Advertisements

Singapore & Genting : 20-23 August 2006

Prolog

Karena Jeff belum pernah ke luar negri, maka kami memutuskan untuk menjajal ke Singapore dan membeli tiket pesawat pada tahun 2005 supaya murah. Ini juga menjadi pengalaman pertama kami bersama-sama sebagai pasangan traveling ke luar negri dan pengalaman pertama kami mencoba budget airlines. Saat ini budget airlines yang tersedia dan sedang naik daun adalah Air Asia. 

Untuk bisa pergi ke luar negri, selain memiliki passport, kita pun harus membayar fiskal ke pemerintah. Jika melalui jalur udara (Bandara Soekarno Hatta) besarnya 1 juta/org. Wuiiih… mahal yaaa… Sementara jika melalui jalur laut (Batam Centre) besarnya 500 ribu/org. Hm… kalo gitu mendingan kita lewat jalur laut saja deh. Lagipula Diana belum pernah ke Batam dan belum pernah ke Singapore lewat jalur ini.

(Per tahun 2009, wajib pajak yang memiliki npwp tidak perlu membayar fiskal dan per tahun 2011, biaya fiskal telah dihapuskan secara penuh oleh pemerintah RI)

Pengalaman pertama ke luar negri memang paling baik dimulai dari Singapore. Diana pun dahulu pertama kali pergi ke luar negeri yah ke Singapore. Selain jarak yang dekat dari Indonesia, murah dan banyak penerbangan ke sana, Singapore sendiri adalah negara maju yang menggunakan bahasa Inggris dan sistem publik transportasinya sangat bagus. Bolehlah, untuk latihan awal menggunakan bahasa Inggris. Kotanya juga sangat kecil, bersih serta aman. Pengalaman ke Singapore biasanya akan membuat orang ketagihan untuk berpetualang lebih jauh lagi meng-explore negara-negara lain di luar Indonesia.

Selain Singapore, negara tetangga Indonesia lainnya yang ingin dikunjungi adalah Malaysia. Di Malaysia, selain bahasa Inggris, masih banyak juga orang yang menggunakan bahasa melayu, bahasa yang mirip dengan bahasa Indonesia. Kali ini selain mengunjungi Kuala Lumpur (ibukota Malaysia) kami pun berencana mengunjungi Genting Highland. Diana belum pernah ke Genting dan dari hasil browsing kami bisa mendapatkan harga kamar yang sangat murah di Genting. Sip deh.

Jadinya kami beli tiket pesawat Jakarta-Batam dan Kuala Lumpur-Jakarta. Berikut itinerary perjalanan kami.

Itinerary

Sunday, 20 August         : Jakarta – Batam (by Air Asia), Batam-Singapore (by ferry), explore Sentosa Island

Monday, 21 August       : Explore Singapore, Singapore-Genting (by night bus)

Tuesday, 22 August       : Explore Genting

Wednesday, 23 August : Genting-KL, Petronas, KL-Jakarta (by Air Asia)

==================================================================================================

Day 1 : Go to Singapore (lewat Batam)

Kami berangkat dari rumah pukul 05.20 am menuju airport. Perjalanan hanya 30 menit dan kami langsung turun di terminal 1A, lokasi maskapai Air Asia. Wow, baru mau masuk pintu ke dalam terminal saja sudah antri panjaaaaaang sekali. Itu loh, pintu paling luar yang ada sebelum periksa bagasi. Padahal ini masih pagi banget. Memang karena ini hari minggu dan besok (tgl.21) adalah hari libur nasional, maka termasuk long weekend. Indonesia sendiri baru mengenal budget airlines dan merespon dengan sangat positif harga tiket yang sangat murah dan ditawarkan oleh budget airlines ini. Makanya bejubel deh orang yang naik Air Asia.

Antri sepanjang ini sih bisa sejam sendiri baru bisa masuk pintu terminal, pikir kami. Setelah antri 10 menit, eh.. ada pintu lain yang dibuka khusus untuk penumpang yang bawaannya sedikit. Asyiiik… kami cuma bawa 1 bagasi kecil ukuran kabin (kan supaya ga usah bayar biaya bagasi, hehe). Jadi langsung bisa masuk melalui pintu yang baru dibuka tersebut tanpa antri. Cihuuuy… inilah keuntungan travel light ! Kami pun melewati antrian tadi dengan senyum sambil diiringi tatapan sirik dari penumpang yang masih antri.

Begitu masuk pintu, lewatin x-ray bagasi, eeeh.. antri lagi bo ! Kali ini antrian di depan meja chek-in air asia tujuan Batam. Waduh, bener-bener semrawut ini airport. Kaya terminal, rame banget. Kayanya banyak banget yang ga biasa naik pesawat, kali ini berkat air asia jadi bisa naik pesawat. Ya, namanya juga fenomena baru. Alhasil banyak sekali orang yang tanya sini situ, ribut salah jalur, nyelak-nyelak antrian, dsb. Haduh !

Akhirnya kami pun berhasil mencapai meja chek-in pada pk.06.15. Wah, ngepas juga. Counter check-in seharusnya tutup pk.06.30 untuk penerbangan kami ke Batam pagi ini. Tetapi antrian penumpang di belakang kami masih panjang. Ah.. bodo amat. Yang penting kami udah beres dan segera menuju tempat boarding.

Oya, berhubung budget airlines, jadi saat check-in kami tidak mendapatkan nomor tempat duduk. Alhasil begitu boarding, para penumpang pun berlarian menuju pesawat dan sibuk saling mendahului untuk meraih tempat duduk yang diinginkan. Memang sih semua pasti kebagian tempat duduk, tapi kan biasanya kita ga mau kalo duduknya dipisah sama keluarga atau teman seperjalanan kita. Waduh, betul-betul persis kayak naik bus deh jadinya.

Akhirnya di tahun-tahun berikutnya, demi perbaikan sistem dan kenyamanan penumpang, maka air asia dan semua budget airlines lainnya pun mengeluarkan nomor tempat duduk pada saat check-in. Nah, gitu dong… lebih manusiawi kan.

Pesawat pun berangkat pukul 07.15 tepat sesuai schedule. Jam 08.40 pesawat sudah sampai di Batam. Sampai Batam kami langsung beli tiket ferry Wavemaster untuk rute Batam-Singapore yang dijual di Batam airport. Harga tiketnya 70 ribu/org untuk one way.

Setelah itu kami naik taxi untuk menuju Batam Centre. Di sana taxi nya tidak pakai argo, sudah ada ketentuan tidak tertulis bahwa harga dari Batam airport ke Batam Centre adalah 70 ribu rupiah. Karena memang banyak sekali orang yang ingin ke Singapore melalui jalur laut Batam seperti kami.

Tiba di Batam Centre, kami pun mencari tempat pembayaran fiskal. Oke, dapat.. bayar deh 1 juta untuk kami berdua. Sudah beres, kami bingung.. harus kemana yah habis ini. Karena kan kami sudah punya tiket ferry nya. Ternyata, kami tetap harus check-in di counter Wavemaster. Oke, buru2 check-in dan bisa langsung naik ke kapal yang akan berangkat dalam waktu 5 menit lagi. Asiik… ga perlu nunggu lama.

Perjalanan naik ferry sekitar 50 menit. Ini pengalaman pertama bagi kami berdua untuk naik ferry. Ferry nya bagus, luas, dan ber-AC. Tempat duduknya pun rapi seperti di pesawat. Penumpang tidak terlalu penuh, sehingga kami bisa cukup leluasa berpindah-pindah tempat duduk.

Di perjalanan menuju Singapore, kami bisa melihat Sentosa Island melalui jendela kapal. Saat mendekati Singapore, ada polisi patroli laut yang naik perahu dan kemudian naik ke kapal kami untuk memeriksa penumpang. Jadi ferry berhenti sekitar 10 menit untuk pemeriksaan ini. Setelah semua oke, baru kemudian ferry diijinkan jalan kembali.

Begitu turun dari kapal, di pelabuhan Singapore (Harbourfront) langsung terlihat kapal pesiar mewah : SuperStar Cruise. Wuiiih… besar dan megah. Someday, mau juga ah.. merasakan naik cruise. Ayo kumpulin dulu duitnya. Hehe..

Kami pun antri lagi di bagian imigrasi sekitar 20 menit. Kami sudah janjian dengan Mr. Iwan, teman kami dulu satu gereja di Bandung yang sekarang tinggal di Singapore. Katanya, ia akan menjemput kami di Harbourfront dan akan menunggu di dekat information centre. Oke.. setelah dapat cap imigrasi, kami pun mencari information centre dan itu dia… Iwan sudah menunggu.

Jeff langsung mengobrol dengan Iwan, sementara Diana sibuk mengambil brosur dan peta Singapore. Di Singapore, semua brosur  tempat wisata dan peta bisa didapatkan dengan mudah dan gratis. Brosurnya banyak sekali dan bagus-bagus.

Singapore Waterfront / Harbourfront ini menyatu dengan mal besar. Sehingga kami pun langsung menuju food court yang ada di mal tersebut. Koper yang cuma 1 itu pun kami geret melintasi mal. Yup.. sudah waktunya lunch. Waktu di Singapore lebih cepat 1 jam dari Jakarta. Bila di Singapore jam 1 siang, maka di Indonesia baru jam 12 siang. Jadi kami pun harus menggeser jam tangan kami ke waktu Singapore agar tidak salah.

Siang itu Jeff pertama kali transaksi pakai uang dolar Singapore. Karena pusing jadinya Jeff kasi uang gede dan tinggal nunggu kembalian, hehe.. Makan siang kali ini rasanya biasa saja, standard lah. Memang kalo soal makanan, Indonesia jauh lebih mantap. Sebagai penutup, kami ditraktir ice kachang oleh Iwan. Gaya yah namanya di Singapore, di Indonesia yah.. es kacang gitu. Bentuknya luar biasa besar dan tinggi. Ternyata itu adalah tumpukan es serut trus dikasi sirop warna warni supaya menarik. Kita mesti habisin dulu e situ untuk bisa mendapatkan kacang merah yang ada di dasar mangkok. Buat Jeff sih kacangnya enak !

MRT di Singapore

MRT di Singapore

Abis lunch kami naik MRT menuju hotel. Ini juga pertama kali Jeff naik MRT. Wuiih.. seru nih kayaknya. Setelah diajarin Iwan cara beli tiket MRT menggunakan mesin ber layar sentuh (touchscreen), Jeff pun bisa melakukannya sendiri. Ternyata gampang dan menyenangkan, karena di Indonesia ga ada yang kayak gini. Jadi ingat, waktu kecil Diana pertama kali naik MRT juga seneng banget. Termasuk juga seneng beli tiketnya di mesin. Jadi selama trip Singapore kali ini, Jeff lah yang bagian membeli tiket MRT di mesin, ketagihan ceritanya, hehe…

MRT adalah transportasi public yang sangat aman, nyaman, cepat, dan bersih di Singapore. MRT menghubungkan tempat2 penting di pusat hingga pinggiran Singapore. Betul2 bagus. Oke, tujuannya kali ini adalah Outram Park, stasiun MRT terdekat dengan hotel kami, The Royal Peacock boutique hotel di Jl. Keong Saik. (Sejak tahun 2010 hotel ini sudah tutup, berganti menjadi The Saff dan tahun 2012 berganti menjadi Naumi Liora hotel). Begitu keluar dari MRT Outram Park, kami pun bingung cari-cari jalan ke arah hotel.  AKhirnya ketemu juga. Ternyata dekat banget sih kalo melewati jalan kecil.

Kami pilih hotel ini karena dapat harga yang cukup murah seharga SGD.70 dari internet (hotelclub) dan lokasinya dekat dari MRT. Lokasinya pun tidak jauh dari China town, salah satu pusat keramaian Singapore. Hotelnya unik, kecil tapi oke lah. Kamar di dalam kurang pencahayaan karena tidak berjendela, jadi agak gelap. Tapi toh kami seharian akan di luar hotel, kamar cuma untuk tidur, jadi no problem.

Our hotel : Royal Peacock

Our hotel : Royal Peacock

Setelah check-in, kami pun beres2 dan bersiap untuk pergi ke Sentosa Island. Bawa botol minum dan snack untuk di jalan. Oya, di Singapore air dari keran bisa langsung diminum. Jadi tidak perlu beli air minum. Bawa saja botol kosong dan nanti tinggal diisi di keran mana saja. Sekarang, kami isi dulu dari keran kamar mandi hotel deh. Beres !

Jeff @ Cable Car

Jeff @ Cable Car

Kami pun balik lagi naik MRT menuju harbourfront, karena sebetulnya untuk ke Sentosa Island yah paling dekat melalui harbourfront ini. Cuma tadi tidak langsung karena kami mau taro koper dulu di hotel. Dari harbourfront kami naik cable car ke Sentosa Island. Mahal dan antri panjang, padahal sebentar banget durasi naik cable-car nya. Tapi karena Jeff belum pernah merasakan cable-car, ya sudah.. kita rasakan sensasi naik kereta gantung di atas perairan Singapore.

Tiba di Sentosa Island kami langsung menuju ke Merlion, lambang Negara Singapore. Di Singapore ada 3 Merlion. Yang satu di Sentosa Island dan bisa dinaiki dari dalam, sementara 2 lagi ada di pusat kota Singapore dekat Esplanade. Di dalam Merlion, kami pun melihat video tentang sejarah Singapore dan sejarah dari Merlion itu sendiri. Kami juga dapat souvenir berupa kipas bergambar Merlion yang ternyata sangat berguna selama di Sentosa, soalnya hari ini udaranya panas banget ! Selain itu kami pun mendaki ke mulut dan kepala Merlion serta foto-foto di situ.

Dari situ, kami naik bis gratis ke Underwater world. Tiket underwater world ini mahal banget. Hm.. kayanya semua tempat wisata di Singapore itu hitungannya mahal deh. Habisnya Singapore memang mengandalkan pemasukan Negara dari sektor pariwisata. Apalagi nilai tukar rupiah tuh lemah sekali kalo dibandingkan dengan dolar Singapore (dan mata uang negara asing yang lainnya). Berasa miskin deh kalo kita berkunjung ke luar negri akibat nilai tukar rupiah yang buruk. Di situ kita foto2 lagi, ada jelly fish, kepiting yang gede banget, dll. Mirip sea world Jakarta sih.

Setelah itu kami naik bis gratis lagi menuju lokasi magical fountain. Selama di sentosa island, bis memang disediakan gratis menuju berbagai spot2 wisata yang tersebar di seluruh pulau. Pertunjukkan Magical fountain ini katanya adalah trade mark nya Sentosa Island karena sangat bagus dan gratis pula. Berlangsung setiap malam, berbentuk show perpaduan teater manusia, music, sinar laser, air mancur dan api. Karena masih sore, kami pun beli Burger King dulu untuk bekal makan sambil nanti nonton show. Ini pertama kali Jeff nyobain Burger King. Burger King juga adalah salah satu fast food favorit Diana kalo ke Singapore. (Saat itu Burger King tidak ada di Jakarta).

Sekarang saatnya cari tempat duduk. Waduh, ternyata udah penuh. Padahal acaranya masih sejam lagi. Untung kami cuma berdua, jadi masih bisa nyempil2 cari tempat yang strategis. Sambil menunggu, ternyata ada anak-anak SD Singapore yang tampil untuk bernyanyi dan main orchestra. Menarik juga, pengunjung jadi tidak bosan menunggu. Kami pun menonton sambil makan dan kipas2, karena hawanya masih sangat panas.

Akhirnya pertunjukkan dimulai. Memang show ini baru dimulai malam hari setelah suasana agak gelap. Karena outdoor, jadi membutuhkan dukungan langit yang gelap agar show menjadi spektakuler. Performance Magical Fountain ini sangat keren ! Tidak heran semua pengunjung antusias menunggu show ini. Perpaduan semua kecanggihan dengan tata panggung yang menawan. Bahkan selain memunculkan api dan air mancur yang berubah-ubah dan bergerak-gerak sesuai lagu , ada pula sinar laser yang muncul dari mata merlion ke arah panggung. Iya, Merlion yang tadi siang kami naiki itu. Hebat !

Sayang, hasil foto2 nya tidak bagus karena terlalu gelap dan laser itu sangat sulit difoto. Tapi yang penting mata ini sangat puas melihatnya. Memang traveling itu adalah mengenai pengalaman, bukan semata-mata foto, makanya harus dijalani dan dinikmati dengan panca indera langsung. Sebagai show yang gratis, maka show ini sangat berkualitas dan menarik untuk menutup acara kami di Sentosa Island. (Show ini tutup pada tahun 2007. Area ini dibangun menjadi Resort World Sentosa. Lokasinya menjadi lokasi show Lake of Dream – gratis dan show yang lebih spektakuler diadakan di lokasi lain yang dinamakan Songs of the Sea – tapi harus bayar).

Selesai acara, kami langsung berlari ke terminal bis untuk lanjut ke cable car station. Kalo tidak berlari, maka kami akan mengalami kepadatan karena begitu banyak pengunjung yang akan menyebrang  dalam waktu bubar show yang bersamaan. Betul saja, tiba di cable car station masih kosong. Kami pun kembali menikmati pemandangan harbour Singapore di malam hari. Banyak lighting yang sangat cantik, wah.. Jeff sangat menikmati lighting2 tersebut.

Tiba di waterfront, kami naik MRT lagi menuju Clarke Quay (baca : Klark ki). Itu adalah spot dimana ada river yang membelah kota Singapore. Walaupun udah gempor kakinya, cape dan badan lengket, tapi saying kalo langsung pulang ke hotel. Jadi kami main dulu ke Clarke Quay. Di sana banyak cafe2 pinggir sungai, ada perahu wisatanya juga untuk mengarungi Singapore river tersebut. Bagus sih, karena di sana sungainya terawat dengan baik. Jalan-jalan di sana tuh udah lewat dari jam 10 malam. Tapi suasananya nyaman dan santai, jadi ga takut ada orang jahat.

Setelah muter2 di situ, kami pun memutuskan untuk kembali ke hotel. Iya nih, butuh istirahat juga karena besok seharian kami masih akan jalan2 meng-explore Singapore.

Day 2 : Explore Singapore

Pagi-pagi kami breakfast di hotel. Makanan nya enak. Ternyata banyak orang Indonesia yang nginap dan breakfast di hotel ini. Setelah makan, kami jalan kaki muter2 area China town sekitar hotel. Ada macem2 toko obat, jual makanan, toko souvenir, bahkan ada sex shop juga loh.

Trotoarnya luas dan rindang

Trotoarnya luas dan rindang

Jam 10 pagi kami menuju Orchard road, pusat shopping centre nya Singapore. Jeff senang banget jalan2 di sana. Bukan karena shopping nya, tapi karena trotoar/pedestrian tempat jalan orang nya lebar banget dan sangat teduh. Ga ada yang kayak gini nih di Jakarta. Kami malah nyangkut di Toys r us, toko mainan yang gede banget. Ga cuma mainan anak, tapi berbagai mainan asah otak dan board game untuk orang dewasa pun tersedia. Liat-liat Hard Rock Café, Takashimaya, Nge ann city dan lunch di sana.

Dari Orchard, kami ke filateli shop/museum karena Jeff suka filateli. Dari situ lanjut ke Suntec, lewat underpass MRT dan menelusuri mal-mal. Jauh juga ternyata jalannya, tapi fun. Dari Suntec, kami lanjut lagi ke Esplanade. Jalan kaki juga tuh dan ternyata jauuuuh yaaa. Mulai gempor nih kaki jalan terus dari pagi. Di Esplanade lagi ada pameran karya seni gitu. Ada pemutaran film tentang people of Singapore. Kami langsung ngejogrog di situ, lesehan, untuk meratakan dulu kaki yang gempor, hehe..

Esplanade

Esplanade

Sesudah istirahat sejenak, kami pun lanjut jalan kaki lagi menuju Merlion. Ini tempat semua orang berfoto sebagai bukti bahwa dia pergi ke Singapore. Ikutan aaah… Di situ ada 2 Merlion, yang 1 besar dan dari mulutnya keluar air mancur. Yang satunya ‘mini’ banget. Jadi bisa dibilang keluarga Merlion yah. Papa Merlion ada di Sentosa, sedangkan Mama Merlion dan Anaknya ada di pusat kota. Hihi…

Ini dia mama merlion :)

Ini dia mama merlion 🙂

Waduh, asli jalan kaki seharian tuh pegel banget. Maklum, di Jakarta ga terbiasa jalan kaki sih. Tapi artinya kami harus melatih kemampuan kaki kami kalo mau pergi traveling lagi nih. Okay, karena pegelnya udah ga nahan, terpaksalah kami istirahat lagi di Fullerton Hotel. Hotel yang katanya paling mahal di Singapore. Nikmatin dulu aaah… duduk2 di lobby nya.

Mala mini kami janjian dinner lagi sama Iwan. Rencananya mau dinner di Smith Street – China Town, jadi ga jauh dari hotel kami. Sip, setelah menikmati Fullerton kami pun langsung menuju China Town, tentunya naik MRT, ga sanggup jalan kaki karena jauh.

yummy dinner with Mr. Iwan

yummy dinner with Mr. Iwan

Di smith street ternyata banyak banget kedai-kedai makanan di pinggir jalan. Bingung juga mau pesan apa ya ? Akhirnya kami pesan kari ayam dan mie pangsit babi. Wuiih.. ternyata sedaaaap ! Ini makanan paling enak selama kami di Singapore. Sangat recommended ! Thanks Iwan, buat rekomendasinya. Lalu sebagai penutup Iwan beli popiah, semacam lumpia padang buat kami semua. Jeff doyan banget tuh. Rasanya beda sama lumpia yang ada di Jakarta.

Selesai makan dan ngobrol, kami pun harus berpisah dengan Iwan karena perjalanan kami masih jauh. Kok bisa ? Iya, malam ini kami akan cabut ke Malaysia, tepatnya ke Genting Highland. Jadi tadi pagi pas keluar hotel, kami sudah check-out dan menitipkan koper kami di concierge hotel. Nah, sekarang setelah dinner, kami balik lagi ke hotel untuk ambil koper. Kami pun menggunakan kamar mandi hotel untuk bersih2 badan dan ganti baju supaya segar.

Pukul 8.30 pm kami menuju MRT stasiun Lavender. Di situ ada ‘transtar’ office, tempat kami pesan bis malam untuk ke Genting. Harganya SGD.43/pax untuk rute Singapore-Genting. Pesan nya sudah melalui online, jadi sampai di officenya kami tinggal check-in. Bisnya ternyata sudah menunggu di parking lot di atas MRT station.

Bisnya enak dan nyaman, kursinya ada mesin pijatnya. Pas mau berangkat kami dikasi snack dan selimut. Supirnya sudah tua. Di Singapore banyak orang tua yang masih aktif kerja loh. Good ! Tepat jam 10 pm bis kami pun berangkat.

Seru juga malam2 melintasi Singapore. Bis melewati jalan tol dan kami bisa melihat sisi lain Singapore di waktu malam. Kapan lagi melihat pelabuhan, industry dan pabrik mobil di Singapore ? Ada  BMW, Ford, Daimler Chrysler. Seru juga. Setelah beberapa saat, ketika kami sudah terlelap.. bis pun tiba di imigrasi Singapore, yaitu di perbatasan Singapore dengan Malaysia. Lampu bis dinyalakan dan semua penumpang bis harus turun.

Whoaaam… masih ngantuk2 kami mesti turun, ambil koper, dan terpaksa ngantri di imigrasi Singapore. Lama juga tuh prosesnya. Biar pun sudah malam, tapi petugas Singapore terlihat masih segar (beda sama kami yg ngantuk banget) dan teliti meng x-ray semua koper penumpang bis. Setelah beres, passport dicap keluar Singapore dan kami pun naik lagi ke atas bis.

Ga berapa lama bis berjalan, ternyata sudah sampai di bagian imigrasi Malaysia. Buseeet, kami pun harus turun lagi. Bawa koper lagi. Ga enak juga nih kaya gini, ribet amat. Mana kami belom isi kartu imigrasi Malaysia lagi. Waaa.. mana tau kalo ternyata tadi di kantor transtar udah bisa minta kartu imigrasi dan diisi dari tadi. Buru2 kami cari kartu imigrasinya. Pas mau isi, baru sadar bahwa kami cuma bawa 1 bolpen. Duuh, ketauan deh belum berpengalaman. Jadilah kami isi kartu imigrasinya gantian, otomatis jadi lama banget. Padahal kantor imigrasinya kosong banget tuh.

Pegawai imigrasi di sini beda sama yang di Singapore. Di sini mereka pada main game computer dan sms-an. Koper juga ga diliat sama sekali, lewat aja gitu. Ampun deh, nyusah2in kita aja. Karena kami tadi buang waktu banyak gara2 ngisi kartu imigrasi gentian, jadinya kami berdua yang paling akhir masuk bis. Untung aja ga ditinggal.. walau agak ngomel2 tuh supir bisnya, hihi…

Dari situ bis kami mampir beli bensin. Caranya lain sama di Indonesia. Jadinya si supir ngisi bensin sendiri terus nanti bayar di kasir. Mirip di negara2 maju macam Amerika gitu yah. Kalo di Indonesia abis ngisi yang ada kabur tuh.. bukannya bayar, hehe.. Rumornya sih mereka isi bensin waktu ada di bagian Malaysia (bukan di Singapore) karena harga bensin di Malaysia lebih murah. Masuk akal sih.

Abis itu baru deh kami bisa tidur nyenyak beneran. Yaa.. ga bisa dibilang nyenyak 100% sih, karena walau nyaman, tapi tetep aja kadang terbangun2. Namanya juga tidur rebahan di atas bis yang bergerak. Beda lah sama tidur telentang di hotel yang ga gerak.

Day 3 : Genting Highland

Di tengah keheningan mimpi, tiba2 lampu bis diterangin dan sopirnya teriak2. Weeeitss… ada apa nih ? Jadi bangun karena terkaget nih. Ternyata bis sudah sampai di KL dan penumpang tujuan KL harus segera turun. Galak juga tuh supir, ya kalo ga gitu mungkin para penumpang bisa kebablasan tidur yah.  Kami sempat bengong sejenak (nyawanya belum ngumpul nih) dan pas liat jam tangan, ternyata jam 4 subuh. Wah..  sudah pagi rupanya dan bis sudah tiba di terminal dekat KL Sentral.

Setelah beberapa penumpang turun, bis pun melanjutkan perjalanan. Kami pun karena sudah terlanjur bangun mencoba menikmati pemandangan subuh di KL. Kotanya mirip seperti Jakarta, nothing special. Lagian masih jam 4 pagi.. serba sepi dan ga ada yang menarik untuk dilihat. Kami pun lanjut bobo lagi.

Tiba2 kita dibangunin lagi. Busyet… ada apa lagi ini ?! Ternyata bis sudah tiba di Genting. Waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Tadi pas jalan ke Genting sempat sih terbangun2 karena jalannya berkelok-kelok dan menanjak seperti di Puncak. Tapi yah namanya juga lagi tengah tidur, ya fokusnya bukan view tapi tidur, hehe..

Sambil ngantuk2, bengong2 baru bangun, kami pun ambil koper dan menuju lobby hotel yang cukup jauh dan menanjak dari tempat parkir bis. Haiyaaa… perjuangan banget dah. Sampe lobby, kami langsung menuju toilet. Astaga ! Airnya dingiiiiin bangeeeeet ! Bener2 kayak air es, lebih dingin daripada di Puncak atau Bandung. Bikin segar seketika nih.

1st world hotel & outdoor theme park

1st world hotel & outdoor theme park

Oya, kami nginap di 1st world hotel. Hotel ini ada di atas 1st world plaza yang memiliki 7000 kamar. Whaaat ?! Malaysia bener2 pede bahwa Genting ini akan jadi pusat turis sampe sedia kamar segitu banyaknya yah ? Ini baru 1 hotel loh, belum hotel2 lain yang juga ada di Genting. Yang pasti, kami menginap di sini karena dapat harga sangat murah dari internet. Bayangin aja, cuma MYR. 48/night (sekitar 120 ribu). Hebat kan ?!

Lobbynya gede buangeeeeet !! Counter check-in nya ada puluhan. Gile ya ! Kayak di mal aja, bukan kayak di hotel ini mah. Kami ambil nomor urut dulu dan ternyata baru bisa check-in jam 9 pagi.  Ampun dah. Dari jam 5 pagi sampai jam 9 pagi kira2 mo ngapain ya ? Akhirnya kami pun tidur2an di lobby. Masuk jam 6 lebih, kami pun titip koper (ada tempatnya di lobby dan gratis), lalu jalan2 muterin 1st world plaza sampe akhirnya bosen dan kami pun check-in jam 9.

Begitu check-in, kami dikasi key-card kamar di tower 2. Jadi hotel ini punya beberapa tower. Lantainya tinggi banget, kamar kami ada di lantai 20-an. Kamarnya cukup kecil dan sederhana (iyalah…murah…) jadi kayak rumah susun gitu sih suasananya, hihi.. Habis masal sih buatnya, 7000 kamar, bayangin aja.

Masuk kamar langsung beres2 dan akhirnya : TIDUR ! Aaaah… enaknya bisa bobo di atas ranjang. Bisa lurusin kaki dan punggung. Semalaman di bis agak ga nyenyak, jadinya perlu ditebus dengan tidur lagi, hihi.. Kami ketiduran selama sekitar 2 jam loh. Parah juga.

Memory of Snow world

Memory of Snow world

Bangun2 sudah waktunya lunch. Terpaksalah kami turun ke 1st world plaza. Cari2 lunch dan kami pilih lunch di Merrybrown. Semacam fast food seperti Kentucky, tapi rasanya agak beda. Enak sih. Habis itu kami ke Ripley’s believe it or not, nonton 4D, naik monorail mini (menarik karena meluncur di bagian indoor dan outdoor dari Genting) serta masuk ke snow world. Berhubung Indonesia ga punya salju, maka mainan snow menjadi hal yang menarik. Di situ Diana main sliding di atas es pake ban mobil. Jeff ga bisa main itu karena overweight (ada max. berat badannya, haha…) Tiket masuk sudah termasuk yoghurt gratis di dalam arena.

Kami pun menikmati snow world ini. Ada rumah2an dan tempat2 seluncur yang bisa digunakan untuk bermain dan berfoto di tengah2 es. Ada juga petugas foto yang standby untuk mengabadikan moment2 pengunjung. Otomatis baju dan celana pada basah semua deh di sini. Jadi setelah selesai main, kami pun kembali ke kamar, ganti baju dan istirahat.

Malamnya Diana agak ga enak badan, keliatannya masuk angin gara2 kedinginan. Iya, di Genting ini hawanya dingin banget, soalnya memang berada di ketinggian (Highland). Udah gitu main snow lagi. Haduuuh.. salah sendiri dah. Jadinya kami pun cari makanan yang hangat dan berkuah. Nah, ada restoran Chinnese food gitu, kami dinner di situ saja. Letaknya di sebelah tempat kami lunch tadi siang. Yummm… enak dan hangat di tubuh.

Brr... dingin...

Brr… dingin…

Habis itu kami jalan2 ke outdoor theme park. Genting ini terkenal dengan theme park seperti mainan di Dufan gitu. Tapi kami ga masuk sih, soalnya ga rencana mau main juga. Jadi liat2 sekeliling aja. Lagian tadi siang pas naik monorail udah sempat liat2 view theme park dari atas kok.

Kami pun lanjut jalan2 ke hotel2 lain di Genting. Pengen tau aja. Ternyata Genting itu gede buangeeet dan antar hotel tuh sambung menyambung. Sampe gempor loh kami jalan2 malam itu. Sekalian kami juga cari jalan ke arah skyway yang besok pagi bakal mengantar kami ke terminal bis menuju KL. Siip.. ketemu, walau jauh tapi gampang kok jalannya. Sekarang waktunya balik ke kamar dan langsung bobo dengan nyenyak. Wuiiissss… dingiiiiin…. Padahal ga ada AC nya loh.

Day 4 : Go to KL (Petronas Mall)

Last day ! Musti dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya nih. Pagi-pagi kami mesti cari breakfast dulu karena harga room tidak termasuk breakfast. Setelah keliling2 di 1st world plaza, akhirnya pilihan jatuh pada : Kentucky ! Jeff pengen tau apa bedanya Kentucky di Indonesia sama di Malaysia. Ternyata memang menu nya jauh lebih banyak. Pengen rasanya nyobain menu2 yang ga ada di Indonesia. Sayang, kalo pagi mereka hanya sedia menu breakfast aja.

Okay, ada 4 paket breakfast yang bisa dipilih. Kami pun memilih 2 di antaranya. Jadi breakfast kami berupa sosis, ayam, potato crushed, dsb. Lumayanlah.. itu juga ga ada kok di Kentucky Indonesia. Sebetulnya selain Kentucky, ada juga McD, pizza hut, dan lain2. Tapi menunya sama lah, fast food semua gitu. Cuma lebih bervariasi daripada di Indonesia aja.

Setelah breakfast, kami menyempatkan diri untuk liat2 casino. Sebetulnya Genting itu dulu terkenal dengan casino nya (sebelum ada theme parknya). Jadi waktu orang tau kami ke Genting, biasanya bingung, emang mau judi ? Haha… engga lah, emangnya Genting cuma buat tempat judi ? Tapi jadi penasaran kan kalo udah ke Genting ga masuk ke casinonya yang terkenal itu.

Waduh, pagi2 udah banyak aktivitasnya. Apa emang dari semalam ya ? Namanya juga casino mau 24 jam, ga kenal waktu. Kan di dalam gelap terus. Kami sih ga ngerti ya, yang pasti ada macam2 jenis deh di situ. Ada yang bentuk meja dan ada petugasnya, ada yang bentuk mesin, ada yang judi dengan virtual screen gitu. Besar areanya dan canggih sih. Karena bau & asap rokok yang sangat parah, jadinya kami cuma sekitar 10 menit aja di dalam casino. Ga tahan. O,ya masuk casino ga boleh bawa kamera dan hp, jadi semua ditinggal di kamar tadi.

Kami pun siap2 untuk check-out. Card key langsung dicemplungin ke box yang namanya “express check-out”. Bisa aja sih kalo mau dibawa pulang card key nya, tapi buat apa juga ? Jangan merugikan pihak hotel lah. Kami pun langsung cabut ke skyway. Koper dimasukan ke skyway itu dan kami pun meluncur dengan kecepatan tinggi. Wuiiiih… asyiiik…

Skyway ini mirip cable car yang di Singapore, kereta gantung juga. Tapi yang ini jauh lebih seru karena trek nya panjang banget dan bisa lihat view hutan dan jurang di bawahnya. Jeff memikmati sekali perjalanan ini. Kami pun juga ga kebayang skyway ini mengarah ke mana. Ternyata skyway ini menuruni bukit letak Genting Highland berada. Di bawah bukit itu ada stasiun tempat skyway berhenti dan sekaligus juga terminal bis yang akan membawa penumpang ke berbagai tujuan di Malaysia. Yang paling ramai tentunya ke KL Sentral, pusat monorail di KL. Termasuk kami juga menuju ke KL Sentral.

Setelah menunggu jam berangkat (bus berangkat setiap 1-2 jam), kami pun naik ke bis. Perjalanan ke KL Sentral ternyata lumayan jauh, 45 menit. Jalan yang berkelok-kelok dan kondisi tubuh Diana yang tidak fit membuat perut Diana jadi sangat mual. Untung bisa bertahan dan tidak muntah di jalan.

Setibanya di KL Sentral, kami pun menitipkan koper di locker stasiun, karena kami mau jalan2 ke Petronas Tower (menara kembar ciri khas kota KL). Dari KL Sentral kami naik LRT (mirip MRT Cuma lebih sedikit gerbongnya jadi lebih pendek) untuk menuju Petronas. Secara umum pemandangan kota Kuala Lumpur tidak beda jauh dengan pemandangan kota Jakarta.

Kami pun tiba di Petronas yang ramai sekali. Tidak naik ke towernya, tapi hanya berjalan2 di mal bagian bawahnya saja. Ada Petronas sains store yang cukup menarik di situ. Karena sesaknya pengunjung, kami jadi agak malas berjalan-jalan di sana. Meja-meja di food court nya pun penuh sesak, sampai susah untuk berjalan di antara meja2 itu. Kami lunch nasi lemak, makanan khas nya Malaysia. Seperti nasi uduk gitu lah kalo di Indonesia. Diana sih suka, tapi jeff ga doyan.

Dari situ kami balik lagi ke KL Sentral dan beli Kentucky (lagi) buat bekal di jalan. Memang kalo traveling gaya backpacker gini paling gampang tuh beli fast food. Bisa dibekal dan dimakan kapan aja, terutama burgernya. Pas udah mau menuju terminal bis Air Asia, baru inget koper…. Ya ampuun.. ampir kelupaan. Kami pun balik lagi ambil koper yang dititipkan di locker.

Jam 03.15 pm kami bergegas ke bus station Air Asia untuk naik bis ke airport LCCT. Sebentar… kok waktu tempuhnya 1 jam 15 menit ya ? Padahal kami mesti naik pesawat yang take-off nya jam 5 pm dan mesti check-in jam 4 pm paling lambat. Waduh.. ga bakal keburu dong ?! Kacau… salah perhitungan nih. Kirain dari KL Sentral ke LCCT tuh sebentaran. Diana pun langsung panik karena dia yang bertanggung jawab untuk menyusun itinerary, termasuk browsing moda transportasi dan jarak antar tempat wisata. Keliatan banget deh pengalaman backpack yang amatiran banget… Ampun, bisa salah perhitungan waktu gini. Pas mau naik pesawat lagi.

Diana pun langsung berlari balik arah sambil menggeret Jeff yang masih bingung ga ngerti. Plan B adalah cari KLIA ekspress. Rasanya Diana pernah browsing dan kalo ga salah cuma butuh waktu 20 menit dari KL Sentral ke airport KLIA.

Perhatikan yah… ada 2 airport di sini : KLIA (Kuala Lumpur International Airport) dan LCCT (Low Cost Carrier Terminal – khusus Air Asia). Jadi jangan salah yah.

Sambil panic karena terburu waktu, Diana menemukan counter KLIA Transit. Hampir transaksi, terus Diana sadar bahwa ini train yang beda dengan KLIA ekspress dan bukan kereta yang dimaksud.

KLIA Transit juga bisa sampai ke KLIA Airport, hanya waktu tempuhnya lebih lama karena berhenti di tiap stasion.

Waduh, lari-lari lagi cari KLIA Ekspress. Untung akhirnya ketemu. Waaaaaa…. Antri panjang banget di loketnya. Gawat. Bisa makan waktu lama nih. Untungnya (yakin deh ini campur tangan Tuhan yang baik banget) pas baru antri eeh…ada petugas yang nyamperin Diana dan nawarin kami untuk beli tiket di mesin pake uang cash. Tiketnya 35 ringgit/pax. Langsung cari2 uang cash dan puji Tuhan, uang cash nya PAS ! Betul2 tinggal MYR.70 di dompet yang lainnya uang rupiah. Itu pun udah digabung antara lembaran dan coin. Karena kan tadinya perhitungan hanya untuk naik bis ke airport, ga persiapin duit buat naik train. Dibantuin untuk transaksi di mesin sama petugas tadi dan langsung dapat tiketnya. Horeee…

Kami pun langsung berlari ke arah train dan melihat di papan bahwa 2 menit lagi train akan berangkat. Haduh, kalo tadi masih antri di loket, pasti ga bakal keburu naik train yang ini dan harus tunggu train berikutnya yang ga tau kapan lagi datangnya (rasanya sih pasti masih lama dan bakal ga keburu deh kami naik pesawat ke Jakarta). Fiuuuh… akhirnya kami pun meloncat ke dalam train. Untung aja bawaan cuma 1 koper kecil yang dari tadi digeret sambil berlari.

Sudah di kereta, kami pun cari tempat duduk. Sebetulnya train ini bagus banget dan nyaman banget. Eksklusif lah. Makanya agak mahal dibanding bis dan itulah juga sebabnya Diana tadinya memilih naik bis yang bisa langsung dari KL Sentral ke LCCT. Kalo naik train harus ke KLIA dulu, baru dari KLIA ke LCCT. Sayang perhitungan waktunya salah, jadi aja begini nih. Biar pun train nya keren, tapi sepanjang jalan kami udah ga bisa nikmatin. Jeff pun cemberut sepanjang jalan. Iyalah, kami betul2 tegang dan takut telat sampai di bandara. Gimana coba kalo ga bisa balik Jakarta ? Hikks… Masa mesti beli tiket baru ?! Huaaaaa….

Betul saja, setelah 20 menit kami pun tiba di KLIA. Jangan senang dulu, dari KLIA kami masih harus ke LCCT. Jadi begitu turun dari train, kami pun cari2 bus ke arah LCCT. Dapat ! Terminal bus nya parah banget. Kondisi bisnya seperti bis di Jakarta, ancur. Kami pun mesti bayar 3 ringgit (utk 2 org). Korek2 dompet, lembaran ringgit udah abis (kan tadi terakhir dipake naik train), cari2 koin… ada 4 ringgit. Legaaa… Ternyata dari 4 koin ringgit yang kami punya (last coin) yang 1 ringgit ditolak sama supirnya, udah coin lama dan ga laku rupanya. Jadi betul2 cuma 3 ringgit yang bisa dipakai dan PAS banget buat bayar bis. Luar biasa !!! Ga kebayang tuh bisa pas begitu duitnya.

Perjalanan bis dari KLIA ke LCCT makan waktu sekitar 15 menit. Rasanya ga sampe2 deh… karena kami masih deg2an ngejar waktu check-in. Begitu sampe LCCT kami pun langsung lari2 cari counter check-in dan horeee…. Berhasil check-in jam 4 pas !!! Legaaaa… banget ! Bisa pulang juga kami ke Jakarta. Sekali lagi : HOREEEEEE !!!

==================================================================================================

Epilog

Perjalanan pertama kami backpacker ke luar negri ini membuat kami sadar :

  1. Persiapkan itinerary dengan baik. Jangan sampai salah informasi, terutama yang berkaitan dengan keberangkatan pesawat. Itinerary juga harus dikuasai oleh kami berdua, jangan sampai hanya salah satu yang paham dan yang lain hanya “ikut”. Itinerary yang dibuat berdua tentu lebih baik karena bisa saling cross-check.
  2. Selalu siapkan plan B dan uang yang agak “lebih”. Jangan sampai tiba2 ada keperluan mendadak dan kehabisan uang di jalan. Habiskan uang kalo mau di airport, jangan habis sebelum sampai airport.
  3. Siap-siap jalan kaki. Penting untuk melakukan olahraga kaki, terutama sebagai persiapan sebelum traveling. Haha… Percaya deh, di luar negri itu banyak sekali yang bisa dinikmati dan dihemat dengan berjalan kaki.
  4. Bawa bolpen minimal 2 pcs untuk 2 orang. Jadi masing2 bisa menulis atau mengisi form pada waktu yang bersamaan, tidak perlu saling menunggu.
  5. Harus siap dengan segala kemungkinan. Jika memang ada hal di luar itinerary, ga boleh ngambek dan marah2. Hadapi aja dengan santai. Sayang kan, suasana jadi rusak gara2 nila setitik.
  6. Kami harus lebih sering traveling secara mandiri seperti ini supaya lebih pengalaman, hehe…

Yang pasti pengalaman di akhir perjalanan kami, mulai dari ga jadi beli tiket KLIA transit, ditawarin petugas beli tiket KLIA ekspress di mesin, duit yang pas2an tinggal 70 ringgit, naik kereta yang tinggal 2 menit lg berangkat, sampai coin yang pas2an tinggal 3 ringgit (sisa 1 ringgit coin yang ga laku) itu semua terjadi atas keajaiban dan pertolongan Tuhan. Terpujilah Tuhan, kini dan selamanya. Amin.

Advertisements
Categories: 2004-2014, ASIA, Malaysia, Singapore | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

We love your feedback !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: