Puncak Pass Resort : 10-11 Januari 2021

Prolog

Liburan ini juga terjadi karena adanya promo Epic Traveloka, dimana kami bisa mendapatkan voucher menginap di Puncak Pass Resort hanya seharga Rp.340.000 per malam. Memang tanpa breakfast, tapi harga normal itu bisa 1 jutaan loh, jadi menurut kami ini muraaaah banget. Lalu kami juga cocok dengan tanggalnya yang bukan pas high season (setelah musim libur awal tahun) dan bukan weekend (melainkan Minggu ke Senin), supaya tidak terlalu ramai. Maklum, sekarang kan COVID makin meluas, jadi kami pun perlu mengatur liburan dengan bijak supaya tetap sehat. Perlu cuti sehari dong ? Iya, ga masalah sih, apalagi sekarang lagi gencar WFH (Work From Home), jadi sebetulnya kita bisa kerja darimana saja.

Day 1

Kami berangkat hari Minggu pagi sekitar jam 7 lebih. Sepertinya perpaduan antara hari Minggu pagi dan pandemi COVID, jadinya arus ke Puncak jadi sepi, jalanan lancar banget. Kami melewati tol Jagorawi dan bisa melihat keindahan gunung2 yang ada di area Puncak dengan jelas dari mobil, kereeeen banget. Biasanya ga sejelas ini, mungkin karena polusi kendaraan yang berkurang ya, kan jalanan sepi. Bagus juga nih efek COVID bagi keindahan alam !

mountain view dari jalan tol jagorawi

Menjelang Gadog untuk naik ke Puncak, ada banyak sekali petugas polisi dan Satpol PP berdiri berjejer di kiri kanan jalan yang sempit, sehingga mobil pasti berjalan lambat. Ada kali sekitar 50 petugas. Memang sengaja mengadakan razia terkait COVID nih. Tapi kali ini bukan cek surat negatif COVID versi antigen yang memang berlaku saat durasi natal & tahun baru (22 Desember 2020 -8 Januari 2021). Hanya cek pemakaian masker saja sepertinya, karena kami sih tidak distop, jalan terus karena memang pakai masker di dalam mobil.

Jam 8 lebih, kami sebenarnya sudah tiba di rumah makan sate Shinta, tidak jauh dari Gadog. Tapi ternyata belum buka nih, baru buka jam 10. Padahal biasanya pagi jam 8 sudah buka. Rupanya ini karena adanya PSBB/PPKM, jadi ada pembatasan jam buka restoran. Yaaa… padahal kami sudah lapar karena sengaja mau sarapan di Puncak. Apa boleh buat, kami pun lanjut lagi untuk cari tempat sarapan berikutnya.

Sampai di Cimory Mountain View, ternyata juga resto nya tutup, baru buka jam 10. Hanya tokonya yang sudah buka. Wah, kalo semua resto baru buka jam 10 repot juga nih. Akhirnya kami sepakat untuk beli snack saja di toko Cimory itu. Lumayan lah, bisa beli cemilan snack di toko dan bisa dimakan langsung di meja resto. Rupanya saat COVID begini, Puncak baru “aktif” jam 10 pagi ya, ga usah pagi2 berangkat dari Jakarta deh lain kali.

Lanjut lagi perjalanan, naik ke atas, sampailah kami di KFC Tugu Puncak. Nah, kebetulan ini sudah buka jam 9. Sekarang jam 9 lebih. Pas. Akhirnya kami sarapan nasi dan ayam KFC deh. Udah lama banget nih ga makan KFC legendaris di Puncak ini. Dulu pas Diana masih kecil cukup sering makan di sini. Asik juga makan KFC sambil memandang gunung dan merasakan udara puncak yang dingin. Aman juga secara prokes, karena outdoor dan jaraknya berjauhan dengan pengunjung lain.

Perut sudah terisi, tapi kan masih belum bisa check-in hotel karena masih pagi. Jadi kami lanjut cari makan ya, hehe.. Situasi sebenarnya ramai tapi tidak sepadat pada hari Minggu dalam kondisi normal. Sekarang menuju Amen Express. Dulu waktu kami menginap di Novus Giri Puncak (2019), pulangnya kami mampir ke restoran Amen yang Chinese Food. Gedungnya ada di paling depan pinggir jalan. Kalo Amen Express ini masuk lagi ke arah dalam. Memang kompleks Amen Group ini luas sekali ke dalam.

Jadi di kompleks ini ada 3 tempat makan : Amen Chinese Food, Bakoel Karasa dengan menu sunda plus tempat lesehannya, serta Amen Express yang menunya ringan dan simple. Amen express buka paling pagi jam 7, jadi memang cocok buat sarapan. Kami pesan nasi tim dan dim sum (pangsit udang mayo dan siomay). Semua alat makan seperti sendok, garpu dan sumpit, dimasukkan dalam gelas berisi air panas untuk sterilisasi, bagus juga.

Harusnya itu pangsit udang mayo isi 3, tapi udah habis 2 baru inget foto, haha..

Karena dampak PSBB/PPKM, jadi restoran ini sepi banget. Padahal luas, tapi tamu cuma 2 keluarga termasuk kami. Waaah… jadi bisa jauh2an banget duduknya. Nasi tim nya khas Puncak, dengan ayam rebus di dalam nasi. Oke sih, tapi lebih enak nasi tim Kalimantan (yang udah ada cabangnya di Alam Sutera). Dim sum cukup mahal dengan rasa yang biasa saja ya. Tapi kami besok pagi mau balik lagi sarapan di sini. Karena memang kan ga dapat breakfast di hotel, lalu yang buka pagi kami baru nemu tempat ini. Jadi besok coba menu lain ah, siapa tau lebih enak dari yang siang ini kami makan.

Jalan2 di kompleks Amen

Kompleks Amen ini luas, jadi selain 3 resto tadi ada juga 1 toko oleh2, ada gedung serbaguna nya dan sedang dibangun untuk penginapan & villa. Tempatnya asri, banyak bunga dan pohon cemara llin. Ada tempat untuk duduk2 dengan lampu taman cantik. Ada juga kolam ikan yang penuh dengan kura-kura berjemur di depan Amen Express. Lumayan lah bisa bersantai lama di tempat ini.

Jam 12 siang kami sampai di Puncak Pass Resort, tapi kamar belum ready karena tamu belum pada check-out. Memang jadwal check-in jam 2 siang, apalagi kami masuk hari Minggu, maklum banget lah kalo ga bisa early check-in. Oke, sambil menunggu seperti biasa, kami suka mengeksplore situasi resort. Kami jalan kaki turun ke bawah. Melewati bungalow dan kolam renang yang ditutup karena sedang diperbaiki.

Tiba di Puncak Pass Resort

Saat melewati mess karyawan, kami ditunjukkan rute jalan kaki masuk hutan yang ujungnya nanti balik ke resort di atas. Ceritanya jalur hiking gitu. Wah boleh juga nih, Ini kesukaan kami bisa aktivitas di alam terbuka.

Dimulai dari tugu bersejarah peninggalan Presiden Soekarno

Medannya menanjak masuk hutan pinus, tapi jalurnya jelas. Ikuti saja jalan setapak, ga akan nyasar walau tanpa petunjuk. Hati2 yah, jalan setapaknya banyak yang licin karena berlumut. Ada juga yang sudah tertutup daun dan ranting kering. Seru sih, jadi seperti trekking di hutan betulan.

Sepanjang jalan kami bisa melepas masker menghirup udara segar. Ga ada orang lain soalnya, cuma kami. Bersyukur sekali cuaca cerah siang ini, jadi di atas bisa melihat pemandagan gunung dengan jelas di sela-sela pohon. Udaranya sejuk, tidak panas walau tengah hari. Perjalanan menyusuri hutan kecil ini tidak lama, sekitar 30 menit sudah sampai lagi di bagunan hotel.

Akhirnya kami memutuskan nunggu di lobby hotel saja, biar keliatan sama petugasnya bahwa kami nunggu, hehe.. Sekalian minta lagi kalo kamar sudah siap kami ingin segera masuk. Jam 13 akhirnya kami dipersilakan masuk kamar. Kamar kami di lantai 2. Namun di sini justru kami turun ke bawah pakai lift, karena receptionist itu adanya di lantai 4 (sejajar dg tempat parkir). Di lantai 4 ada meeting room dan selama kami menginap sedang ada company gathering di ruang itu yang suaranya cukup terdengar hingga ke dalam kamar kami di lantai 2.

Kamar kami

Tipe kamar yang paling standar ini ternyata hanya punya twin bed, alias ga ada kamar dengan ranjang besar. Tapi karena twin bed nya disusun berdampingan ga masalah ya, mirip ranjang besar jadinya. Ada balkon yang cukup luas untuk memandang hutan pinus yang tadi kami lalui. Bisa lihat gunung juga jika tidak tertutup awan atau kabut.

Nah, di sini kabut datang dan pergi dengan cepat. Ga selalu sepanjang hari diliputi kabut. Tadinya cerah, 15 menit kemudian kabut turun menutup semuanya jadi putih, eh.. 15 menit lagi cerah lagi. Wow banget deh. Udaranya udah pasti dingin ya di sini, ga perlu pake AC. Udah langsung AC alam. Jika mau dingin banget, maka bukalah pintu ke arah balkon. Jika ingin sejuk biasa aja, tutuplah pintu balkon itu. Jika mau hangat, masuk aja ke bawah selimut. Begitu cara setel AC alamnya, haha..

Khas Puncak Pass : kabut dan snack belanda

Pas lagi tertutup kabut semua, pemandangan jadi putih serasa winter deh. Bagus juga nih, mengobati kangen kami jalan2 ke luar negri. Ada lagi yang khas di Puncak Pass ini, yaitu makanan snack heritage ala Belanda. Biasanya kami memang suka mampir makan di restonya saat jalan2 ke Puncak. Yang terkenal adalah poffertjes nya. Tapi yang biasanya kami pesan adalah bitter ballennya, enak loh ! Cuma kali ini kami ga makan di hotel, justru mau menikmati yang lain.

Jam 14 lebih, kami menuju ke salah satu restoran favorit kami di Puncak yaitu Bumi Aki. Biasanya kami suka makan di Bumi Nini yang lebih depan dan lebih baru. Kali ini mau ke resto pertamanya, yaitu Bumi Aki yang di Ciloto. Bumi Aki ini terkenal dengan makanan Sunda yang enak2 selain juga daging kambing nya yang empuk. Karena berkembang dan banyak customer, maka sudah ada juga Bumi Nini yang artinya Rumah Nenek. Kalo Bumi Aki artinya Rumah Kakek dalam bahasa Sunda. Memang Bumi Aki dan Bumi Nini ini ada di beberapa lokasi. Menunya sama saja sih, ga masalah dimana saja tetap rasanya enak.

Bumi Aki Ciloto yang sudah diperbarui

Sekarang Bumi Aki Ciloto punya 2 tempat parkir. Ada yang baru yang lebih luas. Lokasinya kalo dari arah Cianjur menuju Puncak melewati parkiran lama. Kami pikir jam 2 siang udah sepi ya dari orang makan, eh pas sampe sana masih tetap rame dong. Bahkan kalo rombongan besar, harus waiting list. Pelayanannya bagus. Dari kami keluar mobil, sudah disambut dan diarahkan petugas untuk ukur suhu tubuh dengan berdiri di depan alat sensor. Karena kami masuk dari pintu resto baru, maka perlu berjalan menyusuri lorong sampai tiba di resto lama. Saat ini area resto baru dimanfaatkan untuk reservasi dan menunggu, padahal sebetulnya enak juga nih untuk makan di area resto baru ini.

Our lunch

Kami kemudian mendapatkan nomor tempat duduk di resto lama. Jadi sudah diatur ya alokasi tempat duduknya supaya tetap ada jarak dengan tamu lain. Kali ini kami pesan gulai kambing dan nasi timbel komplit. Untuk minum sudah disediakan teh hangat gratis. Wah enak banget deh 2 menu ini. Kualitas makanannya sangat baik. Sendok garpu diberikan dalam kondisi tertutup plastik, jadi bersih. Selama kami makan, tamu datang terus silih berganti, padahal sudah sore nih. Oya, untuk pembayaran kami pakai kupon traveloka, lumayan dapat diskon.

Balik ke hotel, kami datang dengan kekenyangan. Jadi kami memutuskan santai2 di kamar sambil menonton TV dan sesekali melihat kabut turun dari balkon kamar kami. Water heater tidak selalu berfungsi, atau tepatnya air panasnya tidak panas. Naaah… jadi siap2 mandi air dingin di tengah udara dingin ya.

Pas malam hari, kami mulai mikir mau makan lagi. Agak malas nih keluar hotel lagi, jadi kami telpon room service. Ceritanya mau order. Wah, ternyata walau resto hotel tapi mereka tutup jam 8 malam, jadi sudah ga bisa pesan. Coba cek2 gofood, sepertinya sudah pada tutup juga resto lain jam 8 malam itu. Ya udah deh, kita coba jalan ke luar kamar. Siapa tahu ada tukang jagung bakar di sekitaran hotel. Eh sampe luar, udara dingin sudah di sekeliling kami. Kabut tebal di mana2, karena gerimis ya, jadi jarak pandang terbatas. Ya sudah, gagal deh acara cari makan nya. Jadilah kami akhirnya balik ke kamar dan makan snack yang kami beli tadi pagi di Cimory.

Day 2

Pagi ini kami kembali menuju ke Amen Express. Saat kami keluar hotel, jalanan sangat lengang. Bisa dibilang ga ada mobil dari kedua arahnya. Tapi saat kami melintasi Bumi Aki Ciloto, ada antrian mobil sangat panjang di arah berlawanan. Macet total lah, berhenti aja gitu mobil2. Kami pikir awalnya ada razia PSBB/PPKM ke arah Jakarta, karena di situ ada kantor polisi. Tapi ternyata bukan. Semalam ada tanah longsor di daerah Riung Gunung Puncak Pass sehingga jalur Puncak dari Cianjur ke Bogor lumpuh total dari kedua arahnya.

Yummy breakfast

Ya sudah, kami santai2 aja dulu nih di Amen Express sekalian menunggu jalur longsor bisa dibuka kembali. Menu sarapan kami kali ini adalah bubur ayam, cakue dan mie ayam komplit. Pilihan kali ini tidak mengecewakan. Mie nya enak karena mereka produksi mie sendiri, komplit dengan baso-pangsit-tahu-babat. Buburnya pun oke, ada tambahan unik yang menyertai bubur ini, yaitu sayur asin, kentang goreng manis dan kulit pangsit goreng. Enak juga loh ternyata tambahan2 unik ini saat dimakan bersama bubur. Untuk cakue sih kami kurang suka, karena terlalu garing dan keras buat kami.

Kami pun bersantai2 di tempat ini sambil menikmati pemandangan cantik pagi ini, dengan cuaca cerah dan angin yang sejuk. Tamu resto cuma kami saja, eksklusif deh. Sesekali kami juga mengurus pekerjaan melalui gadget masing2. Walau cuti, tetap saja ada yang harus diurus.

Jam 10 lebih ada up date berita bahwa longsoran sudah berhasil dibersihkan dan sedang dalam tahap disiram air agar jalanan tidak licin karena lumpur. Sip. Kami pun balik ke hotel untuk siap2 check out.

Setelah check-out, kami mampir ke Warung Sate Shinta yang pertama kali kami datangi dan masih tutup itu. Di sini kami pesan sate kambing dan sate maranggi. Untuk sate kambing sepertinya tidak seempuk yang biasanya kami makan, walau masih oke sih. Sate marangginya sih empuk dan enak ! Saat kami datang, hanya kami saja yang jadi tamunya. Jadi secara prokes sih memang aman ya ketika makan dan tidak ada tamu yang lain.

Sate Shinta

Terus kami lanjut jalan ke Bavarian Haus, salah restoran yang masuk dalam Cimory Group. Bayar parkir ternyata Rp.5.000 sekali masuk, sudah seperti tempat wisata. Konsep makanan dan design eksterior-interiornya kental nuansa Jerman. Begitu juga dengan kostum baju pelayannya.

Bavarian Haus

Lantai 1 ada toko yang jual macam2 snack dan sosis, lalu ada tampat untuk makan. Di lantai 2 ada tempat makan juga, tapi tapi pas kami datang tidak dipakai walau boleh untuk foto2. Ada herb garden nya di lantai 2 ini, jadi mereka produksi sendiri herb untuk resto, sehat ya pastinya.

Herb Garden di lantai 2, tempat makan konsep outdoor di lantai 1

Kami coba pesan Grill Platter yang untuk berdua. Biar campur2 isinya dan kami bisa icip2 banyak. Minum nya pesan milk shake coklat. Isi platter nya ada daging meat loaf (empuk banget kaya sosis tapi bentuk kotak), daging ayam, 3 macam sosis, kentang wedges, 3 macam salad dan saos bbq. Tampilannya sih keren banget ya.

Our lunch

Milk shake nya enak banget. Wedges nya juga top. Untuk daging karena macam2 jadi sesuai selera ya. Ada yang Jeff suka dan Diana kurang suka, ada juga yang sebaliknya. Over all sih rasanya tidak terlalu istimewa menurut kami, untuk experience sih oke lah. Yang menarik memang suasana dan dekornya sih di sini.

Epilog

Staycation kali ini suasananya santai, karena di hari Minggu ke Senin dan saat pandemi. Lumayan sepi di mana-mana, jadi cukup aman menurut kami. Udaranya juga bersih, sehingga view gunung jadi bagus sekali. Jika memang tidak mau ambil cuti pun sebetulnya jika bisa WFH tentu tidak masalah bekerja dari mana pun. Banyak hotel menawarkan harga murah tanpa breakfast yang menurut kami sih sangat layak untuk diambil. Ingat saja bahwa saat ini dengan banyaknya pembatasan, tidak semua restoran beroperasi seperti dulu alias tidak semudah itu menemukan tempat untuk sarapan dan makan malam. Jadi perlu cari info sebelumnya atau bawa bekal saja.

Jika mampir ke Puncak, cobain deh trekking hutan pinus yang ada di bagian bawah dari Puncak Pass Resort. Menurut kami itu menarik, ga usah nginap di sana juga ga masalah karena memang siapa saja bisa lewat2 ke situ. Tinggal parkir terus jalan saja ke arah bawah melewati kolam renang. 

Oke, kami masih punya 2 voucher hotel di Bandung dan Bali yang belum tau nih kapan dipakainya. Itu voucher open date hasil promo juga, jadi bisa dipakai kapan saja sebelum akhir tahun 2021. Kami masih terus memantau situasi dan kebijakan perjalanan yang seringkali berubah-ubah. Nantikan saja ya cerita perjalanan berikutnya. Sampai jumpa….  

 

 

Categories: 2020-2024, ASIA, INDONESIA, Java | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

We love your feedback !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: