Advertisements

Korea Selatan : 20-30 Oktober 2017 (part 4 – Nami Island, Garden of Morning Calm)

Lanjutan Day 7 : Cheongpyeong

Tiba di Chuncheon Bus Terminal, kami seharusnya pindah ke station subway untuk melanjutkan perjalanan dengan subway menuju Cheongpyeong station. Hanya karena kami tidak tahu di mana letak station subway nya, maka kami jalan kaki ke Gangwon-Do Tourist Information Center saja. Tadi sempat dilewati oleh bus.

Chuncheon

Jadi dari terminal bus, kami balik arah dan melewati kolong jembatan rel kereta. Seperti biasa ada brosur wisata dan petugas yang ramah berbahasa Inggris. Namun yang khas adalah nuansa film Winter Sonata, sebuah drama televisi 20 episode tahun 2002, yang disiarkan KBS TV dan sempat menjadi hits juga di Indonesia.

Film winter Sonata ini mengangkat pamor Nami Island yang masih masuk propinsi Gangwon-Do (satu propinsi dengan Seoraksan-Sokcho) sebagai salah satu tempat shootingnya. Di information center ini ada tempat berfoto dengan background Winter Sonata, ada foto2 artis pemeran nya dan ada tempat nonton film nya juga.

Setelah bertanya pada petugas, ternyata station subway berada pada jembatan kereta yang tadi kami lewati. Oke lah, kami pun balik lagi dan harus menyebrang jalan. Dari station Chuncheon, kami menuju Cheongpyeong station dengan bayar menggunakan T Money seperti di Seoul. Lama perjalanan kurang lebih 40 menit. Perjalanan subway ini semuanya di atas tanah. Melewati kota2 kecil dan desa. Pemandangannya cantik banget, terutama di Gapyeong yang merupakan station terdekat dengan Nami Island.

Kami menginap di Egg House Cheongpyeong. Sudah ada petunjuk jalan yang diberikan pemilik Egg House untuk mencapai hostel tersebut dari Cheongpyeong station. Mencarinya cukup seru, kayak main Treasure Hunt karena petunjuknya lucu2 : mencari rumah berbentuk jamur, melewati swimming pool mini, melewati lapangan basket, dst. Akhirnya ketemu juga. Yeay ! Jaraknya paling 5 menit jalan kaki dari station.

Tiba di hostel, kami langsung bertemu dengan pemiliknya, seorang wanita yang ramah. Untuk pembayarannya dia minta cash sebesar KRW 90.000 untuk 2 malam. Kamar kami ada balkon. Bisa lihat sungai yang airnya sangat bening hingga dasarnya terlihat. Di belakangnya ada deretan perbukitan dengan pepohonan warna warni yang sangat cantik. Ga salah deh menginap di sini. Kami memang suka area pedesaan dengan pemandangan alam dan sepi seperti ini.

Area sekitar hostel

Untuk makan malam, pemilik memberikan rekomendasi restoran Korean BBQ yang ada dekat hostel. Katanya sih enak banget dan terkenal di area ini. Ya udah, kita coba deh. Pilihannya di sini hanya ada daging iga sapi. Tidak ada yang lain. Harga per 1 kg adalah KRW 49.000, namun kami memilih yang 0,5 kg dengan harga KRW 27.000. Itu menu termurahnya, tapi buat kami sih mahal banget ya. Lalu ada tambahan lagi table fee sebesar KRW 2.000 per orang. Kami juga pesan tambahan nasi KRW 1.000 per porsi.

Restoran ini sangat ramai. Dagingnya sudah dibumbui oleh mereka. Tinggal dipanggang saja. Selain daging, disedikan juga selada, tauge, kimchi, bawang putih dan bawang bombay dengan soy souce. Ada juga cocolan saus untuk daging BBQ nya yang memang sangat enak, ada rasa tauco nya. Kami sempat dibantu oleh anak perempuan yang punya restoran ini bagaimana makan Korean BBQ. Dia satu2nya yang bisa bahasa Inggris di resto ini.

Daging besar awalnya dipanggang. Jika sudah kecoklatan, digunting menjadi lebih kecil2 dan diteruskan memanggang. Oh, rupanya membuat kematangan daging di tingkat medium well gitu, luarnya matang dalamnya masih empuk. Pinter ! Kalo di Jakarta kan ga ada yang pake acara gunting2 kalo Korean BBQ. Semua sudah dipotong2 dan tinggal dipanggang. Nah, kalo begini memang jadinya pasti well done semua dagingnya. Kurang juicy yah.

Dikasi gratis minum air putih dingin seperti biasa. Ternyata anak perempuan tadi pernah ke Jakarta tahun 2016 untuk urusan pekerjaan sehingga senang ketika tahu kami dari Jakarta, Indonesia dan bilang “apa kabar ?”. Haha.. menarik. Mamanya kemudian memberi kami bonus 1 botol lime soda (semacam sprite) gratis. Puas deh makan malam kali ini.

 

Day 8 : Nami Island, Garden of Morning Calm

Pagi ini kami jalan2 lagi ke sekitar hostel. Senang sekali berada di sini, udara segar dan dingin, pemandangannya cakep banget. Daun warna warni itu sesuatu banget yah, rasanya selalu gembira melihatnya. Keren banget ya Tuhan bisa menciptakan pohon yang daunnya bisa berubah warna pada musim gugur.

Area sekitar hostel

Balik hostel dan mau sarapan pagi ini, kok ga ada orang ya ? Tapi sudah ada sih roti dan mie instant nya. Ya sudah lah kami ambil saja dan dibawa. Nanti dimakan di jalan. Soalnya kami sudah harus berangkat nih, keburu ketinggalan bus. Hari ini tujuan kami adalah Nami Island dan The Garden of Morning Calm. Untuk itu bisa naik Gapyeong City Tour. Semacam shuttle Bus yang mengitari tempat2 wisata di Gapyeong dan sekitarnya. Ada 2 rute yang berbeda, dan ada juga time tablenya. Untuk lengkapnya silakan baca www.gptour.go.kr

Kami sudah siap2 di halte bus Cheongpyeong Station exit 2 jam 08.15 agar bisa ikut bis yang pertama jam 08.25. Tapi bis nya baru datang jam 08.45. Wah supirnya bangun kesiangan kayaknya. Ternyata di Korea bisa ngaret juga yah kayak di Indonesia, hehe.. maklum kota kecil kali. Harga tiket bus adalah KRW 6.000 per orang dan harus dibayar tunai. Berlaku untuk naik bis ini satu harian penuh. Nanti tinggal tunjukkan saja tiketnya, jadi ga boleh hilang. Mana tiket nya Cuma berupa potongan kertas kecil gini lagi. Haduh.

Perjalanan ke Nami hampir 1 jam. Jalanannya berliku2 dan cara supirnya nyetir bikin eneg. Sepertinya dia ngebut karena sudah telat tadi berangkatnya. Padahal rute bis ini jelas sekali jam2 stop di tiap tempat wisatanya. Diana hampir saja muntah. Sebelum tiba di Nami, ada penumpang bus yang turun di Petite France, salah satu tempat wisata yang terkenal. Kami tidak ke sini, karena kami kan sudah pernah ke Paris tahun 2012.

Shuttle bus menurunkan kami tepat di halte Nami Island. Astaga, puluhan bus tourist sudah berjejer parkir. Udah agak kesiangan nih sampe Nami hampir jam 10, gara2 bus nya telat.  Harga tiket masuknya KRW 8.000 per orang untuk turis dengan menunjukkan passport. Untuk orang lokalnya malah lebih mahal KRW 10.000. Harga tiket sudah termasuk naik ferry pulang pergi. Ada juga cara masuk ke Nami Island yang ekstrim, yaitu dengan zip wire atau semacam flying fox. Harganya juga ekstrim mahal yaitu KRW 38.000 dan antrinya juga ekstrim lama. Hihi… serba ekstrim deh pokoknya.

Go to Nami Island

Kami sih pilih yang gratis, aman, dan cepat saja, yaitu naik ferry. Di sepanjang pagar ferry, terpasang bendera2 dari berbagai negara termasuk Indonesia. Ga banyak kursi di dalam ferry, toh hanya sekitar 10 menit, sudah tiba di Nami Island.

Nami merupakan nama seorang jenderal, yaitu jenderal Nami. Dalam sejarah Korea, ia gugur dalam peperangan saat usia 26 tahun. Makamnya terletak tidak jauh dari pintu masuk pulau ini. Saat ini, Nami island ternyata dimiliki oleh perorangan dan bukan milik pemerintah. Karena itu mereka punya bendera sendiri, mata uang sendiri, passport sendiri dan bahkan polisi sendiri. Tapi hanya untuk fun loh ya, bukan untuk memberontak terhadap pemerintahan yang sah. Beda dengan Christiania Town, ‘kota’ dalam kota Copenhagen yang tidak mau tunduk pada aturan pemerintah setempat. Bisa baca di Copenhagen-Denmark trip.

Pulau ini sebenarnya tidak terlalu besar. Tidak perlu sewa sepeda untuk mengelilinginya, cukup berjalan kaki saja. Ternyata di sini sudah masuk puncaknya musim gugur. Jadi warna daun2 nya cakep buanget !! Mayoritas kuning dan merah. Ga heran di sini turis berburu pohon warna warni untuk foto.

Salah satu spot favorit yang paling penuh dengan turis adalah area Ginkgo Tree Lane. Barisan pohon tinggi warna kuning. Wah ini mah daerah yang ga pernah sepi dari turis buat foto2. Makin siang, makin rame. Hampir 30 menit kami di sini hanya buat foto2.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ada juga Maple Tree Lane. Nah, kalo yg ini tempatnya pohon warna merah dimana2. Pokoknya di Nami semua warna ada deh, dan itu lagi-lagi sangat menyenangkan.

Di Nami selain pohon yang ditata dengan apik, banyak juga terdapat benda-benda seni, hiasan, papan nama-nama negara, macem2 deh. Betul-betul dibuat untuk menarik wisatawan.

Abis dari situ, kami jalan2 ke ujung pulau. Nah, di sini lebih sepi.. jadi lebih santai kalo mau foto2. Wah, kegiatan kami di sini sepertinya berfoto terus. Ga bisa lihat pohon warna nganggur nih. Ada kebun sayur juga loh di sini, besar2 daun sayurnya.

Ujung pulau yang lebih sepi

Sempat ketemu sawah lengkap dengan orang2an sawah, kelinci, hal2 unik yang tadinya tidak terpikir ada di pulau wisata ini. 

Di beberapa spot, ada patung dan foto terkait momen2 paling romantis dan dramatis di beberapa episode Winter Sonata. Sebaiknya sebelum ke Nami Island nonton dulu deh film nya, biar ngerti ceritanya apa dan hubungannya sama snowball itu apa. Karena dimana2 souvenirnya snowball. Diana juga baru nonton film nya beberapa bulan sebelum berangkat kok. Lumayan lah, jadi ngerti itu patung siapa dan foto siapa aja yang dipajang, hehe..

Gara2 Winter Sonata juga, sepertinya pulau ini sengaja dibuat untuk menciptakan kesan romantis. Bahkan daun2 yang gugur dan berserakan di tanah pun, disapu dan dibentuk seperti hati oleh bapak tukang sapu.

Kami sempat beberapa kali bertemu tupai di sini. Bentuk dan warna bulunya berbeda dengan yang di Mt.Seorak. Yang di sana belang, yang di sini sih warna abu2 polos gitu dan lebih besar ukurannya. Banyak juga bertemu burung. Karena di sini banyak pohon seperti hutan, sehingga banyak satwa yang hidup senang di alam bebas ini.

Ada juga Metasequoia lane yang khas Nami Island. Batang yang kokoh dan tinggi. Daunnya memang berwarna hijau, jadi bukan berarti dia belum berubah warna ya. Di Nami ini banyak sekali deretan pohon di tempat yang berbeda-beda dengan jenis pohon yang berbeda juga. Makanya warnanya juga bisa beda-beda semua walaupun di musim yang sama.

Udah banyak jalan2, kami sempat jajan Fried Fish Cake , seperti otak2 ikan seharga KRW 3.000. Enak ! Banyak bunga2 dalam pot juga menghiasi beberapa tempat sehingga menambah semarak. Bentuk toilet di sini juga seru2 loh, nyeni banget. Ada yang bentuknya seperti kastil, ada yang dihiasai banyak potongan botol beling, macem2.

Rata2 orang setelah mendarat di Nami langsung belok kanan, karena memang di situ lah semua spot2 cantik yang biasa untuk foto2. Tapi kalo kita ke kiri juga menarik loh. Ada peternakan burung unta (ostrich) di sini. Lucu banget, gede2 lagi. Awas dipatok, hehe..Ada juga tempat shooting Winter Sonata yang adegan first kiss waktu bikin snowball itu.

Betul pepatah yang tertulis di pintu Nami Island : In Autumn, Nami Island is poetry. Di musim gugur, pulau Nami memang seperti puisi yang sangat indah dan romantis.

Dakgalbi khas chuncheon

Kami menghabiskan waktu sekitar 3 jam di Nami Island dan buat kami sih cukup. Saat kami pulang sekitar jam 1 siang, ternyata orang yang baru datang banyaknya ampun ampun. Untung aja kami udah beres foto2nya. Makan siang dulu deh di dekat parkiran Nami Island. Menurut host kami di Sokcho, makanan khas Chuncheon (tempat Nami Island berada) adalah Dakgalbi. Kami mencoba cari tempat makan yang agak kosong, karena rata2 antri. Nah, akhirnya ketemu yang semi outdoor.

Dakgalbi adalah daging ayam + sayur + saus yang dipanggang dan dicampur aduk seluruhnya sampai matang. Harga menu Dakgalbi di sini adalah KRW 24.000 sudah termasuk 2 nasi, free refill air putih dan aneka side dish seperti biasanya. Wah, pas datang ternyata hot plate nya gede banget nih. Adukannya juga gede, kaya centong nasi dari kayu berjumlah 2 buah. Jadi kami perlu mengaduk2 terus, dibolak balik gitu sampai semuanya matang dan tercampur rata.

Setelah kenyang, kami lanjut ke Garden of Morning Calm naik shuttle bus lagi. Kali ini antri panjang di halte karena sudah siang. Saat naik, jangan lupa tunjukkan tiket bus yang tadi pagi dibeli kepada supir agar tidak perlu bayar lagi.

Garden of Morning Calm

Sampai di Garden of Morning Calm, kami bayar tiket KRW 7.000 per orang. Harga normalnya KRW 9.000, tetapi karena kami menunjukkan kupon discount (bisa fisik maupun digital), makanya dapat harga lebih murah.

Garden of Morning Calm

Di sini, banyak sekali taman dengan tema yang berbeda2. Cantik karena taman dan perbukitan di sekitarnya berwarna warni. Jadi semaraknya bunga ditambah background pohon berwarna dan ditimpa sinar matahari. Keren !

 

 

 

 

 

 

 

 

Walaupun namanya Morning Calm, tapi datang ke sini siang menjelang sore hari menurut kami oke banget. Banyak pengunjung juga sudah mulai pulang, jadi suasananya nyaman. Lalu di area taman ini dipasang speaker2 yang menyuarakan lagu2 Korea dari drama2 romantisnya. Ada lagu winter sonata dan lagu2 lainnya yang mendayu2 bikin suasana jadi asik. Enak juga yah jalan2 di taman, sore2 menjelang sunset, sambil diiringi lagu.

Info lengkap tentang The Garden of Morning Calm silakan buka www.morningcalm.co.kr

 

 

 

 

 

 

 

 

Ada taman2 thematic, yang dibuat seperti taman2 di Inggris, Korea, dsb. Bunganya juga macam2 banget. Ada yang ditanam dalam rangkaian jadi menarik untuk dilihat. Ada juga yang bentuknya aneh seperti kembang kol, haha..

Selain bunga yang warna warni, ada juga berbagai macam pohon, termasuk pohon bonsai yang beraneka bentuk. Jalur perjalanan di taman ini bentuknya berbukit-bukit, menanjak dan menurun. Lalu ada jalur ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah, sehingga memang dibutuhkan peta untuk mengetahui posisi kita dan bagian mana yang belum dilihat.

Ada banyak tempat duduk dan anjungan kayu untuk menikmati pemandangan di taman ini. Ada ayunan berpita yang sepertinya merupakan bagian dari ikon drama korea juga. Ada banyak model jembatan juga di sini. Di bagian depan ada jembatan gantung yang cukup seru untuk dilewati.

Setelah 2 jam di sini, kami memutuskan untuk ikut shuttle bus jam 17.00. Bus terakhir sebenarnya jam 19.00, tapi rasanya sudah cukup lah jalan2 hari ini. Antri masuk busnya super panjang. Lebih parah dari di halte Nami. Masuk bus, tiket kami diambil oleh supir bus, rupanya karena sudah sore, jadi ga mungkin lagi terpakai karcisnya. Sepanjang jalan pulang ke Cheongpyeong Station, kami berdiri di bagian paling depan sebelah supir. Bus betul2 penuh sesak.

Tidak lama, sampailah kami di Cheongpyeong Station. Jeff jalan2 dulu muterin kota sementara Diana langsung balik ke hostel. Malam ini, kami makan mie instant Korea jatah sarapan tadi pagi. Sedap sekali makan mie panas di cuaca dingin seperti ini.

 

Day 9 : Biking, back to Seoul

Pagi ini kami sarapan roti dan mie instant bareng turis dari Swiss dan orang lokal Korea yang jago Inggris. Tumben nih pagi ini rame penghuni hostel pada sarapan. Pemilik hostel menambahkan apel yang sudah dipotong di meja, mungkin karena lihat banyak yang sarapan.

Selesai sarapan, kami meminjam sepeda pada pemilik hostel. Memang di hostel ini bisa gratis peminjaman sepeda. Rupanya sepeda yang dimaksud adalah milik pribadi keluarga pemilik hostel. Jadi ada 2 sepeda dewasa dan 2 sepeda anak. Di belakang hostel memang ada jalur khusus sepeda, menyusuri sungai dengan perbukitan yang cantik, melewati jembatan, melintasi hutan, seru deh tapi dingin banget.

Aaah… sudah saat nya check-out dan kembali ke Seoul. Kami pamitan dengan pemilik hostel. Dia sempat kaget karena kami cuma bawa masing2 1 ransel.  Kami jelaskan bahwa koper kami ditinggal di Seoul. Iyalah, repot banget jalan2 pindah kota naik bus kalo bawa koper. Dari Cheongpyeong station kami tinggal naik subway ke Seoul, sangat mudah.

Bersambung ke part 5 – Seoul (finished)

Kisah sebelumnya di part 3 (Mt.Seorak-Sokcho)

Advertisements
Categories: 2015-2019, ASIA, Korea Selatan | Tags: , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

We love your feedback !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: