Advertisements

Thailand-Phuket : 26-30 December 2016 (part 2)

Day 3

Hari ini, kami ikut James Bond Tour / Phang Nga Bay Tour. Jam 8 pagi kami dijemput dengan mobil travel menuju dermaga. Kali ini jalannya melewati rute yang berbeda dengan kemarin. Waktu perjalanan sama, sekitar sejam. Tempat operator kali ini tidak sebesar kemarin, namanya 2-sisters company berlambang penyu. Hanya rumah pangung kayu ala kadarnya dan agak kumuh. Saat kami masuk, nama kami didata dan diberikan pita warna merah di pergelangan tangan untuk membedakan grup.

dermaga-2Di tempat ini pun tersedia snack ringan dan minuman. Tapi tidak ada obat anti mabok dan tidak ada briefing. Speed boat kami ternyata bersandar di dermaga sebrang rumah tsb. Speed boatnya kecil, kapasitas 20 orang, motornya pun hanya ada 2. Peserta kali ini ada bule, India, sekeluarga Indonesia (sama dgn yang kemarin), dan juga wisatawan dari Arab.

Awalnya speed boat menyusuri sungai kecil sepanjang kurang lebih 2 km dengan kecepatan yang rendah. Kiri kanan adalah hutan mangrove. Sungai ini menyambung ke laut lepas. Sampai di laut lepas, barulah kecepatan speed boat ditambah. Untuk para penumpang, disediakan air mineral dalam gelas, soft drink kaleng, minuman nata de coco, dan juga biskuit lapis selai nanas.

Grup kami didampingi guide yang sangat tidak lancar dalam bahasa Inggris, tapi dia berusaha keras menjelaskan kepada para penumpang dengan keterbatasannya. Hasilnya adalah penumpang saling berpandangan bengong ga ngerti, trus ketawa bareng. Hahaha.. Sudahlah… anggap saja hiburan. Jadi untuk kali ini, kami ga bisa tanya sama guide dan ga ngerti juga dibawa kemana saja. Hanya punya gambaran dari itinerary yang dikasi sama Puttachat di awal.

Itinerary kali ini adalah sbb :

1. Lawa island

Cuma 15 menit perjalanan, kami sampai di pulau ini. Masih sepi, belum banyak pengunjung. Asyik nih.. beda banget dengan kemarin dimana semua pulau sudah ramai sesak ketika kami sampai. Suasana pulaunya rindang karena banyak pohon. Cuaca juga belum terlalu panas disengat matahari, agak berawan. Pulaunya relatif bersih. Ada area yang dibatasi untuk berenang di sini. Di kejauhan terlihat gugusan bukit karst, keren !

Lawa Island

Lawa Island

Sebetulnya kalo di perjanjian dengan Putthachat, harusnya kami ke Naka Island. Kami sempat cek sampai 2x soal ini. Tapi kalo liat itinerary nya operator 2-sisters memang selalu dibawa ke Naka Island. Masuk akal karena sangat dekat dengan dermaga mereka. Waktu 50 menit kami habiskan dengan berenang sepuas2nya mumpung sepi. Sayang, air lautnya standard saja, tidak berwarna menggiurkan. Lebih senang liat pantainya yang bersih.

2. Panak Island

Perjalanan 10 menit dari Lawa island. Ternyata boat hanya mengelilingi pulau ini saja sekitar 10 menit. Merupakan pulau karang yang ada bagian berupa stalaktit di bagian pinggir pulau/batu karang. Lagi-lagi tidak ada penjelasan yang memadai dari guide. Hanya disuru foto2 saja.

panak-island

3. James Bond island

Dari Panak, boat lanjut ke James Bond Island. Jaraknya hanya 10 menit. Dekat2 semua nih spot wisata hari ini. waktu yang diberikan di sini tergolong singkat, hanya 30 menit. Nama asli pulau ini adalah Khao Phing Kan dan terletak dalam area Ao Phang Nga National Park. Menjadi terkenal sejak tahun 1974 saat menjadi lokasi syuting film James Bond yang berjudul The Man with the Golden Gun.

james-bond

Dermaganya kecil sehingga speed boat dan long boat harus antri bergiliran menurunkan penumpang. Tiba di dermaga, langsung kami disambut jejeran toko souvenir. Di sini jual macem2 dan harganya gila2an, jadi harus nawar gila2an juga. Fridge magnet dengan gambar James Bond Island dikasih harga 150 baht, Jeff nawar 80 baht langsung dikasih gitu. Berarti harusnya bisa ditawar dengan harga sekitar 50 baht untuk 4 magnet tuh.

james-bond-3

Mengarah ke kiri, ada lubang batu besar yang menarik untuk dijelajahi dan menjadi spot foto. Perlu hati2 memanjat dinding gua batu ini agar tidak terpeleset.

Maju sedikit dari situ, tampaklah 1 batu karst besar di tengah2 teluk yang menjadi ikon dari James Bond island ini. Tempat ini penuh dengan turis yang berebut foto dengan latar belakang batu karst tersebut.

james-bond-2

Sebetulnya di perairan dekat batu karst tersebut kita juga bisa berenang. Air lautnya tenang dan hijau. Pantai kecilnya pun bersih dan landai. Sayang, waktu terbatas jadi ga bisa main air di situ. Memang turis pun sedikit yang berendam di sana. Di spot wisata ini kebanyakan yang terlihat adalah turis Asia daripada turis bule.

4. Koh Panyee (Floating Muslim Village) 

Naik boat 10 menit sudah sampai lagi di Koh Panyee. Ini merupakan perkampungan / desa nelayan yang dibangun terapung di atas air, jadi bukan di atas pulau. Layaknya sebuah perkampungan penduduk, di sini fasilitasnya lengkap. Ada bangunan rumah, tempat makan, toko2 souvenir, sekolah, lapangan sepak bola terapung dan juga mesjid dengan kubah berwarna emas yang nampak dari kejauhan.

panyee

Di sini penduduknya 100% muslim. Yang menarik asal mula penduduk di sini ternyata dari pulau Jawa lho ! Iya, dari Indonesia. Awalnya kami mengira akan makan siang di sini sebagaimana dituliskan di itinerary program awal. Ternyata tidak. Di sini hanya ada waktu 20 menit untuk mengikuti tour guide menyusuri lorong jalan, melewati deretan toko, hingga tiba di sekolah satu2nya yang ada di sini.

panyee-2

Persis kaya perkampungan di Pulau Jawa lah.. cuma ini di atas laut

Karena tour guide kami sangat minim bahasa Inggrisnya, dia hanya menyuruh kita masuk ke dalam sekolah tersebut tanpa menginformasikan apa2 tentang aktivitas yang dapat dilakukan di dalam sekolah tersebut. Setelah kami masuk, sang tour guide pun kemudian menghilang ! Alhasil kami bengong deh mau ngapain lagi karena tadi dibilang ga boleh jalan2 sendiri takut nyasar.

panyee-3

Catatan : Padahal ternyata harusnya jalan saja terus sampai ke ujung lapangan sekolah, dan dari situ kita bisa melihat laut lepas dan foto2 dengan background lautan dengan batu karstnya. Ini juga kami dapat dari “dugaan” setelah melihat kemungkinan itu dari dermaga kapal setelah mau pergi dari tempat ini.

Akhirnya tour guide kami datang menjemput dan mengarahkan kami ke dermaga dekat sekolah tersebut. Jadi rupanya dermaga tempat mendarat dengan dermaga tempat pergi lagi itu beda tempat, beda sisi pulau. Sehingga sang guide perlu koordinasi sama awak kapal, untuk memastikan apakah kapal sudah siap di dermaga tersebut. Yaa… gitulah kalo tour guide kendala bahasa, jadi merugikan peserta tour.

5. Lunch Boat

cano-1

Naik boat sekitar 10 menit, sampai lagi di sebuah rumah makan apung. Seperti kapal, tapi belakangnya sudah dimodifikasi sehingga berbentuk seperti aula untuk makan dengan meja dan kursi. Rupanya kita makan siang di situ, gabung semua grup dari 2-sisters yang awalnya dipisah jadi 2 boat. Jadilah kami merasakan makan siang yang berbeda. Menarik juga.

Menu makan siang sangat sederhana, nasi + 3 menu + 1 sop dan spaghetti. Makanan cenderung dijatah, diambilkan oleh staf yang ada. Tapi kalo mau nambah lagi sesudah semua peserta dapat makan, boleh aja sih. Tempat duduk yang ada mejanya terbatas, jadi lumayan berdesakan dan berebutan. Yang ga dapat ya duduk tanpa meja.

Begitu kami selesai makan, para tukang kano yang dari tadi sudah siap di sini, menurunkan kano2 ke samping kapal. Jadi yang sudah siap bisa langsung turun ke kano. Di sini rupanya naik kano dan akan didayung oleh seorang tukang kano, bukan mendayung sendiri. Kapasitasnya bisa 2-3 orang per kano. Dan yang perlu dicatat di sini : kami berkano tanpa menggunakan life vest alias pelampung ! Resiko ditanggung siapa ya kira-kira ??

Akhirnya kano-kano pun mulai beriringan di lautan. Mau kemana nih tujuannya ?

6. Canoe @Hong Island

Objek dari wisata kano ini adalah Hong Island. Gugusan batu terbentuk dari alam yang berupa gua dan stalaktit nya. Akhirnya terbentuklah formasi antrian kano menuju Hong Island. Terutama antrian ketika masuk ke dalam gua yang berupa terowongan sempit. Kadang kami harus membuat badan kami rebahan ke belakang agar kepala kami tidak terantuk batu. Jika air pasang, maka kano tidak bisa lewat ke gua ini.

cano-2

Yang paling berkesan adalah ketika setelah melewati terowongan, lalu kano sampai di tengah gua yang membentuk lagoon dengan atap terbuka langsung ke langit. Wow…. keren ! Sinar matahari langsung masuk ke tengah gua. Kami serasa masuk ke dunia lain yang ada di film2.

cano-4

Untuk diceritain dan difotoin agak susah. Harus ngalamin sendiri deh. Pasti berkesan banget ! Buat gambaran lebih jelas kami ada cuplikan videonya, bisa liat di fb pasangan traveling yah.

Karena ga seru didayungin, Jeff sempat beberapa kali meminjam dayung untuk mendayung kano sendiri. Agak susah nih, ga segampang yang di pulau Sepa atau Kampung Sampireun. Yang ada kano kami muter2 ga tentu arah, haha.. Seru juga.

Akhirnya ya paling bener memang kami duduk manis aja deh. Selama berkano, cukup sering tabrakan dengan kano2 lain. Udah kayak boom boom car, hehe.. Maklum, luas tempatnya tidak sebanding dengan jumlah kano yang ada. Tapi tetap aman dan tidak ada yang terguling kanonya.

cano-3

Tukang kano sempat menunjukkan beberapa bentuk batu stalaktit yang terkait dengan binatang atau objek tertentu. Tapi rada maksa sih menurut kami, hehe..

Setelah hampir berkano sekitar 20 menit, kami pun kembali ke kapal makan dan lanjut naik ke speed boat kami. Oh ya, kepada semua peserta disarankan untuk memberi tips kepada tukang kano masing2 jika memang merasa senang dengan aktivitas ini.

7. Cave walking @Panak Island

Kami pikir wisata kano di Hong Island adalah akhir dari tour hari ini. Ternyata tidak. Kami kembali lagi ke Panak island yang tadi pagi sempat kami kelilingi. Di salah satu sudutnya, ternyata ada pantai kecil yang bisa menjadi tempat kapal mendarat. Padahal tadi pagi, kami lihat tidak ada pantai ini.

panak-caveRupanya saat sore airnya surut, sehingga menyebabkan munculnya pantai ini. Mau apa nih ? Ternyata kita disuruh turun dan akan masuk menyusuri gua lagi. Kali ini dengan jalan kaki. Waaah… seru nih sepertinya. Kami belum pernah masuk gua begini. Karena guanya sangat gelap, beberapa dari penumpang, termasuk Jeff harus memasang senter di kepala layaknya pekerja tambang. Semuanya sudah disediakan. Sementara awak speed boat kami membekali diri mereka dengan senter2 besar.

Ternyata benar. Di dalam gua, sangat gelap dan sempit. Kami harus berjalan melewati genangan air yang panjang setinggi betis. Hati-hati terpeleset atau terperosok. Di beberapa titik harus menundukkan kepala agar tidak terantuk batu gua di atas kepala. Untung ada senter yang cukup membantu menerangi jalan yang kami lalui.

Akhirnya kami tiba di sebuah ruang terbuka dikelilingi dinding batu yang tinggi. Seperti pulau rawa dengan banyak pohon tinggi, bahkan akarnya malah sejajar dengan kami. Jadi kami bisa membayangkan berapa tinggi level air jika sedang pasang.

Di pojokan ada semacam lumpur hisap. Sudah diberi tali pengaman sih supaya wisatawan tidak masuk ke area itu. Mengutip penjelasan tour leader dari grup tetangga, di bawah lumpur hisap itu sudah ada ratusan sandal he..he.. Di area tersebut juga nampak beberapa makhluk semacam ikan, namun mereka merangkak di lumpur dengan bantuan kedua sirip mereka. Mirip kadal dong ya jadinya. Kita sebut saja ikan lumpur ya. Coba dicari gambarnya di foto berikut ini :

panak-cave-2

Bisa lihat ikan lumpur nya ?

Seru juga di tempat ini. Setelah sekitar 15 menit, kami pun diarahkan untuk kembali ke boat. Tentu dengan melewati lorong gua yang tadi kami masuki.

Tour hari ini pun berakhir. Perjalanan pulang ke dermaga memakan waktu 30 menit. Seperti biasa, tour guide kali ini pun memohon kemurahan para penumpang untuk memberikan mereka tips dengan mengedarkan toples plastik.

Ternyata dermaga tempat kami turun bukanlah dermaga yang sama dengan saat kami berangkat tadi pagi. Air surut hingga nyaris kering. Kami harus berjalan kaki kurang lebih 500 meter ke tempat awal tadi pagi. Di situ, sudah menunggu mobil travel yang akan membawa kami kembali ke Patong. Kali ini jam 5 sore sudah sampai di hotel.

Patong Beach

Karena masih sore, kami pun cepat2 bersiap untuk ke Patong Beach mengejar sunset. Ternyata sampai di Patong mataharinya tertutup awan. Yaaa… tapi masih bisa menikmati semburat senja hari di Patong yang menyenangkan. Suasananya cukup ramai di pantai ini tapi ga berdesakan karena pantainya memang sangat luas dan panjang.

Afternoon @Patong beach

Senja @Patong beach

Banzaan Market

Malam harinya, kami mau makan di Banzaan Market. Banzaan Market merupakan pasar modern yang letaknya berseberangan dengan Jungceylon mall. Sangat terkenal dan disarankan oleh orang2 lokal Phuket. Kalau siang, pelataran parkirnya akan penuh dengan mobil. Namun di malam hari, tempat parkir berubah fungsi menjadi tenda2 yang menjual aneka makanan dan minuman.

banzaanDi bagian paling depan, ada tenda2 yang menjual sea food segar. Sistemnya kita pilih sendiri dan nanti akan diolah sesuai keinginan kita. Masalahnya, pada menu yang diperlihatkan kepada kami tidak ada harganya. Malah kami disodori kalkulator ! Maksudnya supaya kami tawar menawar dengan kalkulator. Wah, kalo kayak begini kami ga berani karena ga tau harga.

Akhirnya kami memilih tenda makanan lain yang lebih jelas dan ada harga makanannya. Pertama, kami mencoba Mango Sticky Rice, khas Thailand. Harganya 50 baht. Terdiri dari nasi ketan putih, potongan mangga manis dan sejenis santan cair yang manis. Rasanya ? Hm.. enak, buat yang doyan he..he.. Dari kami ber-4 yang doyan cuma Jeff saja sih. Paham dong 😉

Kemudian kami pergi ke samping gedung Banzaan Market ini. Ternyata di sana lebih banyak lagi tenda makanan. Macam2 dijual. Mulai dari makanan ringan, berbagai sate-sate an, hingga aneka paket nasi box murah meriah.

Kami berdua membeli dan mencicipi snack potato cake (20 baht), nasi ayam (50 baht) dan nasi kaki babi (60 baht). Wuaaah… enak, kenyang dan murah. Sedangkan JJ sempat beli coconut pancake (20 baht) dan sate babi (50 baht) dengan tusuk sate yang panjang. Jadi ingat waktu makan sate kambing pas trip di Terracota Warrior, Xian (2015). Selain itu mereka juga beli es krim kelapa (80 baht). Buah kelapa dibelah, air kelapanya dituang dalam gelas plastik. Buah kelapa yang sudah dibelah tadi dikerok, lalu di atas daging buah hasil kerokan itu dimasukkan es krim. Nanti bisa ditambahkan aneka topping yang disediakan. Menarik juga idenya.

banzaan-2

Pokoknya untuk makan enak dan harga murah, Banzaan Market adalah pilihan yang sangat tepat. Kami sempat masuk ke dalam gedung Banzaan Fresh Marketnya. Isinya los2 layaknya pasar modern di sini. Hanya saja pada malam hari, mayoritas sudah tutup. Yang masih buka adalah los buah yang menjajakan aneka buah tropis layaknya pasar di Indonesia. Ada juga yang menjual live seafood.

Day 4 – Phuket City Tour

Hari ini kesempatan terakhir untuk wisata di Phuket, karena besok pagi sudah harus pergi ke airport. Start jam 7.30 pagi, kami beli sosis di minimarket sebagai sarapan pagi dan lanjut jalan ke pantai Patong. Jeff asyik berenang dan Diana jalan2 basahin kaki di sepanjang garis pantai. Kali ini kami berdua saja. JJ punya acara sendiri dan kami janjian bertemu di Food Court Jungceylon jam 11.30 untuk makan siang bareng.

Morning time @Patong

Morning time @Patong

Asyik sekali deh menikmati Patong Beach saat pagi hari. Suasana nya sepi, santai sekali. Ini baru namanya pantai, hehe.. Apalagi setelah 2 hari kemarin berada di spot wisata turis yang ramainya ajubile. Setelah puas dan harus mengucapkan selamat tinggal pada pantai Patong, kami berjalan menuju Bangla Road. Penasaran, pagi2 jalanan ini seperti apa ya ?

Wah, ternyata cukup sulit menemukan Bangla Road karena jalanan ini sudah seperti jalan umum biasa saja yang dipenuhi kendaraan melintas. Rupanya hanya malam hari jalanan ini ditutup untuk kendaraan dan hanya bisa dilalui pejalan kaki. Tidak ada tanda-tanda aktivitas gemerlap malam. Deretan cafe2 sepanjang jalan yang semuanya tutup. Pedagang kaki lima berjualan biasa. Tuk-tuk pun beroperasi biasa.  Tidak terbayang, area ini langsung berubah total ketika malam hari.

Bangla Road pagi hari dengan tuk tuk khas Phuket

Bangla Road pagi hari dengan tuk tuk khas Phuket

Oya, tuk-tuk di Phuket memang bentuknya beda dengan tuk-tuk di Bangkok atau kota Thailand yang lain. Bukan roda 3 tapi roda 4. Bentuknya seperti mobil angkot biasa, hanya agak terbuka di bagian belakang. Jadi bukan motor. Bisa disewa seperti taksi, harganya silakan bernegosiasi sendiri.

Jam 11.30 kami dan JJ coba makanan Thai lagi di Jungceylon mall. Menu kali ini : Papaya salad (80 baht), Chicken Coconut Milk Soup (120 baht) dan Fried Rice Mango with Shrimp (150 baht). Bayarnya harus pakai kartu prepaid. Rasa makanannya cukup ‘menantang’ buat yang hobi kuliner he..he..

Lunch @Jungceylon

Lunch @Jungceylon

Di Thailand, mereka hobi mencampurkan nasi dengan buah. Kalo dengan nanas sih lumayan lah. Tapi dengan mangga ? Rasanya mending dimakan terpisah deh… agak kacau ya. Papaya salad nya sangat pedas. Ga terlalu doyan nih dari kami ber-4. Coconut soup nya enak banget ! Awalnya dikira seperti opor ayam, taunya terlihat seperti lodeh, dan ternyata rasanya malah seperti tom yum tapi gurih. Seru kan..

Private Phuket City Tour

Setelah makan, kami kembali ke hotel dan bersiap-siap untuk Phuket City Tour yang dimulai jam 1 siang. Untuk acara kali ini kami menyewa mobil yang bisa mengantarkan kami ber-4 kemana saja kami mau. Mau mulai jam berapa dan berakhir jam berapa pun terserah kami. Enak kan. Jadi lebih fleksibel karena kami maunya mulai siang dan tidak mau pergi ke pabrik madu, pabrik kacang mete, dsb.

Jam 1 siang, kami dijemput mobil travel yang sudah kami book sebelumnya. Kami menyerahkan secarik kertas berisi tempat2 yang ingin kami kunjungi. Sang supir merasa senang karena punya acuan dan dia segera membuat urut2an tempatnya berdasarkan lokasi. Kami tinggal duduk manis.

  1. Madunan

Dari hotel ke Madunan butuh waktu 30 menit saja. Tempat ini diminta oleh Jasmine yang mendapatkan info bahwa di sini menjual baju2 yang murah dengan kualitas yang baik karena tanpa sambungan. Ternyata tempat ini adalah tempat grosir yang terkenal di kalangan turis Asia, terutama Indonesia dan Malaysia. Bayangkan saja, semua harga baju dituliskan dalam baht, rupiah dan ringgit. Bahkan bisa dibayar dengan mata uang apa saja. Saat masuk, kami ditanya dari negara mana. Ketika dijawab Indonesia, maka sang petugas pun mulai menjelaskan dalam bahasa Indonesia. Astaga !!

madunan

Kelebihan tempat ini memang menjual kaos berkualitas bagus dengan harga yang cukup murah, berkisar 149-179 baht untuk kaos dewasa. Untuk anak lebih murah lagi. Selain itu jika beli 10 kaos maka gratis 1 kaos. Mantap !! Sementara untuk harga souvenir di sini menurut kami tergolong mahal bila dibandingkan dengan di tempat lain. Madunan di Phuket ini menyamakan dirinya dengan Joger di Bali, Dagadu di Jogja, dan Gurita di Bandung ! Lagi-lagi dibandingkan dengan outlet baju di Indonesia, haduuuh…

  1. Rang Hill View poin t / Phuket City viewpoint

Naik mobil 15 menit,sampailah kita di tempat selanjutnya. Ini adalah tempat yang harus dikunjungi untuk bisa melihat kota Phuket dan Chalong Bay dari ketinggian. Keren banget ! Ada pemandangan kota yang padat dan agak berantakan, tapi dikelilingi bukit, pantai dan lautan. Yang pasti, harus dilihat dengan mata kepala sendiri. Foto tidak bisa menggantikan pemandangan luas yang ditangkap mata.

phuket-viewpoint

  1. Phuket Old Town

Tujuan selanjutnya adalah ke kota tua. Naik mobil hanya 15 menit saja, yang susah cari parkirnya. Areanya tidak luas, jalan kaki 20 menit cukup untuk mengitari area ini. Deretan toko2 tua dengan arsitektur bangunan seperti pecinan.

old-town-2

old-town

Karena cuaca yang sangat panas, kami akhirnya tergoda untuk masuk salah satu bangunan modern ber-AC, yang menjual dessert dan beverage. Tempatnya memang sangat chic dan nyaman. Banyak interior yang fancy dipajang di dalam ruangan. Lembar menu nya sangat besar, melebihi meja makan nya, hehe.. Jadi seperti baca koran ini. Kami pesan shave ice pinneaple dan JJ pesan shaved ice duren. Keduanya khas Thailand.

dessert-old-town

Aaaah… segar sekali ! Kami bersantai sejenak sambil connect wifi yang gratis. Alhasil kami berada di Old Town ini selama hampir sejam. Wah, mesti buru2 nih. Masih banyak tempat yang mau dikunjungi.

  1. Wat Chalong

Berjarak 20 menit dari old town. Ini adalah temple Buddha yang sangat bagus dan megah. Arsitektur nya khas Thailand, dengan ujung menara yang meruncing. Wat artinya temple. Sedangkan Chalong adalah nama tempat dimana temple ini berada. Ada 1 bangunan utama yang besar, 3 tingkat. Di tiap lantai ada patung2 Buddha berwarna kuning emas dan tempat untuk sembahyang.

wat-1

Oya, untuk masuk ke temple ini kita harus berpakaian tertutup. Jika terlalu “seksi” maka petugas akan memberikan kain untuk menutupi bahu atau kaki yang terbuka. Seperti Jasmine yang diberikan kain sarung 😉 Kita pun harus melepaskan alas kaki selama berada di sini. Selain bangunan utama, ada beberapa bangunan lainnya. Alokasikan waktu sekitar 30-45 menit untuk menikmati kompleks temple cantik ini.

wat-2

  1. Big Buddha

Patung Buddha ini sebetulnya sudah terlihat dari area parkir Wat Chalong. Letaknya tidak jauh, tapi menanjak menaiki bukit. Butuh waktu sekitar 15 menit dengan mobil ke Big Buddha. Sama dengan Wat Chalong, di sini pun ada aturan mengenai pakaian yang tertutup karena sama2 tempat ibadah. Tempat ini ternyata masih dalam tahap pembangunan sejak tahun 2002. Astaga, ga kelar2 yah. Rupanya semua struktur dilapisi dengan potongan marmer putih kecil2 yang tentu saja rumit dan mahal. Makanya hingga sekarang mereka masih meminta donasi besar-besaran kepada para pengunjung.

buddha-1

Di luar patung Buddha yang memang sangat besar dan spektakuler ini, ada hal yang juga spektakuler dan tidak kami duga sebelumnya. Ternyata karena dibangun di ketinggian, maka pemandangan dari tempat ini sangatlah luas dan luar biasa. View seluas 360 derajat dan tepat di depan patung Buddha, kita bisa melihat hamparan pemandangan pantai, laut dan pulau yang kereeeeen dan cantiiiiik banget. Terharu banget lihat pemandangan menakjubkan ini. Sekali lagi, foto tidak bisa melukiskan keindahan pemandangan ini.

buddha-2

Jam 5 pm saat kami keluar dari Big Buddha dan menuju Promthep Cape untuk menikmati sunset, ternyata awan tebal dan hitam tiba2 mengepung. Tidak lama, hujan pun turun dengan derasnya. Yaaaa… bagaimana bisa melihat sunset ??!! Matahari nya saja sudah hilang. Padahal tadinya kami juga masih mau lihat 3 beach viewpoint, mengunjungi pantai Kata dan pantai Karon.

Back to Patong

Mau bagaimana lagi, kami pun akhirnya memutuskan untuk putar arah dan kembali ke hotel. Percuma diteruskan. Hujan turun sangat lebat disertai angin kencang. Perjalanan pulang membutuhkan waktu 1 jam. Kami pun lalu menuju Patong Otop Shopping Paradise kembali untuk cari makan malam. Yang paling dekat dengan hotel lah jadi favorit. Hujan sempat reda sebentar, namun saat kami duduk makan, hujan angin kembali melanda dengan deras. Wah, 3 hari panas akhirnya ditutup dengan hujan badai nih.

dinner-thai

Kami makan di resto yang paling penuh pengunjungnya. Untung kami masih dapat kursi terakhir. Menu makan malam kali ini adalah : Steam Fish with Lemon, Pinneapple Fried Rice, Curry Fried Rice dengan minuman fresh juice. Fresh seafood kali ini membuat harga makanan menjadi relative mahal. Total dinner kali ini 990 baht, untuk 4 orang. Ya, bolehlah menutup perjalanan dengan makan enak.

dinner-2

Selesai makan, JJ kembali belanja di Jungceylon mall, sedangkan kami berdua kembali ke hotel. Dalam perjalanan pulang ke hotel, kami mampir di mini market. Tanpa sengaja Jeff menemukan soft drink merk Fanta rasa semangka yang ga ada di sini. Rasanya lucu deh, unik.

Day 5 

Hari ini kami harus meninggalkan Phuket. Mobil datang jam 06.30 karena butuh waktu 1 jam untuk tiba di airport. Saat mau masuk terminal airport tempat check-in, kami harus melalui pemeriksaan metal detektor yang ketat sehingga menimbulkan antrian yang cukup panjang. Selain x-ray, hampir semua bagasi penumpang diminta untuk dibuka.

Setelah check-in dan mendapatkan boarding pass, kami bergegas antri lagi untuk melewati imigrasi, khawatir bakal lama seperti saat kami tiba di Phuket. Ternyata tidak seperti saat kami mendarat, petugas cukup banyak. Antri sekitar 30 menit deh. Mungkin karena masih pagi. Selesai melewati imigrasi, kami dan barang bawaan kembali dicek. Kami diminta masuk dan berdiri di tengah2 suatu mesin scanner berbentuk tabung dan diminta mengangkat tangan. Nanti pintunya akan berputar dan menscan tubuh kita. Canggih juga.

Seperti biasa, di dalam airport, banyak restoran dan toko souvenir. Tapi di sini barangnya mahal2. Jauh dengan harga di kota. Akhirnya kami hanya beli makanan dan minuman saja untuk menghabiskan uang baht kami. Gate pesawat kami ada di lantai bawah. Di situ ada 4 gate yang jarak antar pintunya berdekatan.  Alhasil ada penumpukan penumpang. Malahan ada beberapa pesawat delay sehingga gate2 di sini dipindah2 ke gate sampingnya dan seterusnya. Harus terus menerus cek perubahan info gate. Kami akhirnya bisa berangkat walau telat sekitar 30 menit dari jadwal seharusnya pk.10.40 waktu Thailand.

Transit Singapore

Untungnya tiba di Changi, tidak terlambat, pk.13.35 waktu setempat. Pesawatnya berarti ngebut di udara. Pesawat kami kembali ke Jakarta baru akan berangkat besok pagi. Jadi kami mau jalan2 keluar dari Changi. Agar tidak merepotkan, kami menitipkan bagasi kami di tempat penitipan bagasi yang ada di Changi. Tidak ada loker di sini, hanya ada tempat left bagage berupa ruangan tempat koper disimpan dan mengandalkan petugas untuk menjaganya.

Untuk titip koper, kami harus memperlihatkan passport kami, kemudian koper yang dititipkan juga ditimbang. Harga dihitung per koper ya. Koper kami beratnya kurang dari 10 kg, untuk durasi 24 jam (minimal) kena tarif SGD 3,21. Urusan titip bagasi beres, jadi kami ke pusat kota hanya membawa 1 ransel backpack.

Setelah keluar imigrasi, kami naik MRT ke station Farrer Park. Mau ke Mustafa Centre nih. Wah, ternyata saat kami keluar dari station Farrer Park, hujan turun sangat deras. Memang di bulan Desember, hujan sering menerpa Singapore. Untung bawa payung. Kami pun pergi menyeberangi jalan dan tiba di gedung Mustafa Centre. Perlu diketahui, Mustafa Centre punya 4 gedung dan buka 24 jam ! Isinya komplit. Segala ada dengan harga yang sangat miring. Ga heran saat kami tiba, banyak sekali pengunjungnya termasuk turis dari Indonesia.

Gathering with Suradji family

Gathering with Suradji family

Setelah selesai belanja, barulah kami merasa lapar karena belum makan siang. Kami bingung mau cari makan apa di area ini karena kebanyakan resto makanan India. Untungnya, tidak jauh dari situ ada Berseh Food Centre. Karena sudah sore, tidak banyak yang masih buka. Kami memutuskan untuk membeli nasi hainan ayam/babi dengan harga SGD.2,5. Murah, enak, banyak lagi porsinya. Mantap deh.

Selesai makan, kami berpisah jalan. JJ main ke Orchad Road, sementara kami mau mengunjungi salah satu sepupu Diana yang baru punya baby. Kebetulan keluarga mereka dari Indonesia juga kumpul di situ. Seru deh.

Malam hari, saat kami mau pulang ke Changi, sepupu kami menyarankan untuk naik bis saja daripada MRT. Ternyata di dekat apartemen mereka, ada halte bis. Kami naik bis no 27 yang menuju Changi. Lumayan nih, sambil lihat2 suasana kota Singapore. Kalo MRT kan di bawah tanah terus, hehe… Karena sudah malam, jalanan jauh lebih lengang. Perjalanan ke Changi ditempuh dalam waktu 30 menit. Saat tiba di Changi, bis menaikkan dan menurunkan penumpang mulai dari terminal 3, kemudian terminal 1 dan terakhir terminal 2.

Malam ini kami tidur di Changi sambil menunggu penerbangan kami esok hari. Seperti biasa, kami mencari tempat peristirahatan yang ada di pojokan terminal 2 ini. Lokasi tidur favorit kami di Changi adalah di terminal 2, sebrang Gate E11. Sama seperti saat kami harus menginap di Changi saat pergi ke Maldives (2015).

Day 5 + 1

Hari terakhir di tahun 2016 pun tiba. Kami berangkat dari Singapore pk.09.45 dan tiba di Jakarta pk.10.40. Aaah.. semuanya lancar. Begitu tiba di rumah, kami pun segera mencari makan siang. Kali ini cari INDONESIAN FOOD aaah… ada yang kangen sama tahu, tempe, karedok dan sambel cobek. Hahaha…

Epilog

Thailand punya zona waktu yang sama dengan Indonesia, jadi ga ada masalah penyesuaian waktu. Untuk kota Phuket dan area pantai Patong nya sendiri, kesan pertama adalah mirip banget dengan Indonesia. Haha.. Kabel listrik berjuntai malang melintang dimana2, agak seram sih liatnya. Muka orang2nya juga mirip. Yang beda adalah tulisan nya yang kruwel2 ga gerti dan kerapihan mereka dalam berlalu lintas. Tertib dan sopan, sabar banget nunggu giliran ketika misalnya u-turn. Hampir ga terdengar suara klakson selama kami di Phuket walaupun macet.

phuket-2Hamparan pantai di Phuket maupun pulau2 yang ada di sekitarnya, rasanya sih hampir sama dengan pulau-pulau di Indonesia. Bedanya menurut kami adalah faktor safety bagi yang suka berenang di laut. Di semua tempat wisata laut di Phuket, berenang hanya diijinkan di tempat yang dibatasi dengan tali pengaman. Di area ini ketinggian air laut sebatas leher orang dewasa. Jadi sangat aman, bahkan bagi yang tidak mahir berenang seperti kami. Selain itu, pembatas ini juga membedakan dengan area kapal lewat atau kegiatan watersport.

Area favorit kami adalah Maya Bay / Pulau Phi Phi kecil. Airnya hijau tosca dan bening berkilauan ditimpa matahari. Hamparan pantainya yag berupa teluk juga cantik sekali. Sayangnya kami datang pada saat high season dan dibatasi waktu karena ikut rombongan tour, sehingga sangat sulit menikmati dengan santai. Jika suatu saat bisa bermain di pantai ini secara private seperti gambaran di film The Beach, mungkin mau lagi deh ke sana. Tapi mungkinkah ?? Hmm…

Berkano melewati gua hingga sampai di area lagoon, juga merupakan pengalaman menakjubkan buat kami. Seru dan berkesan. Tapi kalo soal snorkeling sih… mending di Indonesia aja deh, hehe… banyak yang jauh lebih bangus. Jangan lewatkan acara favorit kami ber-4 selama di Phuket, yaitu Simon Cabaret show. Selain show nya memang keren banget, pemainnya yang ladyboy profesional betul-betul khas nya Thailand. Ga ada di negara lain.

Pengeluaran kami berdua selama 4 malam di Phuket sekitar 6 juta, termasuk hotel, makan, paket wisata, dsb. Cukup mahal untuk paket wisatanya dan harus pasrah jika kenyataan tidak sesuai janji di awal. Harus maklum karena agen yang jualan beda sama operator penyelenggaranya. Ya, lumayan lah untuk liburan akhir tahun yang seru. Tapi kalo boleh memilih, mending ke Phuket jangan pas high season sih 😉 *Tiba-tiba jadi pengen nyepi romantis lagi ke luar Asia nih*

Ada juga sarapan all you can eat antara hotel kami dengan Jungceylon mall. Harganya 100 baht, berlaku dari jam 7.30-10.00. Sangat layak dicoba, sayang kami taunya terlambat. Untuk harga fast food di Phuket tergolong mahal, untuk burger berkisar 120-180 baht. Lebih baik local food saja.

Kontak Puttachat –> Line : puttachat2499

Kontak SRC Travel –> phuketsrctravel.com, wa : +66.86270.7585

Satu hal lagi, kami mendapat kalimat yang SANGAT BERKESAN dan akan jadi kalimat favorit kami untuk ke depannya dari perjalanan ini.

fave

 

Kisah sebelumnya ada di Phuket part-1

Advertisements
Categories: 2015-2019, ASIA, Thailand | Tags: , , , , , , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Thailand-Phuket : 26-30 December 2016 (part 2)

  1. Femmi

    Mba mau tanya,untuk si putacat itu aman kan ya?kita bayar semua pas d hotel pas kita sampe ya ?trus trip nya gmn bagus kah service nya?
    Info nya lengkap banget terimakasih

    • Pengalaman saya sih aman karena pas bayar kan langsung tukar dengan semacam tiket paket nya. Kalo soal service nya agak sulit ya, karena dia hanya penghubung saja. Yang memberikan service nya yah pihak ketiga. Baca saja cerita kami di blog ini, harusnya cukup jelas.

We love your feedback !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: