negara 4 musim sama yang ada di Indonesia. Eh, ada 1 lagi yang menarik nih.

Mobil listrik yang disewakan

Mobil listrik yang disewakan

Ya, untuk mendukung go green, ternyata ada mobil bertenaga listrik yang bisa digunakan oleh siapa saja. Jadi kita bisa mulai dari tempat2 tertentu yang ada fasilitas pengisi baterai nya dan bisa berhenti di tempat lainnya yang ada pengisian baterainya juga. Ada spot2 yang menjadi “terminal” mobil ini. Sistem pembayaran adalah per jam penggunaan. Menarik.

Akhirnya sudah waktunya kami kembali ke apartment. Dinner malam ini disiapkan oleh tuan rumah, yaitu Mr. Budi yang baik hati. Thanks a lot yah ! Hari yang menyenangkan di Belgium, khususnya Brussels. Kami pun perlu berisitirahat dengan baik karena besok pagi sudah harus berangkat ke Paris.

Day 6 : Paris

Kereta kami ke Paris dijadwalkan berangkat pk. 7.37 am. Berarti kami harus berangkat cukup pagi agar bisa tiba di stasiun sekitar jam 7. Ingat yah, kereta di Eropa ini semua berangkat dan tiba tepat waktu. Tidak ada toleransi atau keterlambatan 1 menit. Yang ada pas jam nya yah kereta jalan. Jadi lebih baik menunggu di stasiun daripada datang ngepas dan ketinggalan kereta. Apalagi stasiun di Eropa itu rata2 besar dan jalur keretanya banyak. Jadi perlu spare waktu yang cukup lah.

Pagi ini pun Budi kembali mengantar kami ke stasiun Brussels Zuid, tempat kereta Thalys akan berangkat. Banyak kota di Eropa yang memiliki stasiun kereta lebih dari 1. Jadi perhatikan betul nama stasiun keretanya. Kami pun naik metro ke Brussles Zuid. Seperti ini metro (kereta bawah tanah) nya.

Bye Brussels...

Bye Brussels…

Untuk menuju Paris, kami sudah book train “Thalys”, kereta cepat antara Brussels dan Paris. Harga tiketnya lumayan mahal € 54/pax, namanya juga high speed train. Jarak tempuhnya juga cuma 1,5 jam, sangat hemat waktu. Kami pun penasaran ingin mencoba naik high speed train yang terkenal ini.

Luxury Thalys

Luxury Thalys

Benar saja, interiornya mewah, padahal kami hanya duduk di kelas 2. Tapi karena kereta berjalan sangat cepat, agak pusing juga kalo melihat ke luar jendela. Kami pun menggunakan waktu di kereta untuk me-review kembali acara kami di Paris. Karena di Paris ini kami tidak menginap, jadi hanya punya waktu yang sangat terbatas.

Tiba di Paris pukul 08.59 sesuai jadwal. Kalo di Indonesia sih pasti sudah ditulisnya jam 9, hehe.. kagok amat beda 1 menit yah 🙂

paris1

Di Gare du Nord Paris, kami pun harus membeli tiket transportasi untuk perjalanan dalam kota selama kami di Paris. Maklum, Paris itu besar banget. Jadi ga mungkin kemana2 jalan kaki. Kami di Paris Cuma 1 hari, jadi tripnya lumayan ngebut dan membutuhkan mobilitas yang banyak. Karena itu kami memilih beli tiket mobilis, yaitu tiket unlimited pass untuk metro (underground subway) di Paris. Kami beli yang berlaku untuk zona 1-2 (pusat kota), karena area wisata Paris rata2 ada di dalam zona tersebut.

paris2

Sip, tiket mobilis sudah di tangan. Artinya kami ga pusing mikirin bayar2 transport lagi selama di Paris. Habis itu kami perlu menitipkan bawaan kami agar bisa leluasa bergerak seharian ini. Nanti malam kami akan berangkat ke Venice naik night train melalui stasiun Gare du Lyon. Jadi kami pun mencari locker di Gare du Lyon agar nanti malam lebih mudah. Dari Gare du Nord kami naik metro ke Gare du Lyon dan cari tempat locker. Sistemnya otomatis pake coin. Oke, beres.

Welcome to Paris !

Welcome to Paris !

Untuk kota Paris, tadinya kami sudah janjian bertemu dengan seorang teman Diana. Tetapi karena ada miskomunikasi, hp nomor eropa kami ternyata tidak bisa connect dengan hp beliau, maka kami tidak ketemu saat di Paris. Padahal beliau juga sudah datang ke Paris dari kota tempat tinggalnya yang agak ke luar kota Paris. Sayang sekali. Hm.. berarti menjelajah Paris berdua saja nih. Mana orang Paris terkenal tidak mau berbahasa Inggris lagi. Yah, kita coba saja deh.

4Diana sebetulnya sudah pernah ke Paris saat SMA. Waktu itu Diana mengikuti program homestay di EF Cambridge dan sempat visit Paris juga. Tapi kesan yang didapat Diana tentang Paris tidaklah terlalu menyenangkan. Mungkin karena cuaca yang sangat panas pada saat itu (summer). Entahlah. Mari kita bandingkan dengan perjalanan kali ini. Siapa tau kalo bersama pasangan, jadi lebih menyenangkan dan romantis 🙂

Kami mulai berjalan keluar stasiun dan agak bingung membaca peta. Tujuan kami sebetulnya adalah gereja Notre-Dame. Sebetulnya sudah kelihatan gerejanya. Tapi bagaimana cara ke sana nya yah ? Kok sepertinya jalanan kami itu terhalang padang sehingga harus berjalan memutar ya ?! Bingung juga. Kami pun bertanya pada salah satu waiter yang ada di café pinggir jalan. Dia memberikan petunjuk arah dengan tangannya sambil berbahasa Perancis. Ya, intinya kami mengerti lah.

Sambil terus berjalan menuju arah yang ditunjukkan, kami menemukan sebuah gedung yang besar sekali. Apa ini ?! Kami pun memutuskan untuk coba melihat ke dalam karena banyak juga orang yang masuk ke gedung tersebut. Ternyata memasuki gerbangnya, kami tiba di lapangan besar dan di dalamnya ada gerbang lagi. Seperti istana jadinya. Oke, ada tempat duduk. Kami pun duduk dulu sambil cari2 arah di peta.

Orang2 kok pada masuk gerbang kedua ya ? Ikutan aja deh.. ternyata kami pun langsung melihat pyramid transparant. Khas museum Louvre ! Astaga.. Tanpa direncanakan, kami ternyata sudah sampai di area museum terkenal itu. Kami memang tidak berniat memasuki museum nya, tapi senang jika bisa berada di tempat itu dan mengambil banyak foto dengan background pyramid tersebut.

5

Di gambar atas sebetulnya Jeff berdiri di samping tulisan “Musee du Louvre”, tetapi tulisannya digravir di atas kaca, jadi agak ga jelas kalo dipotret karena tembus pandang.

Ada 2 pyramid yang terlihat, 1 besar dan 1 kecil. Di antara 2 pyramid tersebut ada kolam air dan ada juga jalan tembus untuk melintas.

6

Nah, di kolam air tersebut ada bebek loh yang berenang2. Menarik yah ?!  Hm.. sepertinya kami masuk area Louvre dari arah yang salah nih, hehe.. dari belakang. Maka kami pun meneruskan perjalanan kami ke arah depan. Di situ kami melihat bus turis yang bagian atasnya terbuka. Seru juga tuh.

7

Dari situ kami lanjut ke Jardins des Tuilaries. Taman yang bagus dengan pohon kotaknya yang khas, kesukaan Jeff tuh. Banyak patung perempuan telanjang bertebaran di taman ini. Ya, kota Paris kota seni sih, jadi mereka mengapresiasi keindahan manusia melalui patung. Dari sini pun terlihat menara Eiffel di kejauhan.

8

Silakan menikmati fotonya yah, kami juga mau enjoy dulu ah di taman ini. Mumpung cuacanya mulai cerah. Kami termasuk yang suka menikmati taman umum saat berada di luar negri. Soalnya kalo di Jakarta, ga ada taman umum yang bagus dan terpelihara seperti di luar negri.

9

Sampai di sini cuaca Paris cukup bersahabat. Tidak hujan, tetapi juga tidak panas. Bisa dinikmati.

Ujung dari taman

Ujung dari taman

Kayanya ini pintu masuknya deh, hehe.. ada petanya. Yah, kan kami memang terbalik dari tadi. Biarin aja lah. Di sini ada toilet tapi bayar 0.5 euro. Hm.. kami sih skip aja. Cari saja nanti yang gratis.

Di luar taman ternyata terdapat Place de la Concorde. Lapangan terbuka, tempat orang bisa menikmati Paris. Dari situ bisa foto dengan background obelisk.

Kami lanjutkan perjalanan ke Galeries Lafayette. Pusat perbelanjaan terkenal di Paris. Gedungnya memang megah dengan interior yang sangat menarik. Isi barang2 yang dijual pun sangat menarik, beda dari tempat lain. Baju, sepatu, dan asesoris nya betul2 menarik dari segi mode. Iyalah, pusat mode dunia gitu loh.

11

Wah, pegal juga nih jalan terus. Ada tempat dimana kami bisa makan ga yah ? Hm.. kami sih masih punya bekal, jadi kami makan bekal saja deh di luar Lafayette, sambil memandangi orang-orang yang hilir mudik.

eifelLanjut lagi ke Trocadero, tempat yang direkomendasikan untuk mengambil foto dengan background menara Eiffel. Rasanya kalo ke Paris ga afdol kalo belum foto dengan background Eiffel Tower.

Dulu Diana pernah naik ke Eiffel, tetapi karena tidak ke Trocadero, maka tidak punya foto dengan background Eiffel, karena ada di Eiffelnya. Malah adanya foto yang di dalam kerangkeng besi Eiffel, hehe..

Dalam perjalanan ke Trocadero, persis di stasiun metro dekat situ kami menemukan toilet yang gratis. Wah, hebaaat. Biasanya toilet di stasiun metro itu bayar. Ini gratis, ditulis dengan jelas di pintunya. Langsung dong dimanfaatkan… ayo ke toilet. Terakhir ke toilet pas di kereta Thalys. Kami kan selalu berusaha cari toilet gratis nih selama perjalanan ke Eropa. Baunya pesing, tapi tahan aja lah.

Di Trocadero cuaca mulai mendung. Awan cukup tebal dan angin kencang. Sesekali terasa mulai gerimis tapi nanti hilang lagi. Jadi kami buru2 memanfaatkan waktu dengan mengambil banyak foto. Banyak juga orang yang ada di sana, dari mulai turis sampai orang local yang sedang berdemo. Bukan demo gede2an sih, tapi kerumunan orang yang membawa spanduk begitu. Tidak mengancam sih, hanya teriak2 menyatakan aspirasinya. Kami ga ngerti bahasanya jadi cuek aja lah.

1-wc

atas kanan : WC gratis di metro stasiun dekat Trocadero

Oke, dari situ kami lanjut lagi ke arah Champs-Elysées. Ini adalah jalanan besar tempat banyak toko2 terkenal di Paris. Sentra shopping nya lah. Betul saja, ada banyak orang yang antri untuk bisa beli barang di Louis Vuitton. Astaga !! Segitu2 nya yah..

champ

Menyusuri jalan ini akan sampai di Arc de Triomphe, monument yang ada di tengah jalan raya. Untuk bisa mengabadikan gerbang kebanggaan rakyat Paris ini, ada jalur khusus yang dibuat di tengah jalan di depan gerbang. Di situ turis bisa foto2 dengan background gerbang tersebut. Kebayang serunya berfoto di tengah2 jalan raya, samping kiri kanan semua lalu lintas yang aktif dan ramai. Hihi.. kapan lagi coba kayak gini ?!

arc

Di pinggir jalan terdapat becak taxi gitu.. Keren juga. Terus supirnya juga keren2 loh gayanya. Keliatannya memang khusus buat turis yang mau mengalami Paris dengan gaya unik.

Akhirnya kami bisa mencapai Notre-Dame Cathedral dari arah pintu utama. Banyak sekali orang yang antri untuk masuk. Memang gratis sih. Diana dulu sudah pernah masuk, Jeff sendiri tidak berminat masuk karena melihat antrian yang luar biasa panjang itu. Jadinya kami duduk-duduk di depan Notredame. Banyak burung merpati di situ. Kelihatannya sengaja diberi makan dengan cara disebarkan oleh orang yang standby di situ.

notre

Secara umum, kami cukup menikmati Paris kali ini. Cuaca yang mendung dan kadang agak gerimis membuat udara tidak panas seperti yang Diana rasakan dahulu. Ternyata beda musim memang beda suasana dan pengalaman yah. Apalagi dulu Diana ke Paris dengan system ala tour, sehingga lebih banyak berada di bis dan turun di tempat2 tertentu. Sekarang dengan gaya mandiri begini, malah bisa lebih menikmati suasana dan taman yang ada di Paris.

Hari sudah sore dan acara city-tour ala kami kali sudah selesai. Kami pun kembali menuju Gare du Lyon untuk naik train bernama “Thello” menuju Venice nanti malam. Ternyata masih sempat mampir dulu ke supermarket untuk beli roti buat bekal sarapan di kereta. Terus ketemu anjing besar di stasiun, iya.. di sana anjing sering diajak jalan2 sama tuan nya dan boleh naik train juga seperti manusia.

Gare du Lyon, Paris

Gare du Lyon, Paris

Stasiun ini tergolong besar dan megah. Bahkan dindingnya pun dilukis pemandangan. Memang kota seni deh. Train berangkat pk.19.45 dan kami tidak mau terlambat. Rencananya Thello akan tiba di Venice pk.09.34.

Our first night train (Paris-Venice)

Our first night train (Paris-Venice)

Seru nih, pengalaman pertama naik night train dan tidur di kereta.Kami memesan seat yang bisa diubah menjadi tempat tidur di dalam kompartemen. Untuk Thello semua type nya seperti ini. Semuanya sudah kami book sejak di Indonesia melalui website train Italy (trenitalia) . Untuk kelas 2, di tiap kompartemen terdapat 6 seat /6 bed. Harganya lumayan murah € 35 / pax.

Awalnya kami 1 kompartemen dengan 4 orang Malaysian-Chinnese. Mereka membawa koper besar2 dan banyak sekali sampai bingung mau taro di mana karena kompartemen tersebut sangat kecil. Jadi buat yang bawa koper besar dan banyak, agak repot memang naik night train berupa tempat tidur dalam kompartemen, karena tempat koper yang terbatas pada tiap kompartemen.

Akhirnya mereka inisiatif berupaya cari kompartemen lain yang kosong. Susah juga ternyata, hampir semua penuh. Ada 1 kompartemen lain yang hanya diisi oleh 2 orang. Lalu teman kompartemen kami ini bertanya apakah kami keberatan jika pindah ke kompartemen lain tersebut ? Dipikir-pikir tawaran yang menarik juga, karena kompartemen lain itu hanya berisi 2 wanita. Jadi tentu kami lebih lega daripada harus berhimpitan dengan 4 orang+koper2nya. Lalu mereka yang ber-4 pun bisa menaro kopernya dengan lebih leluasa karena isi kompartemennya jadi berkurang 2 orang. Oke, deal !

boboTernyata dari 2 wanita teman kompartemen kami yang baru ini, yang 1 agak senior secara usia dan sudah pengalaman naik night train rute ini. Jadi dia banyak mengajari kami letak tombol lampu, cara mengunci kompartemen, menutup tirai jendela, setting tempat tidur, memberi tahukan letak seprai, bantal dan selimut yang menjadi jatah kami, dsb. Great ! Tidak lama kemudian kereta berangkat dan petugas kereta pun datang mengambil passport kami. Iya, itu dilakukan supaya kami bisa tidur nyenyak semalaman, tidak terganggu seandainya ada pemeriksaan antar negara.

Wah, dipikir2 kami tiap hari pindah negara nih. Hihi.. Di Venice pun kami tidak menginap. Hanya day trip seperti di Paris dan malamnya langsung naik night train lagi ke Vienna, ibukota Austria. Pertimbangannya karena penginapan di Venice cukup mahal dan sepertinya tempat wisata di Venice cukup kok dikunjungi dalam 1 hari.

Day 7 : Venice / Venezia

Ternyata tengah malam kedua wanita di kompartemen kami itu sudah tiba di tujuan. Oh, mereka tidak sampai ke Italy, tetapi sudah turun di Dijon, kota terakhir dari rute yang masih di negara Perancis. Rute train ini adalah : Paris – Dijon – Milano centrale – Brescia – Verona – Vicenza – Padova – Venezia mestre – Venezia santa lucia. Sedangkan tujuan kami adalah Venezia santa lucia. Asiik… jadinya sejak tengah malam itu hingga kami turun hanya kami berdua yang ada di kompartemen isi 6 bed itu. Private !

Horeee.... Italy !

Horeee…. Italy !

Kami bisa tidur dengan cukup nyenyak kali ini. Selain badan yang letih, kondisi kereta juga berjalan dengan cukup mulus. Jadi untuk kompartemen ini, ada 3 kursi di sisi kiri dan 3 kursi di sisi kanan. Jok kursi tersebut akan jadi bed paling bawah. Sandaran kursi bisa dilipat menjadi bed yang tengah. Lalu paling atas ada bed lagi. Untuk naik ke bed paling atas tersedia tangga. Menurut kami, yang paling nyaman itu di bed paling atas atau bed tengah. Bed paling bawah cukup mepet yah, jadi space nya limited banget.

Pagi hari kereta kami sudah memasuki Italy. Pemandangannya bagus, ada perkebunan anggur, ada perkebunan, pertanian, dominasi pepohonan hijau sih. Kami bisa melihat stasiun Milan, Padova, dst sampai akhirnya tiba di Venezia santa lucia, perhentian terakhir. Ingat yah, Venezia / Venice punya 2 stasiun kereta. Yang di pusat kotanya itu yang Venezia santa lucia. Sementara yang Venezia mestre itu agak ke luar kotanya.

Untuk berkeliling Venice kami akan ditemani oleh teman CS kami yang bernama Ms. Daniela.  Kami sudah janjian sebelumnya dan dia bilang akan jemput di stasiun dengan petunjuk “membawa jeruk di tangannya”. Hm.. unik juga caranya. Ternyata dia juga melakukan itu terinspirasi dari teman CS nya yang lain yang melakukan hal serupa. Oke, begitu kami turun kereta kami langsung melihat seorang wanita berusia sekitar 50 tahun (tapi wajahnya awet muda) yang sedang menengadahkan tangan dan ada jeruknya. Horeee…. Itu dia ! Senang sekali kami bertemu teman CS pertama kami yang berada di luar negri.

Welcome to Venice

Welcome to Venice

Ya, ini pertama kalinya kami ke luar negri dan menggunakan CouchSurfing untuk bertemu dengan teman jalan yang baru bahkan menginap di rumah mereka. Sebelumnya kami hanya bertemu anggota CS yang ada di Jakarta / Tangerang saja. Sempat agak deg2an juga tadinya, tapi ternyata Ms. Daniela ini orangnya ramah sekali. Kami titip ransel dulu di stasiun kereta supaya enak jalan2nya dan tidak repot. Agenda hari ini adalah jalan2 seharian di Venice. Let’s begin our walk…

Pertama keluar dari stasiun, kami langsung disambut dengan matahari yang bersinar dan air di kanal yang membentang luaaaaasss sekali. Wah, baru tiba.. mata ini langsung berbinar melihatnya. Suasana yang berebeda. Rasanya kami akan sangat menyukai kota ini. Atmosfer romantis lebih terasa di sini daripada Paris deh. Dengan tiadanya jalan untuk kendaraan bermotor, tentu jadi menyenangkan berjalan2 tanpa polusi. Apalagi ditambah Grand Canal yang membelah kota + kanal2 kecil di mana2. Beda deh dengan kota2 Eropa yang lain. Unik.

Pertama kami diajak ke tempat Jewish community, the ancient gheto of Venice. Dari stasiun jalan ke kiri. Eh, baru jalan sebentar ada yang menarik.. foto2 dulu deh. Itu jembatan yang menyeberangi Grand Canal. Hati2 yah, jembatan untuk menyeberang Grand Canal ini adanya cuma 3 saja di keseluruhan kota. Jarak antar jembatan amat jauh. Jadi kalo mau backpack sendirian di sini (tanpa ditemani orang lokal) persiapkan peta dan rute perjalanan dengan baik. Atau yah menyeberangnya pakai kapal/gondola.

Foto2 terus di Venice :)

Foto2 terus di Venice 🙂

Area kaum Yahudi ini menarik. Ada synagoge (tempat ibadah mereka), ada sumur2 tua jaman dulu dan ada monumen peringatan atas pembantaian kaum Yahudi saat jaman Nazi dulu. Kalo lihat gambar di bawah, posisi kanan bawah itu gambar2 pahatan yang menunjukkan penyiksaan terhadap kaum Yahudi.

ven3

Ada juga keterangan dalam bahasa Italy dan Inggris tentang bagaimana penyiksaan terhadap kaum Yahudi ini dulu berlangsung. Diuraikan juga misalnya penyiksaan dengan memasukkan mereka (men, women & children) ke ruang gas, dicambuk, dsb. Jadi semacam monumen nya lah dengan ada gambar bintang Daud-nya.

IMG_2345

Sampai sekarang masih ada kaum Yahudi yang tinggal di situ. Di situ ada toko2 yang menjual makanan / roti khas kaum Yahudi. Ms. Daniela pun membeli  1 roti tidak beragi (khas kaum Yahudi) untuk kami coba. Ternyata ga enak, tawar.. ga ada rasanya sama sekali (rasa tepung kali yah, hihi..). Roti tawar aja masih ada “rasa”nya.

ven4

Tidak jauh dari situ, kami juga mengunjungi istana orang kaya / bangsawan jaman dahulu. Bagus sekali,detil dan seni sangat diperhatikan. Teras belakang berbentuk dermaga mengarah ke air, karena memang moda transportasi utama di Venice adalah boat / gondola. Iyalah, namanya juga kota di atas air.

ven5

Dari situ kami pun diajak naik traghetto. Semacam gondola untuk menyebrangi kanal utama Venice (Grand Canal). Ini digunakan oleh kebanyakan lokal people, jadi harganya untuk menyebrang 1 arah hanya 1,5 euro / org. Sangat murah jika dibandingkan dengan naik gondola turis yang sekitar 80 euro. Memang beda sih, kalo traghetto kan jarak pendek, paling cuma 5 menit saja sudah sampai. Tapi cukup lah untuk menikmati sensasi Grand Canal Venice. Suasananya indah dan pemandangan sekitarnya memang spektakuler, didukung dengan langit yang biru di atas kami. Romantis.

ven6

ven7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sayang, saat traghetto mau meluncur, terjadi musibah. Jari telunjuk Diana terjepit antara boat dengan kayu dermaga. Langsung sobek dan berdarah. Hiks… perih banget. Jadinya pemandangan yang indah dan romantis menjadi terganggu deh. Ga sempat lagi foto2 karena udah agak panik, takut ada tulang jari yang patah. Sementara dibalut dulu jarinya pake tissue deh.

Ini baru gondola turis yang lebih mewah

Ini baru gondola turis yang lebih mewah

Setelah tiba di seberang kami jalan lagi menyusuri Rialto market. Ini pasar tradisional Venice yang terkenal. Banyak jual hasil  laut, wah.. ikannya segar2, ada udang, lobster, kepiting. Waduh.. seru ! Suasanyanya juga ramai dengan banyak orang. Ada juga tempat makan di pasar itu, jadi bisa langsung olah hasil laut yang segar. Mantap. Diana pun berusaha tetap berpose senyum walau sebetulnya itu sambil memegang terus telunjuk yang sakit.

Rialto Market

Rialto Market

Akhirnya kami tiba di Rialto bridge. Dengan jari yang dibubet tissue dan perihnya minta ampun (udah kayak mau putus itu jari), rupanya Diana ga kuat. Pandangannya jadi gelap dan jatuh terduduk. Rupanya darah keluar terlalu banyak dan kurang oksigen karena hawanya panas sekali. Iya, setelah tiba di Eropa sampai Paris dengan hawa yang dingin/sejuk, baru kali ini di Venice hawanya cukup panas sehingga ga usah pake jacket.

ven10Kami pun istirahat sejenak di tengah toko2 souvenir yang ada di jembatan Rialto itu. Ms. Daniela pun memaklumi dan membiarkan kami istirahat dulu. Setelah Diana agak lebih kuat, kami pun jalan lagi. Walau jari masih sakit, tapi masa kami mau membiarkan kecelakaan tadi merusak perjalanan kami ? Engga lah… ayo.. pasti kuat.

Ini salah satu enaknya traveling berpasangan. Kalo yang satu mengalami musibah, yang satu pasti akan mengerti dan bisa menolong dengan sepenuh hati. Kalo didukung suami, pasti Diana bisa semangat lagi dong, hehe..

Kalo diliat di gambar samping, itu seperti foto mesra Jeff & Diana yah, saling berpelukan. Padahal itu Diana lagi dibopong Jeff. Maklum masih agak keleyengan untuk berdiri. Ya, musibah terjadi, tapi perjalanan masih panjang. Foto2 pun masih banyak yang harus diambil. Jadi : smile 🙂

Jalanan di Venice terkenal dengan gang2 kecil yang unik dan seperti labyrinth. Katanya siapa pun yang ke Venice, pasti akan nyasar. Hihi.. terbukti tuh. Bahkan kami yang ditemani oleh orang lokal Venice saja masih nyasar kok. Nikmati aja. Nih, jalanan nya kayak gini.

Gang dan kanal yang sempit di Venice

Gang dan kanal yang sempit di Venice

Pas lagi jalan, taunya Jeff secara spontan melihat bahwa kami melewati tempat jual es krim “Boutique del Gelato”. Itu kelebihan Jeff, matanya awas banget dalam menyadari sesuatu. Sangat berguna saat traveling ! Kalo ke Italy harus beli gelato nya. Enak bangeeeeet !! Dan tempat gelato ini ada di rekomendasi buku lonely planet. Jadi kami pun mampir dan beli.

Walau jari sakit, tapi kalo dikasi gelato jadi ceria lagi dech :)

Walau jari sakit, tapi makan gelato jadi ceria lagi dech 🙂

Isi kota venice kebanyakan toko2 souvenir yang jual topeng dan alat2 karnaval. Di situ dilarang mencoba atau menggunakan topeng, karena takut hanya dipakai untuk foto2 dan alhasil ga beli. Jeff yang suka mengumpulkan magnet akhirnya membeli magnet yang berbentuk topeng khas Venice. Menarik.

Dari situ kami lanjut jalan ke Piazza San Marco. Ini pusatnya turis di Venice, karena itu satu2nya lapangan terbuka yang besar dan terdapat gereja dan tower sebagai ikon kota Venice. Di situ ada Basilica San Marco (gereja) dan alun2 besar dimana orang biasa nongkrong2. Ada banyak café di pinggir2nya.

???????????????????????????????

ven12

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lambang kota Venice adalah seperti singa yang memiliki sayap. Di atas monumen kalo diperhatikan, pas kami foto itu pas ada burung bertengger di kepala sang singa. Lucu juga. Bangunan2 klasik yang megah ini sangat khas dengan ukiran2 yang luar biasa. Detilnya betul2 dikerjakan dengan sempurna.

Berhubung Ms. Daniela cuma bisa menemani kami sampai sore, sedangkan train kami ke Vienna berangkat pukul 21.05, maka kami akan punya banyak waktu yang bisa dihabiskan berdua saja. Jadi kami pun berpikir untuk memanfaatkan waktu bersama beliau ke tempat2 yang “asing” dan nanti kami bisa menikmati San Marco berdua di sore hari.

ven14

Jadi sekarang skip dulu bersantai di tempat ini, kita lanjut dulu ke Arsenale. Itu adalah tempat Angkatan Laut nya Venice. Kayanya keren aja waktu liat di website, jadi pengen ke sana. Ms. Daniela pun bilang tempatnya bagus. Saat berjalan mengarah ke sana, ada spot yang menarik juga, yaitu perumahan penduduk lokal Venice. Banyak bunga2 musim semi yang ditaro di beranda/balkon rumah mereja.

Suasana di Venice

Suasana di Venice

Oke, kita putuskan untuk makan siang dulu. Sudah telat sih sebetulnya, tadi belum lapar karena sempat makan gelato. Cari-cari sekitar situ, ada 1 café dan kita pun makan di situ. Kami pilih makan pizza, karena pengen tau dong rasa aslinya pizza itu seperti apa. Ms. Daniela membantu meng-order makanan kami pakai bahasa Italy. Ternyata pizza itu ada nama2nya dan itu mewakili topping tertentu. Kami pun dipesankan yang margaretha, katanya itu standar pizza yang klasik dan umum. Oke, nurut aja. Enaknya kalo punya teman lokal yang bisa bahasa lokal dan juga bahasa Inggris.

ven15Sambil makan, kami pun memanfaatkan fasilitas toilet yang ada di café itu. Iya, toilet kan di Eropa rata2 bayar. Apalagi Venice, mahal loh bisa sampai 2 euro/org untuk ke toilet. Jadi mumpung sambil makan di situ bisa ke toilet gratis. Toiletnya bagus lagi. Ms. Daniela heran bahwa kami hanya memesan 1 pizza untuk berdua. Lah, iya dong.. memangnya ? Kata dia biasanya 1 pizza yah untuk 1 orang. Astaga… pantas saja di sana badannya pada big size yah.

Oya kelupaan, tadi sebelum lunch, kami sempat mampir ke Bridge of sighs (kanan atas). Jembatan putih itu adalah jembatan penghubung antara gedung pengadilan dan tempat hukuman (penjara atau hukuman mati). Jadi saat seorang terpidana diputuskan bersalah, maka ia akan melewati jembatan tersebut dan memandang kota Venice terakhir kalinya melalui jembatan tersebut. Bahkan juga mungkin melambai2kan tangan kepada kekasihnya yang ada di tempat kami berdiri saat ini (tempat Jeff berfoto di depan jembatan putih). Wah, jadi ikutan sedih dan sendu mendengar legenda ini. Ms. Daniela menceritakan ini semua dengan sangat ekspresif, bahkan melambaikan sapu tangan untuk memperagakannya. Haha…

Habis lunch kami pun menuju Arsenale. Bagus, rapi dan bukan area turis. Jadi kami lebih bisa menikmati suasanya. Semacam benteng pertahanan gitu. Tapi kami ga boleh masuk karena itu memang masih aktif digunakan oleh para tentara. Kami pun berjalan2 menyusuri benteng dan aliran kanal yang bersih dari keramaian turis dan gondola di situ. Tenang….

ven18

IMG_2483

 

 

 

 

 

 

 

 

Tuh… katanya Arsenale itu kayak surga = paradise (paradiso). Hehe… ayo terjemahkan sendiri kalimat bahasa Italy di gambar atas.

Saatnya berpisah dengan Ms. Daniela. Waa… tidak terasa yah, senang sekali bisa berjalan menikmati Venice dengan beliau. Banyak cerita dan informasi yang dia berikan. Bahkan terakhir pun dia memberikan peta Venicenya buat kami karena dia takut kami nyasar pulangnya. Thanks a lot !

ven19Dari situ supaya ga bingung, kami balik lagi ke pusat kota untuk masuk gereja Basilica San Marco (yang tadi sudah kami lewati). Sampe sana ternyata ga ada antrian untuk masuk katedral tersebut. Padahal biasanya kalo musim turis ngantrinya panjang banget tuh. Asiik…Setelah titip tas di locker yang khusus buat pengunjung gereja tersebut kami pun masuk. Iya, di situ ga boleh bawa tas sama sekali, harus dititip di locker khusus yang gratis, tapi lokasinya agak jauh dari gereja itu sendiri.

Gerejanya bagus. Masuknya gratis, tapi kalo mau naik ke towernya mesti bayar. Karena kami cari yang gratisan jadi di bawah saja ya, hehe.. Suasananya gelap, jadi agak sulit fotonya.

Dari situ kami putuskan untuk mulai mencari jalan menuju stasiun Santa Lucia. Ternyata itu bukan hal yang mudah. Walau coba baca peta, tapi pusing juga jadinya. Jalanan yang berupa gang labyrinth itu memang sukses membuat kami nyasar, bahkan bisa kembali ke tempat yang sama berulang kali. Ampun dah ! Bener2 bingung. Akhirnya kami berusaha menyusuri kanal,  dan sampai juga di daerah stasiun. Thanks God !

end

Last Moment in Lovely Venice

Di dekat stasiun, kami mencari satu resto Italy yang katanya enak dan ga mahal. Namanya Brek Bar Restorante. Ketemu. Oke, malam ini kami dinner makanan Italy lagi, yaitu spaghetti dan lasagna. Memang kami sudah persiapkan untuk lunch dan dinner makanan Italy kegemaran kami di kota asalnya langsung. Ga mau rugi dong. Agak aneh sebetulnya makan malam di saat matahari masih bersinar terik. Tapi ya itu dia, summer di Eropa memang seru karena matahari baru terbenam sekitar jam 9 malam.

Rasa spaghetti nya oke, tapi standard sih cuma pake saos tomat segar gitu. Sementara lasagna nya enaaaaak bangeeeet !! Sangat recommended ! Sambil makan kami pun santai2 untuk meluruskan kaki yang pegal juga jalan seharian. Di resto ini kami juga memanfaatkan toilet gratis 🙂 Yang bisa memanfaatkan toilet gratis ini hanya customer.

Wah, masih banyak waktu nih menunggu train berangkat. Walau malam tapi masih terang, jadi kami pun duduk2 di depan train stasiun sambil memandangi Grand Canal khas Venice. Menikmati moment berada di kota cantik ini, dimana kami hanya singgah 1 hari saja tanpa menginap.

Train OBB-EN akhirnya tiba. Kami pun naik dan merasakan night train yang berbeda lagi lay-outnya dengan malam sebelumnya. Di sini 1 kompartemen kelas 2 masih untuk 6 orang, tetapi kali ini hanya terdiri dari tempat duduk (seat), tidak ada tempat tidur. Kursinya lebih nyaman dan besar. Ternyata seatnya bisa ditarik ke bawah sampai rebah. Jadi bisa tiduran tapi ke arah depan. Menarik. Kami juga sudah booking train ini online seharga € 29 / pax. Ini harga promo dari website train Austria.

Kali ini isinya kami berdua (berhadapan) dan 3 cewek remaja Canada. Di tiap train itu rata2 ada colokan listrik, jadi bisa nge-charge semua peralatan elektronik nih setiap ada kesempatan.

bye-ven

Rute train adalah : Venice – Salzburg – Vienna. Kami turun di Vienna, sementara ternyata 3 cewek tadi turun di Salzburg (saat subuh sekitar jam 4-an). Alhasil kami kembali menguasai kompartemen selama sisa perjalanan. Horeee… !

Bersambung ke part 4

Lihat sebelumnya di part 2

Advertisements
Categories: 2004-2014, Belgium, EUROPE, France, Italy, Netherlands | Tags: , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

We love your feedback !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: