Road Trip Cirebon-Solo-Semarang : 15-19 Oktober 2021 (part 4-Semarang)

Tiba di Semarang

Ini kali kedua, kami menginjakkan kaki di Semarang. Pertama kali kami jalan2 ke Semarang tahun 2018, itu kami betulan menjelajah tempat wisata di Semarang. Kali ini kami hanya singgah semalam, untuk istirahat santai saja.

Kami menginap di Fave Hotel, Diponegoro, harganya Rp.205.000,- semalam, booking langsung dari website hotelnya. Memang sengaja cari yang agak dekat ke Simpang Lima supaya beda suasana dengan yang pertama kali. Kalo lihat areanya agak di atas ya. Kamarnya sekelas rata2 budget hotel yang minimalis dan tidak ada kulkas di kamar. Tapi kondisi kamar dan kamar mandinya menurut kami ini lebih bagus. Restaurantnya ada yang indoor dan outdoor. Nah dari area outdoor ini, kami bisa melihat pemandangan kota Semarang.

Fave Hotel cukup bagus untuk kelas budget hotel

Sore ini kami mengunjungi ke Pelangi Cafe & Resto yang ada di jalan Singosari Raya, tidak sampai 10 menit dari hotel. Dulu pertama kali ke sini diajak teman Couchsurfing kami. Sekarang kami mau beli Cheese Chiffon cakenya yang enak banget ini untuk dibawa pulang sebagai oleh2. Kali ini tempatnya cukup ramai, bagian indoor maupun outdoor di mana orang bisa duduk makan semuanya penuh. Untuk kue2/oleh2 ada di bagian paling dalam dan Chiffon keju ini ada di rak tengah, tinggal diambil saja dan bayar di kasir dekat situ.

Ini enaaaaak pake bangeeeet !!

Kemudian kami lanjut makan lumpia. Ada banyak lumpia di Semarang ini, tapi sore ini, kami mau makan lumpia basah Cik Me Me aja. Yang lokasinya ga jauh. Ini salah satu penjual lumpia yang cukup modern dan berinovasi, terbukti dengan adanya Keripik Lunpia yang waktu pertama kali kami ke sini, belum ada. Untuk lumpia basah biasa harga per pcs nya Rp.19.000,- Di sini suasananya sangat sepi, hanya kami sendiri yang makan lumpia.

Di sini tersedia macam-macam oleh2 khas Semarang juga, mulai dari bandeng presto, wingko babat, dll. Nah enaknya juga lumpia Cik Me Me ini ada di area bandara Ahmad Yani. Jadi dulu saat tahun 2018 kami naik pesawat, kami bisa langsung ambil saat di bandara.

Nah, untuk makan malam kami pesan online saja dari hotel. Hemat waktu dan energi, menghindari kerumunan dan ga usah antri, serta bisa pesan macam-macam makanan lokal dalam satu waktu. Setelah dicek, lokasi dan jaraknya juga tidak jauh dari hotel kami.

Atas : nasi goreng babat. Bawah kiri : nasi ayam. Bawah kanan : es puter kelapa

Oke, kami pesan kuliner yang legendaris nih di Semarang.

1. Nasi goreng babat pak Karmin. Harganya Rp.27.500,- per porsi. Rasanya enak dan babatnya tidak alot. Diana yang ga suka babat aja bisa menikmati makanan ini. Hebat deh !

2. Nasi ayam bu Wido. Sepintas dilihat dan dirasakan, nasi ayam semarang ini ternyata mirip dengan nasi liwet ya. Rasanya enak dan murah. Harganya Rp.13.500,- per porsi tambah 1 tusuk telur puyuh seharga Rp.5.000,-

3. Untuk pencuci mulut kami pesan es puter Cong Lik yang kelapa. Wah, ini betul2 enak sekali dan tekstur es nya sangat lembut. Harganya Rp.25.000,- untuk 1 cup yang ga terlalu besar tapi isinya padat.

Makan malam yang sangat enak ini mengantar kami untuk bisa tidur nyenyak di malam terakhir road trip kami ini.

Day 5 – Hari terakhir Road Trip

Pagi-pagi kami sudah check out dan memilih untuk mencari sarapan di luar daripada bayar breakfast di hotel. Kami sarapan bubur ayam Parahyangan yang ada dekat Simpang Lima dan tidak jauh dari kampus Undip. Sama seperti tahun 2018 nih, soalnya waktu itu enak sih jadi mau ngulang lagi. Ternyata betul, masih enak sampai sekarang ! Harga per mangkok Rp.21.000,- untuk yang komplit dengan 1 telur rebus yah. Ada kerupuk dan emping juga dikasi semangkok. Saat kami datang, tidak ada orang makan, jadi kami pilih makan di tempat (tidak di mobil). Pas kami selesai makan, barulah datang lebih banyak orang.

Atas : bubur ayam parahyangan. Bawah : mie pangsit babi gg Lombok

Dari sini, kami pergi ke salah satu penjual lumpia legendaris di Semarang, yaitu lumpia gg Lombok. Dulu waktu tahun 2018, karena kami datang pas Imlek, tokonya tutup. Jadi karena penasaran, kali ini kami datang lagi. Untuk bisa beli lumpia gg Lombok, karena saking legendnya, butuh waktu dan strategi.

Kalo pesan lewat wa, baru bisa diambil lumpianya setelah jam 12 siang. Padahal kami kan buru-buru mau balik Jakarta di pagi hari, ga bisa nunggu sampai siang. Jadi alternatifnya adalah datang langsung pas buka jam 8 pagi dan antri saja. Karena gang Lombok ini beneran jalan kecil dan sempit, kami parkir di halaman kelenteng Tay Kak Sie di sebelahnya. Begitu kami datang, sudah ada beberapa orang dong yang antri. Oke, begini cara antrinya: Tulis di secarik kertas yang sudah ada nomor urutnya (minta saja ke penjualnya) : nama, nomor handphone dan jumlah lumpia yang dipesan. Harganya Rp.18.000,- per pcs.

Lumpia gg.Lombok yang luar biasa antriannya

Kami dapat no 11 dan diinfokan perkiraan jam 9 baru bisa dapat lumpianya. Tunggu 1 jam sih memang sudah kami perkirakan mengingat betapa manualnya model jualan lumpia ini. Kami juga sudah siap dengan rencana makan mie di samping toko lumpia ini untuk mengisi waktu nunggu selama 1 jam itu. Ada RM Siang Kie yang terkenal dengan mie pangsit nya. Ini mie nya non halal ya. Harga per porsi Rp.37.000,- Rasa dan tekstur mie nya memang enak banget menurut kami, kalo pangsit babi nya sih biasa saja. Selama makan mie, kami mendengar bahwa pembeli yang datang sekitar jam 9, malah baru bisa dapat pesanannya jam 11. Jadi antri 2 jam donk, buset banget deh ini toko lumpia. Jadi penasaran, emang seenak apa sih lumpianya sampe orang mau bela-belain antri berjam2 begini ?!!

Begitu pesanan lumpia kami beres, kami pun langsung tancap gas keluar dari Semarang supaya sore sudah sampai di Jakarta. Di tol trans Jawa, km 260 B di area Brebes, ada rest area. Niat awal sih buat isi bensin dan cari makan siang. Namun siapa sangka, ternyata ini rest area “Heritage” yang menempati bekas pabrik gula Banjaratma. Wah kami senang sekali, ini tempat yang keren banget dan setara tempat wisata lah buat kami, hehe..

Rest area yang luas sekali, masih ada mesin dan bangunan peninggalan dari pabrik gula.

Di sini banyak tempat makan dengan menu utama olahan kambing muda. Jadi kami pilih acak saja di salah satu tempat. Kami pesan sate kambing dan soto Boyolali. Satenya betul enak banget dan empuk. Untuk soto Boyolali mangkok dan porsinya kecil, tapi lezat ! Puas deh, apalagi ditambah es jeruk yang segar… aah cocok banget makan siang di sini.

Selain tempat makan, banyak juga penjual oleh2 mulai dari aneka telur asin brebes yang terkenal, bawang merah brebes yang besar2 itu, berbagai makanan ringan, juga peralatan/kerajinan terbuat tanah liat khas Jawa seperti poci teh, kendi, dsb. Kami tertarik beli telur asin yang ternyata ada beberapa varian: rasa bawang, oven/panggang (katanya ini rasa kunyit), bakar dan rebus warna biru standar.

Lunch Sate Kambing dan Soto Boyolali. Tidak lupa beli telur asin Brebes.

Jeff juga jadi beli kendi tanah liat buat diisi air minum. Terkenang masa kecil waktu merasakan enaknya minum air kendi yang dingin. Oke, tidak terasa kami menghabiskan waktu 1 jam lebih di sini. Sekarang saatnya melanjutkan perjalanan lagi. Bersyukur jalanan cukup lancar sehingga kami bisa sampai di rumah sekitar jam 4 sore dengan selamat, puji Tuhan.

Epilog

Untuk road trip ini kami pakai mobil city car matic dengan konsumsi BBM Pertalite. Setiap tangki bensin tinggal setengah, kami selalu isi lagi karena kami tidak tahu situasi jalanan di depan. Di sepanjang tol Trans Jawa memang terdapat beberapa rest area, namun tidak semua memiliki SPBU. Kemudian jarak antar SPBU juga tidak sama. Dari Cirebon ke arah Solo, sangat jarang ada SPBU, sekalinya ada antri panjang sekali.

Karena seluruh tol sudah menggunakan transaksi online, maka harus siapkan e-money dengan dana yang cukup. Kami kaget juga loh dengan biaya tol Trans Jawa ini, hampir 1 juta untuk seluruh perjalanan kami. Ditambah bensin, maka pengeluaran transportasi kami total sekitar 1,5 juta. Wow, bisa beli tiket pesawat pp Jkt-Solo untuk kami berdua ini sih. Jadi kami berpikir kalo pergi berdua, tetap lebih ekonomis dan efisien dari segi waktu jika naik pesawat ketimbang bawa mobil jika tujuannya Solo, walau memang ga bisa mampir-mampir ke kota lain sih.

Selama perjalanan, kami tidak istirahat di rest area, tetapi memilih untuk nyetir bergantian untuk menghemat waktu perjalanan. Perjalanan melalui tol Trans Jawa ini sangat mudah. Petunjuk nama kota dan arahnya sudah sangat jelas. Kami tinggal pasang google maps sesaat sebelum keluar pintu tol di daerah tujuan agar tidak nyasar di dalam kotanya. Kualitas tol Trans Jawa ini tidak sama setiap ruasnya. Dengan hanya memiliki 2 jalur utama, kesempatan menyalip kendaraan di depan menjadi hal yang sangat penting. Kami banyak temui truk berjalan dengan santai di jalur kanan / jalur cepat. Alhasil mesti nyalip dari kiri deh.

Salam dari Jawa Tengah. Sampai jumpa lagi di cerita perjalanan berikutnya…

Berlawanan dengan transportasi yang mahal, akomodasi dan makanan di Jawa Tengah ini tergolong sangat murah. Untuk akomodasi hotel per malamnya hanya di kisaran 200 ribu saja, bahkan hotel bintang 5 saja bisa didapat dengan harga di bawah 400 ribu. Makanan enak pun bisa didapat mulai harga belasan ribu rupiah per porsinya. Jika ada yang kangen makanan khas Cirebon, Semarang dan Solo, sekarang ada berbagai ekspedisi yang bisa mengantarkan berbagai makanan ke Jakarta dalam waktu 24 jam. Lebih murah daripada repot2 pergi ke kota asalnya. Gudeg Adem Ayem Solo yang dikirim pakai ekspedisi sampai di Jakarta dengan selamat bersamaan dengan kami tiba di Jakarta juga, haha.. Lalu lumpia gg. Lombok Semarang yang pakai perjuangan untuk antri itu ternyata memang rasanya enak sih ! Pantes aja banyak orang masih rela antri berjam-jam ya.

Oke deh, sekian cerita perjalanan road trip kami ke Jawa Tengah. Semoga pandemi COVID bisa semakin mereda dan dalam waktu ga lama lagi kami sudah bisa jalan2 ke luar negri lagi. Passport nya sudah lumayan lama nganggur nih sejak awal 2020. Bahasa Inggris juga sudah lama ga dipakai, perlu segera dilatih lagi. Ayooo… siapa yang juga kangen traveling ke luar negri nih ??? Pantau terus perjalanan kami di Instagram: jeffdandiana ya. Sampai jumpa lagi !

Kisah sebelumnya di Road Trip Part 3 (Dusun Semilir)

Categories: 2020-2024, ASIA, INDONESIA, Java, Jawa Tengah | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

We love your feedback !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: