Bangka : 26-30 Desember 2022 (part 1)

Prolog

Kali ini kami ingin liburan akhir tahun yang santai saja di dalam negeri, pilihan jatuh pada Pulau Bangka. Tetangganya, Pulau Belitung, memang lebih terkenal sebagai tempat wisata. Tapi kami sudah pernah trip ke Belitung (2015) bersama keluarga Diana. Sekarang giliran ke Bangka karena Jeff belum pernah. Diana sendiri pernah ke sini udah lama waktu tahun 1996 dan kesannya positif (makanan enak, pantai bagus).

Oke, kami dapat tiket Garuda di harga 2 juta untuk pp/orang. Kode bandaranya Pangkalpinang ya, kalo Tanjung Pandan itu kode bandaranya Belitung, jangan salah. Nama bandaranya sendiri di Bangka ini Depati Amir. Karena Garuda tidak tiap hari ada rute Jakarta-Pangkalpinang dan hanya ada di pagi hari, makanya mesti atur2 itinerary. Jadilah kami pergi tgl.26 Des pagi dan pulang tgl.30 Des pagi. Walau kelihatannya lama 5 hari, tapi efektif jalan2 nya hanya 3,5 hari sebetulnya.

Perjalanan dengan Garuda Indonesia untuk liburan ke Bangka

Rutenya menginap 1 malam di Pantai Parai (Parai Beach Resort), 1 malam di Tanjung Pesona (Tanjung Pesona Beach Resort) dan 2 malam di kota Pangkalpinang (Swiss-Belhotel). Untuk Parai harganya beragam, tergantung posisi kamar dari pantai. Makin dekat pantai makin mahal, yang paling depan itu harganya 700 ribu/malam. Ini bisa booking langsung ke hotelnya. Untuk Tanjung Pesona kami booking lewat tiket.com, harganya 544 ribu/malam yang view laut. Sementara Swissbel kami booking langsung ke hotel, pakai promo BCA, dapat di harga 660 rb/malam. Semuanya sudah include breakfast nih.

Untuk transportasi kami rental mobil+driver untuk 3 hari pertama di Gallery Trans Bangka dengan harga 450 rb/hari untuk Toyota Avanza. Belum termasuk bensin, makan supir (50 rb per hari), dan tips. Yang ini tinggal reservasi online saja, pembayaran nanti belakangan sesudah pemakaian. Mantap ! Mengenai transport, di kota Pangkalpinang cukup banyak grab car (belum ada gocar). Namun di luar pangkalpinang memang tidak ada, sehingga harus punya kendaraan sendiri atau sewa mobil.

Day 1 (Parai Beach)

Berangkat dari terminal 3 Soekarno Hatta, kami check in di counter Garuda dan mendapatkan Personal Health Kit yang terdiri dari 1 masker dan 1 kantong tissue basah untuk setiap orangnya. Pesawat kami sempat mengalami beberapa kali turbulence yang cukup keras di perjalanan. Rupanya banyak awan nih. Perjalanan sekitar 1 jam, kami sudah mendarat di kota Pangkalpinang, yang merupakan ibukota propinsi Babel (Bangka-Belitung). Bandaranya kecil sehingga tidak terlalu lama menunggu bagasi keluar.

Karena sewa mobil, maka kami dijemput di bandara oleh driver kami, pak Ihsan. Beliau akan menjadi driver kami selama 3 hari ke depan. Dari bandara kami langsung menuju restaurant seafood Mr. Adox. Lokasinya sangat dekat dengan bandara, tidak sampai 10 menit. Tempatnya luas sekali dan bisa menampung banyak tamu.

Enak banget ! Sangat disarankan !

Karena kami hanya berdua, tidak bisa pesan seafood yang porsi besar. Maka kami memilih lempah nanas (lempah kuning pake nanas) ikan tenggiri (porsi setengah ikan) dan 1 porsi cumi goreng asam. Dua2nya sangat enak ! Diana sampai makan 3 piring nasi di sini, luar biasa. Lempah kuning ini khas Bangka. Cuminya juga besar dan sangat lembut, tidak alot saat digigit. Lempah kuning ini mirip dengan masakan gangan yang khas Belitung.

Setelah puas makan siang, kami lanjut ke Bangka Botanical Garden. Tempat ini dikelola oleh swasta dan ada peternakan sapi perahnya. Ada spot foto bagus seperti trip kami di Nami Island, Korea Selatan. Ada juga tempat kuliner dan tempat duduk2 di seputar danau. Masuknya gratis, jadi jika sekalian lewat tidak ada salahnya mampir. Namun memang tidak ada yang istimewa di sini.

Bangka Botanical Garden & Pantai Pasir Padi

Tidak jauh dari Bangka Botanical Garden, ada Pantai Pasir Padi yang merupakan pantai paling dekat dengan kota Pangkalpinang. Untuk masuk bayar parkir Rp. 4.000,- per mobil. Saat kami datang, cuaca mendung dan angin kencang. Gelombang air laut juga tinggi hingga naik ke daratan dan mencapai jalanan. Pantainya lumayan sih buat main2, tapi tidak terlalu bersih ya.

Di perjalanan, ada Puri Tri Agung. Driver kami yang menunjukkan dan menawarkan untuk mampir. Walaupun namanya Puri, tapi ini adalah tempat peribadatan umat Buddha. Letaknya di atas bukit sehingga kita bisa melihat laut dari kejauhan. Kami tidak masuk ke dalam tempat ibadahnya, tapi sangat menikmati pemandangan laut yang bagus dari atas bukit.

Tempat ibadah umat Buddha

Dari sini, kami menuju Parai Beach Resort, tempat kami menginap malam ini. Lokasinya ada di Sungai Liat. Perjalanannya kurang lebih sekitar 1 jam dan menyusuri pantai. Seperti menyusuri pantai Carita dan Anyer kalo mau menuju Tanjung Lesung gitu deh. Jalanannya mulus dan sangat sepi. Jarang sekali berpapasan dengan mobil lain.

SUNGAI LIAT

Sebelum sampai di Parai, kami mampir ke Puri Ansell, sebuah tempat penginapan yang terletak di pantai Tongaci. Masuknya harus melalui kompleks perumahan. Saat kami datang, sepi tidak ada pengunjung. Pantainya panjang, bersih dan bagus menurut kami. Bentuk bungalownya juga menarik, seperti nya cukup baru dan terawat. Selain pemandangan pantai, ada juga danau yang terletak di bagian bungalow. Sama seperti di Pantai Pasir Padi, ombak di sini besar sehingga tidak bisa berenang.

Puri Ansell

Akhirnya kami tiba di Parai Beach Resort. Ini hotel lama dan Diana dahulu pernah menginap di sini bersama orang tuanya. Letak kamar kami cukup jauh dari receptionist, melewati banyak undakan turun tangga dan kami harus membawa barang bawaan sendiri. Tiba di kamar pun, ternyata belum tersedia air mineral botol yang biasanya disediakan gratis, sehingga kami harus request menggunakan whatsapp. Di kamar tidak tersedia telpon.

Kamar kami di Parai Beach Resort

Kamar memiliki ruang tamu dan kamar mandi yang luas. Terdapat shower dan bath tub. Hanya saja fasilitas di kamar banyak bermasalah. Mulai dari TV yang harus disetting ulang oleh teknisi, air shower tidak bisa distel air dingin-hanya air panas-tidak juga bisa hangat (resiko kulit melepuh), air bathtub kuning keruh, hingga tangkai flush kloset tidak ada dan teknisi tidak bisa berbuat apa2.

Sebenarnya orang hotel cukup sigap dalam merespon masalah2 tsb di atas, tapi ada banyak hal yang tidak ada solusinya. Agak bingung saja, bagaimana dengan tamu sebelum kami ya ? Apa memang kamar ini sudah lama tidak difungsikan ? Mengingat posisi kamar kami di pojokan (no.110). Namun karena sebelumnya sudah baca review yang memang kurang positif dari sebelumnya, jadi kami tidak berharap banyak sih menghadapi kondisi2 hotel tua seperti ini.

Parai Beach yang cantik

Kami kemudian jalan2 ke sekitar area resort. Depan kamar kami sudah langsung pantai. Karena lokasinya di teluk, ombaknya tidak terlalu tinggi seperti di pantai2 sebelumnya, Tapi yang pasti angin di sini bertiup sangat kencang. Pantainya terawat, bersih, bagus dengan bebatuan khas Bangka. Selain tamu hotel, banyak juga wisatawan lokal yang main ke sini, baik main di pantainya, maupun ke kolam renangnya. Nah buat yang tidak menginap, harus bayar Rp.25.000,- per orang untuk bisa menikmati fasilitas resort.

Resort dan pantai Parai ini letaknya cukup terpencil, tidak ada restoran dekat hotel kecuali restoran di dalam hotel sendiri. Jadi kami harus pergi ke pusat kota Sungailiat nya, yang tadi sempat kami lewati saat menuju Parai. Naik mobil sekitar 15 menit perjalanan . Snack sore dulu di Tung Tau, kedai kopi yang terkenal di Bangka. Yang di Sungailiat ini adalah kedai pertama yang sudah berdiri sejak tahun 1938.

Kedai Kopi Tungtau yang pertama di Sungailiat

Kami pesan roti panggang selai srikaya, kwetiauw goreng sapi dan kopi susu. Uniknya untuk harga minuman kopi, teh dan susu ada 2 harga, 1 cangkir dan setengah cangkir. Padahal cangkirnya kecil banget dan harganya ga jauh beda. Jadi mending yang 1 cangkir saja. Saat kami datang, banyak tamu lain yang merupakan warga lokal. Rupanya ini sudah menjadi tradisi puluhan tahun sejak tambang timah dan kedai kopi berdampingan menjadi tempat ngobrol bagi para pekerja tambang timah.

Tampilan roti panggang di sini berbeda dengan yang pernah kami makan, kulit rotinya mengkilat, disajikan di atas talenan kayu mini bertuliskan Tung Tau. Rasanya enak, perlu dicoba buat yag datang ke Bangka. Kopi susunya dikasi tambahan kue semprong. Kedai kopi ini juga menjual kopi bubuk Tung Tau dan kue semprongnya secara terpisah. Selain di Sungailiat, Tung Tau juga punya beberapa cabang di Pangkalpinang bahkan termasuk di bandara Depati Amir. Kedai kopi Tung Tau hanya ada di Bangka saja. Sementara kedai kopi Kong Djie yang terkenal di Belitung, sudah buka franchise hingga Jabodetabek.

Rumah Makan Liong Ki (Non Halal)

Hanya sekitar 5 menit dari Tung Tau, kami mampir ke restoran Liong Ki. Ini restoran menyajikan seafood dan chinese food non halal. Restoran Liong Ki ini juga ada cabang di Gading Serpong dan Green Lake. Tempatnya luas dan ada taman dalam restoran. Tetapi saat kami datang, hanya kami berdua tamunya dari awal kami makan sampai selesai makan, sepi banget.

Di sini kami memesan sate babi dan lempah bakut. Rasa makanannya enak banget ! Tapi cukup kaget dengan harganya untuk ukuran kota kecil seperti Sungailiat. Kayanya malah lebih mahal daripada di Tangerang nih. Sudah kenyang sekarang. Saatnya kembali ke hotel. Perjalanan kembali sudah gelap dan sepi. Di resort pun angin bertiup kencang sehingga membuat kami buru2 masuk kamar.

Day 2 (Belinyu & Tanjung Pesona)

Pagi ini, tidak ada sunrise yang bisa dilihat karena awannya cukup tebal. Angin masih bertiup kencang dan ombak juga besar. Kami sarapan di restoran menghadap laut yang terletak dekat kolam renang. Untuk makanan dan minumannya lumayanlah, ada pilihan dan cukup enak. Yang menarik adalah adanya telur rebus siap makan yang ada di deretan buffet.

Sebenarnya kolam renangnya cukup luas dan menarik, apalagi tidak boleh berenang di laut kan. Kami sempat meminta handuk untuk berenang namun ternyata tidak disediakan. Harus pakai handuk kamar yang punya kami sudah basah dipakai dari kemarin. Pihak hotel juga tidak bisa memberikan yang baru. Ya sudahlah, kami tidak jadi berenang, langsung check-out saja.

BELINYU

Jaraknya sekitar 1 jam perjalanan dari Sungailiat dengan kondisi jalanan yang mulus dan sepi. Awas ngantuk ya. Kami ke Belinyu karena memang ada waktu kosong saja. Jika waktu terbatas sebaiknya skip saja, karena kalo sudah sampai Belinyu, kita tidak bisa ke mana2 lagi, harus kembali ke Sungailiat.

Pantai Batu Dinding, Belinyu, yang lautnya lagi pasang

Belinyu merupakan kota kecil, namun memiliki beberapa pantai. Pantai yang kami datangi pertama adalah Pantai Batu Dinding. Kami parkir di atas bukit, lalu jalan kaki turun bukit. Ternyata saat kami datang, laut sedang pasang, jadi pantainya semua tertutup air laut. Yang bisa ditemukan di sini adalah bebatuan besar dan tinggi. Pemandangannya juga bagus dari atas bukit.

Pantai Putat, Belinyu

Kami lalu diajak ke pantai Putat, sekitar 10 menit dari pantai Batu Dinding. Di sini tidak ada pasir pantainya, hanya tepian air laut saja. Banyak warga lokal yang bersantai di saung2 yang tersedia, gratis. Ada juga pedagang makanan di sini. Pemandangan di pantai ini dihiasi dengan batu2 berukuran sedang hingga besar. Di sini juga ada masjid apung Al Kautsar.

Untuk makan siang, kami makan otak otak Afung yang terkenal. Terletak di jalan utama kota Belinyu. Pernah direview oleh salah satu food vlogger terkenal, Nex Carlos beberapa tahun yang lalu.

Otak Otak Belinyu yang memang terkenal enak !

Di sini ada 3 jenis menu yaitu : otak otak panggang kulit ikan (warna agak gelap), otak otak panggang daging ikan (yang standar kita biasa makan) dan otak otak rebus daging ikan (ini mirip empek2 lenjer). Nanti bayar sesuai dengan jumlah yang dimakan. Harganya Rp.2500,- per pcs. Untuk cocolannya ada 3 pilihan : saos bumbu terasi, saos bumbu tauco dan saos sambal. Tidak ada saos bumbu kacang ya di sini.

Ini cocolannya enak bangeeet. Yang terasi dan tauco tidak pedas jadi Diana suka. Khas Bangka banget, karena ga ada lagi di tempat lain nih. Jeff suka banget otak otak kulit ikan nya, ini juga ga ada di tempat lain. Makan siang kenyang enak murah kali ini, sip !

Goa Maria Belinyu

Setelah makan, kami jalan kaki menyeberang ke kompleks sekolah Santo Yosef Belinyu. Di dalam kompleks sekolah ini terdapat Goa Maria Bunda Segala Bangsa yang menjadi tujuan wisata rohani di Belinyu ini.

Dari Belinyu, kami balik arah kembali ke Sungailiat dan menuju hotel Tanjung Pesona. Tanjung Pesona ini lokasinya di antara Parai dan Pangkalpinang. Jadi seandainya tidak ke Belinyu, maka rutenya sudah enak tuh dari Parai turun ke Tanjung Pesona turun lagi ke Pangkalpinang.

Tanjung Pesona

Sebelum ke Tanjung Pesona Resort, kami mampir dulu ke pantai Rambak. Bayar Rp.6.000,- per mobil. Di sini pantainya bagus dan bersih. Enak juga untuk main2 atau bersantai.

Pantai Rambak yang cantik

Nah, karena masih ada waktu, kami terusin ke Pantai Tikus Emas. Ini sebetulnya terletak setelah Tanjung Pesona Beach, tapi ga jauh juga sih. Sekalian aja biar beres main2 pantainya. Tiket masuknya Rp. 5.000,- per orang. Di pantai Tikus Emas ini, fasilitas rekreasinya sangat lengkap jika dibandingkan dengan pantai2 lain yang kami kunjungi. Ada fasilitas water sportnya juga. Namun dengan angin kencang dan ombak yang besar, sepertinya saat kami datang tidak ada yang berani bermain di laut ya.

Pantai Tikus Emas yang luas dan dikelola dengan baik

Pantai di sini sangat luas dan bersih. Bisa betah bersantai di sini lama2. Buat anak2 juga banyak tersedia permainan untuk keluarga. Katanya pantai ini memang pusat keramaian setiap kali ada acara. Contohnya untuk malam tahun baru, pantai ini menghadirkan hiburan besar-besaran untuk menarik pengunjung.

Dahulu ada seorang bernama Bun Ten Fu yang menjadi penduduk pertama pantai ini. Karena dia gesit dan lincah, maka dijuluki san lo chu atau tikus hutan. Maka pantainya dikenal dengan nama pantai tikus. Pantai tikus ini terbentang dari Tanjung Pesona hingga ke depan Puri Tri Agung, jadi untuk membedakan, khusus area ini ditambahkan kata emas. Itulah sejarah nama pantai tikus emas.

Kamar di Tanjung Pesona

Kemudian kami check-in di Tanjung Pesona Beach Resort. Kamar kami tidak jauh dari receptionist. Dari teras kamar, viewnya pantai dan laut dari atas bukit. Fasilitas kamar cukup lengkap dan berfungsi baik. Hanya penerangannya agak kurang karena ada beberapa lampu yang mati dan disengaja untuk penghematan, demikian penjelasan staf hotel.

Di sini disediakan welcome drink di restoran mereka. Pilihannya minuman teh, kopi atau sirup. Lumayan lah buat bersantai sore hari. Area resort cukup luas dan berada di ketinggian bukit, jadi bisa jalan2 berkeliling sambil lihat view pantai dan laut di bawah.

Pantai Tanjung Pesona yang cantik

Sore hari, kami memakai sepatu pantai dan main2 ke pantainya. Seperti biasa, ombaknya tinggi dan disertai angin kencang. Awan mendung tapi tidak gerimis jadi kami masih bisa tetap menikmati pantai indah ini. Ada batu besar yang warna hitam legam di sini, berbeda dari batu besar yang biasa kami jumpai. Batuan di sini jauh lebih banyak dan besar2 daripada di Parai, jadi keseruannya justru adalah mendaki batu2 ini dan duduk di atasnya.

Restoran Kembang Katis

Di kompleks Tanjung Pesona ini ada 2 penginapan : Tanjung Pesona Beach Resort dan Pesona Bay. Selain itu ada juga restoran Kembang Katis yang terletak di antara 2 penginapan ini. Jadi untuk makan malam, kami ke resto ini saja. Restoran ini bernuansa rumah kuno/jadul namun sudah dibuat modern dan menyenangkan. Saat kami datang, hanya kami tamu di restoran ini, sepi. Tempatnya luas, banyak area makan yang terpisah-pisah jadi bisa pilih tempat. Banyak barang2 kuno yang menjadi dekorasi di sini.

Makanan Resto Kembang Katis.
Harus coba lempah Iga Daun Kedondong (kiri bawah).

Di sini kami memesan menu lempah iga daun kedondong dan ikan bakar kerisi. Ternyata ikan kerisi adalah ikan ekor kuning, ini rasanya biasa saja. Tapi lempah iga nya juara, uenaaaak. Walau semua resto di Bangka punya menu lempah, tapi rasa lempahnya beda2 loh. Ada yang lebih kental, lebih spicy, lebih asam, macem2. Dapat gratis asinan buah segar (foto kiri atas).

Selesai makan, masih pesan dessert roti bakar keju coklat (foto kanan atas) untuk makan di tempat dan jumput pisang (foto kanan bawah) untuk snack di hotel. Jumput pisang ternyata pisang yang dicampur dengan adonan tepung terigu kemudian digoreng. Mirip pisang goreng sebenarnya namun ini tekstur pisangnya sudah sangat lembut. Makannya dicocol dengan susu kental manis

Toilet unik di Kembang Katis

Jika ke sini, jangan lupa singgah di toiletnya ya. Baik yang cowo maupun cewe. Diana sempat kaget pas buka pintu ke bilik toiletnya, kirain di dalam ada cowo. Haduuuh… untung ga serangan jantung. Kata petugasnya sih, sering pada teriak dari toilet cewe memang. Ya iyalah, lagian stikernya ngagetin gitu. Kalo di toilet cowo kayanya sih aman ya, malah pada senang tuh diliatin cewek, haha..

Day 3 (Pangkalpinang)

Pagi ini saat ke restoran untuk sarapan, kondisinya makanannya sudah tidak lengkap. Beberapa sudah habis dan harus menunggu keluar lagi dari dapur. Ini pun menunggunya lamaaaaa. Secara umum menunya sangat sedikit, cukup untuk sarapan sederhana sebetulnya jika semua menunya lengkap. Restonya juga lumayan kecil, jadi penuh. Lagi2 kami menemukan menu telur rebus di buffet. Rupanya umum ya di hotel Bangka.

Area cottage ada di bukit (atas)

Kolam renang pagi ini sedang dibersihkan, jadi tidak bisa dipakai. Kami pun check-out dan mampir dulu ke Pesona Bay. Pantainya beda, suasananya juga beda. Persamaannya hotel ini juga terletak di bukit, jadi ke pantainya harus turun. Pantainya lebih luas daripada Tanjung Pesona, lebih sedikit batu2nya. Mirip pantai Tongaci (Puri Ansell) dan pantai Rambak.

Pantai terakhir kami di Bangka

Kami menghabiskan waktu bersantai menikmati pantai ini dulu… karena ini adalah pantai terakhir kami di Bangka sebelum kami melanjutkan jalan2 kami ke ibukota Bangka yaitu Pangkalpinang.

Bersambung ke Bangka Trip Part 2

Categories: 2020-2024, INDONESIA, Sumatera | Tags: , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

We love your feedback !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: