Advertisements

Belitung : 12-15 Juni 2015 (part 1)

PROLOG

Gara-gara banyak orang sudah pergi ke Belitung dan bilang “bagus banget…” jadilah kami juga ingin menikmati Belitung. Pas ada promo early bird garuda, jadilah kami langsung beli saja tiketnya di tahun 2014. Hanya 760 ribu untuk pp per orang. Murah kan ? Biasanya untuk Garuda, tiket harga segitu untuk 1 way saja.

Diputuskan wisata Belitung ini 3 malam saja, berangkat Jumat subuh supaya sampai Belitung pagi hari dan pulang Senin pagi supaya pulang Jakarta bisa langsung kerja. Tapi ternyata seminggu sebelum berangkat, Garuda menginformasikan bahwa jadwal pulang kami dipindah ke siang hari karena pesawat yang pagi tidak beroperasi. Haduh, alamat ga bisa kerja nih hari Senin itu. Bukan salah kami ya boss… salah Garuda..

prologItinerary untuk Belitung cukup standard. Ada trip ke pantai2 di Belitung, trus island hopping, trus ke Belitung timur. Artinya perlu sewa mobil dan sewa boat. Ada trip ke pantai2 di Belitung, trus island hopping, trus ke Belitung timur. Yang perlu dipilih adalah hotelnya. Dari 3 malam, kami ingin kombinasi 2 hotel. Yang satu pilihannya Lor-In dan yang satu hotel Aston. Hotel Aston sudah berubah nama jadi “BW Suite” per bulan Juni 2015 tapi dalam tulisan ini tetap kami sebut Aston ya, biar gampang.

Banyak orang menginap di Aston karena termasuk hotel bintang 4 terbaru di Belitung dan terletak di tepi pantai. Tapi sayangnya, pantai di situ kurang bagus dan tidak bisa untuk berenang. Lalu kenapa Lor-In ? Karena di situ kamarnya bentuk bungalow dan bisa akses ke pantai pasir putih yang bisa berenang.

Ternyata untuk book hotel Lor-In lewat online cukup sulit. Kamar yang ditawarkan terbatas (hanya 1 untuk setiap tipe). Lalu kalau dihitung2 biaya untuk book hotel sendiri+sewa mobil+sewa boat+makan, ternyata tidak beda jauh dengan harga paket yang ditawarkan travel agent. Karena kali ini kami pergi double date lagi bersama ortunya Diana, maka diputuskan untuk menggunakan paket saja biar ga repot.

Nah, ketemu travel agent lokal Belitung yang punya perwakilan di Tangerang. Namanya Belitung Paradise dengan Pak Edi sebaga pemiliknya. Untuk Belitung trip ini kami ikut paket tour dimana pesertanya private kami sekeluarga ber-4 saja sesuai permintaan kami. Jadi itinerary sangat fleksibel sesuai kebutuhan kami – bukan seperti paket tour untuk grup dimana kami yang harus menyesuaikan dengan itinerary mereka. Oke, kami belum pernah menggunakan paket tour sebelumnya. Biasanya urus hotel dan makan sendiri, tapi kali ini semua diurus oleh pihak travel. Kita lihat saja seperti apa ya jadinya…

 

DAY 1 – Jelajah Pantai

mie atepBerangkat tepat waktu dan tiba di tujuan pukul 8 pagi. Bandara ini terletak di kota Tanjung Pandan, makanya disebut bandara Tanjung Pandan. Padahal ada nama nya loh bandara ini, yaitu bandara HAS Hanandjoeddin, namun tidak pernah secara resmi digunakan di dunia penerbangan. Jadi kalo mau ke Belitung, sebutnya ya bandara Tanjung Pandan.

Bandaranya kecil sekali dengan ban berjalan untuk koper yang pendek sekali, paling hanya 3 meter. Jalurnya lurus, tidak berputar2 seperti di airport besar pada umumnya. Kita bisa lihat dengan jelas bagasi yang dipindahkan dari trolley di luar gedung, diletakkan di atas ban berjalan dan kita tinggal menyambutnya di dalam gedung. Lucu juga lihatnya. Alhasil penumpang berdesakan ga keruan dan banyak bagasi berjatuhan di ujung karena space di sepanjang ban berjalan tidak muat untuk menampung penumpang pesawat yang mau ambil koper. Ancur dah !

Begitu sampai Belitung di pagi hari, maka semua paket tour akan membawa tamunya untuk sarapan mie khas Belitung, yaitu di Mie Atep. Letaknya di kota Tanjung Pandan yang merupakan ibukota kabupaten Belitung Barat. Atep adalah nama pemiliknya, huruf “e” dibaca seperti kata “bebek” bukan “empat”. Mie khas Belitung adalah mie rebus dengan tambahan tauge, udang, emping dan berkuah gurih, mirip laksa. Didampingi minuman khas Belitung, yaitu jeruk kunci rasanya manis segar. Mie atep ini punya 2 ruang untuk makan, di depan yang biasa dan jika sudah penuh silakan masuk ke bagian dalam rumah. Di dalam ada juga meja dan kursi yang digunakan untuk pengunjung. Harga mie + jeruk nya sekitar 20 ribu, kami sih sudah masuk paket.

Oya, di Belitung bahasanya adalah bahasa Melayu, jadi panggilan untuk orang local biasanya : MakCik, PakCik. Huruf “a” di belakang kata biasa dibaca “e” seperti “empat” : rasa dibaca rase, biasa dibaca biase, ada dibaca ade, mirip film Upin Ipin deh. Lalu penulisan dengan o dibaca u, seperti Belitong yang dibaca Belitung, Jeruk Konci dibaca Jeruk Kunci, daun Simpor dibaca daun Simpur (ini daun khas Belitung yang digunakan untuk membungkus makanan – seperti daun pisang atau daun jati).

lor-inHabis sarapan kami pun lanjut ke hotel Lor-In, tempat kami menginap malam ini. Hotel ini lokasinya ada di Tanjung Tinggi. Ternyata lumayan jauh dari kota Tanjung Pandan, sekitar 30 menit dengan mobil. Jalanan di Belitung sangat sepi, jadi tidak ada kata macet di sini.

Tiba di Lor-In ternyata kami belum bisa check-in. Jadi sekedar taro koper, ganti baju dan pakai sunblock, karena habis ini acaranya main ke pantai2. Sempat foto2 dulu di area Lor-In dan melihat bahwa ada akses ke pantai pasir putih yang sangat luas, persis di belakang hotel. Mantap nih, harus berenang di laut sini pastinya nanti. Ada kolam renang juga yang cukup oke di sini, bisa melihat ke arah pantai, tapi pemandangan terhalang papan nama Lor-In.

Disebut sebagai Villa Lor-In karena bentuknya memang seperti bungalow2, jadi bukan bangunan masif seperti hotel. Kami sih suka nih yang model begini, khas bangunan tepi pantai jaman dulu. Tapi karena belum bisa check-in, belum bisa lihat isi kamarnya nih.

pool

Dari hotel ke pantai Tanjung Tinggi atau disebut pantai Laskar Pelangi (karena tempat ini digunakan sebagai lokasi shooting film Laskar Pelangi) sekitar 5 menit berkendara.

tjg tinggi

Sayang nih, papan Laskar Pelangi nya sudah ada yang pecah/rusak. Tapi pantainya memang unik karena banyak batu2 besar yang tersebar baik di pantai maupun di laut. Ga ada pantai yang punya batu2an besar seperti ini.

tjg tinggi 1

Luar biasa loh besarnya. Lihat saja di foto, perbandingan antara besarnya manusia dan batu-batu itu. Batuan ini mengandung granit, jadi bukan batu biasa !

tjg tinggi 1b

Laut di sini sangat tenang, tidak ada ombaknya, mirip danau raksasa. Airnya juga jernih, kita bisa melihat apa yang ada di bawah air dengan jelas. Silakan kalo mau nyebur2 di sini atau mau naik ke batu2 itu, tapi hati2 ya karena ada bagian batu yang licin jadi jangan sampai terpeleset. Pasirnya pasir putih, jadi betul2 cantiiiik banget pemandangannya.

tjg tinggi 2

Jika sudah puas menikmati batu yang berserakan di pantai ini, silakan bergeser ke sebelahnya dengan berkendara. Tidak jauh dari sini, masih bernama pantai Tanjung Tinggi, terhampar pantai pasir putih yang luas tanpa batu-batu besar.

tjg tinggi 3

Wah, enak nih berenang di sini. Pantainya jauh lebih sepi daripada pantai berbatu besar tadi. Jadi buat duduk2 santai dan menikmati pantai, kami lebih suka di sini. Asyiknya duduk2 sambil minum kelapa muda nih.. eeh.. betul loh ada, harganya sekitar 12 ribu/kelapa dan sudah termasuk dalam harga paket dari travel agent, duuuh.. makin asyiiik…

tjg tinggi 4

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Pantai Tanjung Kelayang. Sekitar 10 menit berkendara. Ini tempat start dan finish jika kita mau melakukan island hopping / jelajah pulau. Banyak kapal2 nelayan yang ada di sini, artinya hari ini tidak banyak yang melakukan kegiatan jelajah pulau. Jika banyak yang pergi, tentunya kapal2 ini sudah habis disewa dan sudah tidak terlihat di area Tanjung Kelayang.

Foto dulu ah… di kalimat “Welcome to Belitong”. Foto juga sama driver merangkap tour guide kami bahkan akhirnya juga menjadi juru foto kami, namanya Egy. Masih muda, sangat sopan dan sangat informatif menceritakan tentang tanah kelahirannya ini.

Tanjung Kelayang

Tanjung Kelayang, bisa lihat batu burung garuda di kejauhan

Di sini juga terdapat aula besar, tempat dimana bisa diadakan acara2 besar di Belitung. Di area pantai ini, ada bagian pantai yang berhadapan dengan tempat parkir mobil. Tetapi ada juga bagian yang berhadapan dengan tempat makan. Nah, kami makan siang di salah satu tempat makan pinggir pantai ini, namanya RM. Lili.

Lunch @ Tanjung Kelayang

Lunch @ Tanjung Kelayang

Bangunan semi permanen dengan menggunakan kayu dan beratap seng. Jika ada angin besar atau hujan besar, maka akan terdengar suara gemuruh. Jika tidak hujan, silakan makan di area luar bangunan. Ada bangku2 kayu yang diletakkan di pasir pantai. Walau semi permanen, tetapi ada beberapa colokan listrik disediakan di pojok bangunan bagi yang mau charge hp nya (seperti kami dan tamu lain), canggih juga.

Menu makan siang kami adalah : ikan bakar, gangan kepala ikan, sate udang, cumi goreng tepung dan tumis kangkung. Gangan adalah makanan khas Belitung berupa sop ikan, berkuah kuning/orange, ada campuran nanas dan rasanya agak pedas. Rasa gangan tiap restoran atau daerah di Belitung bisa berbeda2 tapi kira2 rasanya asam pedas. Yang umum digunakan untuk gangan adalah ikan ketarap. Sea-food nya fresh, jadi enak. Makanan di Belitung memang bernuansa sea-food, jadi buat yang alergi sea-food atau vegetarian bakal sengsara deh di sini, hehe..

Asik juga nih, makan sea-food sambil liat pantai dan laut. Saat makan, kami ditemani oleh hujan yang lumayan deras. Untung saja kami makan di dalam ruangan, jadi ga masalah. Selesai makan hujan sudah lumayan reda, kami lanjut ke pantai berikutnya yaitu pantai Bukit Berahu. Di jalan, hujan kembali deras. Perjalanan melewati perkampungan nelayan Bugis. Jika tidak hujan, kita bisa melihat penjemuran ikan asin di kanan kiri jalan perkampungan.

Saat kami sampai di Bukit Berahu, hujan pun belum berhenti. Jadi kami duduk2 dulu di tempat makan nya yang lumayan luas.

Snack @ Bukit Berahu

Atas : Habis hujan antara langit dan laut menyatu warnanya. Bawah : cottage & snack @ Bukit Berahu

Bukit Berahu ini dimiliki oleh pribadi, jadi bukan area umum. Untuk masuk ke area ini pengunjung harus membayar Rp.2000/orang. Tapi kami ga repot bayar karena semua sudah ditanggung oleh travel agent. Di kompleks ini terdapat bangunan massif sebaga tempat makan yang terdiri dari 2 lantai. Jalanan sejajar dengan lantai 2, jadi lantai 1 nya berada di bawah. Kok bisa ? Iya, pantai Bukit Berahu ini adanya jauh di bawah.. jadi ada tangga ke bawah untuk menuju ke cottage dan pantai yang ada di depan cottage itu. Makanya disebut Bukit, karena memang berada di area perbukitan / dataran tinggi.

Ternyata aktivitas di Bukit Berahu ini adalah snack sore, berupa teh/kopi dan pisang goreng. Waduh, enak nih.. hujan2 makan pisang goreng hangat. Unik juga nih pisangnya kecil2 manis dan tepungnya juga khas, enak ! Katanya kalo cuaca bagus, dari sini bisa lihat sunset dengan bagus. Ooh.. asik juga ya liat sunset sambil makan pisang goreng 🙂 Sayang, kali ini hujan terus jadi kami cuma melihat laut di kejauhan.

Setelah cukup lama, akhirnya hujan berhenti juga. Kami mulai berjalan turun tangga dan mengarah ke pantai. Ternyata pantainya kecil. Tidak ada yang istimewa di sini. Bisa lihat kapal2 berlayar dan keramba untuk tangkap ikan sih di kejauhan. Memang ada cottage yang berhadapan dengan pantai, tapi kalo dibandingkan dengan Lor-in, waaah… jauuuuuh… Di sini cottage nya cuma 5 dan kecil banget, terbuat dari kayu. Ya sudah, naik lagi deh kalo gitu, kembali ke Lor-in saja.. siapa tau di sana tidak hujan jadi bisa explore pantai dan lautnya.

kamar lor-inTiba di Lor-in ternyata malah hujan deras. Jadilah kami menggunakan payung untuk sampai ke kamar dari lobby. Iyalah, kan areanya terbuka bentuk taman, jadi kalo hujan repotnya begini deh. Ya udah, yang penting sampai kamar dulu, bisa istirahat sebentar. Eh, kamarnya luas loh. Di bagian belakang kamar ada area luas yang atasnya terbuka. Separuh taman + shower, separuh toilet + wastafel. Waaa…. Jeff paling suka nih kamar mandi semi outdoor gini. Mirip di Kampung Sampireun, cuma yang ini areanya lebih luas. Bisa lihat fotonya di Kampung Sampireun trip.

Untunglah setelah beberapa saat hujan reda. Lagi istirahat, tiba2 diantarkan kopi/teh dan pisang goreng ke kamar. Apa ini ? perasaan ga pesan. Ternyata itu memang layanan dari Lor-In untuk semua tamu. Jadi yang menginap di Lor-In selain dapat breakfast, akan dapat snack sore juga. Hihi… jadi double nih makan pisang gorengnya. Tapi ga papa lah, yg kali ini pisang goreng dengan taburan keju parut dan saos coklat. Walau yang di Bukit Berahu pisang goreng polos, tapi tepungnya crispy, jadi enak. Yang di Lor-in ketolong keju coklatnya sih, hehe..

pantai lor-inAyoo… sudah sore, buruan ke pantai yuk. Betul saja, hamparan pasir putih yang luas itu betul2 menyenangkan. Sayang tidak ada kursi malas di sini, kalo ada enak padahal tiduran di sini. Pantainya bersih, landai dan sepi banget. Duuh.. sangat potential untuk dijadikan kawasan wisata, sayang belum digarap dengan maksimal, jadi masih natural banget. Ada bagusnya juga sih, kalo sudah ramai bakalan kotor nanti ya.

Ini laut ya ? Kok ga ada ombaknya ? Lautnya betul2 tenang… kaya danau raksasa gitu. Apalagi di tengah2 laut tetep masih ada batu2an yang muncul di atas permukaan laut. Unik banget jadinya ! Alhasil kami foto2 di laut selalu dengan background batu dooong… kapan lagi ?! Berenang di sini sangat menyenangkan karena berasa berenang di danau itu tadi. Airnya lumayan bening tapi ya ga bersih seperti kolam renang ya, ini kan laut, normal sih.

laut lor-in

Para pria langsung aja buka baju dan nyemplung. Iya sih, air tenang gini mengundang banget buat nyemplung. Diana juga akhirnya ikut nyemplung dengan baju lengkap, bodo amat deh. Hanya mama Diana yang bertahan bermain di pantai saja, tidak tergoda untuk nyemplung, hehe…

senjaSore ini langit berawan, jadi tidak ada sunset yang bisa dinikmati. Kami sih sudah bersyukur, daripada hujan malah kami ga bisa main di pantai ini.

Malam ini kami dijemput pukul 7 untuk makan malam. Ternyata di area ini cukup sulit mencari tempat makan. Tidak ada restoran yang bagus, yang ada ya tempat makan pinggir pantai seperti yang tadi siang kami makan. Karena sudah malam, maka walau makan di pinggir pantai tapi lautnya ya hitam ga keliatan apa-apa. Menunya mirip seperti tadi siang : Ikan bakar, gangan kepala ikan, cumi goreng tepung, tumis kangkung. Tapi malam ini ada tambahan ikan goreng dan kepiting rajungan saos padang. Mantap !

Selesai makan malam, kami langsung kembali ke hotel karena tidak ada aktivitas apa2 yang bisa dilakukan di sini. Mau ke Tanjung Pandan pun terlalu jauh jaraknya. Jadinya menikmati hotel saja. Jam 9 malam, ada petugas hotel mengantarkan krim anti nyamuk. Katanya untuk pencegahan. Memang di sini nyamuknya banyak karena adanya kamar mandi semi out door sehingga binatang2 bisa masuk dengan leluasa. Jangan lupa tutup pintu antara kamar dan kamar mandi makanya yah.

DAY 2 – Belitung Timur

Pagi-pagi mau cari sunrise ah di pantai.. Jadilah kami jam 6 pagi sudah keluar kamar dan menyebrang ke pantai.

pantai

Wah… betul2 cakep ya pantai ini. Eh, airnya surut banget loh. Batu2 yang kemarin ada di tengah laut, sekarang sudah ada di perbatasan pantai dan laut. Apa batunya pindah ? Ya engga lah.. Cuma karena air lautnya surut banget, jadi lokasi pantainya bertambah hingga mencapai batu2 itu.

morning

Lumayan, dapat semburat sunrise dikit, selebihnya berawan kembali. Tapi keheningan pagi itu dan tenangnya air laut membuat Jeff tergoda untuk nyebur lagi. Iyalah.. enaaaak banget kayanya.

pantai 3

Semua mahluk beraktivitas. Ayo coba cari kepala Jeff berenang diantara batu2 laut itu..

Jika kita menyusur pantai terus ke arah kanan, maka nanti kita akan bertemu dengan pantai Laskar Pelangi lagi loh. Keren ya ? Jadi memang karena bentuknya teluk, di antara tanjung2, maka airnya tenang banget. Terus pantainya nyambung, jadi sebetulnya panjaaaaang banget yang namanya pantai Tanjung Tinggi ini.

pantai 2

Oke, puas menikmati pantai Tanjung Tinggi ini untuk terakhir kalinya, kami pun kembali ke hotel. Breakfast yang tersaji cukup sederhana tapi oke lah. Ada nasi, bubur, stall telur, roti, buah. Setelah breakfast, kami akan berangkat menuju Belitung Timur. Ujung ke ujung deh ya, Barat ke Timur.

Tadinya hari kedua ini seperti rata2 paket tour, kami dijadwalkan untuk jelajah pulau (island hopping). Jadi sebetulnya dekat tuh dari Lor-in ke Tanjung Kelayang tempat start island hopping. Tapi menurut pak Edi, pulau hari Sabtu ini penuh sekali dengan grup tour, kapal semua full, jadi tentu ga menyenangkan lagi ya kalo terlalu ramai di pulau-pulau kecil itu. Jadilah tukar jadwal, hari ini ke Belitung Timur dulu, besok baru ke pulau2. Sip deh.

Kuil Dewi Kwan Im

Kuil Dewi Kwan Im

Perjalanan ke Belitung Timur tergolong jauh, hampir 2 jam berkendara. Selain factor jalan yang rusak setiap beberapa ratus meter dari Lor-in ke arah bandara juga karena tidak ada pemandangan sepanjang perjalanan. Hanya ada yang mengejutkan yaitu bertemu tupai dan monyet yang nyebrang jalan. Habis kiri kanan jalan masih hutan sih. Selain itu perjalanan ini menurut kami membosankan dan kurang menyenangkan. Terkadang ada perkebunan lada yang lumayan untuk pemandangan, mirip kebun anggur kan soalnya, hehe.. Paling banyak terlihat perkebunan kelapa sawit. Setelah sampai di bagian Belitung Timur, pemandangan yang ada adalah danau di kanan dan kiri kami. Rupanya bekas galian tambang timah.

Tempat yang dijunjungi pertama adalah Kuil Dewi Kwan Im di kota Kampit. Ya, sambil lewat boleh lah mampir. Tapi tidak ada yang istimewa sih dengan kuil ini, lagipula kami bukan penganut kepercayaan Dewi Kwan Im sih.. Kelihatannya kuil ini baru atau baru renovasi, masih terlihat banyak puing2, bahan bangunan dan bau cat.

Yang menarik malah kami menemukan mama anjing dan anak2nya yang lucu2. Dari 3 anak anjing, ada 1 yang aktif dan berani dan 2 lainnya malu2. Mereka mengikuti kami dari mobil hingga naik ke area kuil yang terletak di atas bukit. Kelihatannya mereka lapar sekali. Jadilah kami memberi mereka makan roti yang langsung dimakan dengan berebutan, lahap sekali ! Sampe bingung, baru kali ini loh kami kasi makan roti2 ke anjing, dilempar dan langsung dilahap, kaya kasih makan ikan aja deh, astaga….

Anjing2 penunggu kuil, hehe..

Anjing2 penunggu kuil, hehe..

Habis itu kami mampir ke pantai Burung Mandi yang lokasinya dekat kuil. Di sini banyak perahu nelayan warna warni yang berada di pantai. Lumayan lah pantainya, bisa untuk mandi/berenang. Tapi kalo dibandingkan dengan pantai Tanjung Tinggi ya kalah jauuuuh…

pantai burung mandiDi sini ada nelayan yang sedang menjala ikan dengan cara manual. Ada 2 orang membawa ujung2 jala, lalu mereka berjalan sampai ke tengah laut, berjalan menjauh untuk membentangkan jala. Lalu mereka berjalan kembali ke pantai dengan jala yang terbentang itu. Tiba di pantai barulah mereka melihat apa saja yang tersangkut di jala mereka.

Kali ini mereka kurang beruntung, hanya ada beberapa ikan kecil dan ada 1 ubur2. Kami foto ubur2 (jelly fish) nya karena belum pernah lihat secara nyata sebelumnya. Sebagian besar dilemparkan kembali ke laut karena tidak bisa dimakan atau dijual. Wah, susah juga ya cara menjala ikan manual seperti ini. Biar bagaimana ikan besar kan adanya di tengah laut yang ga bisa dicapai dengan berjalan kaki dari pantai, mesti naik kapal lah.

Di sini kami sempat beli kelapa muda dengan biaya sendiri, harganya 15 ribu/buah. Enak dan segar ! Selain pantai ini, kami juga sempat melewati pantai Nyiur Melambai atau pantai Lalang , namun karena biasa saja kami tidak turun. Langsung saja deh ke kota Manggar yang jaraknya masih sekitar 30 menit berkendara.

Manggar merupakan ibukota kabupaten Belitung Timur. Di Manggar terlihat banyak kedai kopi / warung kopi. Rupanya penduduk Belitung Timur senang ngopi, agak beda dengan Belitung Barat. Walau begitu, biji kopi nya berasal dari Lampung loh.. Belitung sendiri tidak menghasilkan biji kopi. Konon kabarnya, waktu tambang timah sedang memasuki masa keemasannya, para karyawan tambang timah menggunakan waktu istirahatnya dengan minum kopi di warung2 kopi yang ada. Selain untuk rileks, yang biasanya dilakukan adalah main kartu maupun bertukar cerita. Arisan bapak2 jaman dulu gitu deh.

RM Fega

RM Fega

Tempat kami makan siang di Manggar, yaitu RM. Fega. Restoran ini kelihatannya paling besar dan terkenal di Belitung Timur. Banyak paket tour yang membawa tamu2nya ke sini. Tempatnya memang bagus, asri, terletak di pinggir danau yang mengalir ke laut. Jadi airnya air payau. Ada 2 bangunan di sisi kanan dan kiri, sementara di tengah berbentuk taman dengan bunga dan pohon2. Saat kami sampai, di sini penuh sekali, ada acara kelulusan TK/SD rupanya di sini, jadi banyak anak2 dan orangtuanya.

Menu makan siang kali ini bisa ditebak : gangan ikan, ikan bakar, cumi goreng tepung, tumis kangkung dan udang. Memang standarnya ya begitu lah sea food di Belitung. Lumayan nih, ada pemandangan sambil makan.

Setelah makan, kami sempat memutari kota Manggar dan melewati rumah dinas bupati Belitung Timur yaitu pak Basuri yang merupakan adik pak Ahok (gubernur DKI Jakarta). Juga ada rumah pak Yusril Ihza Mahendra, politisi PBB yang ternyata berasal dari Belitung juga.

ahok

Yang dijual bukan batu akik ya, tapi batu satam khas Belitung 🙂

Dari sini lanjut ke ke kota Gantong (dibaca Gantung), tempat masa kecil Pak Ahok dan juga Andrea Hirata (penulis novel Laskar Pelangi). Kunjungan pertama adalah ke rumah keluarga pak Ahok. Ukuran dan bentuknya memang mencolok dibandingkan rumah2 di sekitarnya. Kami bisa masuk ke halaman depan rumahnya dan mengambil foto dengan latar belakang rumahnya.

Di samping rumah beliau, ada semacam toko yang menjual aneka cendera mata khas Belitung. Ada batik khas Belitung juga dikerjakan di sini. Sama seperti pembuatan batik Jawa, ada yang pakai canting dan ada juga batik cap. Batik Belitung banyak menonjolkan motif tumbuhan terutama daun simpur yang terkenal di sini.

Di seberang rumah gedung pak Ahok, terdapat rumah panggung adat Belitung yang masih dalam pengerjaan. Namanya kampoeng Ahok, kelihatannya bertujuan untuk pelestarian budaya Belitung.

Tak sampai 1 km dari rumah pak Ahok, tibalah kami di Museum Kata Andrea Hirata, museum sastra pertama di Indonesia yang didirikan sejak tahun 2010. Letaknya di Jl. Laskar Pelangi 10 Gantung, Belitung 33462, kampong halaman Andrea Hirata. Ada yang belum kenal Andrea Hirata ? Dia adalah penulis buku Laskar Pelangi yang fenomenal dan kemudian dijadikan film. Karyanya sudah diterjemahkan ke lebih dari 34 bahasa di dunia dan dijual di lebih dari 120 negara ! Wow… keren yah.

museum kata

Museumnya juga keren. Menarik. Warna warni. Banyak tulisan sastra menempel di dinding. Ada novel Laskar Pelangi dalam berbagai bahasa. Banyak juga penghargaan2 yang diterimanya dari berbagai institusi sastra bergengsi di seluruh dunia.

museum 2

Di dalam museum ternyata malah ada kantor pos sungguhan untuk berkirim surat. Sebenarnya ada souvenir kartu pos bertanda tangan Andrea Hirata tapi sayangnya waktu kami berkunjung, kartu posnya sudah habis. Tamu pertama di kantor pos ini ternyata adalah Andy F. Noya, hostnya Kick Andy (ada fotonya).

museum 3

Dekat kantor pos ada juga tempat untuk ngopi. Namanya kupi kuli. Gara2 di Belitung semua o dibaca u, jadinya kopi pun ganti nama jadi kupi yah, hehe..

museum 4

Di bagian belakang museum ada replika sekolah yang disebutkan dalam novel tersebut.

museum 5

Intinya di dalam museum kata ini, pengunjung diajak untuk bereksplorasi, mencari inspirasi, membaca dan berkarya. Ada panggung ekspresi, ada tempat menulis, dan yang pasti untuk bisa menikmati museum ini ya harus membaca !

Banyak bacaan yang menarik, termasuk mengenai latar belakang Belitung. Mengapa pantai Belitung indah, mengapa ada banyak batuan besar di Belitung, ada apa dengan batu Satam yang menjadi lambang dan tugu di kota Belitung, mau tau jawabannya ? Datang saja ke sini yah !

sekolahDari museum, kami pergi ke tempat replika asli sekolah Laskar Belitung yang nyaris hancur. Lebih kotor keadaannya daripada yang di belakang museum. Isi sekolah juga sekedarnya saja, tidak ada yang menarik di sini. Tapi para wisatawan yang berkunjung dan foto2 di sini jauh lebih banyak dibandingkan replika yang di museumnya. Sayang, seperti di tempat2 wisata lain di Indonesia, banyak tangan tidak bertanggung jawab melakukan graffiti di dinding sekolah.

Jauh di seberang depan replika sekolah ini, ada bukit Selumar. Menurut Egy, guide kami yang dulu sering main bareng dengan Andrea Hirata, di sanalah Andrea Hirata sering mencari inspirasi untuk karya2 sastranya. (info tambahan : esok harinya, Minggu 14 Juni 2015, Andrea Hirata ternyata sedang ada di Yogyakarta untuk launching novel terbarunya berjudul AYAH).

Belitung Timur ini sebenarnya sangat panas dan sepi, ga banyak wisata menarik. Tapi semenjak Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata terkenal di pasaran dan Ahok menjadi Gubernur DKI, Belitung Timur mendadak naik daun dan terkenal di dunia pariwisata Indonesia. Banyak orang berbondong2 ke sini untuk mengenal lebih dalam Belitung Timur lewat 2 orang warganya yang terkenal tersebut. Jumlah wisatawan yang datang ke sini naik hingga 80% sejak Laskar Pelangi terkenal.

Oke, sudah cape keliling Belitung Timur, sekarang balik lagi ke Belitung Barat ya.. tempat pusat keramaian berada. Perjalanan hanya sekitar 1 jam, lebih singkat dari perginya karena langsung dari Gantung ke Tanjung Pandan, tidak lewat kota Kampit lagi.

Di Tanjung Pandan, kami mampir ke toko souvenir yang jual kaos, magnet, kerajinan masyarakat Belitung. Dari situ ke toko yang menjual makanan khas Belitung. Kebanyakan hasil olahan laut seperti kerupuk udang dan cumi, ada juga sirup jeruk kunci. Di sini banyak tester makanan dan sudah ada dus oleh2 dengan ukuran kabin pesawat. Waktunya belanja deh !

Sore hari kami check-in di hotel Aston. Ada problem sedikit, kami mendapat 2 kamar di 2 lantai yang berbeda jauh. Satu di lantai 6 dan 1 di lantai 1. Walah… ga mau ah, mau yang 1 lantai saja di lantai 6. Dicari2 lama ga ketemu, akhirnya yang 1 kamar diberikan upgrade menjadi deluxe (dari superior) sehingga bisa sama2 di lantai 6. Akan tetapi upgrade hanya diberikan semalam, setelahnya kembali ke superior lagi tapi masih di lantai 6 juga. Oke deh, ga masalah.. sekalian pengen tau seperti apa kamar deluxe nya.

Akhir hari kedua yang menyenangkan :)

Akhir hari kedua yang menyenangkan 🙂

Ternyata kamar deluxe hanya beda di balkon saja dengan yang superior + ruangan yang lebih lega. Untuk view sama saja dengan yang superior, bisa melihat laut walau ga full view. Jadi kalo harus bayar, mending di superior saja, ga usah ke deluxe, ga worth it. Kalo di-upgrade gratis ya bolehlah 🙂

Belitung terkenal dengan pemadaman listrik di sore hingga malam hari. Memang di hotel disiagakan genset, tetapi di meja kamar hotel juga ada pemberitahuan resmi agar kami bisa mengantisipasi pemadaman listrik yang bisa sewaktu-waktu terjadi. Bahkan, di dalam lemari baju di Aston, sampai digantungkan senter jika dibutuhkan dalam keadaan gelap. Jadi jangan kaget jika di Belitung suka tiba2 mati lampu atau saat di lift tiba2 berhenti. Tenang saja, beberapa menit kemudian juga akan nyala/berfungsi lagi kok.

Malamnya, kami makan di restoran Keramika. Letaknya tepat di depan bekas pabrik keramik terbesar di Belitung yang sekarang sudah pindah ke daerah Bogor. Mungkin nama restoran ini terinspirasi dari pabrik keramik tersebut. Menunya agak beda nih, lebih ke arah chinnese food walaupun tetap olahan seafood. Ada mie goreng, kuah baso ikan, ikan bakar, sayur capcay, ayam dan kepiting rajungan saos padang. Rajungannya enak walau pedas… jadilah kami nambah beli juice supaya rada segar. Harganya 15 ribu/gelas. Ada juice melon, sirsak, jeruk, dsb.

Selesai makan malam, kami iseng liat2 seputar hotel. Di lantai 2 ada spa, toko souvenir, dan toko oleh2 makanan. Lumayanlah kalo mau nambah beli oleh2, di sini oke juga harga dan macamnya. Untuk makanan, rata2 beda 5 ribu lebih mahal daripada yang di toko biasa, normal yah kan di hotel. Untuk souvenir baju, di sini banyak yang beda daripada di tempat biasa. Ada kaos tulisan Belitung dan Laskar Pelangi yang ternyata made in Bandung. Namun karena sudah ada hak patent, dijamin tidak akan ditemukan di Bandung. Itu bedanya.

Ayo cepat tidur.. sudah ga sabar, besok kan mau keliling pulau2 alias island hopping. Katanya ini highlight nya Belitung trip…

Bersambung ke Belitung trip part 2

Advertisements
Categories: 2015-2019, ASIA, INDONESIA, Sumatera | Tags: , , , , , , , , | 9 Comments

Post navigation

9 thoughts on “Belitung : 12-15 Juni 2015 (part 1)

  1. terima kasih cerita pengalamannya..saya orang belitung,kapan kapan main ke belitung lagi.

  2. Just travelmate ,not soulmate ( jadi sedih gua hiks hiks)

    http://duabackpackerid.blogspot.co.id/

  3. makin keren aja nieh mbak dian dan pak jefferson, duh mantab sudah bisa keliling indonesia, artikelnya bagus bagus, sangat komplit penjelasannya, saya tunggu bukunya beredar dipasaran lah, sepertinya di Facebook statusnya lagi meracang buku nieh….terimakasih untuk sharenya semoga kapan kapan kita bisa wisata bareng keliling indonesia. Tuhan memberkati

    • Terima kasih buat apresiasinya. Sebenarnya kami belum banyak keliling di Indonesia, tapi kami sudah ‘mengincar’ beberapa destinasi eksotik di Indonesia. Kami senang kalo sharing dan informasi kami bisa membantu banyak orang agar bisa keliling Indonesia dan dunia dengan lebih mudah. Tuhan memberkati kalian juga

  4. Lenny Goenawati

    Selamat malam Pak Jeff.

    Kami sekeluarga berencana berlibur ke Swiss tgl 11 July, 2015.

    Saya belum mendapatkan mata uang swiss franc. Apakah ATM BCA bisa digunakan u menarik uang di Swiss?

    Terima kasih, Lenny

    • Bu Lenny, untuk hal yang bersifat teknis seperti ini, bisa ditanyakan kepada bank yang bersangkutan agar lebih resmi penjelasannya. Selamat menikmati keindahan Swiss yang spektakuler bersama keluarga.

  5. Ahhhhh kemarin gajadi kesini 😦 next time harus kesini keren bangetttt kakkkk

    http://www.irhamfaridh.com

We love your feedback !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: