Vietnam : 21-30 Desember 2019 (part 4 – Ho Chi Minh)

… lanjutan Day 7

Mendarat di Ho Chi Minh, langsung berasa panas hawanya. Udah seperti di Jakarta ini sih. Beda banget dengan Vietnam Utara yang sejuk. Di bandara sudah ada orang yang membawa papan nama kami, driver dari hotel kami, White House. Kami memang minta pick-up karena tiba sudah hampir tengah malam. Oya, Ho Chi Minh biasa disebut HCMC (Ho Chi Minh City) atau Saigon (nama jadul sblm HCMC), itu semua sama saja ya, jangan bingung. Ho Chi Minh sendiri adalah nama orang, pahlawan perjuangan Vietnam yang sangat penting. Makanya mereka nyebutnya pake city di belakangnya (HCMC) untuk menunjukkan kota, karena kalo hanya sebut Ho Chi Minh, itu sebetulnya nama orang bukan nama kota.

Perjalanan ke White House sekitar 30 menit. Sepanjang jalan terlihat Ho Chi Minh sebagai kota metropolitan yang besar dan ramai. Bahkan di malam hari seperti ini saja masih padat. White House terletak di district 1 yang strategis dan merupakan area backpacker. Hotel kami ini terletak di gang, jadi mobil berhenti di pinggir jalan besar, lebih spesifik lagi, berhenti di depan night club besar. Langsung lah pintu mobil dibukakan oleh bodyguard night club tersebut. Haha.. dikiranya kami mau dugem nih. Tengah malam rupanya waktu yang pas dengan keriuhan club malam di sepanjang jalan itu.

White House

Tempat kami malam ini beristirahat sebetulnya lebih tepat disebut guest house atau bed & breakfast, tapi untuk memudahkan kami sebut saja hotel ya dalam blog ini. Milik satu keluarga dan suasana nya homey banget. Kami langsung dikasi 2 botol air mineral dingin oleh anak muda yang malam ini berjaga di resepsionis. Oke juga lah ini penyambutannya.

Day 8 : Cao Dai Temple, Cu Chi Tunnel

Pagi ini kami breakfast di ruang makan keluarga tersebut. Tempatnya kecil dan terbatas, tapi sangat nyaman. Perabotnya terdiri dari meja dan kursi lipat. Jadi saat breakfast semua difungsikan, tetapi setelahnya dilipat kembali sehingga lega. Ada 7 pilihan menu breakfast, semuanya simple. Antara mie atau roti atau omelet, gitu2 lah. Pilihan minumnya teh atau kopi lalu terakhir disuguhi buah2an segar. Ada pisang, buah naga, pepaya, dll. Lumayan kalo ada pisang atau buah yang bisa dibawa untuk bekal kan. Kenyang dan sehat nih. Yang meladeni tamu dan nuang teh-kopi sang ayah, lalu yang masak sang ibu. Mantap lah.

Breakfast

Hari ini kami mau ikut day tour ke cao dai temple dan cu chi tunnel. Titik kumpul adalah di kantor TNK travel yang tidak jauh dari hotel kami. Keluar dari gang hotel, ternyata suasananya berbeda sekali dengan semalam saat kami tiba. Semua klub malam tutup. Sepi. Tapi kalo motor sih tetap serabutan. Kami belok kiri ke Bu Vien Walking Street. Juga sepi. Kantor TNK Travel pagi ini sangat ramai. Kami registrasi sebentar kemudian disuruh menuju jalanan yang lebih besar. Ternyata di situ kerumanan calon peserta tour sudah berkumpul sangat banyak. Semua menunggu giliran masuk bus. TNK Travel ini adalah agen di Vietnam yang bekerjasama dengan semua agen tour online terkenal. Jadi orang2 yang pesan tour lewat traveloka, kkday, viator, getyourguide, dsb itu semua endingnya di TNK Travel ini.

Tak lama, dimulailah pemanggilan peserta tour. Ada staf TNK Travel yang mengumumkan rute/nama tour dan nomor bisnya melalui pengeras suara. Kemudian ada staf TNK Travel mengangkat papan rute tsb dan berjalan melewati kerumunan calon peserta tour kemudian menuju bis nya. Persis seperti gadis pembawa papan ronde pertandingan tinju. Ada yang tour ke Mekong Delta River, ada yang ke Cu Chi Tunnel, ada yang city tour, macem2 deh. Ini juga dibagi lagi, misalnya Mekong 1 day tour, Mekong 2 day tour, Cu Chi half day, City tour half day, dsb. Kami ikut yang Cu Chi Tunnel dan Cao Dai Temple. Cao Dai adalah nama salah satu agama yang hanya ada di Vietnam. Menarik kan.

Rombongan tour kami sekitar 40 orang, dari berbagai kebangsaan. Yang Indonesia hanya kami, yang lainnya ada dari Singapore, Taiwan, Australia, New Zealand, USA, UK, Perancis, dsb. Seru yah. Tour guide kami namanya Mr. Manh Nyat. Orangnya santai, lucu tapi tetap professional.

Dalam perjalanan ini, Diana sempat email2an dengan tiket.com membahas insiden tiket kemarin malam. Responnya bagus sih, cepat. Mereka bilang bahwa memang staf mereka melakukan kesalahan input data ke system flight. Sehingga data di tiket yang dikeluarkan tiket.com sesuai pesanan kami (tgl.27 Des) tetapi staf nya menginput ke system tgl.25 Des. Hadeuuh… bisa begitu ya, kami pikir kalo ketik data di tiket itu otomatis terhubung ke system pusat by komputer. Ternyata masih input manual. Oke deh, kami bilang akan kirim data2 yang dibutuhkan untuk penggantian tiket barunya setelah tiba kembali di Jakarta. Biar ga ribet nih, sekarang mau lanjutin dulu jalan2nya. Yang penting hati tenang karena uang beli tiket baru dijanjikan diganti.

Kedua objek wisata kami adanya di luar kota, jadi seperti biasa bis akan mampir dulu di workshop disabilitas. Wajib. Kali ini workshop yang membuat lacquer wood, salah satu souvenir khas Vietnam yang terkenal. Bisa juga kalo mau beli snack atau minuman. Karena menurut tour guide, kalo peserta “hungry” maka bakal “angry”. Haha.. pinter juga dia memadankan kata2.

Perjalanan dilanjutkan ke provinsi Tay Ninh, lokasi Cao Dai Temple berada. Nah, di perjalanan ini bis kami mengalami kecelakaan tabrakan beruntun dengan mobil box dan sedan di depannya. Awalnya driver rem mendadak dan sempat membuat penumpang terlonjak ke depan. Lalu terdengar bunyi “brak”. Tour guide kami langsung siaga mengecek semua penumpang untuk melihat apakah ada yang terluka. Untungnya tidak. Bis kami pun hanya penyok saja depan nya, tapi tidak terlalu parah. Cukup lama mengurus masalah ini, karena sepertinya pemilik sedan meminta pertanggung jawaban ke bis kami. Mungkin karena bis kami paling belakang, jadi dianggap yang paling salah.

Jadilah kami sempat terhenti sekitar 40 menit. Sudah kuatir bakal mengacaukan perjalanan nih. Karena jadwal tiba di Cao Dai temple ini jam 12 siang. Di temple tersebut ada 4 kali ibadah/sembahyang dalam sehari, yaitu jam 6 pagi, jam 12 siang, jam 6 sore, dan jam 12 malam. Nah rencananya kami mau melihat yang jam 12 siang. Tapi ini sampai jam 11.30 saja kami masih terhenti. Menurut tour guide, ibadah nya berlangsung 1 jam, jadi ga masalah karena pasti keburu sampai sebelum jam 13.00. Oke deh, pasrah saja.

Alhasil kami tiba di Cao Dai Temple jam 12.30. Tempat ibadahnya bagus sekali, besar, katanya sih ini seperti vatikan nya umat Katolik. Jadi pusatnya agama Cao Dai yang tersebar di seluruh Vietnam. Prosesi ibadah sedang berlangsung, kami bisa masuk melihat prosesi mereka namun dari belakang saja di area yang dibatasi. Banyak petugas di situ yang akan mengingatkan para turis jika terlalu dekat atau melanggar batas yang telah ditetapkan. Diana saja begitu masuk langsung diingatkan untuk membuka topi. Kita boleh foto2 aktivitas mereka, tapi tidak boleh selfie atau foto sesama turis dengan latar belakang pusat ibadah, karena dianggap membelakangi pusat ibadah itu tidak sopan.

Penganut agama ini saat beribadah memakai baju putih2. Ada pria, wanita, ada orang dewasa, lansia dan anak kecil. Model ibadahnya seperti agama Islam, barisan pria dan wanita dipisahkan. Bahkan pintu masuk temple nya pun dibedakan, sebelah kanan untuk pria dan sebelah kiri untuk wanita. Khusus turis, hal ini tidak berlaku, bisa masuk/keluar dari pintu mana saja. Para pemuka agamanya memakai baju warna merah, biru dan kuning. Waktu kami datang, setelah acara sembahyang seperti biasanya, mereka melanjutkan dengan ibadah kedukaan. Jadi selesai semuanya sampai lewat sampai jam 13.00.

Pikir2 untung juga sampainya baru jam 12.30, kalo ga bosen juga tuh nunggu ibadah selesai. Kami saja sempat ke toilet yang lumayan jauh letaknya dan terpisah jauh jaraknya antara pria dan wanita. Segaris lurus dengan pintu masuk yang terpisah tadi. Lalu sempat jalan2 keliling temple dari luar.

Setelah acara selesai, barulah turis boleh masuk ke tempat tadi mereka ibadah. Kami pun menyurusuri dan mengelilingi bagian dalam gedung sepanjang dinding. Selama berjalan, kami ditemani dan diawasi petugas di situ. Kadang ada yang ditegur karena melewati batas, tapi ada kalanya juga petugas itu malah mengarahkan kita untuk mengambil foto mengarah ke objek tertentu yang menurut mereka bagus.

Cao Dai ini sudah ada sejak tahun 1926. Kalo cari di Wikipedia, banyak sumber yang dapat dibaca tentang agama ini. Agama ini mencampurkan beberapa agama seperti Buddha, Tao, Konfusius, Kristen, Katolik dan Islam. Di dalam gedung penuh dengan ornamen dan arsitektur yang menarik, mirip2 kuil atau vihara gitu ya dalamnya. Terdapat banyak patung di dalam temple ini, termasuk patung mirip Tuhan Yesus. Nah kan bener, ini agama campuran banget. Hehe..

Di area kompleks temple ini terdapat taman yang banyak dihuni monyet. Semua turis disuruh hati2 karena monyet nya nakal, suka ngambil barang orang. Kaya di Bali ya ini sih, hehe. Dari Cao Dai Temple, kami dibawa lunch ke restoran besar yang jaraknya hanya 10 menit dari Cao Dai Temple. Sampai restoran sudah jam 2 siang, sudah lapar banget. Makanan nya pun enak.

Lanjut ke Cu Chi Tunnel, salah satu highlight turis kalo berkunjung ke Ho Chi Minh. Bisa buka www.diadaocuchi.com.vn. Lokasinya hanya 70 km dari kota Ho Chi Minh, tapi bisa ditempuh dalam waktu 2 jam karena kemacetan di kota Ho Chi Minh nya. Sebelum masuk lokasi, semua penumpang sudah diinfokan untuk mempersiapkan topi, membawa air minum dan menggunakan mosquito repellent karena tempat yang kami akan kunjungi adalah hutan yang tentu saja banyak nyamuknya.

Selain tour guide kami, ada juga tour guide lokal dari cu chi tunnel. Di dalam hutan, ditemui banyak gundukan tanah seperti sarang semut raksasa yang ternyata adalah lubang ventilasi untuk jalur terowongan/tunnel bawah tanah. Kemudian ada juga patung2 tentara Vietkong, lengkap dengan persenjataan dan peralatan mereka untuk bertahan hidup dalam perang dan terowongan bawah tanah. Panjang tunnel ini 250 km, berada di bawah tanah dan banyak sekali cabangnya. Ada yang mencapai kota Ho Chi Minh dan ada yang mencapai Kamboja. Menakjubkan !

Tunnel ini ada sejak jaman penjajahan Perancis (1945-1954). Tunnel ini bukan hanya sekedar untuk jalur orang tapi sudah seperti kota bawah tanah. Ada rumah sakit, dapur, ruang meeting, tempat pembuatan senjata dll. Dapur pun juga didesain sedemikian rupa agar tidak ada asap saat memasak, atau jika pun ada asap bisa disamarkan dengan kabut pagi. Keren deh.

Atraksi yang merupakan highlight di sini tentunya adalah melewati tunnel2 tersebut. Kami mencoba turun ke beberapa tunnel. Awal2 masih jarak pendek, sekitar 10 meter, ada cahaya dan relatif longgar tunnelnya. Kami masuk ke bawah tanah untuk kemudian muncul di seberangnya. Lama2 jaraknya makin jauh dan di dalam tunnel itu gelap gulita.

Sampai pada yang paling berat adalah ketika melewati tunnel yang sangat panjang (150 meter), gelap dan langit2 tunnel cukup rendah sehingga kami harus merangkak atau berjalan jongkok. Di pertengahan tunnel ada cabang2 tunnel yang mengarah keluar (mungkin kira2 setelah 50 meter dan 100 meter). Jadi bagi yang sudah tidak kuat bisa keluar. Lucunya, tour guide kami berada di ujung pintu keluar tersebut sambil merayu2 peserta tour untuk keluar. Haha… menarik, walau sempat galau mau keluar karena ga tahan panas dan pengapnya, tapi bikin kami makin penasaran.. masa sih ga bisa sampai finish.

Udara di dalam tunnel sangat terbatas, rasanya badan sudah bukan keringetan lagi tapi mandi keringat saking basah kuyupnya. Kaki pegal, lutut sakit karena banyaknya bergesekan dengan lantai tunnel, memang hanya untuk yang berani terima tantangan nih. Ada satu peserta grup kami nyaris pingsan, jadi sudah tergeletak di salah satu titik tunnel yang agak lega. Padahal anak muda dan pria loh. Langsung dibantu sih oleh tour guide kami dan tour guide lokal, dikasi minyak angin dan dikipas2in. Kami pun melewati situasi ini dan akhirnya… yes… ada cahaya dan udara segar. Whoaaa… finish ! Ternyata yang masuk tunnel panjang ini dan bertahan sampai finish hanya sedikit loh, tidak sampai 20 orang. Kebayang ga tuh dulu saat perang kayak gimana menderitanya para pejuang itu. Duuuh… kita gini aja udah kepayahan.

Oya, di salah satu terowongan yang cukup rendah langit2nya tapi tidak terlalu panjang dan masih agak lega dikit, sempat kaget karena ada ibu2 yang menyuruh kami senyum. Posisinya di belokan tunnel, jadi ada ruang sedikit untuk dia duduk. Oalah… ternyata dia ambil foto kami. Hebat ya, tau aja bahwa ga mungkin kami ambil foto di tengah2 tunnel karena gelap dan sempit. Foto ini dapat dibeli sebagai souvenir di area pintu keluar kompleks cu chi tunnel. Harganya VND.50.000 per pcs, cukup murah ya.. jadinya ya semua orang pada beli fotonya.

Jika acara tour kebanyakan mendemonstrasikan foto di bawah ini sekedar untuk pose, grup kami agak berbeda nih. Jadi ada lubang di bawah tanah, yang kita bisa masuk dan lubangnya ditutup lagi dengan papan sehingga tertutup sempurna. Biasanya orang2 akan masuk ke dalam, tutup papan nya dan keluar lagi. Sama seperti yang dilakukan papanya Diana waktu ikut tour. Namun di romboangan kami ada sukarelawan wanita (yang badan nya cukup besar) yang masuk dan menutup lubang di atas kepalanya dengan papan. Namun setelah itu ia tidak keluar lagi. Bahkan tour guide kami menutup rapat2 lubang tersebut dengan menyebarkan daun2 di atasnya, menginjak-injaknya dan menyuruh kami meninggalkan tempat itu. Wow… peserta pun mulai bingung. Gimana nasibnya wanita itu ?!

Ternyata tiba2 ada peserta tour yang teriak… itu di sana… Wah, betul saja, wanita itu tiba2 keluar di tempat yang berbeda, sekitar 5 meter dari tempat tadi dia masuk lubang. Rupanya wanita itu sudah diberitahu oleh tour guide untuk nanti mengikuti tunnel dan cari jalan keluar. Ia keluar dari tunnel dalam kondisi baju, badan dan rambut penuh daun2 dan tanah menempel. Dia cerita bahwa di dalam itu dia harus merangkak, cari jalan keluar dengan pegangan dinding tunnel. Wuiih.. hebat ya.

Kami juga ditunjukkan berbagai siasat Vietkong untuk menjebak para musuhnya seperti sandal jepit dari ban jeep yang arah jejak kakinya dibuat berlawanan untuk mengecoh musuh. Juga berbagai perangkap mematikan untuk membunuh para musuhnya. Pokoknya semua yang bisa membuat mereka bisa survive saat perang dengan alat seadanya, melawan musuh yang memiliki peralatan jauh lebih canggih. Mereka juga ternyata bisa memodifikasi rudal musuh, menjadi senjata baru mereka. Hebat deh.

Hari sudah gelap saat kami meninggalkan Cu Chi Tunnel. Sempat mampir di toko kecil buat beli minuman dan es krim mini karena perjalanan masih cukup lama dan udaranya panas banget. Apalagi setelah berjerih payah menyusuri tunnel sempit. Memasuki Ho Chi Minh, kemacetan luar biasa langsung menghadang. Maklum. Ini malam minggu.

Peserta tour saat tiba di Ho Chi Minh, boleh minta berhenti di Benh Tanh Street Food atau lokasi awal tadi pagi berangkat. Kami pilih yang pertama. Ini bukan Benh Tanh Market ya, tapi Benh Tanh Street Food. Walaupun jaraknya sih ga jauh antar keduanya, tapi saat malam hari Benh Tanh Market sudah tutup. Yang ramai justru Benh Tanh Street Food.

Benh Tanh Street Food seperti food court pada umumnya, namun bukan di gedung tertutup tapi terbuka. Tempatnya tidak terlalu besar dengan beraneka macam makanan dengan kios2 seperti di pasar gitu lah. Penuh sesak dengan turis bule nih. Jalan aja susah. Semua meja juga sudah penuh sama pengunjung, baik yang di dalam maupun yang di luar yang ada live music nya.

Akhirnya kami memutuskan untuk beli dan dibawa pulang saja, nanti makan di hotel. Beli Rice Roasted Pork seharga VND 99.000 dan Bread with Roasted Pork seharga VND 60.000. Harganya tidak bisa dibilang murah menurut kami. Setelah makan malam di dalam kamar hotel, kami kemudian jalan2 di sekitar hotel. Mau merasakan kehidupan malam di sekitar hotel nih. Karena saat baru datang kan ga sempat jalan2.

Wuiiih… ini baru benaran kehidupan malam nya kota Ho Chi Minh. Berbeda 180 derajat dengan pagi hari. Bu Vien Walking Street ditutup baik untuk mobil maupun motor. Jalanan penuh turis yang jalan kaki berdesakan, susah banget jalan di sini. Meja dan bangku digelar dari pub dan resto pinggir jalan sampai memenuhi badan jalan. Kalo ngintip ke dalam pub ya banyak tarian eksotisnya tuh. Cuma di sini jadinya campur, antara yang night club sama resto biasa yang memang cuma buat makan. Suara musik berdentum keras. Cahaya lampu juga meramaikan suasana malam ini. Banyak cewe2 club yang ada di tengah jalan. Kami lihat cowo bule yang jalan sendiri langsung ‘dihadang’ sama cewe2 club. Suasana nya mirip Bangla road di Phuket. Tapi kalo di Phuket kan lady boy, di sini cewe asli.

Day 9 : Explore City

Hari ini hari terakhir untuk kami jalan2 di Ho Chi Minh karena besok pagi sudah harus naik pesawat balik ke Jakarta.  Kami naik grab ke Notre Dame, salah satu gereja Katolik terbesar dan paling terkenal di Ho Chi Minh. Memang dibuat dengan inspirasi dari Notre Dame di Paris. Saat kami tiba, gereja tsb sedang dalam renovasi sehingga kami tidak bisa masuk, kecuali khusus umat yang memang mau beribadah. Suasana pagi itu sudah sangat ramai dengan turis dan aktivitas warga lokal.

Gereja Notredame & Kantor pos

Di Samping Notre Dame, ada Ho Chi Minh City Post Office atau ada yang menyebutnya Saigon Central Post Office. Arsitektur luar dan dalamnya luar biasa bagus. Ga heran banyak turis yang sekedar foto2, padahal ini kantor pos aktif loh. Di dalam kantor pos ini ada loket2 yang melayani pengiriman surat, ada jual benda pos juga seperti stamp, filateli vietnam, ada telpon, dsb. Disarankan bagi penggemar filateli untuk mampir ke sini. Selain fungsi kantor pos, ternyata di dalam sini ada juga jualan souvenir. Cukup lengkap dengan harga yang fix dan tidak mahal. Cocok buat kami yang ga terlalu suka nawar harga.

Jadilah kami beli benda souvenir dan oleh2 di sini. Diana malah beli Ao Dai, baju tradisional Vietnam untuk wanita. Bajunya panjang dengan belahan samping kanan kiri yang tinggi, tapi menggunakan celana panjang juga, jadi nyaman untuk bergerak. Ao dai ini banyak dipakai oleh warga lokal dan dipakai juga oleh pramugari Vietnam Airlines. Pas dapat yang warnanya bagus dan motifnya cantik. Ukurannya juga pas, boleh dicoba dulu dan bisa bayar pake credit card. Sip deh. Kami sebenarnya sempat mencari foto studio untuk foto dengan baju tradisional Vietnam, seperti yang kami biasa laukan di negara2 yang kami kunjungi. Tapi kami tidak menemukannya. Yang ada harus berupa tour setengah hari foto2 pakai ao dai di tempat2 wisata Ho Chi Minh. Aaah, mendingan beli langsung saja ao dai nya. Nanti bisa dipakai di Jakarta.

Kemudian kami jalan2 di area wisata dekat situ. Ada People Committee Hall, ada patung Uncle Ho di taman depan gedung tersebut, ada juga Ho Chi Minh City Opera House. Semua letaknya berdekatan. Banyak juga mal megah di sini. Ternyata di Opera House sini juga ada Bamboo Circus Show seperti yang di Hanoi kami tonton. Hanya saja berbeda penyelenggara dan pemain nya. Rupanya ada beberapa grup bamboo circus ya. Harganya sih sama. Kami sempat masuk ke salah satu mall. Kalo di Jakarta mall baru buka jam 10 pagi, di sini mall sudah buka jam 9 pagi. Jam 9 pagi saat baru buka pun mall sudah ramai.

Well International Church, lantai 3

Siang ini kami hendak ibadah ke Well International Church. Ada English Service jam 11 siang. Selama di Hanoi kami belum sempat ibadah nih, gagal terus, moga2 kali ini berhasil. Sampai gedung nya, ada tempat ibadah umumnya gereja di lantai dasar. Tapi sepi. Ternyata untuk English Service adanya di ruangan lantai 3 di gedung samping. Jadi kami naik tangga dulu dan akhirnya sampai di ruangan serba guna gitu. Petugasnya lagi menata kursi untuk ibadah.

Saat ibadah, cukup banyak pengunjungnya. Sekitar 70 orang. Ada warga lokal, bule yang memang stay di HCMC dan ada juga yang turis. Selain kami ada juga turis dari Singapore, Australia, New Zealand, Thailand, bahkan Brunei Darussalam nih. Wah, ga nyangka. Ibadahnya cukup universal, tidak ada tata ibadahnya. Hanya nyanyi cukup banyak lagu sambil berdiri, kemudian kotbah, persembahan dan nyanyi lagi. Simple banget, seperti persekutuan ya.

Our lunch

Selesai ibadah, kami lihat di sebelah gereja ada restoran Café Cout, menyediakan makanan Vietnam. Ya udah, coba ini aja untuk lunch. Tempatnya cukup luas, sebagian besar terbuka dan banyak pengunjung yang merokok. Kami  diarahkan pelayan ke dalam ruangan tertutup dan ber AC. Wah.. ini jauh lebih enak. Duduknya juga di sofa. Tidak ada yang bisa berbahasa Inggris di sini, baik owner maupun para pelayannya. Untungnya ada menu bahasa Inggris dan selebihnya gunakan saja bahasa isyarat. Rasanya enak dan harganya reasonable. Untuk minum, kami disuguhi gelas besar (seperti gelas bir) berisi air kuning, gratis. Kami sempat bertanya apakah itu bir ? Mereka geleng2 tapi ga bisa jelasin itu apa. Akhirnya kami coba minum, aaah…ternyata rasa teh. Lucu juga ada teh warna kuning emas begini.

Russian Market

Tujuan kami berikutnya adalah Russian Market. Entah kenapa, baru kali ini kami ga cari tau dengan sungguh2 apa itu Russian Market sebenarnya. Kami pikir dari namanya bakal menjual barang2 khas Rusia. Saat kami tiba jadinya kaget. Wow, ternyata ini trade centre. Menjual berbagai fashion untuk musim dingin mulai dari jaket, sarung tangan dsb. Harganya memang murah. Di lantai 2 pun sama. Gang2nya kecil2, agak sulit berjalan di sini. Banyak ketemu turis orang Indonesia dan Malaysia yang berbelanja di sini. Kecewa deh, tidak sesuai harapan, tapi memang salah kami yang ga searching dulu sebenarnya ini tempat apa.

Di lantai 1, bagian paling belakang gedung ini, ternyata ada juga toko yang menjual makanan, minuman dan souvenir Rusia seperti boneka Matryoshka yang terkenal itu. Tapi kecil banget dan kurang menarik. Ga lama2 deh di sini, kami langsung menuju Benh Tanh Market saja.

Oleh2 di Benh Tanh Market

Benh Tanh Market adalah salah satu pasar souvenir dan oleh2 yang katanya wajib dikunjungi turis. Kalo di kantor pos kan tidak ada jualan oleh2 makanan, nah jadi kalo mau bisa beli di sini. Yang banyak adalah kopi dan Banh Pia. Kopi G7 yang terkenal sebagai oleh2 itu ada di mana2, jadi beli saja di supermarket daripada di sini. Banh Pia duren juga terkenal sebagai oleh2 dari Vietnam. Merknya pun macam2. Yang paling terkenal adalah merk Dau Sau Rieng yang seperti di foto atas. Ada yang dengan telur asin ada yang tanpa telur untuk vegetarian. Merk ini tidak kami jumpai di supermarket biasa. Adanya di tempat turis. 1 pak berisi 4 pia yang dikemas tersendiri, jadi memang mudah untuk dibagi2 menjadi oleh2. Menurut kami sendiri Banh Pia duren paling murah ya di Benh Thanh Market ini atau paling engga beli di HCMC deh. Di Hanoi harganya cukup mahal.

Catatan : Hati2 karena ternyata Banh Pia duren merk ini pun mengeluarkan beberapa jenis pia yang berbeda besaran per pia nya dan juga berbeda berat nya. Lihat lambang di bagian atas, ada yang angka 1 (paling ringan-banyak di hanoi), ada yang bintang 3, ada yang bintang 5 (paling berat-banyak di airport HCMC). Jadi kalo ada yang membanding2kan harga banh pia merk ini, susah juga ya.. bisa dapat murah pastinya kalo yang angka 1 karena paling ringan, tapi kalo yang bintang 5 ya pasti mahal. Kemasan semua sama, jadi sangat mungkin turis tidak paham hal ini. 

Central Market

Sore hari kami jalan ke Central Market yang tidak jauh dari hotel. Ini letaknya turun ke bawah, underground gitu. Ada foodcourt dengan harga yang murah meriah. Kami beli nasi dan sup ikan seharga VND 55.000 yang bikin kami berdua kenyang. Ada juga toko2 yang menjual barang2 KW. Harganya juga bisa ditawar. Malam terakhir dilewati dengan duduk santai makan es krim di area luar market.

 

Day 10 : Back to Jakarta

Pagi2, kami tidak sempat breakfast yang baru ready jam 7 pagi, padahal kami juga mau berangkat ke airport jam 7 pagi. Jadi alternatifnya adalah mereka membuatkan bekal take away berupa roti baquette dan omelette di dalamnya. Terus dikasi 2 botol air minum lagi. Luar biasa pelayanannya untuk kepuasan tamu. Pantas dapat skor nyaris 10 di booking.com

Ao Dai dipakai saat Tahun Baru Imlek, cocok juga ya 😉

Perjalanan ke airport cukup 30 menit saja. Sambil ke airport, seperti biasa, kami melihat keruwetan dan kekacauan Ho Chi Minh yang jauh lebih parah daripada Jakarta menurut kami.

Untuk rute Ho Chi Minh-Jakarta, kami tidak dapat bagasi. Kalo mau beli bagasi sekitar USD 50 untuk 1 koper. Wah, sayang sekali uang segitu besar hanya untuk bagasi. Makanya dari awal kami ga bawa bagasi, hanya koper kabin. Nah, sekarang tambah berat nih karena beli macem2. Benar saja, saat ditimbang masing2 koper kami di atas 7 kg. Tapi staff check in nya sepertinya cuek aja. Koper kami hanya diikatkan tag. Selamat deh.

Di airport HCMC, semua barang, baik makanan maupun souvenir, dijual menggunakan harga USD. Namun kalo mau bayar pake VND bisa, mereka akan convert. Kalo masih banyak VND nya bisa ditukar di money changer ke USD.

EPILOG

Secara umum perjalanan ke Vietnam ini membuka mata bahwa negara ini betul2 sudah menjadi negara yang siap untuk pariwisata. Ga nyangka bahwa Vietnam sudah maju seperti ini. Orang2nya pun sangat ramah, padahal banyak yang bilang rawan kejahatan dan scam. Ya, kami sih tidak mengalami ya. Malah pengalaman kami mereka2 sangat helpful, driver grab saja ada yang menolak uang lebih dari kami, hebat ! Bahasa Inggris memang masih minim di tempat non-turis dan juga supir grab, tapi ini bukan masalah penting sih karena biasanya bahasa isyarat cukup mempan. Sementara di tempat turis, logat bahasa Inggrisnya bagus2, jauh lebih bagus daripada saat kami di Phuket.

Ada beberapa informasi tambahan :

  1. Nilai uang VND itu di bawah Rupiah, jadi mereka sampai punya lembaran 500 rb dan 200 rb loh. Kalo di Indonesia kan paling besar lembaran 100 rb. Jadi hati2 ya bawa uang lembaran VND nya. Apalagi gambarnya sama semua yaitu muka Mr. Ho Chi Minh itu, yang membedakan hanya warnanya. Mereka sudah tidak punya koin lagi, karena nilai lembaran saja paling kecil seribu ya. Di bawah itu sudah ga laku, alias ga ada nilainya. Misalnya kita belanja di supermarket barang seharga VND 9.700 kita bayar VND10.000 dan tidak akan ada kembalian. Uang tunai masih sangat dibutuhkan, banyak tempat tidak menerima credit card atau menerima tapi mengenakan charge.
  2. Untuk transportasi kami tidak pernah pakai taxi, tapi pakai Grab. Tidak kendala bahasa, harga dan rute pasti fixed. Di Vietnam mobilnya setir kiri, jadi beda sama Indonesia. Kalo nunggu mobil jadinya harus di sebelah kanan jalan, bukan di kiri jalan. Hampir semua penduduk Vietnam itu punya motor dan tidak punya mobil, makanya crowded banget sama motor. Maklum, pajak mobil di Vietnam itu gede banget, jadi terlalu mahal untuk mereka. Mending punya 2 motor misalnya untuk 1 keluarga.
  3. Nyebrang jalan buat pejalan kaki itu tantangan banget saking ruwetnya jalanan dan pengendara mobil dan motor yang seperti tidak ada aturan. Jadi caranya : angkat tangan dan silakan jalan lurus saja, jangan berhenti. Kalo diklakson biarin aja, artinya mereka kan lihat kita nyebrang, jadi ga bakal nabrak. Jika sudah berhasil, pastinya takjub karena saat nyebrang, itu mobil-motor bisa tetap jalan di depan atau di belakang kita, ga brenti loh mereka. Jadi kita serasa berjalan di tengah kendaraan yang tersibak, haha… Ga ada pengaruh mau nyebrang di zebra cross atau tidak, ga bakal ada kendaraan yang mau berhenti deh pokoknya.
  4. Trotoar untuk pejalan kaki mirip Jakarta jaman dulu. Kecil, ada pohon di tengah2, jadi parkiran motor dan mobil, jadi tempat duduk untuk kios makanan yang di pinggirnya. Alhasil lebih aman kita jalan di pinggir jalan raya saja, lebih lurus, hehe..
  5. SIM Card lokal menurut kami sangat dibutuhkan, apalagi jika aktif menggunakan grab untuk transportasi dan google maps untuk menunjukkan arah. Dari pengalaman kami, 2 jenis sim card yang digunakan hampir sama saja kualitasnya. Mungkin karena kami menggunakannya di kota besar, jadi ga ada bedanya. Hanya saat di perairan teluk Halong, sempat sim card by CU masih bisa digunakan sementara simcard by NB sudah lost signal. Tapi itu sebentar sekali. Selebihnya sih sama2 dapat sinyal atau sama2 lost signal, maklum lah kalo di perairan kan suka gitu. Entah kalo di area yang agak pedalaman, kalo ada yang punya pengalaman boleh share di kolom comment ya.

Akhirnya setelah tiba di Jakarta, kami pun mengurus penggantian tiket baru kami ke tiket.com. Dijanjikan pencairan ke bank dalam 14 hari, ternyata baru 5 hari sudah masuk ke rekening kami. Hebat deh, walau sudah berbuat salah, tapi tetap profesional menanganinya. Jadi kami ga trauma deh menggunakan tiket.com

Oke, sampai bertemu di perjalanan berikutnya ya….

 

Categories: 2015-2019, ASIA, Vietnam | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

We love your feedback !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: