Prolog
Kali ini kami mau pergi yang deket2 aja, memanfaatkan hari libur yang berdekatan supaya cutinya ga lama2. Negara di Asia Tenggara yang belum pernah kami kunjungi salah satunya adalah Filipina, yang lumayan terkenal dengan pulau dan pantai pasir putihnya yang indah. Cukup banyak pantai yang direkomendasikan, tapi karena waktu terbatas jadi kami pilih Boracay saja yang paling populer. Dari Jakarta menuju Boracay, kami pilih naik Air Asia dan Cebu Air. Jadi rutenya :
- Jakarta – Kuala Lumpur (transit semalam) – Manila menggunakan maskapai Air Asia
- Manila – Caticlan/Boracay menggunakan maskapai Cebu Air (budget airlines punya Philippines)
Day 1 : Jakarta – Kuala Lumpur
Sudah lama kami tidak menggunakan maskapai Air Asia baik domestik maupun international. Saat kami terbang ke Kuala Lumpur ini, Air Asia ada di terminal 2 bandara Soetta. Pesawat yang digunakan adalah Airbus A320. Pesawat kami berangkat jam 18.55 waktu Jakarta dan tiba 35 menit lebih cepat dari jadwal di terminal 2 KLIA.
Sebelum berangkat ke Kuala Lumpur, jangan lupa isi Malaysia Digital Arrival Card (MDAC) sebagai syarat masuk Malaysia. Tidak dikenakan biaya apapun alias gratis ya, karena Jeff sempat dapat website yang mirip dengan MDAC tetapi meminta bayaran sejumlah uang. Hati-hati ya.
Setelah melewati imigrasi, kami keluar terminal dan berjalan kaki menuju hotel transit Tune Hotel KLIA2 yang letaknya di seberang terminal KLIA2. Kami terkagum2 dengan KLIA2 yang sudah mirip dengan mall raksasa. Di kanan kiri banyak restoran dan toko2.
Jalan kaki dari KLIA2 menuju hotel sekitar 15 menit. Cukup mudah karena banyak petunjuknya dan tidak perlu khawatir kehujanan / kepanasan karena ada selasar tertutup sepanjang jalan. Kami tiba cukup awal di hotel karena setelah kami selesai check in, di belakang kami tiba2 sudah ada antrian panjang. Ada welcome drink untuk setiap tamu. Kami menginap di hotel hanya sekitar 6 jam saja dan tanpa breakfast. Betul2 transit ceritanya, tapi ga mau ngemper di airport, hehe..
Day 2 : Kuala Lumpur – Manila
Jam 5 pagi, kami sudah check out dari hotel karena jam 08.20 pesawat Air Asia kami akan terbang dari KLIA2 menuju Manila. Suasana KLIA2 pagi ini sangat sepi karena banyak toko yang masih tutup. Proses check in dan imigrasi berlangsung cepat dan lancar.
Penerbangan dari KLIA2 menuju Bandar Udara Internasional Ninoy Aquino (NAIA) Manila ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam. Saat keluar dari terminal sambil menunggu taksi online yang sudah dipesan sebelumnya, cuaca panas Manila sangat terasa. Hari ini adalah hari raya Idul Adha dan merupakan hari libur nasional di Indonesia. Menariknya, info dari driver taksi online kami, di Philippines pun merayakan hal serupa walaupun di sini mayoritas penduduknya merupakan penganut agama Kristen Katolik.
Manila memiliki sarana transportasi yang cukup lengkap layaknya kota besar pada umumnya seperti MRT, LRT, bus dan bahkan jeepney (angkotan umum khas di sini). Namun karena waktu kami sangat singkat yaitu hanya satu (1) hari di Manila, maka kami memilih menggunakan Grabcar untuk menuju tempat2 menarik di Manila ini. Enaknya kami bisa langsung pakai Grab Indonesia secara otomatis tanpa perlu install atau daftar ulang. Hal serupa juga pernah kami lakukan saat kami traveling ke Vietnam tahun 2019 (part 4 – Ho Chi Minh)
Di Manila, kami menginap semalam di Herald Hotel yang berlokasi di pusat Makati. Sejak dahulu Makati terkenal sebagai pusat keuangan dan kawasan bisnis utama di Metro Manila. Kawasan ini menjadi pusat bagi berbagai perusahaan multinasional, bank sentral, kedutaan besar, serta distrik gaya hidup elit dan pusat perbelanjaan mewah. Herald Hotel ini ternyata terkenal di kalangan pebisnis dan wisatawan Jepang. Interior, eksterior dan menu makanan yang ditawarkan di hotel ini sudah menggambarkannya. Di sekeliling hotel ini, terdapat beberapa restoran dan juga karaoke untuk orang Jepang. Di kamar, toiletnya sudah seperti yang ada di Jepang, ada banyak tombol untuk settingan air dan spraynya. Seperti waktu kami berkunjung pertama kali ke Japan : 22-31 March 2014 (part 1)
Setelah check in, kami makan siang dengan berjalan kaki ke Makati Central Market yang ada dekat hotel kami. Setelah masuk ke dalamnya, suasananya mirip dengan banyak trade center yang terdapat Jakarta. Terdiri dari banyak toko2 kecil yang menjual aneka barang seperti handphone, akseoris dan lain2.
Kami makan siang di Jolibee, salah satu fastfood dengan jaringan terbesar di Philippines dengan menu andalannya ayam goreng dengan berbagai variasi menu. Jolibee pernah hadir di Jakarta sekitar tahun 1991 namun akhirnya tutup semua karena tidak mampu bersaing dengan waralaba lainnya. Memang makan di sini harganya sangat murah. Kami berdua makan hanya sekitar 179 peso (1 peso diasumsikan 300 rupiah). Tapi rasanya memang biasa saja bila dibandingkan dengan waralaba lain.
Saat kami makan, tiba2 baterai handphone Jeff kembung dan panas. Tentu saja hal ini sangat membahayakan. Akhirnya setelah makan, Jeff ganti baterai handphone di toko service handphone yang ada di sebelah Jolibee. Ganti baterainya 1.500 peso dan dapat garansi 1 bulan.
Siang ini kami mau langsung jalan2 explore kota Manila ini. Tujuan pertama kami adalah ke China Town. Lokasinya sekitar 30 menit perjalanan mobil dari hotel kami. China Town di Manila ini dinobatkan sebagai yang tertua di dunia (di luar China). Didirikan tahun 1594 oleh pemerintah penjajahan Spanyol saat itu untuk menampung para pedagang China yang beragama Kristen. Lihat pengalaman kami mengunjungi beberapa China Town sebelumnya seperti di Western Canada 2018 (part 2 – Vancouver), Great Britain, UK 2019 (part 2-London & Windsor), USA part 5 – San Francisco (California) 2022 dan terakhir di Seattle-USA Part 3 – 2023
China Town Manila dikenal juga dengan nama Binondo. Jalan utama di area ini adalah Ongpin Street. Kami berjalan kaki menyusuri jalanan ini. Di kiri kanan banyak resto dan toko makanan. Ada juga pedangan street food baik makanan maupun minuman. Suasananya sangat ramai di jalanan yang tidak terlalu lebar. Kami melewati beberapa kali yang airnya berwarna hitam dan bau. Ya, mirip2 Jakarta lah. Secara keseluruhan, kami senang bisa jalan2 di China Town ini.
Nah di area ini terdapat toko oleh2 yang sangat terkenal di sini yaitu Eng Bee Tin. Sudah ada sejak tahun 1912 loh ! Di China Town ada beberapa toko Eng Bee Tin. Namun kami berkesempatan mengunjungi Eng Bee Tin Binondo Flagship Store berlokasi di 628 Ongpin Street, Binondo, Manila. Gedungnya terlihat dari mana2 karena eksteriornya yang menarik.

Gambar lainnya : aneka makanan yang kami beli di Toko Kue Eng Bee Tin
Saat kami masuk toko Eng Bee Tin ini, suasananya sangat ramai. Mirip2 toko oleh2 makanan Kartika Sari maupun Prima Rasa di Bandung. Penduduk lokal sudah antri panjang di kasir dengan membawa keranjang berisi penuh makanan kesukaan mereka. Sementara itu, kami masih mencari tahu apa yang khas dari toko ini. Akhirnya kami bisa mendapatkan 2 makanan khas terkenal yaitu Philippines Mango Cake (mirip nastar) dan Hopia aneka rasa (mirip pia). Hopia ini memiliki berbagai macam rasa, kita beli beberapa rasa di antaranya yaitu mangga, durian dan whole wheat.
Dari Binondo, kami mengunjungi Fort Santiago sebuah situs bersejarah yang terletak di Intramuros, Manila, Filipina. Naik Grabcar tidak sampai 10 menit. Area Intramuros mengingatkan kami pada kawasan kota lama Jakarta. Di Fort Santiago ini, terdapat ruang bawah tanah yang berfungsi sebagai penjara pada masa kolonial Spanyol. Arsitektur benteng tersebut memiliki gaya pertahanan khas yang kuat dengan bentuk bastion dan benteng batu yang kokoh. Istilahnya seperti city wall yang bisa kita naiki dan jalani di atasnya. Di atas city wall, dapat ditemukan beberapa meriam yang bentuknya sudah tidak utuh lagi.
Dari Fort Santiago, kami mau main ke pantai untuk menikmati sunset. Di Manila, ada beberapa pantai dan spot buat menikmati sunset. Lokasinya sangat mudah dijangkau oleh masyarakat kota Manila. Kami memilih ke Dolomite Beach. Terletak di dekat markas besar angkatan laut Philippines. Tiket masuknya gratis. Di sini pantainya sangat bersih, tidak ada pedagang dan tidak bisa berenang. Jadi orang2 ke sini buat menikmati sunset dan ngobrol di beberapa area pantai. Setelah sunset selesai, maka pintu masuk inipun ditutup dan orang2 yang ada di dalamnya dipersilakan keluar oleh petugas keamanan.
Dari pantai, kami mau makan malam di resto The Aristocrat. The Aristocrat adalah salah satu restoran tertua dan paling ikonik di Philippines karena menghadirkan makanan khas Philippines. Didirikan sejak tahun 1936 oleh Engracia “Asiang” Cruz-Reyes, restoran ini terkenal legendaris karena menyajikan makanan rumahan tradisional Philippines seperti Chicken Barbecue dengan Java Rice, Kare-Kare, dan Lumpia Shanghai. Jadi kalo ke Manila, jadi salah satu tempat wajib yang harus dikunjungi.
Kami beruntung karena bisa makan di resto pertama dan tertua mereka yang tidak jauh dari Dolomite Beach. Letaknya di Roxas Boulevard dan buka 24 jam. Di sini kami pesan chicken pork adobo (non halal dan cukup buat kami berdua), Java rice (seperti nasi kuning) dan minuman segar khas Philippines yaitu Halo Halo. Isinya bisa macam2, tapi biasanya pasta ubi ungu (ube), kacang merah manis, nata de coco, nangka, pisang karamel, kolang-kaling (kaong), dan puding.
Karena baru jam 7 malam, kami pindah area lagi ke tempat yang lebih modern di Manila ini. Kami naik Grab dan minta diturunkan di area Bonifacio High Street. Area ini termasuk area yang modern dan bersih serta dikelilingi gedung2 perkantoran tinggi seperti layaknya kalo kita ada di SCBD Sudirman. Berbeda jauh dengan area hotel kami di Makati yang lebih kuno dan lebih kumuh.
Di Bonifacio High Street ini, ada jalanan sepanjang 1 km yang tengah2nya merupakan jalur pejalan kaki. Sementara di kanan kirinya, ada banyak toko dan resto modern. Mirip Orchard road Singapore deh. Karena sudah kenyang, kami menikmati saja jalan kaki di area modern ini. Dari sini kami menuju salah satu mall modern di Manila ini yaitu Uptown Mall. Jalan kaki sekitar 1 km lagi dari Bonifacio. Mallnya tinggi dan suasananya seperti mall modern di Jakarta. Di sini kami membeli KFC, salah satu hal yang biasanya kami beli dan coba rasanya di kota atau negara manapun kami berkunjung. Menu di sini menarik karena ada menu spaghetti dengan ayam goreng KFC. Malah ga ada menu paket kentang, jadi kalo mau harus pilih nasi atau spaghetti, baru tambah kentang. Aneh tapi nyata.
Ok, sudah banyak sekali tempat yang kami kunjungi hari ini di Manila. Malam ini perlu istirahat, karena besok siang mau terbang ke Boracay, tempat liburan utama kami kali ini.
Bersambung ke part 2








