Day 3 : Bukit Holbung, Taman Wisata Iman, Air terjun Efrata, Simalem Resort
Hari ketiga jadwal kami cukup padat, kami akan meninggalkan Samosir dan kembali ke daratan Sumatera tidak naik ferry tapi lewat jalur darat.
Bye Samosir Villa Resort
Setelah breakfast, kami check-out dan menuju jembatan Tano Ponggol. Satu2nya jembatan yang menghubungkan pulau Samosir dengan daratan Sumatera dan baru dibuka pertengahan tahun 2023 ini. Sebelum melintasi jembatan, kami sempat berfoto di depan gedung gereja HKBP Pangururan yang masih dalam tahap penyelesaian pembangunannya. Gedung gereja ini terlihat besar dan megah.
Setelah perjalanan kami Trip USA (Seattle & Alaska Cruise) bulan April kemarin, kami kembali jalan2 domestik bersama keluarga. Kami memanfaatkan libur panjang karena hari Kamis tanggal 1 Juni adalah hari libur nasional jadi menambah cuti di tanggal 2 dan tanggal 5. Destinasi yang kami pilih adalah danau Toba dan kota Medan di Sumatera Utara. Danau Toba merupakan 1 dari 5 Destinasi Super Prioritas yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreaktif (Kemenparekraf) Republik Indonesia. Empat lainnya adalah Borobudur, Likupang, Mandalika dan Labuan Bajo.
Sebenarnya jalan2 kali ini adalah inisiatif dari orang tuanya Diana yang pernah bekerja dan tinggal di Medan. Mereka ingin bernostalgia sekaligus mengajak Jeff yang belum pernah sama sekali ke Medan. Rute kami kali ini adalah masuk dari Silangit yang memiliki airport internasional yang terdekat dengan danau Toba. Kemudian kami akan menginap di beberapa tempat yang ada di pinggir danau Toba dan kemudian kami pulang ke Jakarta dari Medan. Hal ini kami pilih mengingat jarak dari Medan ke danau Toba bisa menempuh waktu 5 jam. Sementara jika dari Silangit, hanya sekitar 30 menit kita sudah bisa melihat danau Toba.
Hari ini kami tiba di Ketchikan yang menyebut dirinya sebagai “The Salmon Capital of The World”. Suhu di Ketchikan sekitar 8 derajat celcius dan cuaca diramalkan cerah. Sunrise pk.05.30 am dan sunset pk.08.01 pm. Jam di sini masih mengikuti jam Alaska, yaitu mundur 1 jam dari kota Seattle. Tiba jam 7 am dan punya waktu sampai maksimal pk.12.45 pm harus sudah balik di kapal. Jadi cuma sekitar 5 jam lebih di sini. Apalagi kami tibanya di port khusus NCL yang terletak di luar kota Ketchikan.
Dari port, kami melewati ruangan besar seperti bekas gudang yang isinya cafe dan penjualan souvenir. Keluar gedung tersebut, kami naik shuttle sekitar 15 menit ke pusat kota. Gratis dan banyak tersedia, tapi artinya waktu kami ga banyak untuk menjelajah Ketchikan.
Pk.7.00 am kami tiba di port kedua yaitu kota Skagway. Suhu di Skagway sekitar 7 derajat celcius dan cuaca diramalkan cloudy. Sunrise pk.05.37 am dan sunset pk.08.25 pm. Jam Skagway sama dengan Juneau, jadi mengikuti jam Alaska yaitu mundur 1 jam dari kota Seattle. Di kota ini kita punya waktu sampai pk.7.45 pm, sebelum harus naik lagi ke kapal. Jadi ini kota yang paling lama waktu berlabuhnya di sepanjang perjalanan cruise kami, seharian !
Skagway adalah kota kecil dengan jumlah penduduk tidak sampai 1.000 jiwa. Ketika cruise kami berlabuh, tentu saja kota ini mendadak menjadi ramai oleh ribuan tamu cruise. Di kota ini tidak banyak yang bisa dilihat karena benar2 kecil. Hanya ada rumah penduduk, toko2 souvenir, 1 bank dll. Jalan2 di kotanya ga sampe 1 jam pasti beres. Jadi sangat disarankan untuk ambil tour/excursion ke luar kota Skagway nya deh.
Pk.1.30 pm kami tiba di port pertama yaitu kota Juneau. Akhirnya bisa menyentuh daratan juga nih setelah sekian lama berlayar. Juneau merupakan ibu kota negara bagian Alaska, USA. Jangan bayangkan Juneau seperti kota besar dengan gedung tinggi ya. Ini Alaska, penduduknya sedikit, kotanya kecil dan dikelilingi pegunungan yang saat ini masih diliputi salju.
Suhu di Juneau sekitar 2-5 derajat celcius dan cuaca diramalkan cloudy. Sunrise pk.05.40 am dan sunset pk.08.15 pm. Jam di Juneau mundur 1 jam dari kota Seattle atau waktu di lautan kemarin. Informasi ini semua ada di booklet ya, jadi sudah memudahkan penumpang untuk adjust jam dan memperkirakan kostum yang mau dipakai. Di kota ini kita punya waktu sampai pk.10.30 pm, sebelum harus naik lagi ke kapal. Lumayan lama juga sih. Makanya untuk Juneau ini kami beli shore excursion dari kapal saja biar ga ribet. Ada 2 excursion yang kami pilih di Juneau ini : Goldbelt tram dan Mendenhall Glacier, yang tiketnya pas pertama sampai kamar di kapal sudah ada di atas ranjang itu.
Akhirnya tiba juga hari di mana kami akan berpetualang ke Alaska, salah satu negara bagian USA yang spektakuler pemandangan alamnya. Untuk tanggal liburan kami, hanya ada 1 cruise yang akan berlayar ke sana yaitu NCL Bliss. Cruise lain umumnya baru berlayar sekitar bukan Mei. NCL Bliss adalah salah satu cruise terbesar yang dimiliki oleh NCL dan didesain terutama untuk tujuan Alaska. Untuk naik cruise, kami berangkat dari Pier 66, tidak jauh dari Pike Place Market yang kami kunjungi kemarin.
Proses check-in dilakukan melalui apps dari jauh-jauh hari sebelumnya. Para penumpang diminta untuk mengisi rencana jam check-in. Check-in bisa dimulai dari jam 10.00 sampai jam 15.00 untuk keberangkatan kapal jam 17.00. Yang penuh duluan terisi adalah jadwal check-in yang paling awal. Rupanya penumpang ingin cepat2 naik kapal, supaya bisa segera menikmati fasilitas kapal. Setelah dipilih, nanti akan ada tag berwarna yang harus ditempelkan di koper atau tas bawaan kami. Warna tag tergantung jam check-in.
Selama di kapal, kami dapat jatah wifi gratis terbatas 150 menit per orang. Ini aksesnya juga dari apps. Nanti bisa ketauan sudah terpakai berapa banyak dan sisa berapa banyak jatah wifinya. Kami irit2 deh ini pakainya, gantian antara Jeff dan Diana untuk berkomunikasi dengan keluarga.
ITINERARY CRUISE
1. Seattle – 15 April
Di Pier 66 sudah ada tempat drop off khusus. Jadi mobil bisa menurunkan penumpang dan kopernya di situ. Nanti koper bisa langsung diletakkan di tempat drop bagasi, di situ juga banyak petugas yang siap membantu. Nantinya koper akan dikirim langsung ke kamar.
Hari ini kami mau mengunjungi Yosemite National Park (Bacanya Yosemiti/Yosemeti, bukan Yosemait/Yosemit). Yosemite ini lokasinya sangat luas. Harus bermalam sih di sini, kalo cuma lewat sayang banget karena ga bisa explore. Di Yosemite banyak sekali trail hiking, jadi kalo menginap semalam pun paling cuma bisa jalanin 1 jalur hiking (seperti kami). Pass masuk ke Yosemite ini USD.35 per mobil berlaku untuk 7 hari, sama seperti pass masuk Grand Canyon. Jadi mau cuma numpang lewat atau nginap 7 hari sama saja harganya.
Catatan : Untuk masuk Yosemite saat summer (20 May-30 September) harus booking dahulu ya. Ini aturan baru memang. Jadi ada pembatasan jumlah kendaraan yg masuk supaya ga terlalu penuh. Info lengkapnya silakan lihat di website https://www.nps.gov/yose/index.htm atau IG: yosemitenps
Pintu masuk Yosemite ini banyak, kami masuk melalui South Gate Entrance dari HWY 41. Kalo berangkat dari LA lebih dekat masuk lewat Pintu Selatan ini. Nanti kami akan keluar lewat Arch Rock Entrance menuju ke HWY 140, karena ini lebih dekat ke tempat menginap kami di El Portal dan juga ke San Francisco, kota tujuan kami selanjutnya.
Dalam perjalanan (melalui chat wa), teman Diana yang di San Francisco (Mr. Sutan) merekomendasikan satu tempat menarik yang tidak ada dalam itinerary kami, yaitu pabrik kismis merk Sun-Maid. Wah, ternyata kismis ini asalnya dari California dan lokasi pabriknya ada di antara LA dan Yosemite. Sun-Maid ini sudah ada sejak tahun 1912 dan produknya juga sudah dijual lama di Indonesia. Mamanya Diana kebetulan penggemar kismis Sun-Maid ini, cocok deh !
Seperti yang sudah disebutkan di tulisan tentang staycation Edensor ke Sentul sebelum ini, bahwa di bulan Maret ini kami mau habiskan jatah cuti Jeff. Satu hari sudah terpakai untuk ke Sentul. Dua hari lagi kami pakai untuk liburan singkat ke Bandung dan Ciater. Kami memilih berangkat Jumat subuh dan kembali ke Jakarta hari Senin siang.
Untuk ke Bandung karena merupakan hometown kami, maka kami ga tuliskan detailnya karena bukan pergi ke tempat wisata. Biasanya ke Bandung ya ketemu keluarga, bersantai dan kulineran aja sih. Untuk menginap juga kali ini kami menggunakan apartment keluarga besar yang memang sering menjadi tempat menginap kami ketika berada di Bandung.
Berjumpa Masalah
Nah, ada cerita menarik kali ini karena ternyata pas sampai Bandung mobil Jeff mengeluarkan suara2 ketika berbelok. Akhirnya kami pergi ke bengkel untuk cek masalahnya apa. Tanpa disangka, ternyata ada kerusakan pada part yang cukup penting dan menyebabkan mobil dalam kondisi berbahaya jika terus dijalankan. Masalahnya part yang harus diganti tidak tersedia di bengkel Bandung dan harus dikirimkan dari Jakarta. Tentu ini membutuhkan waktu yang lama. Jadi, mobil harus ditinggal di bengkel Bandung sampai mungkin seminggu ke depan. Hah ?! Gubrak deh ! Padahal ini baru hari pertama kami tiba di Bandung, masih banyak rencana dan belum juga ke Ciater sebagai tujuan utama liburan kan.
Bulan Maret ini adalah bulan terakhir untuk menghabiskan cuti Jeff. Ternyata masih ada 3 hari nih, sip deh. Langsung saja dimanfaatkan untuk berlibur. Walau kasus COVID sudah sangat menurun, namun kami masih berusaha mencari tempat yang “aman”. Akhirnya kami ambil cuti 1 hari (Senin) untuk menginap di Edensor Hills Villa & Resort yang berlokasi di Bojong Koneng-Babakan Madang-Sentul, supaya dapat harga weekday. Selain lebih sepi, harga juga lebih murah. Booking langsung saja ke Villa nya, lebih murah daripada melalui OTA (Online Travel Agent) dan bisa pilih kamarnya mau yang mana. Untuk tipe bungalow di weekday kami dapat harga Rp.950.000 per malam. Sementara jika weekend harganya bisa mencapai Rp.2.000.000 per malam. Wow… fantastis.
Karena kami belum pernah ke sana, maka kami bertanya melalui whatsapp (sekalian booking juga melalui whatsapp) tipe bungalow mana yang paling bagus viewnya. Dijawab bungalow no.5 yang menghadap air terjun dan swimming pool. Hanya saja kalo lihat review di web sepertinya yang paling bagus adalah yang paling atas, yaitu bungalow no.3. Ketika ditanyakan, orangnya menjawab bahwa bungalow no.3 sudah ada yg booking dan view nya sama saja dengan no.5. Oke deh, kami percaya saja. Akan tetapi saat mengirimkan konfirmasi, ditulis bungalow no.4 dan kata orgnya kami dipindah ke bungalow no.4 yang lebih tinggi dari no.5 supaya lebih bagus view nya. Ya nurut aja deh.
Kali ini kami ambil cuti di hari senin untuk bisa menikmati liburan yang sepi di tengah hutan. Setelah melihat berbagai pilihan akomodasi berkonsep “back to nature“, pilihan jatuh pada Bobocabin yang terletak di Ranca Upas, Ciwidey. Pilih yang deluxe, yang kamar mandi dalam, harganya Rp. 566.000,- per malam. Ini harga yg cukup murah karena weekdays dan pesan sebulan sebelumnya. Pesan langsung di apps Bobobox.
Kami sempat menginap dahulu semalam di Bandung, kemudian baru menuju Ciwidey dan menginap lagi semalam. Saat di Bandung kami sempat makan Atmosphere Resort Cafe Jl. Lengkong Besar. Ini tempat besar sekali dan asik banget. Ada buat lesehan, ada yg duduk biasa, ada yang dekat kolam ikan, ada yang outdoor, ada yang lantai 2, banyak banget pilihannya. Kami coba menu “escargot” yang jarang ada nih di resto lain, buat yang penasaran rasanya silakan coba sendiri ya. Sempat juga makan di Baso Tahun Tulen Jl. Pasirkaliki, Sate Maulana Yusuf (ini selain sate ayam, olahan kambing nya juga enak banget !), dan Lotek Mahmud (juaranya bakmoy babi nih). Semuanya tempat makan enak legendaris di Bandung tuh.