Pagi ini, kami mau pindah kota dari Frankfurt ke Nuremberg. Mungkin buat kebanyakan orang, Nuremberg bukanlah kota populer seperti Frankfurt dan Berlin. Saat kami mencari tahu situasi Christmas Market yang ada di kota-kota di Germany, ternyata Christmas Market di kota Nuremberg merupakan salah satu yang terbaik menurut beberapa versi media yang ada. Jadi masuklah Nuremberg dalam itinerary kami.
Dari Frankfurt ke Nuremberg, kami naik kereta ICE (milik Jerman) selama 2 jam. Ini kami beli tiket kereta tanpa seat reservation, jadi bisa cari sendiri tempat duduk yg masih kosong. Ternyata kami dapat duduk di gerbong Quiet Zone, jadi tidak ada suara keributan baik dari aktivitas anak2 maupun obrolan para penumpang lain. Nice !
Di kota ini, kami menginap di B&B Hotel Nuremberg Plarrer. Saat kami tiba sekitar jam 11 siang, kami belum bisa check in, sehingga hanya bisa menitipkan koper kami kepada staff hotel. Jalan-jalan saja deh sekarang. Dari hotel, kami naik UBahn, jaringan metro di Nuremberg untuk menuju Hauptmarkt (Grand Market). Di area Hauptmarkt terdapat 2 gereja yang terkenal di Nuremberg yaitu Frauenkirche dan St. Lorenz.
Kiri : bagian dalam Frauenkirche, Kanan atas : Frauenkirhce Kanan bawah : St. Lorenz
Perjalanan akhir tahun ini adalah bagian dari impian lama kami untuk mengunjungi Christmas Market. Ini biasanya berlangsung di banyak negara Eropa menjelang Natal sampai Tahun Baru. Christmas Market yang terkenal adanya di Germany, lalu karena kami belum pernah ke Eropa Timur, maka kami akan lanjut sekalian ke Hungary, Poland, dan Czech. Cari2 jalur perjalanan yang pas, akhirnya kami memutuskan jalur melingkar saja. Karena itu kami menambahkan Austria sebagai destinasi antara Germany dan Hungary.
Sebenarnya kami sudah pernah mengunjungi Germany dan Austria saat trip West Europe tahun 2012. Namun saat itu, kami tidak sempat berkeliling di Germany, hanya mendarat di Frankfurt dan malamnya sudah naik bis ke Den Haag Netherland. Di Austria, kami pernah mengunjungi Vienna, Salzburg dan Innsbruck. Jadi kali ini kami kami mau mengunjungi Hallstat (tempat turis yang populer itu) dan mengikuti “Salzburg Christmas Eve Tour to the Silent Night Chapel” yang hanya diselenggarakan setahun sekali saja, yaitu saat malam natal ! Kalo dulu kami jalan2 West Europe saat spring, lihat bunga2 bermekaran, kali ini kami mau merasakan Eropa saat winter.
Untuk East Europe sendiri kami sudah pernah mampir sebentar di East Europe yaitu di kota Bratislava (ibu kota Slovakia) Europe 2012 (part 4-Austria) Saat itu kami tidak menginap melainkan hanya jalan2 setengah hari bolak balik dari Vienna, Austria. Vienna dan Bratislava merupakan sister city. Sejarahnya dulu hanya ada 1 negara yaitu Cekoslovakia. Namun di tahun 1993 karena kondisi geopolitik, pecah menjadi 2 negara yaitu Czech dan Slovakia. Nah, Slovakianya sudah.. yang belum ke Czech nih.
Rute perjalanan melingkar dgn pusatnya di Czech : Frankfurt, Nuremberg, Munich, Salzburg/Hallstatt, Budapest, Krakow, Prague/Cesky Krumlov, Berlin
Setelah berjerih lelah mendaki gunung glacier, kami menuju Jokullsarlon. Stop dulu buat makan di jejeran food truck yang menjual macam2 makanan. Salah satu yang terkenal dan menjadi tujuan kami namanya Heimahumar. Ini food truck yang menjual local langoustine alias lobster versi Norway. Langoustine ini lebih langka dari lobster dan bentuknya lebih kecil dari lobster biasa, tapi rasanya manis dan enak seperti lobster biasa.
Langoustine Roll & Langoustine Soup
Menu favoritnya adalah langoustine soup (sup lobster) dan langoustine roll (hot dog tapi bukan pakai sosis melainkan suwiran daging lobster). Silakan dipilih sesuai selera. Diana pesan yang soup, karena sudah dingin2an setengah hari kan, pengennya makan yang hangat2. Tidak salah pilih, ini soup nya enaaaaak banget ! Daging nya ga pelit dan selain sup tetap dikasi roti juga sebagai karbohidrat nya.
Setelah breakfast di hotel, jam 08.30 driver menjemput kami untuk perjalanan ke kota Marrakech. Naah, ternyata memang betul hanya kami berdua saja nih di mobil ini dan di perjalanan ini. Wacana group tour berubah jadi private tour nih. Asyiiik ! Marrakech merupakan salah satu kota terbesar di Morocco dan menjadi salah satu wisata utama para turis karena ada beberapa tempat yang menarik di sana. Perjalanan menuju Marrakech hampir 2,5 jam. Kami sempat istirahat sejenak di rest area dan sudah bisa melihat keindahan landscape Morocco.
Atas : rest area di rute Casablanca – Marrakech Bawah : Koutobia Mosque
Hari ini, kami melakukan perjalanan jauh dari Knysna dengan tujuan akhir kota Cape Town.
Pagi terakhir di Knysna
Di tengah-tengah perjalanan, kami mampir di kota Mossel Bay untuk wisata sejarah dan lunch. Kota Mossel Bay merupakan pintu masuk Garden Route dari arah barat dan berakhir di Storms River. Perjalanan dari Knysna ke Mossel Bay ditempuh sekitar 2 jam.
Apa yang dibayangkan orang jika kami bilang mau jalan-jalan ke Afrika Selatan ? Kebanyakan bingung karena mau lihat apa dan ngapain di sana. Bayangannya kayak negara2 Afrika yang panas, ada kemelut politik, penduduknya kelaparan dan lain sebagainya.
Kebetulan kami punya beberapa family yang sudah pernah ke sana dan semua bilang bagus. Wajib ke sana. Nah kan hal-hal ini membuat kami bersemangat karena percaya pasti bagus. Terus gimana caranya ke sana ? Apakah sama seperti traveling2 kami sebelumnya, yang mana kami bikin itinerary sendiri dan jalan sendiri ? Setelah mempertimbangkan aspek transportasi, akomodasi dan yang paling kritikal yaitu keamanan kami selama di sana, maka kami memutuskan untuk ikut tour dari Jakarta saja. Afrika Selatan memiliki tingkat kriminalitas yang cukup tinggi sehingga sangat beresiko untuk kami jalan sendiri.
Setelah melakukan survey terhadap beberapa itinerary yang ditawarkan oleh beberapa travel agent, akhirnya kami memutuskan untuk membeli paket dari Golden Rama. Dan setelah dicek lebih lanjut, tour ke Afrika Selatan oleh Golden Rama ini selalu jalan setiap tahunnya. Sementara dari travel agent lain belum tentu jalan. Paket tournya : Amazing South Africa Garden Route + Safari Game Drive & Palace of The Lost City. Itinerarynya sebagai berikut :
Day 1 : Jakarta – Singapore
Day 2 : Singapore – Johannesburg – Sun City
Day 3 : Sun City (Safari Game Drive)
Day 4 : Sun City – Pretoria – Johannesburg
Day 5 : Johannesburg – George – Kynsna
Day 6 : Kysna – Oudtshoorn – Knysna
Day 7 : Kysna – Mossel Bay – Cape Town
Day 8 : Cape Town (Cape Peninsula Tour)
Day 9 : Cape Town – Singapore
Day 10 : Singapore – Jakarta
Untuk tiket pesawat (Singapore Airlines), akomodasi dan visa Afrika Selatan, semuanya diurus oleh Golden Rama. Untuk visa Afrika Selatan bentuknya masih stiker dan data2 di dalamnya masih ditulis tangan petugas embassy. Unik ya. Oke, semangat… ini akan jadi petualangan kami di benua yang baru, benua kelima bagi kami !
Day 1 : Jakarta – Singapore
Di hari keberangkatan, kami diminta oleh Nelson, tour leader kami dari Golden Rama untuk kumpul di terminal 3 bandara Soetta jam 10 pagi. Di sana kami bertemu dan berkenalan dengan teman segrup kami yang jumlahnya 9 orang. Jadi total peserta tour 11 org tambah tour leader 1 org. Ada yang dari Jakarta, Surabaya, Bali dan Bandung. Rata2 sudah punya pengalaman traveling yang luar biasa. Jadi bisa banyak dengar cerita mereka ke negara2 yang belum pernah kami kunjungi.
Kami tiba malam hari di Hakodate setelah 2 jam perjalanan dari Lake Toya. Ditambah dengan delay 40 menit karena ada insiden di jalur JR. Kami langsung menuju tempat menginap selama 2 malam ke depan, yaitu di Flexstay Inn Hakodate. Letaknya tepat di seberang Hakodate JR Station. Gedungnya sudah terlihat dari kami ke luar station.
Beres check-in dan taro koper, kami cari makan ke luar hotel dan berjalan ke arah belakang hotel. Jalanan di Hakodate lumayan gelap dan sepi. Ada beberapa restoran seafood atau chinese food yang buka namun terlihat sepi, sehingga kami mencoba mencari tempat lain yang lebih ramai pengunjungnya. Tidak lama kemudian, kami ketemu dengan beberapa kedai tempat makan dan minum khas warga lokal Jepang. Ternyata nama kedai2 seperti itu adalah izakaya. Rata-rata pemilik dan pelayannya tidak bisa berbahasa Inggris.
Atas : lapangan depan Hakodate JR Station, bawah : dinner di izakaya (snow crab fried rice dan snow crab gratin)
Bangun pagi jam 05.30 di Simalem, ternyata cuacanya cukup bersahabat yaitu sekitar 16 derajat celcius saja. Langit berawan cukup tebal sehingga tidak terlihat sunrise.
Taman Simalem Resort di pagi hari
Kami breakfast di Teahouse, restoran yang sama seperti semalam kami dinner. Hanya saja pagi ini bisa pilih kursi sendiri. Kami memilih duduk di luar sehingga bisa menikmati keindahan danau Toba.
Day 3 : Bukit Holbung, Taman Wisata Iman, Air terjun Efrata, Simalem Resort
Hari ketiga jadwal kami cukup padat, kami akan meninggalkan Samosir dan kembali ke daratan Sumatera tidak naik ferry tapi lewat jalur darat.
Bye Samosir Villa Resort
Setelah breakfast, kami check-out dan menuju jembatan Tano Ponggol. Satu2nya jembatan yang menghubungkan pulau Samosir dengan daratan Sumatera dan baru dibuka pertengahan tahun 2023 ini. Sebelum melintasi jembatan, kami sempat berfoto di depan gedung gereja HKBP Pangururan yang masih dalam tahap penyelesaian pembangunannya. Gedung gereja ini terlihat besar dan megah.
Setelah perjalanan kami Trip USA (Seattle & Alaska Cruise) bulan April kemarin, kami kembali jalan2 domestik bersama keluarga. Kami memanfaatkan libur panjang karena hari Kamis tanggal 1 Juni adalah hari libur nasional jadi menambah cuti di tanggal 2 dan tanggal 5. Destinasi yang kami pilih adalah danau Toba dan kota Medan di Sumatera Utara. Danau Toba merupakan 1 dari 5 Destinasi Super Prioritas yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreaktif (Kemenparekraf) Republik Indonesia. Empat lainnya adalah Borobudur, Likupang, Mandalika dan Labuan Bajo.
Sebenarnya jalan2 kali ini adalah inisiatif dari orang tuanya Diana yang pernah bekerja dan tinggal di Medan. Mereka ingin bernostalgia sekaligus mengajak Jeff yang belum pernah sama sekali ke Medan. Rute kami kali ini adalah masuk dari Silangit yang memiliki airport internasional yang terdekat dengan danau Toba. Kemudian kami akan menginap di beberapa tempat yang ada di pinggir danau Toba dan kemudian kami pulang ke Jakarta dari Medan. Hal ini kami pilih mengingat jarak dari Medan ke danau Toba bisa menempuh waktu 5 jam. Sementara jika dari Silangit, hanya sekitar 30 menit kita sudah bisa melihat danau Toba.