Advertisements

Australia : 9-19 September 2010 (part 1-Perth)

Prolog

Setelah pengalaman traveling di Asia, kami pun ingin melebarkan sayap ke benua tetangga yang punya 4 musim. Ceritanya sih ingin merasakan musim yang tidak ada di Indonesia tetapi dengan jarak yang cukup dekat dari Indonesia. Rasanya Australia adalah pilihan yang pas. Diana juga belum pernah ke Australia, jadi ini bakalan jadi pengalaman pertama buat kami berdua.

Sekarang memilih kota mana saja yang mau dikunjungi. Setelah melihat peta dan browsing2, kami pun memutuskan 3 kota tujuan : Perth, Melbourne dan Sydney. Rasanya 3 kota itu cukup “terkenal” di Australia, sementara untuk Gold coast lokasinya terlalu jauh sehingga kami pikir lain kali saja.

Mulailah kami berburu informasi lebih detil. Termasuk membeli bukunya Ms. Elok Dyah Messwati yang berjudul : “Backpacking hemat ke Australia”. Buku ini bisa dilihat di bagian rekomendasi buku di blog ini. Dari situ kami mendapatkan banyak sekali informasi yang berguna buat rencana Australia trip kami.

Oke, tadinya untuk trip ini kami meluangkan waktu seminggu. Namun ketika melihat destinasi yang cukup banyak di 3 tempat itu, akhirnya diputuskan 10 hari.  Dengan alokasi sekitar 3 hari di masing2 kota dan 1 hari akumulatif untuk perjalanan. Walau ternyata di akhir-akhir ada perubahan, karena perjalanan pulang memakan waktu 2 hari, sehingga jatah di Perth harus dikurangi 1 hari.

Selain itu kami juga ingin pergi saat musim spring (musim semi), dimana katanya bunga2 mulai bersemi indah dan cuacanya bagus. Sip. Merasakan spring tentu menyenangkan. Untuk Australia, musimnya berbalik dengan Amerika. Jadi spring di Australia adalah bulan September-November, sementara di Amerika bulan tersebut adalah musim autumn (musim gugur).

Seperti biasa, kami kemudian mencari kenalan di destinasi tujuan kami tersebut. Siapa tau bersedia menampung sehingga hemat akomodasi. Kalo tidak bisa menginap di tempatnya, kan paling tidak ada orang lokal yang bisa menemani. Senang juga kan traveling sambil bertemu kenalan di tempat tujuan. Hm.. apakah ada kenalan yang tinggal di 3 kota itu ? Ternyata banyak. Good !

Berikutnya adalah soal visa dan tiket pesawat. Mana duluan nih ? Hm.. katanya sih visa dulu, soalnya visa Australia tergolong susah (walau tidak sesusah Amerika). Tapi biasanya promo tiket pesawat pesawat kan jauh2 hari sebelumnya, sementara apply visa itu paling 3 bulan sebelumnya.

Lagi bingung2, eh.. taunya ada promo dari Jetstar (budget airlines – anaknya Quantas) untuk rute Jakarta-Perth hanya USD.79/pax. Wow… murah ! Tambah bagasi, jadinya USD.198 berdua. Tetep murah, ga sampe sejuta nih seorang. Waduh, kalo ga disamber, kapan lagi bisa dapet tiket murah dan langsung gini ?! Biasanya yang murah itu harus lewat Singapore atau Kuala Lumpur atau Bali. Oke, samber aja kalo gitu. Done !

Sekarang tiket pergi sudah ada. Tapi visanya belum. Harus cari cara supaya pasti keluar nih visanya. Kalo engga, nanti tiket angus dong… rugi. Cari2 info, katanya lebih tokcer kalo pake invitation letter, alias ada org Australia yang mengundang kami datang dan menanggung akomodasi kami selama di sana. Tidak disangka, ada family Jeff yang tinggal di Melbourne dan bersedia memberikan invitation letter untuk kami. Great !

Sambil merancang itinerary, kami juga cari2 tiket yang murah untuk pulangnya. Apakah dari Melbourne atau Sydney ya ? Ternyata kami menemukan informasi bahwa ada festival tulip di dekat Melbourne pada bulan September itu. Wah, kebetulan nih. Menarik sekali karena kami belum pernah liat taman tulip. Setau kami yang terkenal itu taman tulip di Belanda. tapi kalo di Australia bisa lihat taman tulip… asik juga. Ga usah jauh2 ke Eropa untuk liat tulip. Cuma karena Tesselaar Tulip Festival itu baru dimulai tanggal 16 September, berarti Melbourne harus jadi kota terakhir nih tampaknya kalo mau liat tulip.

Setelah punya gambaran rute, kami pun mulai berburu tiket pulang (Melbourne-Jakarta) dan lokal flight untuk antar kota di Australia. Ada 3 budget airlines untuk rute lokal Australia : Jetstar, Tiger dan Virgin Blue. Tinggal compare mana yang lebih murah aja. Info lainnya, kalo di Australia, Tiger itu katanya sering telat, bahkan pernah cancel. Uups.. serem juga buat yang jadwal travelingnya padat kaya kami. Mending cari yang lain aja kali ya supaya aman.

Itinerary

Thursday, 9 Sept        : Jakarta – Perth (by Jetstar)

Friday, 10 Sept            : Perth > Pinnacles tour (western Australia)

Saturday, 11 Sept       : Perth > City, Freemantle, Perth – Sydney (by Jetstar)

Sunday, 12 Sept          : Sydney > Church, Paddy’s market, Darling harbour

Monday, 13 Sept        : Sydney > Opera house, Bondi beach

Tuesday, 14 Sept        : Sydney > Blue Mountain, Sydney – Melbourne (by Virgin Blue)

Wednesday, 15 Sept : Melbourne > City

Thursday, 16 Sept      : Melbourne > Tesselaar Tulip festival

Friday, 17 Sept            : Melbourne > City, St.Kilda beach

Saturday, 18 Sept      : Melbourne-KL (by Air Asia)

Sunday, 19 Sept         : KL – Jakarta (by Air Asia)

==================================================================================================

Day 1

Ini pengalaman pertama Jeff traveling ke negara ‘bule’ . Kota pertama yang akan kami singgahi adalah Perth, ibukota negara bagian Australia Barat. Maklum deh, namanya juga terbang dengan tiket promo, maka penerbangan kami berangkat dari Jakarta jam 20.25 dan tiba di Perth jam 01.30 waktu Perth. Itu sampe tengah malam apa dini hari ya ? Ga enak banget deh pokoknya. Walaupun begitu, petugas keamanan dan bea cukai di bandara international Perth tetap stand by untuk mengamati barang2 bawaan penumpang dari Indonesia.

IMG_3739Australia memiliki aturan yang ketat dalam mengatur bahan pangan yang masuk ke dalam negara mereka . Antrean keluar cukup panjang dan lama karena banyak bawaan penumpang yang dibongkar oleh petugas termasuk bagasi kami. Mereka mencari makanan, seperti abon, kerupuk, ikan kering, dsb. Itu semua ga boleh masuk loh, jadi harus dibuang. Untungnya kami bisa lewat dengan lancar dan aman karena memang ga bawa makanan. Buat yang mau ke Aussie, coba diperhatikan betul apa saja yang tidak boleh dibawa ke sana, karena memang ketat banget pengawasannya.

Keluar airport, kami dijemput oleh Mr. Harry, teman orang tua Diana yang sudah lama tinggal di Perth. Selama di Perth, kami akan stay di rumah beliau. Di airport banyak terdapat brosur dan peta wisata tentang western Australia. Keluar airport, kami langsung dihadang dengan dinginnya cuaca dinihari itu yang mencapai 5°Celcius ! Brr… asli dinginnya ampun !!

Perjalanan dari airport ke rumah Mr. Harry cukup jauh. Sepanjang jalan, kami melewati daerah perumahan2 yang gelap. Ternyata memang sengaja dimatikan lampunya dalam rangka penghematan energi. Sampai di rumah, kami langsung masuk ke kamar, membereskan bawaan kami dan siap2 tidur !

Ternyata hawanya dingin sekali walaupun di dalam rumah. Sekalipun kami tidur dengan menggunakan jaket dan celana jeans ditambah selimut tebal, tetap tidak bisa mengusir dingin yang menusuk tulang. Tapi mau ga mau tertidur juga akhirnya karena lelah. Bobo dulu ya ! Besok kami akan memulai petualangan seru di negara kangguru ini.

Day 2

View yang cantik !

View yang cantik !

Bangun tidur, kami keluar ke arah teras rumah. Dan tau apa yang kami lihat ? Pemandangan kota Perth yang cantik. Karena hari sudah mulai terang, kami baru menyadari lokasi rumah ini. Ternyata rumah ini berada di kompleks perumahan yang letaknya di perbukitan. Sehingga dari teras rumah kami bisa melihat pemandangan kota Perth yang keren dan di depannya ada sungai Swan. Wah, asyik banget lokasinya, kayak villa.

Ups, kami ga bisa lama2 menikmati pemandangan ini karena kami mau ikut lokal tour ke pinnacles. Bergegas kami mandi air hangat, tapi kaki rasanya seperti menginjak es. Kondisi badan yang sangat dingin menyentuh air hangat itu jadi seperti terbakar dan sensasinya seperti kena dry ice. Antara sangat dingin dan sangat panas jadi serupa yah.

Karena berpikir akan pergi ke Pinnacles Desert (yang dalam pemikiran kami gurun itu pasti panas), Jeff memakai celana ¾ saja. Biar santai ceritanya. Diana pun memakai jaket jeans yang tipis (maksudnya supaya ga tersengat matahari). Tapi ternyata kostum ini membuat kami kedinginan sepanjang hari. Termasuk saat berada di Pinnacles. Rupanya di sini, matahari dan hawa panas itu tidak sejalan seiring. Jadi bisa saja matahari terik, tetapi hawanya sangat dingin karena angin dan temperatur udara memang dingin.

Pose kedinginan, haha..

Pose kedinginan, haha..

Selesai sarapan, kami diantar ke Perth Sightseeing Centre yang berada di tengah kota Perth. Ini tempat kumpul untuk lokal tour yang akan kami ikuti. Ternyata di centre ini kita bisa mendapatkan informasi lengkap mengenai wisata tour Perth dan West Australia dalam bentuk brosur yang luar biasa banyaknya. O,ya… ternyata udara pagi itu masih dingin !! Semoga nanti lebih hangat ya.. kan mau ke gurun.

Pagi itu, sudah banyak turis yang berkumpul di sana. Oh, ternyata turis2 itu menunggu giliran berangkat menuju berbagai destinasi  yang ada di barat Australia seperti Pinnacles tour (yang akan kami ikuti), Margaret River, Monkey Mia dan lain-lain. Ada yang one day tour, ada juga yang menginap. Kendaraannya ada yang bis besar seperti yang biasa kita lihat, tetapi ada juga yang menggunakan kendaraan 4WD.

Sambil menunggu bis berangkat, kami masih sempat foto2 di depan gereja yang besar dekat situ, namanya St. Andrew Church. Jalanan terlihat sepi pagi itu. Bahkan kalo mau bisa foto2 di tengah jalan raya, hehe..

church

Pinnacles Tour ini kami pesan lewat internet sejak dari Jakarta. Karena ke Pinnacles desert jaraknya jauh (kurang lebih 290 km dari Perth) dan tidak ada public transportation ke arah sana, maka kami terpaksa ikut tour. Ternyata, Pinnacles tour yang kita ikuti ini, peminatnya banyak. Terbukti dari bis besar yang mengangkut kami, full seat. Pesertanya dari berbagai negara (diketahui dari logat pembicaraan mereka). Ada yang dari Spanyol, Germany,Malaysia, Singapore, China, dsb. Tapi tidak ada yang dari Australia. Yang dari Indonesia selain kami ada 1 keluarga lagi. Usia supirnya sudah tua, mungkin sekitar 60 tahunan, tetapi masih segar bugar. Hebatnya, tidak ada kernet atau supir cadangan. Jadi dia sendiri saja petugas yang membawa kita semua rombongan tour.

Dalam tour ini, kami akan dibawa ke beberapa tempat juga selain Pinnacles itu sendiri. Tujuan pertama adalah Caversham Wildlife Park. Tempat penangkaran binatang2 khas Australia seperti koala, kangguru, wombat, dll. Letaknya sekitar 30 menit ke luar kota Perth. Salah satu tujuan kami ke Australia kan ya liat binatang khas nya yang lucu2 itu dong yah !

Gemesin bangeeeeet !!

Gemesin bangeeeeet !!

Sesampainya di Caversham, kami langsung disambut oleh petugas (disebut ranger) yang ramah dan terlatih. Grup tour kami dibagi menjadi beberapa kelompok supaya efektif. Masing2 kelompok dipimpin oleh 1 ranger. Satu kelompok sekitar 10-15 orang.

Tempat pertama yang kelompok kami datangi adalah rumah koala ! Amazing… karena akhirnya kami bisa berinteraksi dengan koala, binatang yang menggemaskan itu.

Ruangannya cukup luas sehingga kami semua bisa masuk dan leluasa mengambil foto. Dalam ruangan itu, ada sekitar 10 ekor koala yang bergelayutan di batang2 pohon yang ada. Kami beruntung, karena semua koala dalam keadaan terjaga karena pas jam mereka makan. Menurut info, koala biasanya tidur 20 jam per hari ! Alamaaaaak…. malas sekali yah.

Nama koala berasal dari bahasa suku aborigin yang artinya “tidak minum”. Iya, koala itu tidak minum loh. Mereka mendapatkan cairan dari daun Eucalypthus yang dimakannya. Ga makan daun lain juga tuh. Betul2 hanya daun Eucalypthus. Makanya susah untuk dipindahkan ke benua lain kalo ga bisa sediain makanan si koala yang khas ini.

Tingkah polah koala2 tersebut lucu2. Ada yang mejeng (karena tau bakal ada turis datang), makan daun pohon eucalypthus, dan ada juga yang jalan2 di bawah di antara kita. Kami disarankan untuk membelai2 bulu koala yang halus banget dengan menggunakan punggung tangan. Jangan pakai telapak tangan katanya. Lihat contoh Diana di gambar atas membelainya. Yaa… seperti itu.

caver

Di sini kami tidak bisa menggendong atau memeluk mereka. Cuma boleh dibelai2 saja, itu pun kalo mereka mau diam. Biasanya sih kalo lagi nempel di pohon dan makan mereka diam. Iih… beneran kayak boneka deh. Bulunya halus banget. Duuuh… pengen dibawa pulaaaaang !! Ga lama kami sudah disuru keluar dari ruangan itu. Uuuh… ga rela rasanya… semua anggota kelompok kayanya cuek aja dan terus2an foto dan masih senang bermain dengan koala. Sampai ranger nya jadi galak dan memaksa kami keluar. Oke2… bye koala !! Di luar ternyata ada bunga yang lucu deh.. kayak sikat WC bentuknya, haha.. foto dulu ah !

Manja banget anak kangguru ini... So cute !

Manja banget anak kangguru ini… So cute !

Dari kandang koala, kami digiring masuk ke kandang kangguru yang luaaaaaas banget, berbentuk lapangan rumput berkontur. Begitu melewati pintu kandang kangguru, kami langsung disambut oleh puluhan kangguru muda yang bebas berkeliaran di lapangan tersebut ! Sampe kaget… tapi kami pun langsung teriak kegirangan karena kali ini kanggurunya bisa diapain aja. Wong kita sama2 berada di area rumput yang sama. Bahkan kanggurunya mendekati kami. Seruuu !!

Karena kangguru2 tsb menyebar, maka para turis pun menyebar mencari kelompok kangguru yang bisa dijadikan sasaran foto. Kami dikasi kesempatan untuk memberi makan kangguru dengan makanan yang sudah sengaja disiapkan oleh para ranger di situ. Wuih… ternyata kangguru2 itu kelaparan sehingga mereka langsung mengerubungi kami meminta makan. Tangan kangguru bahkan menarik2 tangan kami yang memegang makanan saking tidak sabarnya. Duh, nakal juga ya!

Kangguru ini cukup jinak karena masih anak2, jadi ukurannya juga kecil. Tapi lompatnya sudah lumayan tinggi dan jauh loh. Tangannya betul2 seperti tangan orang, bisa menggapai, menggenggam, memeluk, duuh… lucu.. Buntutnya panjang dan tebal. Warnanya ada yang putih, coklat muda, dan coklat tua.

Berbagai pose kangguru (candid), haha...

Berbagai pose kangguru, haha…

Liat deh, lucu2 banget kan posenya. Ada yang menatap penuh makna, ada yang asik makan, ada yang garuk2 punggung, hihi… ada juga yang lagi berjemur tuh 1 keluarga. Nah, yang besar itu kangguru dewasa. Kami ga main sama yang dewasa karena lebih berbahaya. Iyalah, digabruk sama yang kecil aja kenceng banget loh… apalagi sama yang gede. Itu anak kangguru kalo udah meluk kaki kita, susah loh ngelepasinnya.

Lama juga kami di tempat kangguru itu. Sekali lagi ranger nya dicuek-in saat menyuru kami pindah tempat. Apalagi lapangan ini jauh lebih luas daripada tempat koala. Jadi lebih susah menggiring kami keluar, hihi… Bodo amat… Main terus sama kangguru aja, kapan lagi…

cavTapi akhirnya mau ga mau karena waktu terbatas ya keluar juga lah kami dari situ. Lanjut sekarang ke tempat foto bersama wombat (binatang gendut khas Aussie). Iih.. kayak babi. Jelek dan badannya gendut gitu. Wombat ini dipangku terus sama pawangnya. Kami cuma bisa di sampingnya, paling belai2 aja. Tapi karena ga lucu ya males juga belai2nya.

Selain itu kami sempat melihat tasmanian devil. Hmm.. yang ini malah kayak tikus. Ini juga binatang khas Aussie sih. Banyak binatang2 lain sebetulnya di sini, cuma karena kami ikut tour pinnacles, jadi visit tempat ini memang waktunya terbatas dan hanya untuk lihat binatang2 tertentu saja. Sempat juga kami mendengar suara gongongan anjing. Pas dicari arah suaranya, ternyata yang menggonggong itu burung !! Astaga… unik banget. Makanya disebut barking bird. Boleh juga tuh dipiara di rumah 🙂

Dari Caversham, kami melanjutkan perjalanan ke pedalaman western Australia menuju lokasi Pinnacles. Makin lama perjalanan kita, rumah2 penduduk semakin jarang. Yang ada adalah jalan raya yang panjang dan mulus. Perjalanan jauh tidak terasa melelahkan dan membosankan. Di kanan kiri jalan, banyak perkebunan anggur (saat kami lewat kebetulan sedang rontok daunnya karena bukan musimnya), peternakan sapi, domba, serta pemandangan langit biru yang luas dan spektakuler (awan2 putihnya cantik sehingga kita bisa berimajinasi mengenai bentuk awan tersebut). Kita duduk di baris ke-2 dari supir sehingga masih bisa melihat ke arah depan dengan cukup leluasa.

Menjelang tengah hari, kami tiba di Cervantes, kota kecil di tepi laut, untuk toilet break dan meluruskan kaki. Pemandangannya keren. Laut luas serta hawa air laut yang khas membuat kami bisa relaks sejenak. Di tepi jalan banyak bunga2 dan rumput2 liar yang menarik. Asik nih buat background foto2. Bergaya dulu aaah…

pin1

Ada juga burung liar yang hinggap di dahan pohon, kami senang melihatnya. Artinya banyak tumbuhan dan binatang liar di sini yang bisa hidup dengan baik. Bukan hanya toilet break, tapi kami cukup menikmati perhentian di sini.

pin2

Kemudian kami istirahat makan siang di Wild Flower Shop, sebuah toko souvenir yang terletak di tengah2 perbukitan padang rumput. Sopir bis kami, mengeluarkan sendiri kotak besar yang berisi makanan siang kita yang disebut “picnic lunch”. Makanannya enak2 : roti, ayam panggang, salad (dengan banyak dressing), dan buah2an. Kami duduk makan siang di tengah2 toko souvenir yang cantik tersebut. Banyak souvenir yang bahan2nya ada di alam liar, seperti rumput dan bunga2 kering.

pin3

Selesai makan siang, kami lanjutkan perjalanan ke Pinnacles desert. Ternyata masih jauh. Untungnya, jalanannya mulus, tanpa lubang sama sekali. Jadi bisa sambil tidur sesekali. Di sepanjang jalan, banyak rambu peringatan mengenai  banyaknya binatang2 liar yang kadang2 suka muncul dan menyeberang mendadak di tengah2 jalan termasuk kangguru (kangguru di pedalaman Australia, bisa dianggap sebagai hewan pengganggu bagi petani, seperti hama tikus di pesawahan di Indonesia).

pin6Akhirnya tibalah kami di Pinnacles desert, salah satu tempat terunik di muka bumi ini. Gurun dengan batuan lime stone yang besar dan tersebar begitu saja. Kami sangat tertarik melihatnya. Walaupun desert dan matahari bersinar dengan teriknya, tetapi hawanya tetap adem cenderung dingin. Pasirnya coklat muda, bersih dan hebatnya, tidak beterbangan walaupun berangin.

Atraksi utama di tempat ini adalah ribuan lime stone yang tersebar di seluruh desert ini. Unik sekali. Ada yang tinggi, ada yang pendek, ada yang besar, tetapi ada juga yang kecil2 dan menyebar. Batu2 itu tertancap dengan kokohnya di dalam pasir. Batu2 itu terbentuk secara alamiah, entah bagaimana caranya. Ajaib sekali memang pencipta dunia ini yah !!

Untuk mengitari desert ini, bisa naik mobil khusus atau berjalan kaki (rutenya tentu lebih terbatas). Untuk yang mau berjalan kaki, sudah diberikan rute yang ditandai dengan sign bergambar tapak kaki kangguru. Harus ikuti arah yang diberikan. Jangan2 coba bikin jalur sendiri karena bisa tersesat ! Tau sendiri gurun pasir itu ga jelas, bisa2 muter2 doang dan ga ketemu arah balik.

Sign board untuk petunjuk arah (artinya ke kanan)

Sign board untuk petunjuk arah (artinya ke kanan)

Dari rombongan bis kami, ternyata tidak banyak yang mau menikmati rute jalan kaki ini. Takut capek atau takut nyasar yah ?! Entahlah… yang pasti kami mau dong… Masa udah jauh2 ke sini ga mau muterin gurun ? Rugi lah yauw… Kami pun bersama beberapa turis bule mengikuti “pinnacles view” yang jaraknya kurang lebih 1 km.

IMG_3877

Ga nyesel deh muterin lokasi pinnacles ini. Pemandangannya keren !

pin5

Kalo diperhatikan, ternyata di belakang gurun ini adalah laut. Jadi view nya dari atas mantap juga tuh. Gurun dengan background laut. Menakjubkan. Kami pun foto2 dengan berbagai pose melibatkan gurun dan lime stones di sini.

pin4

Horee… setelah hampir 1 jam, kami pun bisa tiba kembali di tempat kami start. Cape juga sih… cuma kan sambil jalan kadang istirahat duduk2 juga. Jadi no problem. Yang penting fun !

pin7

Kembali ke bis, kami melanjutkan perjalanan ke Sand Dunes, Lancelin, gunungan pasir putih. Di sana, kita bisa maen sand boarding (menuruni gundukan pasir dengan papan luncur). Kami harus mendaki ke puncak bukit pasir putih sambil membawa papan selancar, kemudian menuruni bukit yang sama dengan papan selancar. Boleh bergaya apa aja. Kami sih ga ikutan, serem… karena puncak bukit pasir putihnya tinggi dan cukup curam. Tapi bergaya sedikiti boleh dong.

pin8

Eits, tunggu dulu. Ada hal laen yang ga kalah serunya dan ga nyesel ngikutinnya yaitu naek kendaraan jeep gede 4WD ! Mobilnya gede, bannya juga gede2. Seatnya terbatas. Jadi cepet2 kami naek sebelum kehabisan seat. Kapan lagi ?

The 4 WD

The 4 WD

Beutiful Sunset

Beutiful Sunset

Di dalam jeep itu, kami harus pake seatbelt of course dan ada kamera di mana kami bisa melihat kondisi jalan di depan jeep. Kami masih santai2 ketika  jeep mulai berjalan dan belum menyadari apa yang akan terjadi kemudian. Kita baru tau serunya petualangan naik jeep 4 WD ketika si supir jeep itu membawa jeep itu kenceng2 naik turun bukit dan lembah pasir yang ada di situ !

Wow ! Asyik banget ! Kami yang di dalam jeep ampe teriak2 kesenangan persis kayak naik jet coaster. Bahkan pernah posisi mobil digantung di atas ketinggian gitu. Si supirnya juga makin bernafsu. Masih mau terus ? More, more ! Sampai agak ter-eneg2 juga 🙂 Tapi puas dan tidak menyesal ! Kayanya mobil kami yang paling lama tuh “show time” nya. Haha… Good !

Selesai naek 4 WD, di puncak bukit pasir itu, kami sempat menikmati sunset di kejauhan laut yang indahnya luar biasa ! Ternyata bukit pasir yang kami nikmati, tidak jauh dari pesisir laut. Keren kan !

Hari sudah gelap dan kami harus balik ke Perth. Bis sempat mampir ke gas station untuk mengisi BBM dan kami turun untuk membeli snack di minimarket yang ada di situ. Kami beli sosis dan kentang. Itu kali pertama kami ngerasain makanan ukuran orang bule. 1 sosis buat kami berdua udah mengenyangkan. Perjalanan pulang didominasi suasana jalanan yang gelap dan banyak dari penumpang bis kami yang tidur karena kecapean.

Sampai di Perth, kami dijemput oleh Mr. Harry dan Mr. Ivan (keponakan Mr. Harry) beserta keluarga. Ternyata pas ngobrol2, Jeff masih ada hubungan kerabat dengan Ivan. What a small world !

Kings Park @ night

Kings Park @ night

Mereka kemudian mengajak kami makan malam di daerah China Town. Enak dan hangat makanannya. Setelah makan malam, kami jalan2 keliling kota Perth yang rapi dan bersih naik mobil. Kotanya sepi karena memang penduduknya juga tidak terlalu banyak. Kami mampir dan turun sebentar di Kings Park and Botanic Garden, yang konon merupakan salah satu city park terbesar di dunia.

Ada State War Memorial, monumen untuk memperingati pahlawan2 perang mereka saat perang dunia ke-1. Nama2 nya ditulis semua sebagai penghormatan. Ada Juga pohon Eucalyptus (khas Australia-makanan nya koala) yang diterangi sinar lampu.

Karena sudah malam, kami tidak bisa melihat kondisi Kings Park sebenarnya. Jadi kami alihkan perhatian pandangan kami kepada pemadangan kota Perth yang berkelap-kelip (lokasi Kings Park lebih tinggi daripada pusat kota). Kalah gemerlap ama Jakarta tapi karena dekat lintasan sungai Swan yang lebar dan bersih, jadi ada pemandangan yang tidak bisa kami lihat di Jakarta.

Finally, hari ini berakhir dengan lelah tapi menyenangkan.

Day 3

Hari terakhir di Perth ! Yup, karena tengah malam nanti kami harus terbang ke Sydney, kota tujuan kami selanjutnya. Hari ini kami bangun agak lebih siang agar tubuh lebih segar setelah kemaren seharian jalan ke luar kota.

Setelah sarapan, kami jalan kaki bersama Mr. Harry ke pusat kota Perth yang letaknya ada di seberang  sungai Swan. Keluar rumah, kami mendapati suasana perumahan yang asri dan tertata apik. Banyak pohon gundul (karena abis winter) sehingga bikin keren pemandangan.

Perth yang sepi

Perth yang sepi

Jalanan kami menurun terus, kemudian menyeberang jalan dan masuk ke Mc-Callum Park, public park yang berada di tepian sungai Swan. Taman ini sangat luas sekali tetapi sepi. Banyak orang dan anjing yang berolahraga terutamanya jogging. Ada rute untuk anjing yang jelas tertulis di taman tersebut.

perth1

Kami juga melihat sea-gull (burung camar), pelican dan beberapa jenis burung yang lain. Dekat taman ada pantai kecil dan bisa berenang di situ. Asik juga yah.

Untuk menyeberangi sungai Swan menuju pusat kota Perth, kami harus naik ferry dari anjungan yang ada di Mc-Callum park tersebut. Beli tiketnya di mesin dan ada limited time berkenaan dengan masa pakai tiket itu jika kami mau pergi pulang dengan rute yang sama. Tiket Mr. Harry gratis karena dia WN Aussie dan sudah senior citizen.

perth2

Waktu kami naik ferry, kami disambut ramah oleh seorang nakhoda wanita berambut pirang. Jagoan ya ! Ternyata, penumpangnya hanya kami bertiga ! Di sana, public transport apapun (bis,mrt,ferry) berangkat sesuai jadwal, tidak peduli dengan jumlah penumpang yang ada di dalamnya. Karena tidak ada orang lain, kami bisa leluasa ke kanan ke kiri, ke depan ke belakang ferry menikmati sungai Swan yang menyenangkan.

perth3Sambil menyeberangi sungai Swan, kami banyak mengobrol tentang Perth dengan Mr. Harry. Salah satu yang kami baru tahu adalah bahwa West Australia merupakan negara bagian Australia yang paling kaya karena banyaknya lokasi tambang dan mineral dalam perut bumi negara bagian ini.

Hanya sekitar 10 menit, kami sudah sampai di pusat kota Perth. Di dermaga ferry, kami sudah dihadang oleh Swan Bell Tower yang bisa mengeluarkan bunyi bel pada waktu2 tertentu. Karena udara yang dingin, Diana beli dulu coklat panas deh. Harusnya sih sekarang itu sudah musim spring, tapi entah mengapa.. nuansanya masih akhir winter. Jadi udara masih sangat dingin.

Perth itu memang kota yang cantik. Kami sangat suka dengan keindahan, kerapian dan suasananya. Di Perth, bis nya gratis untuk transportasi warga dan turis. Ada beberapa rute, tinggal disesuaikan saja dengan kebutuhan. Kami sendiri hanya berjalan kaki saja karena memang ingin merasakan suasana pusat kota Perth saja.

Sesudah itu, kami mengunjungi dan melintasi Supreme Court Garden (wild flowernya ditata dengan cantik).

perth4

perth5

Terus masuk ke pusat2 perbelanjaan di sana seperti London Court (jalanan bergaya suasana kota Eropa) dan masuk Trinity Arcade (kita sempat makan di Miss Maud, shepherd pie-nya enak). Setelah berjalan2 di pusat kota, kami kembali menyeberangi sungan Swan (masih dengan nakhoda wanita yang sama) dan pulang ke rumah. Mr. Harry ambil mobil dan mau nerusin jadi guide ke tempat lain. Mau ke mana lagi nih ?

Suasana tempat perbelanjaan di tengah kota Perth

Suasana tempat perbelanjaan di tengah kota Perth

Ternyata, kami diajak main ke Burswood Park. Di sini ada tempat judi, helipad untuk turis dan taman yang luas. Banyak keluarga yang piknik dan menggelar tikar untuk makan siang. Ada pohon bernama black boy yang bisa mengeluarkan minyak dan membakar diri sendiri.  Di taman ini (dan juga di beberapa tempat lain di Perth), ada banyak banyak gum tree (kayu putih/eucalypthus) yang jika kulit batangnya mengelupas sendiri, maka warna batangnya menjadi putih.

perth10

Kiri atas : pohon eucalypthus
Kanan atas : pohon black boy
Kanan bawah : pohon red kangaroo paw

Di taman itu, kami mendapati keluarga black swan yang menjadi lambang kota Perth. Lucunya, bulu anak2 black swan berwarna abu2. Baru nanti setelah mereka dewasa, bulu mereka menjadi berwarna hitam. Menarik juga lihat bunga2 yang seperti kaktus di taman ini.

Dari Burswood Park, kami diajak main ke Kings Park, tempat yang malam sebelumnya kami datangi dalam keadaan gelap. Kali ini, karena siang hari, kami bisa melihat suasana sesungguhnya dari Kings Park ini. Ternyata, lagi ada festival wild flower (festival bunga liar). Bunganya warna warni dan banyak sekali bentuknya. Kalo 1 tangkai wild flower tampaknya tidak cantik dilihat mata, tetapi kalau bergerombol dan ditata dengan apik, menjadikan gerombolan wild flower tersebut sangat cantik.

Di dalam Kings  Park ada jembatan panjang yang ada di tengah2 puncak2 pepohonan yang rimbun. Jadilah foto2 terus kami di sana karena ga mau kehilangan moment bagus ini.

perth11

perth12

Dari Kings Park, kami diajak jalan ke Freemantle, sebuah kota pelabuhan dan nelayan di luar kota Perth. Acara kami adalah makan sea food di Kaili’s, salah satu restoran sea food terbesar dan teramai di daerah itu. Menu jagoannnya : sea food platter, seafood delight, dan chilli mussels. Ada juga menu laennya yang terkenal yaitu fish and chips. Makannya didampingi vinegar/cuka untuk menambah rasa. Seperti biasa, makanan di negara bule porsinya gede2 bener termasuk yang di sini. Makanya tidak heran jika orang Indonesia yang lama tinggal di negara berporsi makanan gede, badannya ikutan melar kayak bule. Makanannya enak dan segar. Chilli musselsnya berasa kayak saus padang di sini.

kailis1

kailis2

Setelah makan, kami sempat melihat2 pasar tradisionalnya (Freemantle market) yang penuh dengan ikan, buah, dan sayuran segar. Di sini ukuran buah2annya lebih besar dibandingkan dengan yang ada di Indonesia. Ada juga yang jualan souvenir.

kailis3

Dari Freemantle, kami pulang ke rumah untuk mengambil koper kami dan selanjutnya dinner di China Town lagi tapi beda restoran dengan yang malam yang sebelumnya. Setelah dinner ampe jam 21.00, kami akhirnya diantar ke Perth Airport untuk menuju tujuan kami selanjutnya, Sydney. Thanks  lot for Mr. Harry, Mr. Ivan & family yang sudah menemani kami menikmati Perth. Bye Perth !

IMG_4153

Di dalam Perth Airport

Bersambung ke part 2

Advertisements
Categories: 2004-2014, AUSTRALIA, Perth | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

We love your feedback !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: