Advertisements

Lombok : 21-24 April 2017

Prolog

Sebetulnya kami sudah pernah ke Lombok, bisa dilihat di buku “Pasangan Traveling” dan di trip Lombok tahun 2013. Di situlah kami mengenal mba Elly melalui couchsurfing. Dari kenalan, menginap di rumahnya, ternyata interaksi kami berlanjut. Mba Elly adalah salah satu orang yang men-support launching buku Pasangan Traveling dengan menyediakan door prize berupa 1 buah Mutiara Lombok dan 2 voucher menginap gratis di Sembalun, di penginapan yang dikelolanya saat ini. Wow ! Baik banget mbak yang satu ini ya..

Kami sendiri belum pernah ke Sembalun, yang dinobatkan sebagai Destinasi Honeymoon Halal terbaik di dunia tahun 2016. Sembalun merupakan salah satu tempat awal pendakian ke Gunung Rinjani. Jadi ketika mba Elly mengundang kami untuk datang ke sana, tentu kami menyambut dengan senang hati. Kami memanfaatkan libur hari Senin sehingga bisa dapat long weekend tanpa harus cuti. Berangkat Jumat sore dan pulang Senin malam. Pengaturan perjalanan kedua kami ke Lombok tentunya dengan tempat dan aktivitas yang berbeda dengan trip pertama di 2013. 

Tiba di Sendok Hotel Senggigi

Day 1
Sulit mendapatkan tiket pesawat promo ke Lombok di saat long weekend, harga terbaik yang bisa kami dapatkan adalah dengan Lion Air seharga Rp.1.924.000 pp per orang. Ya sudahlah, memang antara harga dan waktu biasanya berbanding terbalik. Kalo waktunya oke harganya kurang oke, kalo harganya oke waktunya kurang oke. Wajarlah. Kami berangkat Jumat sore pk. 17.35 dari Jakarta dan tiba di Lombok pada pk.20.30 waktu setempat. Ingat ya, Lombok masuk WITA (Waktu Indonesia Tengah) jadi ada selisih waktu 1 jam dengan Jakarta. Kali ini Lion Air tepat waktu. Bagus !

Dari bandara kami naik bus DAMRI ke hotel di Senggigi seharga 35 ribu per orang. Kali ini kami menginap di Sendok Hotel. Murah meriah, hanya 332 ribu semalam dengan fasilitas AC.

Hotelnya unik dan menarik, bergaya rumah di Jawa tempo doeloe dengan sentuhan patung Bali. Hotel ini adalah salah satu dari grup Sendok yang ada di Bali. Kamar kami berada paling dalam, sederhana, tapi cukup lega untuk beristirahat. Malam ini ternyata ada beberapa cafe dekat hotel yang masih ramai dengan turis berjoget. Sudah mulai mirip Bali nih.

Day 2

Pagi ini kami mau menjelajah pantai Senggigi dari sisi yang berbeda. Jika dahulu kami menikmati Sengigi dari area Pantai Batu Bolong, sekarang yang dekat pelabuhan Senggigi.

Pantai Senggigi

Ternyata tetap tidak bertemu yang katanya “white sandy beach“, malah area pantai di sini cukup kecil dan dipenuhi oleh perahu. Lebih luas dan lebih bisa bermain di area pantai Batu Bolong yang dulu nih. Kami melihat banyak rute yang ditawarkan dari pelabuhan Senggigi ini, termasuk ke Gili.

Kami kembali ke hotel untuk sarapan di pinggir pool, sambil menikmati suasana hotel yang asri. Aah, sayang tidak sempat mencoba kolam renang yang kelihatannya asyik Kami memesan paket Snorkeling dengan private boat dari Lombok Society. Awalnya kami tertarik dengan paket snorkeling yang menawarkan kapal kapasitas 16 orang, dengan harga 200 ribu saja per orang. Sebab umumnya paket snorkeling ditawarkan dengan harga 100 ribu per orang, namun diangkut dengan kapal kapasitas 50 orang. Ga banget deh buat kami. Yang ada ikannya keburu kabur semua kedatangan segitu banyak orang. Itu baru 1 kapal loh, belum kapal2 lainnya.

Private Boat ke Gili Trawangan

Ternyata selain paket boat 16 orang itu, ada juga paket private boat dengan harga 1 juta rupiah per boat isi 2 orang. Wah, menarik nih. Artinya bisa ke spot mana saja sesuai keinginan kita dan menyepi dari keramaian seperti di Bunaken, bisa baca di trip Manado-Bunaken (2016). Nah, harga itu jika berangkat dari Gili Trawangan. Jika mau dijemput pagi dari hotel Senggigi, langsung naik boat dari pelabuhan kecinan, sampai diantarkan lagi ke hotel sorenya, perlu tambah 500 ribu rupiah per mobil. Oke, no problem. Untuk menyingkat waktu dan menghemat tenaga, kami pilih yang nyaman saja, biar beda sensasi sama yang dulu lewat Bangsal.

Kami minta dijemput pk.08.30 namun ternyata jam 8 sudah ada supir yang datang ke hotel. Wah, kami masih sarapan nih. Oke, layanan yang bagus, sudah tiba sebelum waktunya. Setelah check-out, kami pun diantar ke pelabuhan Kecinan, tempat boat charteran yang posisinya sebelum Bangsal. Katanya lebih dekat untuk menuju Gili. Kapal kami sesuai yang ada di website Lombok Society, warna coklat kayu yang teduh dan nyaman. Merupakan glass bottom boat, ada kaca nya di bagian bawah untuk lihat bawah laut tanpa basah2an.

Agenda private boat ini sebetulnya menuju Gili Trawangan dahulu, supaya penumpangnya bisa jalan2 menikmati pulau ini. Namun karena kami sudah pernah, kami skip saja. Langsung menuju spot snorkeling di area Gili Trawangan. Di perjalanan kami sempat melihat ada kelompok orang yang sedang yoga di atas papan selancar. Aiiih… keren amat.

Tiba di spot snorkeling, ternyata belum ada kapal lain di situ. Rupanya masih pagi. Rombongan snorkeling yang lain belum berangkat kali ya. Kami pun langsung nyebur dan menjajal alam bawah laut di sini. Hm.. terumbu karang nya sudah mati, tidak ada yang bagus. Tapi ikannya lumayan menarik. Ada yang aneh2, ini yang kami cari, hehe.. termasuk box fish yang kami jumpai saat snorkeling di Bunaken.

Sayang foto2nya kurang jernih, karena lautnya biru dan kebanyakan ikan berada di kedalaman. Padahal matahari bersinar terik sampai kulit kami pun gosong dan perih.

Di sini juga kami bisa menemui gerombolan ikan besar yang berenang bersama-sama, serta beraneka ragam ikan yang berkumpul di satu lokasi untuk mencari makan di antara bebatuan dan karang di dasar laut. Cukup menyenangkan snorkeling di spot ini.

Setelah puas, kami pun lanjut ke spot kedua, yaitu Gili Meno. Di sini kami tidak mampir ke pulaunya, hanya untuk snorkeling saja di tempat yang katanya merupakan tempat penyu.

Snorkeling Gili Meno

Sayang sekali, setelah lebih dari setengah jam snorkeling, kami tidak bertemu satu penyu pun. Padahal awak kapal kami bilang dia lihat ada 1 penyu tadi dari atas kapal. Ah, kami tidak beruntung. Pas dicari ga ketemu. Waktu di Bunaken ga dicari malah lihat beberapa penyu. Ya sudahlah.

Relatif tidak ada yang menarik di bawah laut sini. Cuma dataran landai berpasir dan beberapa ikan saja. Kami bertemu beberapa orang diver di sini. Rupanya di sini adalah tempat orang belajar diving.

Entah karena lelah atau masuk angin atau ombak yang besar atau tekanan air laut, tapi kali ini setelah snorkeling 2 spot kami merasa agak mual. Jadi kami meminta awak kapal untuk berlabuh dulu di Gili Air. Kami mau santai2 istirahat dulu sejenak sambil makan siang.

Gili Air

Dari tempat kapal mendarat, kami jalan ke kiri menyusuri jalan. Panas menyengat. Sangat mirip dengan saat dulu di Gili Trawangan. Aah, coba jalan di pantainya saja sambil menyegarkan kaki di air laut. Ternyata pemandangan pantai di sini sangaaaaat indah !! Kami langsung jatuh hati dan merasa ini lebih keren lagi dari Gili Trawangan karena selain indah juga suasana nya sepi. Romantis, mirip Maldives ! Coba saja bandingkan dengan foto Maldives trip (2015).

Pantai dan laut yang keren banget

Air lautnya biru hijau bening. Pasirnya putih. Betul-betul bisa lupa daratan ini sih. Kami terus berjalan menyusuri pantai dan menemukan spot yang menarik. Ada hammock dan ayunan di tengah laut. Asyiiik…

Hammock nya lumayan tinggi, agak susah nih naiknya. Ukuran bule kali ya, hehe.. Jadi main ayunan nya saja deh. Ayunan ini ternyata dipasang oleh salah satu restoran yang ada di pantai, namanya Gili Lumbung. Pintar juga ya cara menarik pengunjung nya. Kami salah satu yang akhirnya tertarik untuk makan di situ karena pemandangannya keren dan tempatnya asik buat bersantai.

Ada pancuran tempat basuh badan di depan resto, ada free wifi juga, sangat berguna. Kira-kira satu jam lebih kami bersantai tidur-tiduran sambil makan di bale-bale yang disediakan. Rasanya ga pengen balik kalo udah begini, pengen liburan terus.

Santai menikmati view

Ok, sudah segar sekarang. Semangat lagi untuk menyelesaikan rute snorkeling hari ini. Tinggal 1 spot lagi, yang letaknya ternyata tidak jauh dari pantai di Gili Air. Kapal kami berhenti di tempat yang cukup ramai kapal lainnya. Banyak juga nih yang snorkeling. Saat kami nyemplung ke air, langsung bisa merasakan perbedaannya dengan spot snorkeling lainnya.

Di sini banyak penanaman terumbu karang baru. Artinya masyarakat mulai menyadari pentingnya terumbu karang untuk kelestarian ikan-ikan ya. Betul saja, kami menemui banyak jenis ikan yang menarik, termasuk salah satunya picasso trigger fish yang cantik dan bibirnya dower itu, seperti yang pernah kami temui di Maldives. Ketemu juga ikan biru-kuning yang besarnya selengan. Keren !

Tapi selain ikan yang cantik, ternyata kami juga berhadapan dengan banyak sampah rumput laut serta sampah plastik di permukaan air. Cukup mengganggu sih, jadinya harus menyibak benda-benda ini dulu dengan tangan atau bakalan ada yang nyangkut di muka kita. Haduuh… sayang banget.

Ada kesamaan dari semua spot snorkeling di area Gili ini, yaitu banyak bertemu dengan ikan yang badannya panjang. Awalnya kami kira seperti belut/eel, tapi ternyata bukan. Rupanya ikan julung-julung. Adanya di dekat dasar laut. Lalu tidak ada bintang laut yang kami temukan dan coralnya tidak bagus, alias hampir semuanya mati.

Setelah spot snorkeling terakhir di Gili Air, kami pun langsung kembali ke pelabuhan Kecinan. Dari situ kami dijemput dengan mobil dan mengantarkan kami kembali ke hotel Sendok. Cara ini cukup efektif untuk menyingkat waktu, jam 3.30 pm kami sudah tiba di hotel.

Karena sudah check out, kami tidak bisa kembali ke kamar untuk mandi, tapi kami bisa memanfaatkan toilet untuk sekedar bersih-bersih dan ganti baju. Jam 4.30 pm driver dari Rinjani Garden pun datang. Butuh waktu 3,5 jam perjalanan dari Senggigi ke Sembalun.

Masjid Mataram & Nyongkolan

Kami sempat melewati kota Mataram, melihat masjid Hubbul Wathan Islamic Center yang sangat megah dan iring-iringan pawai di pinggir jalan. Rupanya itu pawai “nyongkolan” yang merupakan tradisi lokal Lombok. Sepasang pengantin baru diarak beramai-ramai menuju kediaman sang pengantin wanita. Iringan anak-anak ada di depan sekitar 20 orang, lalu di belakangnya ada pengantin wanita dipayungin dan berjalan bersama para wanita sekitar 20 orang, lalu di belakangnya ada pengantin pria dipayungin dan berjalan bersama dengan para pria sekitar 20 orang juga. Paling belakang ada iringan keyboard dan gitar berjalan beserta speaker besarnya, seru banget.

Setelah melewati area kota, kami pun memasuki area hutan namun beraspal mulus. Perjalanan panjang yang meliuk-liuk tajam dan naik turun membuat Diana agak mual. Karena itu kami meminta mobil berhenti dahulu sebentar supaya kami bisa menghirup udara segar di luar dan berganti posisi, Diana pindah ke kursi depan samping pengemudi.

Mobil pun berhenti dan kami keluar. Tanpa diduga, suasana di luar mobil gelap gulita. Tidak ada penerangan sama sekali, hingga Jeff menyalakan senter dari handphone se kedar untuk bisa berjalan dan melihat sekeliling. Begitu kami mendongak ke atas, astagaaaa….. kami terdiam dan berdecak kagum. Luar biasa !! Di langit bertaburan ratusan bahkan mungkin ribuan bintang berkelap-kelip dengan sangat indah. Wow. Rasa mual dan lelah pun hilang seketika. Kami berdua sibuk mendongak dan terpesona dengan apa yang kami saksikan.

Biasanya kami hanya melihat beberapa bintang atau puluhan bintang, tapi tersebar letaknya di langit. Kalo yang ini sangat berbeda. Semua bintang itu letaknya berdekatan dan memenuhi langit. Sayang, kami tidak bisa mengabadikan fenomena alam ini dengan kamera. Jadi puas-puasin deh dengan kamera buatan Tuhan, alias indera mata kami. Menurut driver, tempat kami berhenti namanya daerah “Pusuk” yang artinya “puncak”.

Setelah beristirahat sekitar 10 menit, kami pun kembali naik ke mobil. Tidak sampai 20 menit, kami sudah tiba di Rinjani Garden, tempat kami menginap. Wah, ramai sekali. Rupanya ada rombongan menginap, sekitar 100 orang. Mereka sedang makan malam dan mengadakan acara di taman.

Kami masuk kamar, mandi dan setelah itu ke ruang makan. Makan malam sudah disediakan untuk kami berdua. Ada sate pusut, sate ikan, sate udang, ikan acar kuning, dan sayuran bersantan. Porsinya sangat banyak untuk ukuran kami berdua. Nikmat sekali. Tidak lama kami makan, pemilik resort pun datang. Aaah… mba Elly menyambut kami. Sudah 4 tahun berlalu sejak pertemuan kami pertama kali dengan beliau. Senang sekali bisa bertemu lagi.

Setelah makan, kami diajak berkeliling resort di tengah kegelapan malam. Dan fenomena bintang bertaburan itu pun kembali menghiasi langit di atas kami. Bahkan kali ini kami bisa mengamati dengan lebih santai dan lebih lama. Ada milky way.. yang bentuknya seperti kabut, tampak jelas di langit. Aaah, baru kali ini kami melihat milky way secara langsung. Kereeeeen…. Eits, tiba-tiba Jeff melihat bintang jatuh. Sampai kucek-kucek mata, ini betulan ya ? Kata mba Elly, fenomena bintang jatuh cukup sering terjadi. Iyalah, bintangnya sebanyak itu, pasti ada yah yang suka jatoh, hehe..

Betapa kita hanya bagian kecil dari alam semesta ini. Betapa luar biasanya Tuhan yang menciptakan seluruh alam beserta isinya. How Great Thou Art !

Day 3

Gunung Rinjani depan resort

Bangun pagi, keluar kamar, kami pun baru menyadari pemandangan dan suasana di area resort. Semalam kan gelap, jadi tidak terlalu nampak. Ternyata asri sekali dengan gunung yang mengelilingi resort. Dari Rinjani Garden, kami bisa melihat bukit Pergasingan dan gunung Rinjani dengan jelas. Tapi situasi ini hanya ketika langit cerah dan tidak berlangsung lama. Ketika agak siang, awan mulai bergerak sehingga gunung dan bukit ini tertutup awan.

Bukit Pergasingan ini bentuknya sangat menarik. Berwarnda hijau pekat dan berulir, unik sekali. Banyak orang yang mendaki bukit ini untuk melihat matahari terbit. Jalan mendaki sekitar 3 jam, artinya perlu berangkat sekitar jam 2 atau 3 pagi. Wow… niat banget yah.

Setelah sarapan sambil menikmati suasana pagi di Rinjani Garden, kami pun naik mobil untuk jalan2 ke area Sembalun. Sudah ada staf Rinjani Garden yang siap mengantar. Jalannya sama dengan perjalanan semalam kami menuju Rinjani Garden. Jika semalam sangat gelap tidak bisa melihat apa-apa, sekarang kami bisa melihat dengan jelas pemandangan yang ada di kanan kiri jalan. Ada bentangan perbukitan, persawahan, lahan pertanian dan perkebunan milik warga lokal serta beberapa masjid dengan kubah yang cantik. Selepas itu, barulah kita memasuki kawasan hutan yang banyak monyetnya di kanan kiri jalan. Mereka mencoba meminta makan kepada setiap kendaraan yang lewat.

Perjalanan semakin menanjak dan jalannya berliku-liku. Butuh skill tinggi nih buat nyetir di sini. Kalo orang lokal di sini, biasanya membunyikan klakson berkali-kali jika mendekati tikungan untuk memperingatkan kendaraan dari arah berlawanan. Tuh kan, bener. Ada satu kendaraan minibus tidak kuat menanjak dan nyangkut di tengah jalan. Terpaksa harus dibantu oleh driver kami yang berpengalaman.

Hati Sembalun

Pertama-tama kami diajak ke area photo spot yang baru saja dibuat oleh pemuda lokal Sembalun. Ada bingkai bunga berbentuk hati dengan latar belakang pemandangan alam yang menawan. Silakan ber-sesi foto dengan berapa pun banyak gaya, bayarnya Rp. 5.000. Tidak ada karcis, berikan saja ke pemuda lokal yang berjaga di situ. Ada property berupa bunga dan papan bertulisan yang bisa kita pegang saat berfoto. Macam2 deh tulisannya, ada yang “siap dilamar”, “baru lulus sarjana”, “baru putus cinta”, “sembalun hits”, “dsb.

Selesai dari situ, kami menuju ke Taman Wisata Pusuk Sembalun. Ini tempat yang sama dengan semalam kami berhenti istirahat sejenak. Ada tempat untuk foto di anjungan kayu, berlokasi di luar Taman Wisata Pusuk. Pemandangannya sama dengan nanti di dalam taman wisata.

Sembalun view

Karena ini hari Minggu, maka tempat ini penuh dengan pengunjung. Bayar masuk Rp. 2.000,- per orang tanpa karcis dan diserahkan kepada penjaga di situ. Tempat ini pun termasuk baru. Di sini, pengunjung bisa menikmati pemandangan alam pegunungan serta melihat monyet dari jarak dekat.

Banyak sekali monyet yang keluar dari hutan dan mencoba meminta makanan kepada pengunjung. Biasanya mereka suka mengejutkan pengunjung yang membawa makanan, sehingga pengunjung tersebut takut dan melemparkan makananan/minuman yang dipegangnya. Habis itu sang monyet pun dengan santai mengambilnya. Haha..

Taman Wisata Pusuk Sembalun

Ada beberapa penjual makanan juga di pinggir jalan, rata-rata menjual cilok. Bentuknya memang mirip dengan cilok yang makanan khas Sunda, tetapi orang lokal tidak tahu bahwa cilok adalah makanan khas Sunda dan merupakan singkatan dari bahasa Sunda “aci dicolok”, artinya makanan dari tepung kanji yang kemudian ditusuk dengan tusuk sate dan dicocol dengan semacam saus kacang. Mereka pikir itu jajanan lokal yang diberi nama cilok oleh si penjualnya.

Selanjutnya kami diajak ke bukit Selong. Berupa gundukan tanah tinggi yang sudah diberi pijakan tangga kayu. Naiknya pun mudah dan cepat. Tiket masuknya Rp. 3.000,- per orang dan Rp. 5.000,- per mobil. Lagi-lagi tanpa karcis namun kami diminta mengisi buku tamu ala kadarnya. Dari atas bukit Selong, kami bisa melihat bukit Pergasingan. Hati-hati ya jika mau berfoto, di sini banyak kotoran sapi, hehe.. ada yang saking asyiknya mundur2 bergaya akhirnya kena ranjau deh.

View Bukit Pergasingan & Desa Beleq dari atas Bukit Selong

Di sini ada juga desa tradisional Sasak yaitu desa Beleq. Oleh masyarakat setempat, desa ini dianggap sebagai awal mula adanya daerah Sembalun. Kita bisa masuk ke rumah adat tersebut, tapi di dalamnya tidak ada apa-apa.

Di area tempat parkir, ada hutan bambu milik penduduk lokal. Suasana nya mirip bamboo groove di Arashiyama, Kyoto. Bisa lihat di Japan trip (2014). Namun sayang, kondisinya tidak ditata dengan baik. Padahal bagus lho untuk spot foto.

Kami pun kembali ke hotel untuk istirahat dan mengambil makan siang. Kali ini kami diberikan lunch box berupa 5 buah hotdog. Bisa mengatur sendiri mau makan di resort atau di perjalanan. Makan dulu sedikit deh, nanti lanjut lagi di jalan. Sekitar jam 2 siang, kami diantar menuju ke air terjun Dewi Selendang. Tidak ada tempat parkir dan keramaian saat kami datang. Hanya ada tanda papan air terjun Dewi Selendang di pinggir jalan.

Kami turun dari mobil dan dipandu oleh staf Rinjani Garden untuk berjalan memasuki area hutan. Awalnya cukup mudah karena jalanan cukup landai. Namun ternyata perjalanan ini lebih mirip hiking daripada sekedar menuju air terjun. Kami harus jalan menurun melalui jalan setapak yang tidak terlalu jelas dan berpasir. Kaki perlu menahan karena bisa terpeleset dan terperosok. Setelah berpanas-panasan dan hampir 30 menit jalan ke bawah, akhirnya tibalah kami di aliran sungai yang airnya tidak terlalu deras.

Untuk menuju air terjun Dewi Selendang, kita harus menyeberangi sungai ini. Ketinggian air sungai kira-kira sebetis. Kami cukup beruntung karena air sungainya tidak terlalu tinggi. Jika air sungai tinggi dan deras, tidak aman untuk bisa menyeberangi sungai dan tentu tidak bisa mendekati air terjun tersebut. Setelah itu kami kemudian berjalan ke arah hulu sungai lewat batu-batu di pingir sungai. Akhirnya tibalah kami di air terjun Dewi Selendang. Suasananya yang sejuk menggantikan kelelahan dan perjalanan yang menguras keringat.

Air Terjun Dewi Selendang

Selesai berfoto dan menikmati air terjun, dimulailah perjalanan pulang yang jauh lebih berat daripada tadi turunnya. Kami sempat beberapa kali berhenti dan minum air, karena memang jalurnya yang menanjak dan menantang di tengah terik panas matahari. Pantas saja dikasi picnic lunch, sampai mobil perut langsung menagih sisa hotdog yang belum dihabiskan. Selesai sudah acara jalan-jalan sore ini, kami pun kembali ke resort.

Di sore yang teduh, kami coba jalan kaki di area sekitar hotel. Sepi dan jarang ada orang. Kami pun  lanjut tidur2an di hammock yang terpasang di area taman resort. Santai melihat pemandangan, ngobrol dan juga minum teh hangat. Liburan yang menyenangkan.

Suasana Rinjani Garden

Malam hari, kami makan malam dengan menu sate ikan, sate pusut, ayam goreng dan ikan asam manis. Sedap. Rencananya sehabis makan malam kami mau menikmati bintang dan milky way lagi,  namun alam berkehendak lain. Langit gelap pekat, rupanya berawan, tidak ada satupun bintang yang terlihat di angkasa. Ditunggu-tunggu, malah mulai gerimis. Ya, kita memang tidak bisa mengatur alam. Bersyukur kemarin malam kami sudah diberikan kesempatan untuk menyaksikan pemandangan spektakuler yang tidak mungkin ditemukan di langit Jakarta.

Day 4

Pagi hari, kami berjalan mendekati Gunung Rinjani. Ah, jelas sekali. Kami berfoto terakhir kali dengan latar belakang gunung Rinjani. Kami menikmati suasana pagi yang sangat relax dan segar. Rasanya sangat menyenangkan dan ingin lebih lama berada di sini.

Gunung Rinjani

Selesai makan pagi, kami masih sempat bersantai dahulu di resort. Jam 10, barulah kami jalan ke Mataram bersama mba Elly dan 2 temannya. Kali ini perjalanan sekitar 2,5 jam.

Ayam Taliwang, Sate, Nasi campur ayam

Di mataram, kami mau makan ayam taliwang, makanan khas nya Lombok. Dulu kami makan di hotel dan di ariport, sekarang mau yang asli di kotanya aah. Taliwang merupakan salah satu nama desa yang ada di Mataram. Jadi ada satu jalan yang banyak sekali penjual ayam taliwang. Yang membedakan adalah bumbunya. Kami diajak ke salah satu restoran ayam taliwang yang merupakan pelopornya. Bukan di daerah Taliwang, melainkan di daerah Cakranegara.  Namanya rumah makan “Taliwang”.

Menu ayam taliwangnya ada yang dibakar dan ada juga yang digoreng. Kami coba keduanya. Pesan juga plecing kangkung dan sate sumsum yang lembut banget teksturnya. Mba Elly dan kedua temannya memesan nasi campur ayam. Untuk dessert ada puding santan yang dicampur dengan gula merah.

Selesai menikmati ayam taliwang, kami pergi beli souvenir. Yang pertama kami pergi ke pabrik Phoenix, salah satu produsen makanan. Tokonya ada di beberapa lokasi di Mataram. Produk unggulannya adalah dodol rumput laut aneka rasa dengan berbagai ukuran kemasan sehingga memudahkan kita untuk membawanya.

Yang kedua, kami pergi ke jalan di belakang Mataram Mall. Di kedua sisi jalan tsb, banyak toko souvenir. Salah satu souvenir yang terkenal dari Lombok adalah mutiara. Mutiara ada 2 macam, ada mutiara air laut yang harganya cukup mahal (tergantung berat dan model, seperti layaknya beli emas perhiasan), dan ada juga mutiara air tawar yang harganya cukup murah. Ada juga toko baju, selain kaos khas Lombok pada umumnya, sekarang Jeff punya kebiasaan cari batik lokal saat wisata domestik, seperti dulu mencari batik khas Manado, lihat trip Manado (2016). Di Lombok, namanya batik Sasambo dan Jeff memilih motif uma lengge (gambar rumah lumbung, rumah kubah berbentuk kerucut khas Lombok).

Urusan souvenir beres. Sekarang waktunya jalan2 lagi. Tujuan kami adalah ke pantai area Lombok Selatan. Perjalanannya cukup jauh, namun ternyata sekarang ada by pass yang baru saja diresmikan sehingga kita bisa memotong waktu perjalanan cukup banyak jika dibandingkan menggunakan jalur lama.

Area pantai Lombok selatan (Tanjung Aan, Kuta, dsb) masuk dalam area Mandalika dan merupakan 1 dari 10 kawasan wisata yang dikembangkan oleh pemerintah. Sekarang sudah jauh lebih banyak warung makan, hotel, dan fasilitas wisatawan lainnya jika dibandingkan 4 tahun lalu kami ke sini. Turisnya juga jauh lebih banyak, baik domestik maupun asing.

Bukit Seger & view dari atas

Mba Elly mengajak kami naik ke bukit Seger yang letaknya tidak jauh dari Hotel Novotel. Cuaca panas terik saat kami tiba di kaki bukit. Untuk naik ke atas bukit, ternyata cukup menarik dan menantang. Tidak ada jalur resmi dan permanen, jadi kita mencari jalan sendiri berdasarkan pijakan2 berupa tanah atau batu. Buat yang suka panjat memanjat seru nih. Hasilnya pun spektakuler.

Tiba di atas puncak bukit, kami bisa melihat bentangan laut yang luas dan sangat biru. Kami pun bisa melihat pantai hotel Novotel yang berupa teluk. Wah betah banget nih mata melihat pemandangan dari sini. Betul-betul jadi seger…. Tapi hati2 ya, di atas bukit tempatnya tidak terlalu luas. Kita harus berbagi dengan pengunjung lain. Menuruni bukit Seger pun menjadi pengalaman menarik dan menantang, sama seperti tadi menaikinya. Perlu hati-hati agar tidak terpeleset dan terperosok.

Perjalanan menuju Batu Payung

Kami melanjutkan perjalanan ke spot berikutnya, yaitu Batu Payung. Lokasinya tidak jauh dari bukit Seger. Ada 2 cara untuk mencapai lokasi ini, naik sampan berbayar atau memutar dan berjalan kaki dari belakang. Cara kedua gratis namun hanya bisa ditempuh saat laut sedang surut.

Batu Payung adalah objek wisata dengan bentuk batu yang unik dan menjulang tinggi di tepian pantai di balik bukit. Saat kami tiba, sudah banyak turis di sana. Namun selain mereka, banyak juga orang dewasa dan anak kecil yang menawarkan jasa memotret. Ternyata mereka bisa membantu wisatawan mengambil foto (tentu saja kamera sendiri) dengan gaya dan pose menarik, memanfaatkan keberadaan batu unik tersebut. Tentu saja ada tarifnya. Beberapa orang dewasa lainnya menjual kelapa muda. Karena kurang laku dibandingkan jasa foto, maka mereka sempat menawarkan untuk beli kelapa muda dan nanti dapat gratis foto. Kreatif juga.

Langit sudah mulai gelap. Kami harus meninggalkan lokasi Batu Payung karena air laut mulai naik dan kami harus segera ke airport. Di dekat airport, kami mampir makan malam di RM Cahaya yang menjual Nasi Balap Puyung. Puyung juga merupakan nama salah satu desa yang ada di Lombok. Rasanya enak ! Murah lagi.. cuma 10 ribu seporsi. Kalo tambah sepotong ayam kampung juga cuma 16 ribu. Begini penampakannya :

Nasi Balap Puyung

Usai sudah liburan kami di Lombok. Kali ini penerbangan Lion delay satu jam. Cukup waktu untuk melihat-lihat lagi foto kami selama liburan dan bersyukur kami mengalami cuaca yang baik selama liburan kali ini. Sampai jumpa di liburan berikutnya ya…

Epilog

Untuk perjalanan kali ini, kami mengeluarkan biaya untuk pesawat, hotel Sendok di Senggigi, charter boat 3 gili + antar jemput, transport mobil Rinjani Garden, serta makan di Mataram. Total sekitar 7 juta untuk berdua. Sedangkan penginapan selama 2 malam di Rinjani Garden dan makan selama di Sembalun digratiskan oleh mba Elly… waaah, terima kasih banyak mba. Kapan-kapan main ke Jakarta dan Bandung yuk mba, gantian kami yang traktir.

Kali ini kami betul-betul melihat wajah Lombok yang lebih lengkap. Dunia bawah laut, pantai, kota, bukit hingga gunung. Komplit ! Apalagi jika dinikmati bersama pasangan, aaah… betul-betul liburan yang menyenangkan.

Untuk paket snorkeling 3 gili bisa kontak Lombok Society di WA : 0818-0577-3339

Untuk urusan Rinjani Garden, Sembalun, tanya2 soal Lombok atau konsultasi soal mutiara, bisa kontak mba Elly di WA : 0895-2954-5553. Beliau memang studi khusus tentang mutiara, jadi bisa tanya sama ahlinya biar tidak tertipu 😉

Rinjani Garden pada tahun 2013 pernah dijadikan tempat menginapnya kru film Leher Angsa, sebuah film produksi Alenia Pictures dengan sutradara Ari Sihasale. Mereka tinggal di Sembalun selama 1 bulan lebih sampai-sampai staf Rinjani Garden sangat akrab dengan para artisnya, termasuk bang Ale dan mba Nia.

Bagi yang berminat untuk naik ke Gunung Rinjani, perlu menyediakan waktu 2-3 hari untuk naik dan camping di Gunung. Bisa start dari Sembalun, Rinjani Garden sudah biasa menghandle kegiatan naik Rinjani ini. Untuk menginap di Rinjani Garden, dapat juga memesannya melalui booking.com maupun traveloka

Kesimpulannya : Buat yang belum pernah ke Lombok, harus segera menjadwalkan liburannya ke Lombok. Menikmati Gili sih sudah pasti ya, tapi jangan lupa juga mampir ke perbukitan/gunung. Kita akan mendapatkan suasana yang berbeda. Apalagi yang mau liat langit penuh bintang berdesakan, bintang jatuh dan milky way ? Sempatkan menginap 2 malam di Sembalun. Suasana yang sejuk dan asri akan membuat kita melupakan sejenak pekerjaan dan kesibukan di kota besar. Welcome… to the paradise !

Advertisements
Categories: 2015-2019, ASIA, INDONESIA, Lombok | Tags: , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

We love your feedback !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: